Married With Duda

Married With Duda
bab 13



Zahra mondar-mandir di depan pintu saat ini dia sudah berganti pakaian dan sedikit merias wajahnya dengan make up sambil menggigit kuku dia terus mondar-mandir dengan perasaan resah dan gelisah. Ya penasaran maksud tujuan Adnan dan keluarganya datang ke rumah ini namun dalam hatinya juga ada sedikit rasa takut jika memang benar Adnan mau melamarnya apa bapaknya akan mau menerima lamaran Adnan sementara dirinya sudah dijodohkan dengan laki-laki lain kegelisahan itu membuatnya menjadi kian tidak menentu.


Zahra menghela nafasnya dalam hatinya terus berdoa semoga saja malam ini adalah malam terbaik dalam hidupnya.


" Ya Allah hamba berharap semoga engkau memberikan jalan terbaik untuk hamba, jika memang ini jalan hamba untuk memilih hamba akan memilih lelaki yang hamba cintai. Namun jika engkau tidak mengizinkan, maka hamba akan ikhlas menerima perjodohan yang sudah direncanakan oleh kedua orang tua hamba," ucap batin Zahra berdoa.


Terdengar suara klakson mobil di depan rumahnya, jantung Zahra langsung berdetak kencang ia melihat beberapa mobil yang ikut berhenti di sepanjang jalan rumahnya dan juga rumah para tetangga. Ternyata Adnan tidak main-main dengan ucapannya laki-laki itu membawa seluruh anggota keluarga untuk datang ke rumahnya malam ini.


Zahra kembali menghela nafasnya dia berusaha bersikap tenang agar tidak terlihat panik dan kegelisahan dalam hatinya. Kemudian dia melihat sosok laki-laki yang sudah lama tidak ya temui itu ada perasaan rindu dalam hatinya kemudian Zahra tersenyum saat kedua bola mata mereka saling bertemu.


" Pak, Bu mereka sudah datang," teriak Zahra memberitahu jika rombongan keluarga dan sudah pada keluar dari mobil dan tengah berjalan menuju rumahnya.


Rindi dan Bayu yang tadi menunggu di ruang tamu kini mereka keluar untuk menyambut kedatangan tamu tersebut.


Rindi dapat melihat bukan hanya keluarga kecil saja ternyata yang dibawa melainkan rombongan keluarga besar dan beberapa barang bawaan serta mereka berpakaian begitu sangat formal sekali seperti acara lamaran pikirnya.


" Seperti Ingin melamar saja?" Kata Rindi. " Jangan-jangan mereka ingin melamar Zahra Pak," ucapnya kemudian dengan raut wajah yang syok.


" Kita lihat saja nanti," jawab Bayu yang terlihat santai. Kemudian dia menyunggingkan senyumnya saat semua orang sudah berdiri tepat di hadapannya.


" Assalamualaikum," ucap semuanya memberikan.


" Waalaikumsalam." Kemudian mereka menjawab.


" Ini datang rame-rame ada apa ya?" Tanya Bayu bicaranya cukup sopan. Nyatanya dia memang tidak mengetahui maksud dari kedatangan seluruh rombongan yang tidak dia kenal ini.


" Dan kalian ini siapa, dan ada keperluan apa datang ramai-ramai seperti ini tanpa memberi kabar," lanjutnya dia bicara sangat tegas sekali bukan bermaksud tidak menghargai namun kenyataannya dia tidak mengenal siapa yang datang ke rumahnya ini dan maksud tujuannya dia tidak tahu karena tidak ada kabar berita sama sekali tentu dia perlu waspada dan bertanya dengan jelas.


" Adnan Apa kamu tidak memberitahu keluarga Zahra dengan kedatangan kita malam ini?" Tanya Lukman kepada anaknya dia sedikit sok lantaran keluarga Zahra ternyata tidak mengenal anaknya dan juga tidak mengetahui maksud kedatangannya malam ini.


" Astaghfirullahaladzim," semuanya mengelus dada begitupun juga dengan Lukman nyaris saja dia ingin tumbang lantaran anaknya Entah kenapa begitu sangat bodoh sekali padahal sudah tua Bangtan sudah pernah menikah tapi entah kenapa pikirannya pendek sekali wajar jika dia meninggalkannya.


" Astaghfirullahaladzim Adnan kenapa kamu begitu bodoh sekali ya Allah." Ingin marah rasanya tapi malu antara banyak orang di sini entah kenapa dia bisa memiliki anak sebodoh Adnan seperti ini wajar saja jika menantunya dulu tidak menyukai keluarganya mungkin karena kebodohan anaknya sendiri.


" Lu gimana sih, Nan. Gue pikir lu sudah menyiapkan semua acara lamaran ini karena kedua orang tuanya Zahra sudah menyetujui hubungan lo dengan Zahra pantas mereka kebingungan dengan kedatangan kita," ucap Raihan dia benar-benar tak habis pikir dengan adik satunya ini.


Mana ada orang melamar tanpa membicarakan terlebih dulu kepada keluarga perempuannya, jika ingin memberi kejutan seharusnya cukup antara keluarga kecil saja dulu untuk memastikan apakah lamarannya diterima atau tidak baru setelah itu lamaran besar berlangsung setelah disetujui.


Bisik-bisik mulai terdengar dari seluruh rombongan keluarga besar Adnan. Sementara Zahra wajahnya sudah sangat merah sekali lantaran malu dia juga tidak mengerti sih dia pikir karena datang dengan keluarganya saja ingin memperkenalkan diri lalu melamarnya secara biasa saja. Tetapi tidak menyangka jika acar lamaran tersebut berlangsung besar-besar tanpa membicarakan lebih dulu terlebih lagi kepada kedua orang tuanya.


" Saya mohon maaf sebelumnya Pak, perkenalkan nama saya Lukman hakim. Dan ini sebelah kanan saya adalah Adnan anak kedua saya, dia bermaksud Ingin melamar anak anda yang bernama Zahra untuk dijadikan istri dan menantu dalam keluarga kami," ucapan Lukman dengan nada sopan dan ramah.


Zahra terkejut ternyata feelingnya benar jika kedatangan Adnan ke rumahnya Ingin melamar dirinya. Tetapi ini secara mendadak dan terlebih lagi tanpa ada rundingan lebih dulu. Perasaannya kembali campur aduk antara senang dan juga gelisah kemudian Zahra melirik ke arah bapaknya yang bersikap biasa saja seakan tidak kaget sama sekali.


" Melamar?" Kata Rindi dia pun tak kalah terkejutnya.


" Jadi kalian datang rame-rame seperti ini Ingin melamar anak saya? Saya pikir hanya akan datang bertamu biasa saja, jadi kami tidak menyiapkan apapun karena memang tidak ada omongan sama sekali sebelumnya, dan kami tidak mengenalnya sama sekali dan ini baru pertama kalinya kami bertemu," ucap Rindi.


Mereka bingung, begitupun juga dengan keluarga besar Adnan juga ikutan bingung. Mereka berpikir hal yang sama seperti acara lamaran sebelum-sebelumnya sudah disetujui oleh dua belah pihak sementara ini Adnan benar-benar tidak memberitahu sama sekali tentang tujuan kedatangannya malam ini bahkan keluarga dari perempuan tersebut tidak mengenalnya lalu bagaimana lamaran ini akan diterima pikir mereka.


Lukman memejamkan kedua matanya sungguh mau taruh di mana makmum wajahnya ini sekarang ingin rasanya dia menenggelamkan diri ku dasar lautan yang paling dalam karena malu.


" Zahra ..." Kini Adnan maju berhenti tepat di hadapan Zahra yang terlihat kebingungan itu.


" Aku minta maaf sebelumnya karena tidak mengatakan apapun tentang semua ini. Aku bukannya tidak ingin mengatakan cintaku padamu, tapi aku ingin langsung melamarmu di depan kedua orang tuamu." Adnan menatap wajah Zahra dia sangat merindukan wanita ini.


" Aku Adnan kiar Ardani ingin melamarmu. Maukah kamu menikah denganku?" Adnan berjongkok kemudian dia mengeluarkan kotak cincin yang sudah ia siapkan beberapa bulan sebelumnya.