Married With Duda

Married With Duda
MWD 74 : Ngungsi



Sapira keselek biji rambutan karena melihat Azka sudah berdiri di ambang pintu menatap ke arahnya, Sam suami Sapira segera menyodorkan air ke istrinya dan disambar kasar oleh Sapira.


Sam menepuk punggung Sapira pelan agar apa yang tertelan segera keluar, tetapi nihil biji rambutan tersebut sudah berseluncur manja menuju lambung Sapira.


Reyna datang dari dapur mendapati Sapira dengan keadaan terbatuk-batuk yang parah sampai isi perutnya keluar. G. Canda. Reyna jelas panik dong, saat ingin menghampiri sahabatnya, matanya sontak menoleh ke arah Azka yang masih berdiri pada posisi awal, udah kayak malaikat maut, diam membisu di tempat memperhatikan tamu Reyna, mana pakaiannya serba hitam, gimana Sapira gak kaget, lihat Azka berasa nyawa di ujung tanduk.


"Mas, kamu ngapain berdiri di sana? Ayo masuk, mereka gak gigit kok," ucap Reyna berjalan pelan menghampiri Azka. Baru Sam tau penyebab istrinya ini keselek biji rambutan yang bisa kapan saja tumbuh dalam perut Sapira, haha lawakan emak-emak.


Sam ikutan bergidik ngeri namun memberanikan diri untuk menyapa suami dari sahabat dekat istrinya. Dengan langkah pasti, Sam berjalan menghampiri Azka dan Reyna yang menatap aneh ke arahnya, bagaimana tidak, cara jalan Sam kayak orang lagi Paskibra.


"Salam sodara, saya Sami'un dipanggil Sam, istri dari Sapira sahabat dekat istri anda," Sam menunduk hormat ala-ala zaman kerajaan. Azka sendiri menautkan alis bingung lalu bergantian menatap Reyna yang hampir tertawa karena tingkah Sam yang menurutnya sedikit lawak.


Azka berdehem pelan, memasukkan kedua tangannya ke saku celana lalu mengangguk pelan.


"Y-yah, senang bertemu denganmu. Nikmatilah kunjungan kalian ke sini," Azka berjalan melewati Sam yang masih setia menunduk. Reyna menepuk pundak Sam agar berhenti karena orang yang dihormati sudah berlalu pergi, Sam celingak-celinguk kayak orang bego. Reyna meminta Sam untuk kembali duduk.


"Sumpah, aku kaget banget, aura suami kamu tuh dingin banget, emang sih ganteng tapi tatapannya kayak mau bunuh orang, makanya aku sampai telen rambutan sama bijinya sekalian biar panen dalam perut ku," jelas Sapira setelah Azka pergi ke lantai atas.


"Aku juga kaget, gak biasanya mas Azka pulang cepet, biasanya sore baru tiba di rumah," sahut Reyna kemudian kembali fokus pada ponselnya. Sapira hanya mengangguk paham.


"Eh udah jam berapa sih ini? Aku belum kunjungan ke rumah orang tuaku," Sapira meraih benda pipih di atas meja untuk melihat jam.


"Baru jam 2 siang, belum juga sore," sela Reyna.


"Pulang sekarang aja lah yuk, kasihan orang tua kamu capek nunggu di rumah, aku kabarin mereka kita tiba siang tapi malah nyangkut di sini," sahut Sam, seraya memasukkan ponsel ke saku celana.


"Gak apa-apa lah, yang penting dapat makan gratis," jawab Sapira dengan wajah berbinar.


"UDIN!!! IDIN!!! AYO PULANG!!!" Reyna memejamkan mata sambil menutup telinga saat suara melengking Sapira menggelegar di seluruh ruangan. Sapira terkekeh pelan, Udin dan Idin juga langsung muncul saat mendengar panggilan Emak mereka.


"Ahhh Emak, baru juga mau main bola sama Bang Farel," rengek Idin dengan muka memelas.


"Nanti main bola sama Bapak kamu di rumah nenek, main bola bekel pun dijabanin," sela Sapira. Idin mencebikkan bibirnya kesal.


"Lagian, orang belum mau pulang diajak, biarin aja sih Sapi."


"Gak bisa, Na. Kalo beliau lihat cucunya gak ikut serta bakal ngamuk, kamu tau kan Ibu aku kalo ngamuk makan bambu, kasihan ntar bambu tetangga habis digerogoti," jawab Sapira. Reyna mengangguk pelan, kemudian memanggil Bi Ela untuk bungkusin makanan untuk sahabat tercintanya ini sebelum bertolak balik, anggap aja oleh-oleh darinya.


"Mas gak sopan ih, ada tamu malah mendekam di kamar," Reyna duduk di tepi ranjang memperhatikan Azka yang tengkurap sambil main handphone.


"Lah, itu kan tamu kamu bukan aku," jawab Azka kemudian beranjak duduk menatap Reyna yang sepertinya sedang kesal.


"Ya sama saja, Mas. Kalo ada tamu disapa lah sekedar untuk mengakrabkan diri," Reyna mulai tidak bisa dibantah. Azka menghela nafas kasar.


"Oke, Mas gak akan begitu lagi lain kali," Azka menyerah, tidak ingin masalah sepele ini berkepanjangan. Sebenarnya masih banyak kalimat yang ingin Azka keluarkan untuk melawan opini Reyna, tapi ia simpan dalam kepala saja, jika dikeluarkan akan menimbulkan masalah di antara mereka berdua.


"Oh iya, Mas kenapa cepet balik?" tanya Reyna mengubah topik agar tidak mencekam amat lah.


"Loh, itu kan perusahaan mas, jadi bebas dong mau pulang kapan aja gak ada yang marah, paling cuma bangkrut doang, tapi mustahil sih, orang backingan-nya Kakek Hattala," ucap Azka dengan bangga. Reyna mendengus kesal, keluar sudah sifat sombongnya tapi emang bener sih.


"Terserah, aku mau nyuci baju dulu," Reyna hendak pergi.


"Eits, nyuci baju tugas Bi Ela, tugas kamu adalah melayani suami," Azka menaik turunkan alisnya berusaha menggoda Reyna, tapi yang terjadi malah sebaliknya, Reyna memasang raut tak suka dengan cara Azka menarik lawan jenis.


"Masih sore astaga, padahal kemarin sudah," decak Reyna malas.


"Beda dong yang kemarin sama yang sekarang," Azka menarik lengan Reyna tapi yang ditarik pegangan kuat pada kasur.


"Ayah kenapa tarik-tarik Bunda kayak gitu? Kalian berantem ya? Kata Bu guru gak boleh berantem nanti masuk neraka, kasihan Bunda, Ayah!!! Jangan ditarik atau Farel laporin polisi nih," tiba-tiba saja Farel sudah muncul di depan pintu melihat aksi tarik menarik dari Azka.


"Gagal sudah kalo nih bocah satu dateng," gumam Azka sembari memijat pangkal hidungnya. Farel jalan mendekat dan memeluk Reyna erat, Reyna tersenyum penuh kemenangan dan menjulurkan lidahnya kepada Azka.


"Awas ya nanti malam," bisik Azka tepat di telinga Reyna.


"Ehh, emmm. Farel, boleh gak malam ini Bunda tidur di kamar kamu, soalnya takut nanti Ayah serang Bunda lagi," ujar Reyna gugup. Azka melotot tidak terima. Farel langsung berbinar. "Tentu saja boleh Bunda, mau selamanya tidur sama Farel gak masalah kok, Farel siap jagain Bunda 24 jam dari penjahat kejam seperti Ayah," tunjuk Farel di depan muka Azka.


"Hilih, modus. Masih kecil gak boleh modus," sela Azka kesal.


"Biarin, kasihan gak tidur sama Bunda nanti malam," ejek Farel sambil menggoyangkan pinggulnya.


"Awas kamu, Ayah gak kasih uang jajan selama dua tahun," ancam Azka angkuh.


"Oke, gampang. Farel tinggal minta ke kakek, kakek kan banyak uang, bahkan tisu toilet diganti sama uang," Farel tak mau kalah. Azka sudah mendelik kemusuhan ke arah Farel. Reyna jadi pusing mendengar perdebatan keduanya dan berakhir dia pingsan di tempat, haha gak ya, bercanda doang.