Married With Duda

Married With Duda
bab 11



Sontak Zahra sangat terkejut dia benar-benar terkejut sekali, tidak menyangka jika kedua orang tuanya berencana untuk menjodohkan dirinya dengan laki-laki lain walaupun sebenarnya laki-laki itu adalah sahabat kecilnya dulu namun tetap saja iya syok dengan rencana perjodohan ini.


" Jadi maksud kalian Zahra mau dijodohin dengan Faris?" Tanya ulang Zahra memastikan. Dia takut jika pendengarannya salah.


" Iya sayang, ibu dan bapak sudah bertemu dengan nak Faris dan juga keluarganya, bahkan yang mengusulkan perjodohan ini adalah kedua orang tuanya Faris. mereka sangat ingat sama kamu dan saat kami tanya kepada Faris, ternyata dia menyetujui perjodohan ini. Jadi bagaimana dengan kamu?" Jawab rindu.


" Bapak yakin Faris adalah laki-laki yang baik, kita semua sudah mengenalnya begitupun juga dengan latar belakang keluarganya. Daripada kamu salah memilih laki-laki lagiq seperti dulu, tidak ada salahnya untuk menjalani perjodohan ini," sahut Bayu. Dia sangat yakin sekali Jika laki-laki pilihannya adalah yang terbaik untuk anaknya.


" Iya Zahra Bapak sama Ibu yakin jika Faris tidak akan pernah menyakiti kamu percayalah dengan Ibu dan Bapak," lanjut Rindi.


Zahra bongkar dia belum bisa menjawab lantaran hatinya benar-benar bimbang masalah perjodohan ini tentu Zahra tidak menginginkannya karena di dalam hatinya masih terukir nama Adnan laki-laki yang mas bro beberapa bulan ia kenal itu namun Zahra sudah sangat nyaman sekali dengannya dan berharap kelak menjadi imamnya adalah Adnan laki-laki yang ia cintai.


Namun dengan perjodohan ini Zahra juga tidak tahu apa dia harus mengikuti rencana kedua orang tuanya, karena konon katanya pilihan orang tua itulah yang terbaik. Lantas bagaimana dengan Adnan, dengan cinta yang sudah tumbuh dalam hatinya pada laki-laki itu.


" Bagaimana keputusan kamu Zahra?" Tanya Rindi dia menatap lekat wajah anaknya yang terlihat sangat bimbang sekali.


" Zahra tidak tahu Bu Zahra belum bisa menjawabnya akan Zahra pikirkan," ucap Zahra dia belum bisa menjawabnya sekarang lantaran ingin menetapkan hatinya lebih dulu.


Satu posisi dia masih sangat mengharapkan Adnan namun di sisi lain laki-laki itu adalah pilihan dari kedua orang tuanya lalu harus apa yang ia lakukan mana yang dia pilih.


" Tidak perlu dipikirkan lagi, karena perjodohan ini tetap akan terjadi. Kamu dan juga Faris akan menikah dalam waktu dekat ini, jadi persiapkanlah diri kamu. Bapak tidak ingin mendengar alasan apapun, karena Bapak sangat yakin jika Faris adalah laki-laki yang terbaik untuk kamu dan masa depan kamu nanti."


Seakan tak memberi pilihan kepada Zahra, Bayu begitu sangat tegas memutuskan begitu saja tanpa mempedulikan perasaan anaknya saat ini, tanpa harus bertanya lagi cinta atau tidak dengan laki-laki itu. Karena keputusan Bayu sudah bulat Zahra hanya bisa menangis.


" Kenapa menangis Nak apa kamu sudah memiliki laki-laki lain di hati kamu?" Tanya Rindi dia memeluk anaknya yang sedang menangis itu.


" Sebenarnya Zahra sudah mencintai laki-laki lain Bu selama beberapa bulan ini Zahra sudah sangat dekat dengannya bahkan kami sudah saling mengenal satu sama lain," ucap Zahra dengan nada serak lantaran dia menangis saat ini.


" Kenapa kamu tidak mengenalkan laki-laki itu pada bapak dan ibu, Seharusnya kamu bercerita agar kami tidak repot-repot menjodohkan kamu dengan Faris, lalu di mana laki-laki itu, siapa dia?"


" Zahra masih belum berani memperkenalkan dia ke ibu dan bapak karena kami masih belum memiliki hubungan apapun. Kami hanya sekedar teman dekat, tetapi kami sudah sama-sama sangat nyaman dan sama-sama sudah memiliki perasaan yang sama."


Rindi bingung dong sudah sama-sama nyaman dan sudah sama-sama memiliki perasaan yang sama lantaran kenapa status mereka masih berteman apa maksudnya Apa laki-laki itu belum ingin hubungan yang lebih serius lagi pikir Rindi.


Zahara menggeleng dia juga tidak mengerti kenapa Adnan masih meragukan dirinya. Rindi kemudian menghela nafasnya.


" Itu artinya dia tidak serius sayang. Mungkin dia hanya ingin main-main sama kamu, memangnya kamu mau terjadi lagi seperti dulu saat kalian sudah matang bertunangan tiba-tiba laki-laki itu pergi begitu saja dengan kekasih gelapnya. Ibu takut jika laki-laki ini tidak baik buat kamu, karena dengan caranya saja sudah ketahuan," ucap Rindi sambil mengusap lembut rambut anaknya.


" Tapi Zahra mencintainya Bu."


" Dulu juga begitu kamu bilang kamu mencintainya dan dia juga mencintai kamu. Tapi nyatanya apa?" Jawab Rindi sambil mencolek hidung mancung anaknya.


" Lupakan saja laki-laki itu, dan bersiaplah untuk menerima Faris karena Ibu yakin Jika dia adalah laki-laki yang tepat buat kamu." Rindi hanya ingin yang terbaik untuk anaknya dan dia sudah sangat menyetujui sekali dengan calon menantu pilihannya itu.


" Seiring waktunya berjalan Ibu yakin kalian pasti akan saling mencintai, toh memang dasar awalnya begitu kan, dari saling tidak kenal kemudian saling mengenal dan datanglah cinta. Begitu pula nantinya kamu dan juga Faris." Rindi terus membujuk anaknya supaya mau menerima laki-laki pilihannya itu.


Zahra hanya diam saja kepalanya langsung berdenyut menentukan nasibnya. Ingin mempertahankan cintanya tetapi cintanya saja tidak tahu ada di mana. Namun dari lubuk hatinya yang paling dalam dia masih sangat mengharapkan Adnan adalah imamnya kelak.


Sementara itu Adnan sedang bekerja, Adnan sudah memutuskan jika malam minggu besok dia akan pergi ke rumah Zahra untuk menemui kedua orang tuanya dan mengatakan keinginan hatinya yang hendak melamar wanita pujaannya itu.


" Hari ini lho tidak semangat sekali?" Tanya salah satu rekannya melihat Adnan saat ini tengah bersiul riang.


" Doakan saja bro semoga besok acara lamaran gue berjalan lancar dan spontan langsung diterima oleh kedua orang tuanya," kata Adnan begitu percaya diri sekali dia langsung meminta doa kepada rekannya itu.


" Wah wah wah ternyata duda lapuk satu ini akhirnya menemukan cinta sejatinya juga. Okelah, selamat kalau begitu. Semoga sukses bro." Satia hanya bisa menyemangati temannya itu.


" Eh, Adnan malam besok mau melamar?" Heboh seorang wanita yang tak sengaja mendengar ucapan Adnan tadi bahkan dia bicara sangat keras sekali hingga seluruh karyawan bank tersebut mengetahui jika Adnan ingin melamar anak orang.


" Amin doakan saja," jawab Adnan.


" Wah selamat ya Adnan semoga acara lamarannya nanti sukses, jangan lupa undangan nya ya."


Rekan-rekan kerjanya memberikan ucapan selamat kepada dirinya. Mereka sudah pada tahu dengan status Adnan yang seorang duda beranak satu dan mereka pun turut bahagia karena pada akhirnya Adnan mengakhiri masa dudanya setelah 2 tahun lamanya menanti.