Married With Duda

Married With Duda
MWD 85 : Berita Duka



Sepulang dari kampus, Farel segera masuk kamar untuk merileksasikan tubuhnya, padahal dia gak capek sama sekali tapi pengen aja gitu rebahan mumpung belum sore meski tinggal satu jam lagi adzan asar.


Kebetulan pintu kamar Farel tidak ditutup jadi inilah kesempatan untuk Azarin mengacau di kamar Abang-nya, sudah lama gadis kecil itu tidak merasakan senangnya lompat-lompat di atas ranjang Farel. Tapi, bukan itu alasan utama Azarin nyelonong masuk kamar Farel. Gadis itu hanya minta diajarkan PR nya saja, kebetulan Farel jago dalam bahasa Inggris.


Azarin ngintip sebentar dari balik pintu, pemuda dengan kaki yang menjuntai ke bawah tampak terlelap sambil melipat tangan di atas perut, sudah mirip seperti mayat. Azarin jalan pelan-pelan mendekati ranjang king size milik Farel, menatap lekat wajah Abang-nya dari dekat ternyata memang setampan itu, tanpa sadar Azarin berdecak kagum menyaksikan mahakarya Tuhan yang seindah Farel.


"Kenapa ya teman satu sekolahku tidak ada yang tampan seperti Bang Farel, minimal mirip hidungnya lah atau nggak bibirnya," gumamnya dalam diam, takut Farel terganggu dan bangun.


Azarin beringsut naik ke atas ranjang, duduk di samping Farel yang masih saja terlelap, tidak terganggu dengan pergerakan yang Azarin buat.


"Suka Abang sendiri salah gak sih?" Kini Azarin memainkan rambut Farel, memutarnya di jari sambil terus memperhatikan wajah Abang-nya, kagum. Azarin meraih buku yang ia bawa tadi di tepi ranjang, menunggu Farel bangun seperti menunggu ayam jantan bertelur. Kalo dibangunin kasian juga, pasti capek.


"Ya udah lah. Nanti saja," Azarin membuang nafas kasar kemudian bergerak turun dari ranjang meninggalkan kamar Farel.


Setelah dua jam lamanya merangkai mimpi, Farel terbangun karena terganggu oleh suara ponselnya yang terus saja bergetar di saku celana. Mengusap wajahnya kasar lalu segera bangkit. Farel berdecak kesal saat melihat siapa yang sudah mengacau tidur nyenyaknya.


Tertera nama Rian di layar, dan di sinilah pikirannya berperang memilih antara angkat atau tidak.


"Angkat aja lah, siapa tau penting," Farel mulai mendekatkan ponsel ke telinganya, beberapa detik berlalu hanya hening yang dapat Farel dengar, namun sesaat kemudian suara ramai mulai memenuhi. Farel mengernyit heran, baru bangun tidur sudah dibuat bingung.


"Sudah gue duga, memang gak pernah ada hal yang penting kalo menyangkut si Rian bahlul."


"Woyy setan, jangan tutup dulu. Gue ada kabar buruk. Nyokap Sandi meninggal dunia!!" Hening sebentar, karena Farel sedang mencerna ucapan Rian. Jujur saja, baru bangun tidur langsung dapat kabar yang tak mengenakkan begini.


"Gak usah bercanda anying, gue baru bangkit ini," dengus Farel, hampir saja dia melempar ponselnya ke lantai, padahal dia sendiri yang bakal rugi.


"Lo pikir gue gila bercanda kurang ajar kayak gitu? Mati bukan sesuatu hal yang bisa dibuat bahan candaan, bego. Gue serius, datang sekarang ke rumah Sandi!" Tepat setelah itu, sambungan keduanya terputus menyisakan Farel yang terus saja bergelut dengan pikirannya, antara percaya atau tidak yang jelas Farel mulai panik sekarang.


Dengan kasar Farel meraih jaket nya yang tergantung di belakang pintu karena sekarang cuacanya mendung sekali dan kemungkinan besar akan turun hujan hari ini.


Saking paniknya, Farel sampai tidak mendengar panggilan Azarin di ruang tengah sedang nonton televisi. Bukan itu yang penting sekarang, Farel harus cepat-cepat sampai di rumah Sandi.


Berbagai asumsi muncul di kepalanya.


Butuh 10 menit untuk Farel sampai di pekarangan rumah Sandi. Banyak orang sudah berkumpul di sana, dapat Farel dengar suara tangisan bersahutan di antara kerumunan orang-orang di sana, dan Farel yakin Sandi juga salah satunya.


Farel membawa kakinya melangkah menghampiri kerumunan, susah sekali melihat ke dalam karena banyak yang menghadang jalan. Sosok Rian pun tak terjangkau oleh netranya. Ingin sekali Farel menyisir orang-orang yang berdiri di depannya, sampai tepukan pelan di bahu membuatnya berjengit dan langsung menoleh.


Tampak Rian dengan raut sedih menatapnya sambil ngangguk, tapi Farel gak ngerti maksudnya apaan. Tanpa bicara sepatah kata, Rian menuntun Farel berjalan ke belakang rumah Sandi, tidak ramai orang di sana seperti kondisi di depan rumah, hanya ada beberapa.


"Kita ngapain ke sini?" Farel melepas pegangan tangan Rian pada lengan jaketnya, meminta penjelasan karena Farel benar-benar belum paham. Rian tak menjawab, malah kembali narik Farel.


Rian menunjuk ke arah pemuda yang terduduk sambil menangis tersedu-sedu dan ditenangi oleh dua wanita paruh baya yang mungkin adalah keluarganya.


Farel memicingkan matanya. Itu Sandi, laki-laki yang selama ini jadi komedian untuk menghibur di circle mereka tetapi sekarang dia terlihat rapuh, bahkan sangat rapuh. Ini simpati dari seorang sahabat, Farel turut merasakan apa yang Sandi alami.


Rian membuang muka, mendorong bahu Farel untuk duduk di kursi yang berjarak hanya dua langkah dari tempat Sandi berada. Seorang wanita paruh baya menghampiri mereka berdua, matanya kelihatan sembab dan merah.


"Kalian berdua temannya Sandi?" Wanita itu duduk di kursi samping Farel. Rian sontak mengangguk ketika dihadapkan dengan pertanyaan tadi. Sesaat kemudian, tak ada pembicaraan lagi karena wanita paruh baya itu kembali mendekat ke arah Sandi yang tampaknya kumat dengan tangisannya.


Farel menatap Rian yang ternyata juga menatap ke arahnya, mereka seolah memiliki pemikiran yang sama. Keduanya beranjak berdiri, ikut mendekat ke sahabatnya yang saat ini berduka atas meninggalnya malaikat tanpa sayap.


Menepuk dan mengusap bahu Sandi yang bergetar hebat, pemuda itu menyembunyikan wajahnya pada telapak tangan, sudah dapat mendeskripsikan bagaimana hancurnya Sandi.


Dua wanita yang tadi menenangkan Sandi pergi, tinggal Farel dan Rian yang masih tak mau angkat bicara karena takut salah ngomong.


"Gue salah apa ya sampai Tuhan jahat banget sama gue? Kehilangan sosok Ayah saja sudah membuat gue terpukul banget, apalagi sekarang Tuhan ngambil yang paling berharga di hidup gue. Lantas, apa gunanya gue hidup?" Sandi mulai agak tenang, namun nada bicaranya seolah protes dan menyalahkan takdir. Memang salah, tapi bagi yang berada di posisi Sandi pasti berpikiran yang sama meski tidak semuanya.


"Lo pernah denger gak? Apapun yang hilang dari hidup lo, jika lo ikhlaskan pasti akan diganti oleh Allah dengan yang lebih baik," ucap Farel menenangkan.


"Ini bukan tentang harta atau benda, Rel. Ini tentang nyawa. Mau diganti dengan apa? Ibu baru?" Sandi mengeraskan rahangnya, namun sedetik kemudian bahunya bergerak turun, Sandi menunduk karena berpikir sudah salah bicara, tanpa sadar dia seperti menyindir Farel yang memiliki Ibu sambung.


"Ya nggak seperti itu, tapi gue yakin Allah punya rencana baik untuk hidup lo. Lo yang kuat ya, gue juga pernah ada di posisi lo, jadi jangan berkecil hati. Allah gak pernah salah dalam menentukan takdir hamba-nya," Farel tersenyum simpul sambil menepuk bahu Sandi. Sementara Rian di sampingnya tampak kagum dengan pemikiran Farel.