
"Huh..sepertinya Aku terlambat mengungkapkan perasaanku padanya. Ternyata kamu sudah ada yang punya. Tapi suatu saat nanti kalau Dia meninggalkanmu, Aku akan siap menerima mu," ucap Nolan.
"Tidak ada yang bisa memilikinya selain Aku, maka dari itu mulai sekarang buang jauh-jauh pikiran konyol mu itu" ujar Damien.
"Ups..Cathrine sepertinya sedang diperebutkan oleh dua orang laki-laki tampan. Nolan semangat untuk mendapatkan hati Cathrine. Aku mendukungmu" ucap Cia memanas manasi Damien, tentu saja Dia langsung mendapat tatapan tajam dari kakaknya.
"Cia ayo.." ajak Damien. Ia membawa tangan Cathrine di genggamannya.
"Sejak kapan kalian berdua pacaran, kenapa Aku tidak tau," ujar Cia kesal saat mereka sudah sampai diparkiran. Bisa-bisanya Ia tidak tau sahabatnya pacaran dengan kakaknya sendiri.
"Sebaiknya kamu pulang saja. Aku yang akan mengantar Cathrine pulang," ujar Damien.
"Aku pulang dengan Cia saja" tukas Cathrine dengan cepat.
"Tidak ada penolakan Cath, Ayo sekarang kamu masuk ke mobil," ujar Damien. Cathrine akhirnya masuk ke dalam mobil Damien.
"Aku pinjam temanmu dulu, setelah sampai di rumah kabari kakak," ucap Damien pada Cia lalu masuk ke dalam mobilnya.
Suasana di dalam mobil hening, karena tidak ada yang memulai pembicaraan sejak tadi. Akhirnya Cathrine bersuara karena menyadari jalan yang mereka lewati bukan jalan kerumahnya.
"Loh..ini kan bukan jalan ke rumah ku," ujar Cathrine.
"Yap..kita tidak ke rumahmu tapi disini, rumah kita," ujar Damien mematikan mobilnya karena mereka sudah tiba.
"Sepertinya otakmu sedang rusak. Dari tadi kamu berimajinasi terus" ucap Cathrine. Damien turun dari mobilnya dan membuka pintu mobilnya untuk Cathrine.
"Aku masih waras baby. Ayo turun..Aku akan menunjukkan mu isi rumah kita," ucap Damien. Dengan ragu Cathrine turun dari mobil dan menerima jabatan tangan Damien. Keduanya lalu berjalan memasuki Mansion besar milik Damien. Cathrine sangat takjub dengan desain rumah milik Damien. Rumah itu dibangun oleh Damien atas kerja keras dan kesuksesan yang dimilikinya. Di sana terdapat beberapa deretan foto anggota keluarga yang menggantung di dinding. Damien dan Cathrine disambut ramah oleh para pelayan.
"Bagaimana? kamu suka tidak hm?" tanya Damien memeluk tubuh Cathrine dari belakang. Membuatnya terperanjat kaget. Damien selalu membuatnya spot jantung. Wajahnya merona karena pelayan melihat mereka.
"Kenapa kamu bertanya padaku?" ujar Cathrine.
"Tentu saja..bukankah kamu kekasihku, wanita yang akan menjadi istri dan ibu dari anak-anak kita nantinya," ujar Damien sukses membuat Cathrine ingin pergi dari sana karena untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah merah seperti kepiting rebus.
"Apaan sih..sejak kapan Aku jadi kekasihmu" ujar Cathrine. Tapi sungguh, Ia malu saat itu.
"Sejak kamu belum lahir, Aku sudah meminta pada uncle Alex untuk membuat wanita cantik yang seperti Aunty Selena untuk ku" ucap Damien membuat Cathrine melotot. Bagaimana bisa Damien mengatakan hal seperti itu pada daddynya.
"Jadi Cathrine Alessandra Constanzo, kamu itu sudah menjadi milikku sejak dulu," ujar Damien.
"Ck..siapa juga yang mau sama laki-laki playboy seperti kamu," ujar Cathrine.
"Aku kasih tau sesuatu padamu, mereka yang mendekati ku. Aku sama sekali tidak suka dengan mereka. Mungkin Aku terlalu sempurna sehingga banyak wanita yang ingin dekat-dekat denganku," ucap Damien.
"Lalu bagaimana dengan Jessy? Aku pernah melihatmu berciuman dengannya saat ulangtahun ku yang ke 17," pungkas Cathrine.
"Kamu salah paham, Dia yang mencium ku duluan. Aku langsung mendorongnya. Saat itu Aku sudah menolaknya dan mengatakan Aku hanya mencintaimu. Dia sengaja mencium ku saat melihat mu berada disana agar kamu menjauhiku" balas Damien mengeratkan pelukannya. Ternyata Cathrine hanya salah paham waktu itu.
"Bagiamana, apakah kamu sudah menerimaku. Aku tahu kalau kamu juga mencintaiku," ujar Damien terlalu percaya diri. Tapi itu memang kenyataan.
Cathrine memutar tubuhnya hingga posisi mereka berhadapan, kedua tangan Damien masih melingkar dipinggang nya.
"Tidak, ujar Cathrine. Damien terdiam, apakah Cathrine memang tidak menyukainya. Tapi rasanya tidak mungkin. Apa mungkin setelah 4 tahun tidak bertemu perasaan Cathrine hilang padanya. Cathrine lalu mengalungkan tangannya di leher Damien.
"Aku tidak bisa tidak menerimamu" ujar Cathrine tersenyum.
"Cup..Aku tau itu," tukas Damien mengecup singkat bibir Cathrine lalu memeluknya.
"Jadi tuan Damien, sebaiknya kamu mengantarku pulang, atau daddy akan khawatir padaku," ujar Cathrine.
"Tidak..kita tidur disini saja."
"APA!!" pekik Cathrine.
"Memangnya kenapa, ini juga rumah mu. Aku akan menghubungi uncle Alex dan mengatakan kamu sedang bersamaku," ujar Damien mengambil ponselnya.
"Pokoknya Aku mau pulang," ucap Cathrine mulai kesal.
"Tidak ada penolakan sayang. Kamu tenang saja, Aku janji tidak akan berbuat hal-hal aneh padamu."
Setelah mendapat Izin dari Ayahnya Cathrine, Damien membawa Cathrine ke kamar utama.
"Ini kamarku dan mulai sekarang akan menjadi kamar kita." ucap Damien.
"Kenapa begitu banyak foto-fotoku disini," tanya Cathrine kaget melihat ada begitu banyak fotonya disana.
"Aku sengaja memajangnya disana agar bisa memandangi wajah cantikmu setiap kali Aku ingin tidur," ujar Damien menatap wajah Cathrine yang merona.
"Lihat..disana juga ada pakaian untukmu, jadi suatu saat jika kamu datang kesini semuanya sudah lengkap," pungkas Damien menunjukkan walk in closet.
Cathrine takjub melihat Damien yang begitu mempersiapkan segala sesuatunya.
"Ya sudah, sebaiknya kamu mengganti baju mu dulu. Aku juga akan mengganti pakainku dulu," ucap Damien dibalas anggukan oleh Cathrine.
"Terima kasih untuk semuanya," ucap Cathrine mengecup pipi Damien lalu pergi. Ditempatnya Damien masih terdiam atas perlakuan Cathrine padanya. Iya senyum- senyum sendiri memegangi wajahnya.