
Waktu berjalan begitu cepat, Damien sudah menetapkan hatinya untuk Cathrine seorang. 1 bulan merupakan waktu yang cukup untuknya mempersiapkan acara pernikahan mereka yang akan dilaksanakan hari ini.
Ditempatnya Cathrine sedang dirias oleh MUA terkenal dengan bayaran yang sangat tinggi. Alex tidak tanggung-tanggung dalam mengeluarkan uangnya untuk semua biaya pernikahan mereka. Bahkan gaun pengantin Cathrine dirancang oleh desainer terkenal yang harganya sangat fantastis. Setelah selesai dirias Cathrine langsung menemui keluarganya. Mereka sangat takjub melihat Cathrine dengan gaun putihnya sudah seperti putri kerajaan saja.
"Wow...putriku sangat cantik sekali," ucap Alex takjub.
"Tentu saja, itu warisan dariku," ucap Selena pada Alex.
"No sayang..itu karena daddynya sangat tampan," ujar Alex bangga.
"Baru saja kakak pulang dari Italia dan sudah menikah saja. Kakak akan jarang bertemu dengan kami setelah ini," ucap Javier.
"Kakak akan sering datang kesini karena kakak akan selalu merindukan adikku yang satu ini" ucap Cathrine .mencubit kedua pipi Javier.
"Huh..rasanya baru kemarin daddy meminang-nimangmu, sekarang kamu sudah menikah. Waktu berjalan begitu cepat sekali, putri daddy akan menjadi milik pria lain," ucap Alex sedih. Cathrine sudah yakin dirinya menikahi Damien di umurnya yang hampir 22 tahun. Ia tidak ragu lagi dengan hatinya.
"Daddy akan tetap menjadi pria terhebat bagi Cathrine," ucap Cathrine memeluk Alex.
"Ya sudah kita langsung berangkat saja," ucap Selena.
Pernikahan mereka dilalukan secara outdoor di sebuah taman luas dengan nuansa putih. Beberapa wartawan sudah hadir disana untuk meliput pernikahan Damien. Maklumlah, Dia merupakan salah satu pengusaha yang terkenal.
Seorang pria gagah berdiri disana menanti pasangannya yang baru saja tiba. Semua undangan yang datang menatap mempelai wanitanya yang sangat cantik dan anggun. Cathrine berjalan dengan hati-hati. Tangan kirinya tampak memegang bunga lili putih. Sedangkan tangan kanannya menggandeng lengan Ayahnya. Damien melihat Cathrine dengan tatapan berbinar. Calon istrinya sangat cantik dengan gaun pilihan mereka.
Alex menyerahkan tangan putrinya pada Damien.
"Aku harap kamu Akan selalu mencintai dan melindunginya seperti Aku menyayangi putriku. Berbahagialah," ujar Alex. Damien lalu mengangguk.
Damien dan Cathrine berjalan menuju altar melewati karpet putih yang membentang dengan beragam bunga indah di setiap sisi disepanjang jalan menuju altar. Beberapa bridesmaid terlihat mengekor dibelakang mereka. Cia juga ikut menjadi salah satu bridesmaid. Evans menjadi pria satu-satunya yang ikut berjalan ditengah-tengah bridesmaid, berjalan disamping Cia. Anak itu langsung masuk ke barisan bridesmaid saat mereka sudah setengah jalan menuju altar membuat para undangan gemas melihat tingkah Evans.
Tak lama kemudian mereka sampai di depan altar. Pendeta mulai memimpin acara hingga Damien dan Cathrine mengucapkan janji suci pernikahan mereka di depan Tuhan dan juga para hadirin . Setelah memasang cincin pernikahan, Damien mengecup kening Cathrine yang sudah resmi menjadi istrinya dan terakhir mencium bibir istrinya disertai gemuruh tepuk tangan undangan.
Setelah acara pemberkatan, dilanjutkan dengan acara resepsi yang dilaksanakan ditempat itu juga.
"Terima kasih baby sudah menerimaku menjadi suamimu, Aku berjanji akan selalu setia dan akan membahagiakanmu selalu," ujar Damien mengecup kening Cathrine.
"Aku juga sangat senang karena kamu adalah suami ku, akhirnya imipianku tercapai menikah dengan mu," ucap Cathrine memeluk Damien.
*********************
Malam harinya dirumah besar keluarga Devano mereka semua berkumpul setelah acara selesai. Tampak mereka berbincang-bincang disana.
"Uncle, aunty..." panggil Evans berlari menemui Damien dan Cathrine dengan buah apel ditangannya. Ia duduk diantara Cathrine dan Damien.
"Ada apa boy.." ucap Damien mengusap rambut Evans.
"Kata aunty Cia kalian akan pergi bulan madu. Oh iya, bulan madu itu apa uncle?" tanya Evans membuat semua yang ada disana bingung harus menjawab apa. Anak itu tipe orang yang suka bertanya.
"Bulan madu itu ya untuk membuat anak" jawab Cia asal. Semua menatap Cia horor karena jawaban yang diberikannya.
"Memangnya membuat anak harus pergi ke Paris ya uncle?" tanya Evans. Karena Ia mendengar kalau Damien dan Cathrine akan bulan madu di Paris.
"Sayang..kemarilah. Besok saja bertanyanya ya, uncle Damien dan aunty mu pasti capek hari ini," ujar Stefani mencoba mengalihkan perhatian Evans.
"hmm...kalau begitu Evans akan ikut dengan uncle untuk bulan madu, bisa kan aunty," pintanya membuat Damien kesal. Anak itu selalu saja menganggu waktu untuk berduaan Damein dengan Cathrine. Cia tertawa dengan keras karena membayangkan bagaimana kesalnya Damien saat mereka pergi bertiga untuk bulan madu.
"Tidak..tidak..anak-anak dilarang ikut. Ini hanya untuk orang-orang yang sudah menikah saja," ucap Damien.
"Ayo dong uncle..Evans ikut ya. Dad, mom, granpa bujuk uncle dong" pintanya lagi.
"Astaga cucuku yang satu ini, kalau kamu ikut kami pasti akan sedih. Kami akan rindu Evans. Nanti tidak ada lagi Evans yang suka membantu grandma untuk membuat kue, menanam bunga dan berkebun," ucap Sarah dengan mimik wajah pura-pura sedih. Evans turun dari sofa dan berjalan menuju Sarah. Ia naik kepangkuan Sarah dan mengelus wajah Sarah.
"Kalau begitu Evans tidak jadi ikut grandma. Evans tidak mau membuat grandma sedih. Jangan sedih lagi yang grandmanya Evans," ujarnya memeluk Sarah. Semua orang yang ada disana tersenyum melihat tingkah Evans. Anak itu selalu saja memberi kebahagiaan untuk mereka. Damien mengecup kepala Cathrine dan merangkul tubuh istrinya itu sembari menatap Evans si kecil yang lucu dan bijak.
END