Married With Duda

Married With Duda
MWD 45 : Tamu tak Diundang



Sarapan adalah hal penting sebelum beraktivitas agar perut tidak kosong, bisa pake roti atau nasi untuk mengisi perut di pagi hari. Jadi, intinya jangan lupa sarapan hehe....


Karena terlambat bangun, Bi Ela hanya memasak sedikit dan untungnya dapat dimaklumi oleh majikannya karena mereka juga harus buru-buru pergi, terlebih Farel yang harus pergi ke sekolah.


Bel pintu berbunyi menandakan ada tamu.


"Biar aku saja yang buka pintu, mas, mungkin itu kurir yang mengantar paketku," Reyna menahan lengan Azka yang hendak menuju pintu utama.


Pintu dibuka perlahan dan menampilkan sosok wanita cantik dengan rambut tergerai ke belakang, riasannya cukup tebal namun tidak menutup kemungkinan bahwa ia sudah terlihat cantik tanpa make up.


"Ohh bu Putri, silahkan masuk. Kebetulan kami sekeluarga sedang sarapan, ayo sekalian juga biar enak ngajarnya," dengan ramah Reyna meraih tangan Putri dan mengajaknya masuk.


"Gak apa-apa bu Reyna, saya sudah sarapan kok. Saya hanya mau jemput Farel," Putri mengutarakan niat baiknya, tetapi sebenarnya bukan itu tujuan awalnya, Putri hanya ingin menarik perhatian Azka.


"Ya ampun, gak usah repot-repot, masih ada mas Azka yang anter."


"Gak apa-apa biar sekalian, kebetulan rumah kita satu arah jadi saya menyempatkan diri untuk mampir." Reyna menerima niat baik Putri tapi gak tau juga bagaimana pendapat sang suami tentang hal ini.


Walau masih sungkan, tetapi Putri tetap mengikuti langkah Reyna menuju meja makan karena Azka ada di sana, supaya lebih mudah menggodanya.


Reyna menarik kursi di sebelah kursi miliknya untuk Putri duduki, namun Putri sudah duluan duduk di kursi Reyna persis di dekat Azka. Reyna mengerjap bingung, tapi di maklumi karena mungkin saja Putri tidak tau.


"Kamu bawa siapa Reyna?" tanya Wati seraya menperhatikan penampilan Putri dari atas sampai bawah.


"Ini bu guru Farel, Oma," sahut Farel dengan raut wajah senang. Wati hanya ber-oh ria sembari lanjut makan. Azka yang di sampingnya merasa tidak nyaman karena pandangan Putri tidak pernah lepas dari wajahnya, Reyna pun merasakan hal demikian namun cepat-cepat ia tepis pikiran negatifnya dan memilih untuk mengambilkan nasi untuk Putri.


"Segitu saja bu Reyna, saya orangnya gak bisa makan banyak, maklum lagi diet harus jaga pola makan," ucap Putri saat Reyna ingin mengambil satu sendok nasi lagi untuknya.


"Lauknya sayur aja, saya alergi daging apalagi makanan yang mengandung minyak," Reyna hanya bisa tersenyum menuruti Putri yang banyak maunya. Sebenarnya Azka jengkel karena istrinya diperlakukan layaknya pembantu oleh orang lain, tapi tetap saja attitude nomor satu.


Selesai sarapan, Azka tak langsung pergi.


"Farel, ayo berangkat."


"Sama saya saja, tujuan awal ke sini memang mau ajak Farel jalan bareng." Azka mendengus pelan lalu kembali menatap Farel yang mengangguk kegirangan.


"Baiklah. Reyna, aku berangkat sekarang." Mendengar suara berat Azka, dengan sigap Reyna memasangkan jas sang suami dan merapikan dasinya yang sedikit miring sama seperti otak Putri. Selesai dengan itu, Azka dengan sengaja mengecup kening Reyna di depan Putri, itu sebagai penegasan bahwa Reyna tidak bisa tergantikan. Kepala Putri mungkin berasap saat ini karena tidak suka melihat interaksi mereka, tangannya terkepal kuat, Azka melihat semua itu dan hanya tersenyum senang.


"Aku gak peduli."


"Gak biasanya kamu kayak gini, pasti ada maunya," tuduh Reyna, karena memang kalo pergi kerja Azka langsung nyelonong, paling salim aja habis itu ngilang.


"Gak ada kok, aku cuma kangen sama kamu, pasti bakal sulit kalo gak ada kamu di sisi aku," ujar Azka dengan kata-kata manisnya yang bisa saja membuat Putri terbakar saat itu juga.


"Farel gak dicium juga?" Farel memanyunkan bibirnya lucu membuat sepasang suami istri tersebut tertawa renyah.


"Saya akan menunggu di luar," Putri menunduk malu, niat hati ingin menggoda Azka malah kecemburuan yang didapat.


Bertambahlah kebencian Putri pada Reyna.


"Aku gak habis pikir sama pernikahan mereka, padahal kata Farel mereka nikah karena permintaan konyolnya tapi kenapa bisa mesra begitu, aku heran apa sih rahasia Reyna sehingga dicintai pria manly seperti pak Azka. Atau jangan-jangan mereka sengaja dan hanya bersandiwara di depan mertuanya, bukankah Farel bilang Oma nya tidak merestui pernikahan mereka? Jadi bisa dong aku dapat kesempatan itu, meski harus jadi yang ke tiga aku rela kok kalo suaminya pak Azka," senyum Putri mengembang, menggambarkan bahwa dirinya sedang bahagia sekarang.


"Bu Putri, tolong jaga Farel ya selama di sekolah, anaknya suka rewel tapi yang pasti dia rajin banget dan penurut," tutur Reyna.


"Jangan risau bu Reyna, Farel anaknya gak rewel kok buktinya kita cepat akrab, iya kan sayang?" Farel mengangguk mengiyakan.


"Reyna, itu benar gurunya Farel?" tanya Wati, sepertinya dari tadi dia memperhatikan dari kejauhan.


"Iya, Ma. Kenapa?"


"Cantik banget ya, kulitnya putih dan mulus, andai saja dia yang jadi istrinya Azka, sudah pasti aku setuju." It's okay, Reyna sudah terbiasa dengan kalimat Wati yang selalu membuat hatinya sakit. Reyna tersenyum manis lalu masuk ke dalam, mendengar ocehan Wati yang panjang lebar gak akan habis, semua isinya hanya kalimat untuk menjelekkan atau membandingkan nya dengan perempuan lain, dengan alasan kalah cantik lah, asal usul keluarga, pendidikan, semua paket lengkap kekurangan Reyna, Wati ungkit di depan orangnya. Jika mengenai fisik dan pendidikan mungkin Reyna bisa terima, tetapi kalo soal orang tua dan soal ekonomi, Reyna kadang membantah namun tidak sampai main cakar.


Di dalam kamar, Reyna kembali dibuat bosan dengan kegiatan sehari-hari nya yang itu itu saja, Azka tidak membenarkan Reyna keluar rumah jika belum izin. Kalo dipikir-pikir, Reyna sudah lama gak ke Kafetaria, terhitung mungkin sudah satu minggu Reyna tidak bertatap muka dengan Ana. Sebelum pergi, Reyna menelpon suaminya untuk meminta izin karena jika Azka tau Reyna melangkah keluar rumah, dia bakal dianggurin sampai dua bulan ke depan.


.


.


"Sudah lama sekali aku tidak menginjakka kaki di lantai Kafe. Yah, aku rasa di sini lah awal mula perjalanan ku sampai bisa menikah dengan mas Azka, aku bersyukur kadang juga stres karena kehidupanku yang plin plan, tapi setidaknya masih ada yang bisa menyelamatkan mentalku dan senantiasa mendukungku," Reyna menghirup udara saat sampai di dalam Kafe, masih sama seperti yang dulu, ramai pelanggan dan para karyawannya yang super duper sibuk melayani sampai kedatangan Reyna pun tidak digubris, kecuali Ana yang memang bertugas di bagian kasir.


Ana ingin melompat saat melihat Reyna, tapi sadar masih dalam jam kerja, sesuai aturan dari Azka tidak boleh beralih dari tempat sebelum jam istirahat. Reyna yang paham akan tatapan memelas Ana hanya terkekeh gemas kemudian ia meminta agar Ana ke ruangannya setelah selesai bekerja.