Married With Duda

Married With Duda
MWD 31 : Berusaha Jujur



"Mas. Mas, gak sibuk kan? Aku mau ngomong sesuatu," Reyna duduk tepat di samping Azka yang tengah fokus menonton televisi. Mumpung Azka juga lagi free, jadi Reyna tidak mengganggu.


"Soal apa? Kayaknya penting," Azka merangkul bahu Reyna penuh sayang seraya mencium pucuk kepala sang istri, Reyna hanya diam saja mendapat perlakuan itu, sama sekali tidak membantah ataupun menghindar, karena ya fine-fine aja Azka berbuat sesukanya, secara dia tuh istrinya.


"Kok diem? Katanya mau ngomong." Reyna meremat kuat ujung lengan bajunya, ternyata jujur tak semudah yang ia bayangkam, susah payah dia latihan di kamar mandi tentang apa saja yang akan dia ungkapkan pada Azka. Tapi semua itu jauh dari ekspektasi Reyna, setelah berhadapan langsung dengan Azka nyalinya seketika menciut.


"Gak jadi deh, Mas. Gak penting kok," Reyna tersenyum canggung. Azka menautkan alisnya heran.


"Yakin? Aku takut hal itu membebani pikiran kamu, jadi gak apa-apa jujur saja," Azka beralih menggenggam jari jemari Reyna erat.


"Gak terlalu penting, Mas. Aku hanya mau kasih tau gimana kalo gaji karyawan di Kafetaria kita naikkan, aku lihat potensi mereka sangat luar biasa, akan lebih bagus bayarannya juga tak kalah luar biasa." Azka menghela nafas pelan, memang benar adanya, para pegawainya bekerja ekstra keras, jadi tidak ada salahnya untuk menambah gaji mereka.


"Sudah pasti dong, mana mungkin aku hanya bagian enaknya saja sementara mereka kerja ekstra tapi gajinya gak nambah. Kamu tenang saja, semuanya sudah aku siapkan." Reyna tersenyum simpul, tapi bukan itu yang mau dia sampaikan. Ahhh sial, lidahku kenapa tiba-tiba beku begini, seolah tidak membiarkanku menjelaskan semuanya. Aku rela kok diusir hari ini juga, asal beban ini tidak menghantamku terus menerus, bayangan orang tuaku selalu menghantui pikiranku setiap malam, mereka seakan mendesakku agar lari dari rumah ini tapi aku sungguh keras kepala. Reyna memijat pelipisnya, perang batin telah dimulai, masih bingung memilih antara jujur atau diam, biarkan waktu yang menjawab semuanya.


"Kamu sakit?" Azka ternyata memperhatikan gerak gerik Reyna.


"Tidak, aku akan pergi ke kamar sekarang. Mas juga harus istirahat, jangan banyak begadang."


"Iya, nanti aku nyusul. Nanggung, sinetron azab nya hampir selesai." Reyna menanggapi dengan senyuman lalu melenggang pergi.


Tidak terjadi apa-apa di antara mereka, namun Reyna resah. Kalo boleh jujur dia sangat mencintai Azka, melepasnya karena sebuah fakta itu sungguh berat terlebih setelah apa yang mereka lakukan di malam itu membuat Reyna semakin enggan untuk berpisah.


"Kapan semuanya berakhir?" Reyna mengusap kasar air matanya yang terus saja mengalir tanpa izin. Jika dia tau bahwa Papa nya terlibat kasus berat dengan keluarga Azka, sudah Reyna pastikan tidak akan mendekati rumah ini. Tidak ada istilah seekor rusa menyerahkan tubuhnya begitu saja pada seekor singa yang sedang kelaparan kecuali jika rusa tersebut sudah gila. Yah, Reyna mulai gila sekarang.


Pandangan Reyna beralih ke arah pintu, menampakkan Azka yang sudah siap-siap hendak tidur. Untung saja keadaan sedikit gelap jadi Azka tidak dapat melihat bahwa Reyna saat ini tengah menangis, cepat-cepat ia menghapus air matanya sebelum Azka menyalakan lampu. Rutinitas seorang duda sebelum tidur yakni skincare-an agar tetap awet muda, Reyna saja sampai heran, dia aja yang perempuan gak punya yang kayak begituan, karena memang gak ada uang buat beli, harga skincare udah kayak harga handphone, kecuali yang abal-abal, murah, tapi gak menjamin, bisa-bisa wajah jadi rusak.


Azka mendesak tubuh Reyna, mendekatkan diri sampai menempel begitu sempurna, Reyna ingin bergerak saja susah karena ulah Azka.


"Diem, aku ingin seperti ini sebentar," ujar Azka lalu menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Reyna. Tentu saja Reyna diam, walaupun gak nyaman.


"Suatu saat, jika terjadi apa-apa dengan rumah tangga kita, dan memaksa aku harus pergi sejauh mungkin, apa Mas akan membiarkanku pergi?" Azka mendongak kemudian tersenyum.


"Tentu saja tidak, kamu istri ku, ibu dari anak-anak kita, jika kamu pergi lantas siapa yang akan mendampingiku," Azka memeluk Reyna semakin erat seolah tak ingin melepaskan gadis itu. Reyna tersenyum getir mendengar penuturan Azka.


"Apa kamu akan membenciku, mas? Mungkin setelah tau semuanya tentang aku, ucapan dan keputusan kamu akan berubah, aku yakin itu." Azka mengerutkan dahinya, tidak tau arah pembicaraan Reyan mengarah ke mana.


"Apa pun yang terjadi sama kamu, baik di masa lalu atau masa depan aku akan tetap pada janjiku, karena lelaki itu yang dipegang adalah omongannya, jadi kamu gak usah over thinking begitu. Bagaimana pun kamu di masa lalu, entah kamu pernah terlibat tindak kriminal sekali pun, aku akan tetap di sisi kamu dan menerima semua kekurangan kamu tanpa terkecuali." Reyna kembali tersenyum, walau Azka sudah terang-terangan mengucap janji tetapi Reyna masih ragu, keputusan seseorang itu bisa berubah kapan saja, terserah janji apa pun itu jika sudah menyangkut keluarga sudah dipastikan tidak akan bertahan lama.


"Mas, andai ya, andai saja jika masalah yang sedang kamu selidiki itu ada kaitannya dengan aku, dan orang yang selama ini kamu cari itu adalah aku, apa kamu akan tetap memegang janji kamu? Mas? Mas, kamu denger aku kan?" Reyna mendengus kesal, capek-capek dia ngebacot ria malah gak di dengerin, Azka dengan santainya tidur dengan posisi masih memeluk Reyna. Dapat ia rasakan pelukan Azka semakin melonggar, dengan cepat Reyna memperbaiki posisi Azka agar terlentang di ataa ranjang, menarik selimut untuk menutupi badan keduanya. Reyna menatap langit-langit kamar, menerawang pikirannya sendiri, dalam waktu dekat dia sudah berjanji pada dirinya untuk mengatakan yang sebenarnya, agar beban tersebut hilang dan dia bisa memulai kehidupan baru di kota baru juga, tanpa Azka dan juga Farel. Dan dengan statusnya sebagai janda. Huh, Reyna tidak bisa membayangkan itu, memang ada penyesalan dalam dirinya, tetapi semua sudah terjadi, mau menyesal pun tidak ada gunanya. Dunia sungguh kejam, tak cukup ujian melalui kematian orang tuanya ditambah lagi dengan ini, baru saja Reyna merasakan yang namanya kebahagian malah dihantam lagi dengan berbagai cobaan. Setidaknya Reyna masih punya teman dan keluarga yang bisa diandalkan dan bersedia membantu atau mendukung di setiap langkahnya.


Reyna berusaha keras memejamkan matanya agar mulai mengarungi mimpi, tapi tidak bisa. Reyna menoleh ke samping kanan, menatap Azka dalam kegelapan tengah tertidur nyenyak, dengkuran halusnya mendominasi malam ini.