Married With Duda

Married With Duda
MWD 77 : Me-time



Bangun pagi Reyna rasanya hampa sekali, karena biasanya selalu ada Azka yang membangunkannya dengan cera legend yakni menciumi seluruh wajah Reyna sampai bangun, tetapi kali ini beda, Reyna bangun sendiri dan menatap space di sampingnya sudah kosong. Reyna jelas heran dong, gak biasanya juga Azka bangun cepet.


Karena tak ingin berlarut dalam pikirannya, Reyna memilih untuk segera bersiap-siap karena jam sudah menunjukkan pukul setengah enam yang mana artinya di sini Reyna lah yang bangun terlambat.


Oke, untuk pagi ini gak perlu mandi, cuma cuci muka dan sikat gigi, nanti kalo udah pada kelar pergi baru meditasi di kamar mandi. Reyna menguncir rambutnya dan segera berbegas ke dapur untuk masak, ya kali nanam sayur.


Dari arah tangga Reyna bisa mencium aroma masakan dan suara alat dapur yang saling bertabrakan. Reyna pucat pasi, Bi Ela sedang pulang kampung lagi jadi gak mungkin beliau yang berkutat di dapur. Fix, itu Wati, Reyna dapat merasakan hawa mencekam saat kakinya mulai memasuki area dapur. Resiko tinggal bareng mertua ya gini nih.


Sampai berbusa telinga Reyna denger ocehan Wati nanti, ada sekelebat niatan untuk putar arah menuju kamar tapi itu bukanlah ide yang bagus, nanti malah semakin kena omel.


Tarik nafas dulu sebelum ambil resiko, Reyna tampaknya sudah siap dengan konsekuensi.


Kakinya melangkah pelan tapi pasti, mengintip dari balik tembok layaknya maling yang hendak menyergap barang curian tanpa ketahuan.


Alis Reyna bertaut sempurna, bukanlah Wati yang ia dapati di sana melainkan Azka dengan posisi membelakangi Reyna. Rambutnya masih terlihat berantakan, ketahuan banget belum nyisir habis bangun tidur, bahkan bajunya juga masih baju tidur, celana doang yang diganti pake kolor.


"Mas!" panggil Reyna pelan, yang dipanggil segera menoleh kemudian tersenyum manis, menghentikan aksi memasaknya, melepas apron dan mematikan kompor padahal yang dimasak belum matang, tapi melihat kedatangan istri jadi gak peduli sama masakan sendiri.


"Udah bangun ya?" tanya Azka polos, berjalan mendekat ke arah Reyna, melingkarkan tangannya pada pinggang ramping sang istri.


"Kamu kenapa kok tiba-tiba masak sih?" Reyna sudah tak dapat membendung rasa penasarannya. Azka mengerutkan keningnya tanda tak mengerti dengan pertanyaan Reyna.


"Gak tau, lagi pengen aja," jawabnya santai, menuntun langkah Reyna untuk duduk di kursi.


"Tunggu bentar, kamu harus sarapan," Azka berjalan menuju kompor, menghidupkan benda tersebut kemudian melanjutkan aktivitasnya. Reyna sendiri memperhatikan dari belakang, tak biaa dipungkiri Azka memang jago masak tapi gak terlalu, palingan juga masak nasi goreng sama mie campur telur, tapi gak tau kalo sekarang dia kayaknya tengah masak sesuatu yang spesial sampai harus goyangin wajan ala-ala chef terkenal. Reyna menopang dagu menunggu suami selesai masak yang memakan waktu sedikit lama padahal perut Reyna sudah meraung minta diisi, niat hati ingin membantu baru saja berdiri sudah ditegur oleh Azka, mau tak mau Reyna kembali duduk sambil memperhatikan.


Selang beberapa menit, Azka sudah menyajikan makanan buatannya di atas piring cantik, tak lupa menghiasnya dengan irisan tomat, lobak dan mentimun serta daun seledri dan daun selada, karena Azka tau Reyna suka semua jenis sayuran asal jangan dikasih rumput aja sih.


"Ini dia sayang, chicken steak Monalisa," Azka melayani bak pelayan restoran, Reyna terkekeh mendapat perlakuan seperti itu.


"Ini yang kamu goreng tadi sampai harus pakai atraksi segala?" tanya Reyna seraya mencomot irisan timun.


"Bukan, ini tuh menu utama dan paling spesial, yang terakhir tadi cuma fried rice chicken katsu," jawab Azka seraya ikut duduk memperhatikan Reyna makan.


"Nempel di wajan, soalnya gosong jadi gak bisa dipisahin dari wajan, makanya aku atraksi siapa tau keangkat tuh nasi, tapi ternyata nempelnya kuat banget, hampir saja wajannya patah. Nanti kasih Farel makan aja," kekeh Azka, membayangkan nasi yang dia pakai untuk eksperimen nasi goreng ternyata sudah basi, tapi konon pernah Azka dengar kalo nasi yang sudah basi jika diolah kembali maka rasanya akan kembali enak jika bumbunya udah bener, entah Azka denger di mana yang jelas dia percaya-percaya aja dan tertarik untuk mencoba.


"Ihh jahat kamu, Mas. Masa anak sendiri dikasih makanan gosong," Reyna merenggut.


"Gak apa-apa, Farel memang suka makan yang begitu, dikasih nasi basi aja dia mau." Reyna mendelik tajam, memilih mengabaikan perkataan Azka.


.


Mumpung pagi masih belum terlalu panas karena memang cuaca sedikit mendung, jadi untuk menghabiskan waktu di rumah yang kadang memang sangat membosankan, Reyna mengajak Azarin main di taman belakang, menggelar tikar dan memasang payung yang biasa digunakan untuk berjemur di pantai, mengangkut hampir semua makanan ringan di kulkas untuk dibawa ke taman belakang, jadi konsepnya mereka tuh lagi piknik, me-time di rumah aja. Kebetulan sekolah juga pada libur, jadi Farel ikut serta membantu Reyna menyiapkan barang yang diperlukan.


Azka sendiri hari ini kerja dan mengharuskan dirinya pergi ke kantor, melihat acara yang diadakan oleh istrinya kelihatan menyenangkan membuatnya jadi enggan pergi, pengen di rumah aja.


Padahal Azka sudah siap dengan pakaian kerja, tapi masih matung di tempat karena plin-plan antara pergi atau tidak.


"Ngapain kamu berdiri saja, Mas? Katanya harus ke kantor?" tanya Reyna, tangan kanannya membawa bola untuk Azarin mainin nanti bareng Farel.


Azka menggigit bibir bawahnya, kenapa gak bilang kalo mau adain piknik di belakang rumah, kan Azka bisa tuh izin bentar buat nunda rapat.


"Buruan sana, Mas. Nanti keburu macet di jalan, apalagi hari ini weekend pasti ramai yang ingin berlibur," ujarnya lagi karena tidak mendapat tanggapan dari Azka.


"Kasihan Ayah gak bisa ikut piknik kayak kita, makanya libur dong kayak aku," Farel nyahut sambil ngejek Azka yang mukanya udah cemberut pengen banget nimbrung. Mendengar ejekan putranya seketika raut Azka jadi kesal, ingin rasanya lari ke arah Farel dan mencekik bocah itu tapi sadar Farel adalah darah dagingnya sendiri.


"Aku masuknya agak siangan aja, lagipula mereka semua bisa menunggu. Nah, untuk pagi yang indah namun sedikit gelap ini, aku akan turut serta di dalam tenda," ujar Azka sambil melepas jas dan membuangnya ke sembarang arah.


"Ehh, tapi kita pake tikar bukan pake tenda," sela Farel karena bingung.


"Oh ya kita tentu pake tenda, bentar ya Ayah ambil dulu, kayaknya masih layak pakai, soalnya udah lama banget pas zaman penjajahan Belanda," Azka ngacir ke dalam rumah hendak mengambil apa yang dia butuhkan.


Reyna hanya menggelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan tingkah suami sendiri, luar nya aja cool tapi jiwanya masih random kayak anak SD.