Married With Duda

Married With Duda
MWD 30 : Curiga



Reyna merasa canggung karena Tante Ifa melayani layaknya ratu, sangah jauh dari dugaan Reyna sebelumnya, jadi tidak enak lantaran mendapat tatapan sinis dari Syila, gak tau aja padahal dulu Reyna yang sering menggendongnya saat Syila masih kecil. Berbeda dengan Jack, dia kelebih ramah sama persis seperti sang Mama. Tak tanggung-tanggung dia memasakkan Reyna masakan terenak yang pernah dia buat. Jack ini seoranh chef, pernah ikut lomba di beberapa negara, menjadi seorang chef adalah cita-cita dari SD, sering membantu sang Mama berkutat di dapur membuay tekadanya semakin kuat.


"Wahh, aku jadi gak enak ngerepotin kalian semua," Reyna tersenyum getir, tatapan Syila tak pernah teralihkan darinya, andai tidak ada Tante Ifa dan Jack di sini mungkin Reyna sudah menjambak perempuan itu, tidak tau sopan santun, kakak sepupu datang bukannya disambut malah di pelototin, Reyna menarik nafas sejenak kemudian kembali melemparkan senyum manis terutama pada Syila.


"Santai, Kak. Mama jarang kedatangan tamu, sekalinya ada yang datang seluruh isi kulkas dia keluarin demi menjamu tamu," sahut Jack yang sukses mendapat tatapan tajam dari Ifa sang Mama.


"Reyna bukan tamu, dia keluarga kita jadi wajar dong Mama sambut dia, lagipula sudah lama kita tidak bertemu," ujar Ifa. Masih ramah seperti dulu, batin Reyna kagum pada Tante nya yang satu ini.


Reyna mulai langsung pada intinya, tujuan kedatangannya ke sini ingin tinggal di sini, tetapi tidak sekarang. Mulai dari semenjak kematian kedua orang tuanya pada tragedi kecelakaan yang tragis dulu sehingga pernikahan nya bersama sang majikan. Ifa jelas kaget karena Reyna sama sekali tidak mengundangnya ke acara pernikahannya, bahkan berita nya pun tak ada. Reyna sebenarnya bukan bermaksud seperti itu, hanya saja mereka sudah lama juga lost contact mengakibatkan Reyna tak sempat kasih kabar, jangan kan via telpon alamat Tante Ifa saja Reyna baru tau sekarang.


Sampai pada cerita yang menegangkan bagi Reyna untuk diungkap, bagian bahwa sang ipar mencuri uang perusahaan punya orang tua majikannya yang kini menjadi suaminya. Kali ini Ifa lebih terkejut lagi, tidak menyangka suami adiknya berani berbuat seperti itu. Setau Ifa, orang tua Reyna hanya kecelakaan biasa yang meregang nyawa, masalah yang lain dia tidak terlalu tau dan memang gak ada gosip sama sekali. Ifa tidak mau menyinggung karena Reyna sudah berlinang air mata, jadi dia memilih diam saja dan menenangkan gadis itu. Sementara Jack langsung menutup mulut julid Syila, gadis itu hendak mengeluarkan suara, Jack sudah antisipasi jika adik nya yang imut ini akan mengeluarkan kalimat yang bisa menyakiti hati Reyna secara langsung mau pun tidak langsung.


Syila mendelik sebal karena Jack menyumpal mulutnya dengan tangan kotornya. Jack tertawa sumbang lalu menjauh sedikit karena Syila sepertinya akan mengamuk sekarang juga.


Ifa memberikan waktu untuk Reyna istirahat, pasti capek sekali harus berangkat dari Jakarta ke Bandung.


"Aku boleh kan tinggal di sini jika suatu saat aku diusir dari rumah?"


"Tentu saja, sayang. Sekarang pun kamu pindah akan Tante terima dengan senang hati, pintu selalu terbuka untuk kamu, Reyna. Tidak ada alasan Tante buat nolak kamu di rumah ini," Ifa merengkuh tubuh Reyna, Ifa sudah menganggap Reyna sebagai anak sendiri. Ada kelegaan dalam hati Reyna karena dia tidak perlu susah lagi jika hari itu tiba, bahkan dalam waktu dekat pun.


.


.


"Tidak bisakah kamu tinggal lebih lama di sini?" Ifa terasa berat melepas kepergian Reyna, sudah beberapa kali dia membujuk Reyna untuk tinggal sehari lagi di rumah tapi dengan sopan di tolak oleh Reyna karena di Jakarta juga dia masih punya tanggung jawab. Ifa menawarkan diri untuk mengantar Reyna ke halte bus.


"Huh, akhirnya orang itu pergi juga," Syila merasa bebas, dia rebahan di lantai. Jack sang kakak hanya menggeleng pelan, tidak habis pikir dengan Syila, masih saja belum suka dengan Reyna. Mungkin karena umurnya yang memasuki pubertas dan pikirannya juga masih labil, jadi Jack tak bisa terlalu cerewet pada adiknya karena percuma juga Syila gak bakal nurut, orangnya keras kepal mana bisa paham.


"Kak, aku gak habis pikir sama Reyna itu, kok Mama mau saja izinin dia tinggal di sini, kalo di dengar dari riwayat keluarga nya sih sedikit mengejutkan. Jika dia benar-benar akan tinggal di rumah ini, aku takut sifat bapaknya nurun ke dia, sama-sama pencuri."


"Syila, tutup mulutmu!! Kamu tidak berhak berkata seperti itu pada kak Reyna, tunjukkan sedikit sopan santunmu." Jack kali ini tidak bisa memaklumi sikap Syila, dia sudah keterlaluan dengan mengata-ngatai orang yang sudah meninggal.


"Sudahlah, Kak. Aku capek jika harus bahas soal etika atau sopan santun. Mana sini kunci mobil, sudah pas satu bulan kakak sita mobil aku."


"Kamu masih belum cukup umur, Syila. Kakak sita semua karena kamu mengendarai mobil belum terlalu fasih, belajar nyetir saja belum sudah seenaknya bawa mobil, nyawa orang hampir melayanh gara-gara kamu, tau gak?"


"Aissh, sudahlah. Terserah," Syila berlalu pergi, tak lupa kakinya dihentakkin ke lantai agar kelihatan kalo Syila sedang kesal.


"Mama ngidam apa sih waktu ngandung Syila?"


Tak lama setelah Syila pergi ehh tuh anak malah nongol lagi, pakaiannya sudah rapi seperti ingin keluar, tas selempang ia tenteng di pundaknya. Netra Jack tak lepas dari setiap langkah gadis itu.


"Mau kemana kamu?" Akhirnya Jack buka suara juga, di umur Syila yang masih 15 tahun tak jarang dia sering keluar rumah bersama teman-teman nya, entah pergi shopping atau hanya sekedar ke pantai untuk liburan, dan anehnya Ifa tidak pernah melarangnya untuk keluyuran seperti itu kecuali Jack yang over protektif pada Syila, mungkin karena Ifa juga sudah lelah dengan sifat keras kepala anaknya.


"Kakak gak perlu tau," Syila membuang muka lalu melenggang pergi. Mau sampai berbusa pun mulut Jack, Syila tak akan pernah berubah. Jack hanya berharap semoga sikapnya itu tidak kebawa sampai dia nikah besok, karena kasihan nanti suaminya stres.


Jack melihat adiknya dijemput oleh temannya menggunakan mobil, kurang pasti berapa orang di dalam mobil tersebut yang jelas suaranya terdengar ramai. Jack khawatir jika terjadi sesuatu pada Syila. Baru saja mobil yang ditumpangi adiknya pergi, mobil sang Mama tampak memasuki halaman.


"Syila, mana?" tanya Ifa ketika melihat hanya Jack di ruang tengah, biasanya Syila akan ikut nimbrung bersamanya.


"Baru saja pergi sama teman-temannya," Jack nampak berusaha tenang, padahal dalam hati ketar ketir jika Ifa meluapkan amarah pada dirinya karena tidak berhasil menghalau sang adik agar tidak pergi.


"Oh. Ya sudah, Mama akan pergi kerja sekarang." Sudah! Gitu doang jawabannya? Jack sudah memejamkan mata bersiap menerima apa pun kata-kata makian Ifa, meskipun Ifa tidak pernah memaki anak-anaknya, karena takut nanti kata-kata yang kasar atau kotor di copy oleh mereka. Kalo marah paling anaknya di jewer sampai mampus.


"Reyna sudah menikah, kamu jangan naksir gak boleh," Ifa salah menafsirkan pertanyaan Jack.


"Maksud Mama apa?" Jack tentu tidak terima, masa iya dia dikira suka sama Reyna, Jack juga punya selera, mana mungkin dia menyukai perempuan yang lebih tuda darinya, tapi kalo cantik gak apa-apa, begitu prinsip Jack.


"Oh, Mama salah ya? Mana Mama tau, Mama rasa secepatnya dia akan kembali ke sini. Mama harap Reyna diperlakukan dengan baik di rumah suaminya."


.


.


Reyna gak nyangka jika Azka sudah stay di halte untuk menjemputnya, laki-laki itu tersenyum sambil melambaikan tangannya ke arah Reyna yang masih melongo tidak percaya jika yang dilihatnya itu nyata, Reyna mencubit lengannya mungkin saja dia masih tertidur pulas di dalam bus dan saat ini tengah bermimpi.


"Aww, sakit." Reyna berteriak seraya mengusap lengannya bekas cubitan, teriakannya cukup keras sampai membuat orang yang berlalu lalang menatap aneh ke arahnya. Sibuk memperhatikan orang lain, sampai gak sadar Azka dan Farel sudah tiba di depannya.


"Kenapa diem? Gak seneng ya ketemu sama aku?" Azka mempoutkam bibirnya seperti sedang ngambek. Reyna terkekeh lalu menggenggam jari jemari Azka.


"Bukan gak seneng, tapi aku terkejut kok mas Azka tau aku pulang jan segini?"


"I don't know. Feeling suami mungkin?" Keduanya tertawa receh, Azka sangat pandai gombal jika sudah bucin begini.


"Ya sudah, kita pulang sekarang ya. Bunda pasti capek," ajak Azka kemudian merangkul Reyna dan Farel yang hanya iya-iya aja. Padahal sejak melihat Reyna dia ingin langsung berhambur ke pelukan nya tapi malah Azka yanh nyolot duluan.


Reyna melirik Azka yang tengah fokus nyetir mobil, wajahnya tenang dengan senyuman mengembang di bibir.


"Jujur, Mas. Kamu kok bisa tau aku pulang hari ini dan pada jam ini?" Tak bermaksud curiga hanya saja jawaban Azka tadi kurang pas menurutnya. Azka menatap Reyna sekilas lalu tersenyum simpul.


"Aku kan sudah bilang, feeling seorang suami tidak pernah salah, aku hanya asal nebak saja dan kebetulan beruntung, gak sia-sia aku dandan ganteng begini hanya untuk jemput kamu di halte. Tadi sempat risih sama tatapan orang-orang, apa aku setampan itu sampai mereka hampir nabrak tiang listrik?" Azka tertawa sumbang, dapat Reyna lihat kebohongan dari jawaban Azka, namun dia hanya bisa ikut tertawa mendengar lawakan suaminya yang terdengar garing. Tak ingin membuat kenyamanan terganggu, Reyna memilih diam tak bertanya lagi, dia juga sudah capek.


.


.


"Hampir saja aku ngira kamu pindah kota karena gak masuk dua hari," Ana sudah ngoceh gak jelas, sejak mendapat kabar dari Azka tentang Reyna, Ana heboh nya bukan main. Baru saja kehilangan Lia masa iya harus Reyna juga?


"Lebay ihh, aku kan cuma pergi dua hari," jawab Reyna sembari menoyor kening Ana pelan.


"Cuma? Cuma kamu bilang? Ehh, semenit saja tanpa kamu tuh rasanya sepi kek hati Dodi yang ditinggal Salsa beberapa hari lalu."


"Ehh, jangan bawa-bawa nama orang ya kalo mau curhat, ujung-ujungnya aku juga yang kena, heran," Dodi sampai membanting sapu karena mendengar namanya disebut apalagi disandingkan dengan nama sang mantan.


"Halah, sudah biasa dinistakan jadi terima saja." Ana melambaikan tangan di udara, gak peduli lagi Dodi mau komen apa pun terserah yang penting dia suka lihat wajah kusut lelaki gempal itu.


"Ya Tuhan, dosa apa yang sudah hamba perbuat di dunia ini sehingga engkau pertemuan aku dengan kambing botak seperti Ana," Dodi menengadah ke atas, mencoba berkomunikasi dengan sang pencipta.


"Kalian berdua gak usah adu mulut di sini, Tuan Azka datang cepat lakukan tugas kalian masing-masing jika tidak ingin ditendang keluar dari Kafe ini!" Rizky menengahi, kebetulan juga dia sudah muak dengan drama dua temannya yang kurang waraa sejak orok ini.


Kedatangan Azka sontak mendapat sambutan dari pegawainya, ini nih yang bikin Azka jadi bersemangat karena para karyawannya sangat ramah dan rendah hati, kerja keras mereka tak pernah mengecewakan, selalu membuktikan yang terbaik, sepertinya Azka akan menaikkan gaji mereka satu tahun lagi.


...Sorry for the typo🙏...