Married With Duda

Married With Duda
MWD 65 : Farel Khilaf



Reyna duduk menghadap pintu sambil memangku Azarin yang sudah tertidur karena terlalu banyak menangis, sorot matanya menatap tajam ke arah bocah 6 tahun di depannya yang terlihat menunduk takut, terlihat dari tangannya yang gemetar dan bahu yang bergetar hebat. Membuang nafas kasar, Reyna beralih menatap Azarin yang tampak tenang dalam tidurnya, terdapat sedikit luka goresan pada wajah bayinya itu, namun untungnya tidak terlalu parah sampai mengeluarkan darah, dan sebuah benjolan kecil di keningnya yang sudah memerah keunguan. Reyna tahu betul apa penyebab Azarin bisa sampai terluka begini.


Merasa sudah cukup tenang, Reyna berdiri menuju box bayi untuk menidurkan Azarin di sana, setelahnya ia beralih ke Farel yang masih setia menunduk.


Hening. Reyna terus saja menatap Farel yang tak berani menatap balik, rasanya enggan sekali untuk bicara atau sekedar menegur. Iya Reyna tau Farel hanya anak kecil, tapi di umurnya yang sudah 6 tahun Farel pasti paham dengan apa yang sudah dia lakukan pada sang adik, jika dibiarkan maka nantinya akan semakin parah, dan kejadian buruk tentu tidak akan bisa dihindari lagi.


Reyna memijat pelipisnya yang terasa pening, memikirkan bagaimana bisa putra kesayangannya ini melakukan hal jahat seperti itu pada adiknya hanya karena rasa cemburu.


Satu jam yang lalu....


Reyna bolak-balik keliling rumah, membuka satu persatu kamar untuk menemukan keberadaan Azarin, hatinya berusaha tenang namun otaknya selalu saja memikirkan hal yang megatif, sampai sebuah suara mengalihkan atensinya.


Kaki Reyna meluruh saat mendapati Azarin dengan beberapa luka goresan di pipi sebelah kanan dan kiri serta benjolan di keningnya. Reyna buru-buru mengambil Azarin dari gendongan Bi Ela, beliau juga sama paniknya dengan Reyna.


Seolah meminta penjelasan, Reyna menatap bi Ela tajam penuh intimidasi. Tak segera menjawab, bi Ela malah membuang pandangan dan menatap Farel yang terlihat ketakutan memeluk kaki bi Ela, Reyna mengikuti arah pandangan ART-nya dan menatap tak percaya.


"Tadi saat saya menyiram tanaman di taman, gak sengaja lihat Tuan muda Farel membawa Azarin ke halaman belakang rumah. Awalnya saya berpikir mungkin mau diajak jalan-jalan, tapi saat mendengar suara tangisan yang cukup kencang, saya segera membuang selang dan berlari menghampiri tuan muda, dan di sana saya melihat--" Bi Ela sudah tak kuasa melanjutkan kalimatnya, lidahnya terasa kelu.


"Lanjutkan!!" titah Reyna penuh penekanan, matanya mulai berair sambil terus menatap Farel yang juga ikutan menangis sesenggukan.


"Tuan muda Farel mencubit kasar pipi Azarin sampai meningalkan bekas kukunya dan memukul kening Azarin sampai benjol," Bi Ela terisak setelah menyelesaikan kalimatnya, dia juga tidak berani manatap sorot tajam milik Reyna padahal di sini dia tidak bersalah tetapi kenapa rasanya menakutkan sekali, di sisi lain Bi Ela juga kasihan dengan Farel entah hukuman apa yang akan bocah itu terima setelah perbuatannya ini, namun sisi lainnya juga Bi Ela tak tega kala mendengar suara tangisan Azarin yang seolah minta tolong karena kesakitan.


Tubuh Reyna melemah, kakinya seakan tidak bisa menobang berat badannya. Tidak menyangka Farel bisa melakukan hal kriminal di saat umurnya masih kecil.


"Farel, ikut Bunda ke kamar sekarang!!" Reyna berjalan cepat seraya mendekap erat tubuh Azarin menuju kamar. Farel mendongak menatap sendu pada bi Ela, Farel berani jujur dia tidak berani menghadapi kemarahan sang Bunda dan ini baru pertama kali Farel melihat Bunda-nya emosi.


Bi Ela mengangguk menenangkan sambil mengusap pelan pundak Farel.


.


"Bunda, Farel minta maaf. Janji gak akan ulangin lagi, Farel nyesel Bunda," akhirnya setelah lama hening, Farel membuka suara dan merengek minta maaf sambil memggoyangkan paha Reyna. Tangisannya cukup kencang sampai membuat Reyna menyipitkan matanya.


"Sayang, cemburu itu boleh tapi jangan sampai kelewatan. Kasih sayang Ayah sama Bunda gak sama Adek doang, terutama Bunda gak pernah pilih kasih sama Adek, semua rasa sayang Bunda ke kalian berdua sama rata," ucap Reyna tenang, tangannya bergerak mengusap punggung serta kepala Farel lembut.


"Bunda, jangan kasih tau Ayah ya, Farel takut Ayah ngamuk terus ngusir Farel dari rumah dan gak mau anggep Farel jadi anaknya lagi. Terus nanti aku mau tinggal di mana?" Reyna tertegun, pikiran Farel jauh sekali, mana mungkin Azka setega itu untuk mengusirnya.


"Kok kamu ngomong gitu sayang? Mana ada Ayah seperti itu," kekeh Reyna, ia mencubit pelan hidung Farel membuat empunya meringis dan malah tambah nangis.


"Farel sering lihat di TV, Farel kan jadi kepikiran," jawab Farel sambil mengusap hidungnya. Reyna menggeleng pelan tanda tidak setuju, setelah itu menuntun Farel pergi ke kamarnya untuk mandi karena Reyna juga harus bersih-bersih sementara Azarin tidur.


.


"Gimana, Bunda gak marah kan sama Farel?" tanya Bi Ela saat melihat Farel turun tangga dengan wajah lega serta riang gembira, bersenandunh layaknya tidak terjadi apa-apa.


Farel memberikan dua jempolnya tanda semua baik-baik saja, Ela mengelus dada ikut lega sembari menyunggingkan senyum bahagia.


"Bi, Farel mau makan ikan goreng," teriak Farel.


"Sekarang akan Bibi buatkan, tunggu 10 menit lagi," Ela bergegas menuju kulkas untuk mengambil ikan segar. Farel hanya menatap Ela yang lincah bergerak menggoyangkan wajan bak seorang chef padahal cuma masak ikan pakai atraksi segala, sesekali Farel bertepuk tangan kala ikan yang dimasak Ela terbang di udara, nampaknya bocah itu terhibur.


.


Azka mengusap kasar wajahnya setelah melihat hasil laporan keuangannya yang menurun drastis dari biasanya. Kepal Azka tambah pusing saat mendapat laporan dari Rudy bahwa ada yang korupsi uang perusahaan dan membawanya kabur entah kemana. Azka seperti dejavu dengan keadaan ini, mengingat dulu sang Papa juga mengalami hal yang sama, tetapi untungnya jumlah yang dicuri lebih jauh nominalnya dibandingkan saat Papa-nya memimpin, tapi tetap saja Azka merasa tidak adil. Sudah diperlakukan dengan baik dan gaji yang lumayan besar, apa itu masih belum cukup.


Azka langsung mengerahkan bawahannya bersama beberapa polisi juga untuk melacak si pelaku korupsi agar bisa langsung dijebloskan ke penjara, bila perlu kasih hukuman mati biar mampus, Azka sudah terlampau emosi jika sudah begini.


Suara pintu terbuka membuat atensi Azka teralihkan, menatap Rudy yang tengah membawa sesuatu di tangannya. Ahh, map itu lagi, Azka malas sekali jika harus berurusan dengan benda itu.


Rudy membungkuk sedikit lalu menyerahkan apa yang ia bawa.


"Perusahaan Arie's Company membatalkan kerja sama dengan perusahaan kita, tuan," jelas Rudy. Azka jelas tidak terkejut karena sudah tau dari awal, berbeda dengan Rudy yang sedikit takut dengan aura di dalam ruangan ini.