
Berkebun adalah hal yang menyenangkan, setelah piknik dadakan, Reyna mengajak anak-anaknya berkebun di samping rumah, kebetulan ada lahan kosong yang bisa dijadikan tempat menanam apa pun yang dia mau.
Jadi, Reyna sudah membuat daftar kegiatan minggu pagi nya di sebuah buku kecil, supaya di hari libur ada kegiatan yang bermanfaat dan menyenangkan juga. Daripada liburan kayak orang bego di rumah mending dibuat list ya kan.
Minggu pagi ini jadwal kedua adalah berkebun, Reyna sudah siap dengan outfit khusus. Cuaca juga lumayan panas jadi pakaian harus tipis asal jangan yang transparan aja.
Di pasar kemarin, Reyna ada beli biji jagung, kacang dan beberapa bibit bunga yang akan dia tanam di lahan kosong tersebut. Untuk bagian bunga di tanam sebelah timur karena tanahnya juga cocok dan sebelah barat untuk sisanya.
"Farel, cangkul sebelah sana ya. Bunda mau tanam bunga dulu," ucap Reyna, tangannya membawa plastik berisi bibit bunga Matahari karena Reyna lagi ngidam pengen makan kuaci buatan sendiri.
"Aku harap bisa tumbuh, soalnya aku payah banget dalam hal beginian," gumamnya sambil menggali tanah dengan sekop kecil dan menaburkan bibit di dalamnya.
Farel mencangkul tanah sementara Azarin bertugas menaruh satu persatu biji jagung ke dalam tanah yang sudah Farel cangkul meski kadang Azarin sampai makan biji jagung tersebut karena penasaran dengan rasanya.
"Aza, stop kunyah biji jagung itu," Farel segera merebutnya dari sang adik yang sudah bersiap menangis tapi gak jadi karena disumpal daun jambu oleh Farel.
"Mending makan daun lebih enak." Azarin memuntahkan daun jambu yang sempat dia kunyah gara-gara Farel, berlari ke dalam rumah untuk ambil air.
"Adek kenapa?" tanya Reyna yang sudah selesai dengan bunga-nya, menghampiri Farel yang masih tertawa ngakak.
"Gak ada kok, Bun." Farel mengangkat bahu acuh lalu kembali pada aktivitas mencangkulnya.
Matahari sudah semakin tinggi tanda memasuki waktu siang, sinar sang mentari juga semakin panas, jadi untuk kegiatan berkebun hari ini cukup sampai di sini. Farel meneguk es teh dengan rakus, keringat sudah membasahi bajunya.
"Halah gitu doang kamu capek," ejek Azka, dia baru bangun tidur jadi gak ikut berkebun. Reyna sudah bangunin dia beberapa kali tapi cuma bergerak dikit habis itu lanjut tarik selimut.
"Belum coba gak usah komen," balas Farel lalu kembali mengisi gelas kosong dengan teh.
"Kecil itu mah, satu menit juga kelar kalo Ayah yang nanem," jawab Azka tak mau kalah, dia berjalan ke tengah kebun meraih cangkul untuk memamerkan kepada Farel dan Reyna.
"Dih, megang cangkul aja kebalik," Farel sontak tertawa keras karena Azka salah pegang cangkul.
Reyna ikut tertawa, Azka kalo mau songong emang gak tanggung-tanggung.
"Sudahlah, Mas. Panas itu, nanti kamu gosong," Reyna masuk ke dalam rumah diikuti Farel yang sebelum pergi mengejek Azka terlebih dulu biar afdhol.
Tinggallah Azka sendirian di tengah kebun masih memegang cangkul yang kata Farel kebalik.
"Panas Oma, tanam sendiri aja mumpung ada Ayah di luar lagi nyangkul buat nanam ubi," sela Farel, merebahkan tubuhnya di lantai untuk mendapatkan sensasi dingin dari keramik.
"Tanam-tanam ubi, tak perlu dibaje," Azka datang sambil bernyanyi, tampaknya ia sudah pensiun megang cangkul kebalik.
"Ada apa nih rame-rame? Lagi antri sembako?" Azka jalan melewati Farel yang tengah telentang di atas lantai, dengan sengaja Azka menyenggol kaki Farel sehingga keinjek sedikit. Farel mengaduh kesakitan, memegangi jempolnya yang sengaja diinjak oleh sang Ayah.
"Oh, ada orang ternyata, kirain gak ada," Azka berjalan santai ke arah sofa di mana Azarin sedang duduk manis sambil nonton Upin-Ipin.
"Jahat banget, Ayah orang tua Farel gak sih, kok kelakuan kayak Fir'aun."
"Ehh Farel, gak boleh gitu," tegur Reyna. Farel merapatkan bibirnya sambil menggumamkan kata maaf. Azka mendelik sinis kemudian lanjut usilin Azarin yang sudah lari entah kemana.
Reyna mengeluarkan buku kecil dari kantong baju, menyilang kegiatan yang sudah ia lakukan di minggu pagi yang cerah ini. Azka memperhatikan dengan raut bingung, mencondongkan badannya agar dia bisa melihat buku tersebut lebih jelas.
"Owalah, list rencana weekend ternyata, aku kira lagi hitung uang bulanan yang aku kasih," Azka mengusap tengkuknya lalu kembali pada posisi semula. Reyna segera memasukkan buku kecil tadi, mampus dilihat Azka bisa-bisa nanti dia ikut request kegiatan yang dia mau. Tidak-tidak, semua plan yang Azka buat sama sekali tidak seru.
.
Azka lagi bermalas malasan di kamar, memperhatikan Reyna yang berlalu lalang mengangkat cucian kotor dalam keranjang, bukannya bantuin malah cuma ditontonin, contoh liburan yang tidak dimanfaatkan dengan benar.
"Sayang, aku lupa ada baju kotor di ruang kerja aku, sekalian cuci ya," kekeh Azka. Reyna mengangguk sekilas tanpa menoleh, bukan kesal atau marah hanya saja Reyna lagi sibuk memindahkan baju kotor yang sudah menumpuk ke dalam bak besar, salah Reyna sendiri karena tak mau nyuci lebih awal, alhasil numpuk begitu.
Tungkainya melangkah keluar sebelum telapak tangan besar menahannya di ambang pintu.
"Apa sih, Mas? Aku mau nyuci, lepas gak," Reyna menggoyangkan lengannya yang dicengkeram Azka cukup kuat.
"Mas bantuin ya?" tawar Azka dengan sebelah alis naik. Reyna menatap sang suami intens, mencari kebohongan dalam manik mata tajam itu.
"Gak perlu, Mas tidur aja," Reyna melengos pergi dengan bak besar di samping badan. Azka menarik nafas pelan, padahal dia tuh serius pengen bantuin tapi karena Reyna nolak ya sudah, mending lanjut tidur.
Sebelum ke lantai bawah, Reyna menyempatkan diri ke ruang kerja Azka yang katanya ada baju kotor. Reyna menekan saklar lampu dikarenakan kondisi ruang kerjanya agak gelap mau siang ataupun malam sama saja, mungkin jika bisa dikalkulasikan ruang inilah yang paling banyak menghabiskan pulsa listrik kalo dinyalain 24 jam.
Reyna memijat pangkal hidungnya saat melihat bahwa ruang kerja suaminya seberantakan itu, padahal seingat Reyna kemarin sempat dia bersihkan masa sudah berantakan lagi. Baju yang Azka maksud tergeletak di bawah meja dihimpit oleh kaki kursi. Oke, ingatkan Reyna untuk memberi hukuman pasung pada Azka biar gak berantakin ruang kerja lagi. Kebiasaan memang kalo stres sama kerjaan barang-barang yang jadi pelampiasan.
Baru saja hendak keluar, Reyna menjumpai Azka yang cengengesan di depan pintu. Reyna mendengus kesal lalu berjalan begitu saja melewati Azka yang masih menatapnya penuh harap.