
Reyna pikir, dengan kelahiran bayinya, Wati dapat menerimanya secara perlahan, namun nyatanya sama saja, sikapnya masih tetap angkuh dan keras. Reyna maklum, untuk meluluhkan hati seseorang memang tidak mudah, tapi sudah hampir setahun Wati belum juga membuka hati untuk seorang menantu sepertinya.
Hari ini Reyna dapat kabar, bahwa tante Ifa akan datang berkunjung, mau nya sih kalo Reyna sudah di rumah, tapi masih belum diizinkan pulang oleh dokter, jadi terpaksa mendekam selama beberapa hari di rumah sakit.
Sampai di rumah sakit yang dimaksud serta ruangan tempat Reyna dirawat, Ifa ingin segera masuk namun saat di depan pintu dia tidak sengaja berpapasan dengan Wati yang baru saja keluar dari ruangan Reyna, dari sini Ifa sudah menyimpulkan jika wanita paruh baya yang ia temui ini adalah mertua Reyna.
Tunggu apa lagi, Ifa dengan sopan menyapa Wati sambil memamerkan senyumnya tak lupa menunduk sedikit untuk menghormati yang lebih tua-Bangka:)
Wati hanya melirik dari ekor matanya seraya tersenyum kecil namun tidak ikhlas, tetapi entah kemana arah tatapan matanya tidak menatap Ifa sepenuhnya, tanpa bicara atau saling menyapa, Wati segera melenggang pergi meninggalkan Ifa beserta kedua anaknya berdiri di depan pintu memandangi punggungnya yang kian menjauh.
"Songong banget tuh orang," ungkap Jack yang tidak suka melihat sikap Wati yang sok angkuh.
"Husst, gak boleh gitu, mungkin beliau ada urusan mendesak makanya buru-buru," sahut Ifa berusaha positif thinking kemudian mengajak mereka untuk masuk.
Di dalam ruangan sudah ada Reyna yang tengah berbaring manja di atas ranjang dengan Azka yang duduk di sampingnya sambil menyiapiny bubur.
"Tante Ifa," teriak Reyna namun segera menutup mulutnya, takut bayinya kebangun gara-gara denger suaranya yang cempreng. Ifa berlari mendekati Reyna, tidak peduli Azka yang sudah terdorong sampai hampir kejengkang ke belakang. Ifa sontak memeluk keponakan tersayangnya, lumayan lama juga mereka tidak bertemu, Ifa juga lagi sibuk banget jadi gak bisa dateng, ini aja dia terpaksa ambil cuti agar dapat ketemu Reyna.
Jack dan Syila duduk di sofa menperhatikan sang Mama dan Reyna yang belum saling melepaskan pelukan, terhitung sudah 15 menit mereka dengan posisi seperti itu, oke maklumi saja lah, namanya juga manusia.
"Sayang, aku ke kantin rumah sakit dulu, kalian ngobrol saja yang puas," ucap Azka di sela kegiatan saling memeluk itu. Ifa menoleh begitu juga Reyna.
"Ohh ini toh suami kamu, Na? Kasep pisan, ihhh. Boleh atuh bagi dua," ujar Ifa sambil menangkup pipi Azka kagum, bibir Azka susah monyong ke depan gara-gara Ifa menekan pipi Azka terlalu kuat. Azka melirik Reyna dengan tatapan memelas, Ifa tidak melepaskan tangannya dari pipi Azka membuat lelaki itu susah bernafas.
Jack menggeleng pelan, udah gak heran sama sifat sang Mama yang kalo ketemu cowok ganteng aja langsung terpesona, sudah ada bukti nyata di depan mata, tapi cuma sekedar kagum aja sih, gak ada rasa buat memiliki, selain sadar umur, Ifa juga masih setia pada mendiang suaminya dan sudah membuat janji untuk gak nikah lagi dengan laki-laki lain, alhasil dia menjanda selama beberapa tahun ini. Berbeda dengan Syila, dia daritadi tidak pernah melepas pandangannya dari Azka, ganteng banget suami sepupu gue, boleh kali ya ditikung. gumam Syila, sampai gak kedip tuh mata.
"Udah, tan. Kasian Mas Azka gak bisa nafas," kekeh Reyna, dia sudah tidak bisa menahan tawanya karena ekspresi Azka lucu menurut Reyna. Ifa cengengesan namun tak berhenti menatap Azka saking gantengnya, mana bisa modelan begini disebut duda, cepat ngaku siapa yang bilang Azka duda, maju lawan Ifa kalo berani.
"Serius loh, Na. Suami kamu ganteng banget, siapa tadi nama kamu?"
"Harusnya kita kenalan dari dulu semenjak kalian berdua menikah, tante ngerasa kayak aneh aja gitu kenalan waktu Reyna lahiran," tutur Ifa dengan raut wajah sedih.
"Gak apa-apa, semua sudah berlalu, yang penting kita bertemu dalam keadaan sehat wal afiat," jawab Azka diangguki oleh Reyna.
Azka pamit undur diri, katanya mau cari makan dulu, pergi sampai pulang dari kantor katanya dia belum makan apa pun, hal tersebut membuat Reyna berdecak kesal karena suami tampannya ini sama sekali tidak memperhatikan pola makannya, sudah tau punya gejala maag masih aja berani nantangin.
"Ehh, tadi tante ketemu sama mertua kamu pas dateng ke sini, auranya tuh mahal banget dan--"
"Agak songong dikit," Jack memotong ucapan Ifa, dia jujur banget anaknya. Ifa melotot kaget, menatap Jack tajam karena sudah berani ngomong begitu di depan menantunya. Jack yang ditatap cengengesan sambil menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba gatal.
"Jack, suka banget ya kamu ngomongin orang kayak gitu, Mama gak pernah ngajarin ya," ujar Ifa dengan aura dingin.
"Hehe maaf, Ma. Kan semua orang berhak mengeluarkan pendapat dan berhak menilai sikap seseorang. Dan berdasarkan penglihatan Jack sih, mertua kak Reyna kayaknya jahat," sambung Jack dengan entengnya, lagi-lagi Ifa mengeluarkan tatapan mematikan yang kali ini sama sekali tidak digubris oleh Jack.
"Maafin Jack ya, Reyna. Kamu tau kan anaknya suka blak-blak an kayak gini, Tante juga suka kadang heran dulu ngidam apa sampai Jack seperti ini," Ifa tersenyum canggung.
"Jack bener kok, tante. Semua berhak menilai, mungkin beliau tidak terbiasa dengan orang Bari makanya bersikap seperti itu," jelas Reyna kemudian merubah posisinya menjadi duduk.
"Asal dia gak siksa kamu aja sih, kalo sampai kejadian itu terjadi jangan harap lolos dari tante," Ifa sudah mulai dengan nada serius membuat Reyna bergidik ngeri.
"Heh, Syila! Ngapain kamu gangguin bayinya tidur? Nanti kalo bangun kamu yang susuin ya," teriak Ifa karena gak suka melihat Syila yang asik menoel-noel pipi bayi Reyna di atas box bayi.
Syila berdehem pelan lalu kembali duduk di sofa. Gak bohong, Syila memang demen banget sama bayi, sampai anak tetangga dia bawa pulang pas disuruh jagain sebentar karena Ibu-nya mau ke warung, sampai tetangga mereka teriak histeris hampir pingsan karena tau bayinya hilang, sedangkan Syila anteng di kamarnya sambil menciumi seluruh wajah bayi mungil yang ia bawa dari rumah tetangga.
Ifa sampai minta maaf berkali-kali karena ulah Syila yang bisa saja merusak mental ibu dari bayi tersebut, Syila hampir dilaporkan ke polisi karena tindakannya tersebut, namun karena kebaikan hati Ifa yang selama ini suka membantu tetangganya, maka laporan tersebut dibatalkan.
Setelah kejadian itu, Syila merengek ke Ifa minta dibuatin bayi mungil yang lucu kayak anak tetangga. Gimana cara buatnya, suami aja gak punya.