Married With Duda

Married With Duda
MWD 86 : The Real Friend



Proses pemakaman pun berlangsung. Sandi yang awalnya enggan ikut akhirnya kemakan bujukan dari kawannya, karena tidak mungkin seorang anak tidak datang ke pemakaman orang tuanya meski hal itu akan membuatnya kembali bersedih, tapi tetap saja itu bukan hal yang bagus. Kondisi TPU sangat ramai, banyak yang ingin menyaksikan. Kaum laki-laki yanh berdiri mengelilingi liang lahat menyingkir memberikan Sandi jalan untuk maju paling depan.


Air mata berjatuhan, Sandi tak kuasa melihat sang Ibu dikebumikan bahkan dirinya ditaruh pada posisi paling depan untuk mengangkat jenazah Ibu tercinta. Sandi menutup rapat bibirnya agar suara tangisnya tidak pecah, di lain sisi Sandi tidak bisa lagi menahan kesedihannya namun di sisi lain juga, Sandi tak mau almarhum Ibu nya sedih di atas sana karena Sandi yang masih berat untuk mengikhlaskan kepergiannya.


Seorang bapak-bapak menepuk pelan pundak Sandi berusaha menguatkan, sedikit prihatin karena sekarang Sandi sudah kehilangan kedua orang tuanya, sulit sekali menerima keadaan namun para tetangga dekat dan sanak saudara berharap Sandi dapat menjalani hidup sebagaimana mestinya meski tanpa bimbingan sosok Ibu dan Ayah. Memang susah, tapi lama kelamaan akan terbiasa tergantung pola pikirnya.


Sandi hanya bisa menunduk membiarkan bulir bening membasahi pipi. Kenangan saat di mana dia masih bersama almarhum Ibu nya mulai berputar bak kaset rusak di kepalanya.


Setelah pembacaan do'a selesai, satu persatu orang berlalu pergi meninggalkan makam, menyisakan Sandi, Farel, Rian dan kedua bibinya yang juga masih ingin tinggal sambil membujuk Sandi untuk ikut pulang.


Dikarenakan bujukan mereka berdua tak mempan, jadi Bibi Sandi hanya bisa menitipkan salam kepada Farel dan Rian sebelum bertolak balik.


Cuaca mulai mendung, rintik hujan satu persatu turun menghampiri bumi seakan ikut menangis atas kesedihan yang Sandi alami. Farel dan Rian berusaha menarik Sandi untuk balik ke mobil karena hujan juga sudah mulai lebat, tetapi pemuda yang sedang kalut dalam kesedihan itu memberontak sambil terus memeluk gundukan tanah yang masih baru dan basah.


"Besok kita dateng lagi. Hujan nya semakin lebat, nanti lo sakit," ucap Rian dibarengi dengan suara petir yang lumayan keras. Kalimatnya memang terdengar sedikit menggelikan tetapi ini antara sahabat jadi Rian gak malu buat mengatakan itu. Farel juga hanya mengangguk mengiyakan.


Sandi menatap kedua sahabtnya yang masih setia menemani, rintik hujan menghalangi pandangannya. Ucapan Rian ada benarnya juga, Sandi benci sakit, karena sakit lah kedua orang tuanya meninggalkan Sandi. Perlahan Sandi berdiri sambil terus memegangi batu nisan Ibu-nya seolah tak mau lepas barang sedetik pun.


"Ibu, Sandi pulang ya. Ibu baik-baik di sini, semoga nyaman di rumah baru Ibu yang sekarang. Besok Sandi datang lagi bawain bunga kesukaan Ibu yang banyak," untuk terakhir kali sebagai salam perpisahan di bawah rintikan hujan, Sandi menunduk dan mencium batu nisan sang Ibu lalu mengikuti langkah kedua temannya menjauhi makam.


Farel dan Rian mengantar Sandi pulang, mereka berdua juga berencana untuk menginap semalam hanya untuk menghibur dan menemani sahabat mereka yang berduka. Untung saja Farel sudah izin pada kedua orang tuanya.


Sandi mendesah pelan setelah sampai di depan rumahnya, Sandi merasa rumah tidak ada gunanya tanpa sosok Ibu. Bagi orang lain mungkin, rumah adalah tempat pulang namun bagi Sandi, Ibu lah tempat pulang yang sebenarnya. Tanpa sosok Ibu, jalannya tak tentu arah.


Farel mengikuti langkah gontai Sandi masuk rumah dibarengi Rian yang selesai parkir mobir milik Farel di belakang rumah karena di depan lahannya gak terlalu luas, jadi jika ada mobil parkir di sana akan terlihat sempit.


Sandi mendudukkan tubuhnya di sofa dengan hati-hati, menatap lantai dengan pandangan kosong lalu beralih menatap kedua sahabtnya yang baru saja masuk.


"Kalian yakin bakal nginep? Gue belum beresin kamar tamu," keluh Sandi dengan wajah lesu, merasa tidak berguna untuk temannya sendiri. Kamar almarhumah Ibu-nya juga masih belum rapi.


"Udah santai aja, kita berdua bisa kok tidur di sofa," Rian merangkul bahu Sandi, menaikkan sebelah alisnya meminta pendapat dari Farel.


"Kalian tidur di kamar gue aja, maksud gue kita bertiga," final Sandi, teringat ranjangnya lumayan lebar jadi muat lah untuk tiga orang. Farel saling tatap dengan Rian, padahal mereka mah baik-baik aja kalo emang gak ada kamar kosong, sofa pun dapat dimanfaatkan meski sedikit tidak nyaman. Ya sudah lah, mereka sudah sepakat.


"Lo yakin gak mau beres-beres dulu? Ini semua gak ngeganggu pemandangan lo?" tanya Farel menunjuk sesuatu yang belum tertata. Sandi hanya mengangkat bahu, rasanya memang malas tetapi benar kata Farel, sesuatu yang belum benar-benar beres sangat mengganggu pemandangan.


"Kalian duluan aja ke kamar, gue harus beresin ini dulu," Sandi melangkah menuju dapur untuk meletakkan piring kotor ke wastafel.


Tak enak rasanya jika kita datang untuk berkunjung apalagi menginap di saat kondisi tuan rumah sedang berantakan meski kita hanyalah seorang tamu.


Karena perasaan tidak enak itu, Farel dan Rian memilih membantu agar pekerjaan jadi lebih cepat selesai dan Sandi bisa istirahat secepatnya.


"Udah kalian duluan aja, ini gak akan lama," tolak Sandi saat melihat Farel serta Rian membawa beberapa mangkuk berisi kulit buah-buahan bekas tamu yang datang tadi pagi.


"Lo aja sana yang istirahat, biar kita berdua yang selesaikan," Rian membuang nafas pelan, mendorong tubuh Sandi agar menyingkir dari wastafel, Rian ingin mencuci piring juga. Sandi mau protes tapi tatapan Farel membuatnya mengurungkan niat saat itu juga. Ketulusan dan kebaikan sahabatnya tak pernah Sandi dapatkan sebelumnya, meski Sandi itu friendly dan cepat bergaul tetapi tidak ada satu pun yang seperti Farel dan Rian, mereka terlihat benar-benar tulus berteman dengan Sandi. Satu tahun terakhir ini, Sandi banyak bertemu orang baru dan dengan senang hati mau berteman dengannya, tapi sayang sekali Sandi dipanggil hanya di saat mereka butuh saja, and look now saat Sandi dalam kondisi berduka tidak ada satu dari mereka yang hadir hanya untuk mengucapkan bela sungkawa, gak apa-apa lewat chat, setidaknya mereka ada di saat Sandi butuh juga.


Sandi tersenyum dengan isi pikirannya, kenapa susah-susah mikirin mereka, dua sahabat sudah cukup baginya.