
Tangan Reyna bergerak mengetuk pintu kayu dari rumah minimalis tetapi megah tersebut, dan kebetulan yang membukakan nya bukan tante Ifa melainkan Syila. Reyna langsung kaku saat melihat tatapan sinis Syila saat melihat kedatangannya di sini, Reyna tersenyum canggung dan mencoba mencairkan suasana.
"Tante Ifa ada?" tanya Reyna pelan.
"Mana aku tau," Syila berlalu pergi tanpa mempersilahkan Reyna masuk dan dia kini masih berdiri di ambang pintu. Untungnya ada Jack yang segera mungkin menghampiri Reyna, dia habis dari dapur.
"Eh kak Reyna, ayo masuk." Reyna melihat Jack dari atas sampai bawah, pemuda itu menggunakan apron, sudah bisa ditebak jika Jack tengah memasak. Jack hendak mengambil alih koper tersebut namun dihalangi oleh Reyna karena takut ngerepotin. Reyna meletakkan koper nya di sisi sofa.
"Kamu memasak sekarang?"
"Hehe, serumah telat bangun tadi, jadi Jack masak sekarang walaupun terlambat untuk sarapan. Mama ada di belakang lagi berkebun sekalian nanam pohon juga," jelas Jack.
"Tumben, biasanya tante Ifa tanam bunga, kok tiba-tiba ganti hobi jadi tanam pohon."
"Iya itu maksud aku, Mama lagi tanam pohon bunga."
"Emang bunga apa yang ditanam sampe pohonnha juga ikut sekalian?"
"Pohon sakura," keduanya sontak tertawa membuat Syila yang tengah menonton acaranya langsung berteriak protes.
"Kalian berdua bisa diem nggak?" Syila membanting remot ke meja lalu pergi ke kamarnya, tak lupa tatapan tajam mematikan dia lemparkan pada Reyna.
"Maklumin, kak. Masih ABG, pikirannya masih labil, ditambah dia baru putus sama pacarnya, makanya jadi pemarah begitu," tutur Jack karena merasa bersalah pada Reyna atas sikap sang adik.
"Lohh kok kamu izinin adik kamu pacaran, kan masih SMP, tante Ifa gak ngelarang gitu?" Jack hanya mengedikkan bahu.
"Mama sudah berusaha sangat keras untuk menasehatinya tapi tuh anak ngeyel, Mama aja dibantah apalagi aku, otaknya memang sekeras batu," kekeh Jack. Di sela obrolan, mereka mencium bau tidak enak, bau gosong dari arah dapur.
"Ohh, ****. Aku lupa jika sedang memasak ikan," Jack buru-buru lagi diikuti Reyna dari belakang. Di dapur, asap sudah mengepul banyak, cepat-cepat Jack mematikan kompor agar asapnya segera menghilang.
Jack mengangkat wajan yang sudah tak berwarna putih lagi, semua sisinya ditutupi oleh warna hitam alis gosong, ikan yang digorengnya pun udaj gak mirip ikan lagi.
"Mampus dimarahin Mama nantu," Jack bergidik ngeri jika sudah menyangkut sang Mama.
"Kamu mandi saja sana, biar aku yang masak."
"T-tapi, kak--"
"Sudah, gak apa-apa. Nanti biar aku yang bicara sama tante Ifa." Jack seditik tenang, kemudian mengangguk lalu pergi menuju kamarnya.
Dalam hal memasak, bisa disebut Reyna adalah ahlinya, tangannya begitu lihai menggoyangkan wajan di atas kompor. Reyna berpikir untuk memasak nasi goreng seafood istimewa saja, selain simple nasi goreng buatannya juga terkenal enak, gak heran Azka dan Wati sering minta dibuatkan.
"Reyna? Kamu kapan dateng, sayang," Ifa berlari seraya memeluk Reyna yang sudah selesai dengan aktivitas memasaknya.
"Baru saja, tante. Tante sehat?"
"Alhamdulillah sehat, kamu sendiri?"
"Kok kamu di dapur? Bukannya tadi Jack yang masak?"
"Jack pergi ke kamarnya, katanya mau mandi, kasian mungkin Jack capek jadi Reyna yang gantiin masak."
"Aduhh, jadi ngerepotin."
"Gak kok, tante."
"Ya sudah, tante juga mau mandi, capek banget habis tanam bunga di taman belakang, kamu tunggu sini ya." Ifa bergegas pergi, sekalian panggil anak-anak untuk sarapan juga.
Dari arah tangga, hanya Ifa dan Jack yang terlihat sedangkan Syila gak ikutan diseret turun.
"Syila mana, tante?" tanya Reyna basa-basi sebelum mulai makan.
"Ada di kamarnya, udah tante panggil gak mau keluar, kalo lapar nanti dia keluar sendiri kok," jelas Ifa, memang ucapannya terdengar santai karena dia lah yang paling paham dengan Syila.
"Biar Reyna yang panggil ya," Reyna hendak beranjak tetapi dihalangi oleh Jack sambil gampar meja, sehingga membuat Ifa kaget hampir terjungkal ke belakang, Reyna pun sama dia berkedip beberapa kali karena terkejut.
"Ngelarang orang gak usah pake tenaga, Jack. Untung jantung Mama masih aman di tempat," protes Ifa. Jack nyengir tanpa dosa.
"Udah kak, biarin aja. Dia kayaknya lagi tidur juga," ucapan Jack membuat Reyna mengurungkan niatnya. Jack melalukan itu karena gak mau Reyna jadi pelampiasan amarah Syila mengingat adiknya gak terlalu menyukai Reyna.
.
.
Sore ini, Reyna iseng pengen bersih-bersih rumah mumpung gak ada kegiatan, Farel juga lagi pergi sama Azka untuk melihat karnaval di kampung sebelah, Wati juga belum pulang dari acara pesta ulang tahun anak temannya, kalo Reyna gak salah denger sih beliau pulang malam, jadi ini kesempatan emas untuk Reyna. Tujuan utama Reyna yaitu ruang kerja Azka, bukan apa-apa sih cuma Reyna penasaran aja soalnya Azka gak pernah mengizinkan siapa pun masuk ke dalam ruangan kerjanya, termasuk dirinya juga.
Sambil membawa gagang sapu dan kemoceng, Reyna menarik gagang pintu besi itu ke bawah dan langsung terbuka, Reyna bernafas lega karena Azka tidak menguncinya. Dengan langkah mengendap-endap, Reyna menghampiri sebuah laci meja, kepalanya masih lirik sana lirik sini, waspada jika Azka pulang dia akan membuat dirinya sibuk seolah sedang membersihkan ruangan ini.
Merasa sudah aman dan gak ada tanda-tanda dari suaminya, Reyna lanjutkan lagi aksinya. Reyna tau kok di ruangan ini ada CCTV, tapi tenang saja sudah dia matikan agar tidak ketahuan.
Reyna mengotak-atik berkas yang ia sendiri tak paham apa isinya, dalam hal ini ia juga sangat berhati-hati agar Azka tidak curiga jika ruangan kerjanya baru saja kemasukan penyusup, padahal pelaku istrinya sendiri.
Kenapa Reyna melakukan ini? Alasannya simple saja, Reyna hanya ingin tau seberapa jauh Azka sudah berhasil menyelidik pasal orang tuanya, terlebih lagi sang Papa yang jelas-jelas tokoh utama dalam masalah ini.
"Aneh, gak ada apa pun yang bisa aku temukan di sini yang berhubungan dengan mendiang Papa," Reyna menelisik setiap sudut ruangan, apakah ada tempat menyimpan selain laci ini?. Reyna bahkan sama sekali gak tertarik dengan tumpukan kertas di atas meja dekat komputer, karena Reyna pikir di sana hanya berkas yang berhubungan dengan perusahaan, jadi gak terlalu menarik perhatian. Tapi, entah kenapa tangannya tiba-tiba bergerak mengangkat satu persatu kertas tersebut dan menemukan sesuatu yang membuatnya terkejut setengah mati. Tangannya bergetar hebat kala memegang sebuah foto, badannya langsung membeku di tempat, kakinya tak bisa digerakkan lagi, lidahnya kelu, dadanya naik turun. Keterkejutannya ini membuat nafas Reyna memburu, tak bisa berkata-kata lagi, hanya bisa memandangi foto tersebut dengan tatapan kosong sekaligus tak percaya.
"Apa yang kamu lakukan di sana, Reyna?" Reyna seketika menoleh dan mendapati Azka tengah berdiri di ambang pintu. Reyna lupa untuk mengunci pintunya, sejenak dia merutuki dirinya sendiri. Azka melihat foto yang sudah lama dia simpan kini berada di tangan Reyna. Lelaki itu tersenyum simpul, sehingga menimbulkan beribu pertanyaan dalam benak Reyna.
"Ternyata kamu sudah tau, jika aku mengetahui semuanya."
...Semoga suka dengan alurnya🤗🤗.......