
Azka menggigiti kuku jarinya, pikirannya tidak bisa diajak kerja sama selalu saja mengarah pada hal yang negatif, kondisi Reyna saat ini sedang kritis karena ditangani dokter selama dua jam lebih, bukankah itu artinya parah? Pintu yang menghalangi antara dia dan istrinya masih belum terbuka, Azka tidak bisa tenang, posisinya berubah-ubah kadang duduk kadang berdiri dan kadang mondar mandir menunggu hasil pemeriksaan dokter.
Mungkin sekarang sudah tiga jam berlalu, jika terus begini Azka akan menggila, jujur dia tidak bisa menunggu terlalu lama. Ingin sekali mendobrak pintu kaca itu sehingga dia bisa menyaksikan sang istri yang terbaring lemah.
Baru saja mempunyai pikiran seperti itu, tiba-tiba saja pintu terbuka menampilkan seorang dokter muda dengan nametag Rian tampak keluar dengan ekspresi wajah biasa saja.
"Dokter, bagaimana kondisi istri saya? Gak ada yang perlu dikhawatirkan bukan?" Azka langsung menyerbunya dengan pertanyaan yang membuat dokter Rian kewalahan untuk menjawab, bagaimana tidak, Azka bertanya kayak orang nge-rap.
"Jadi begini tuan Azka, istri anda hanya mengalami kram perut dan hal itu sudah biasa terjadi pada ibu hamil pada umumnya, terlebih lagi usia kandungan istri anda sudah 6 bulan, dan pada masa itulah terjadi perubahan ukuran rahim, beruntungnya anda cepat membawanya ke rumah sakit di saat nyeri tersebut semakin bertambah. Dan untuk sekarang, istri anda hanya perlu beristirahat, jangan membuatnya stres atau banyak pikiran karena itu bisa saja mempengaruhi janinnya," jelas dokter Rian, Azka akhirnya bisa bernafas lega.
"Apa saya boleh melihatnya?"
"Ohh tentu saja, kenapa juga saya harus melarang, dia kan istri anda bukan istri saya." Azka merotasikan bola matanya seraya menatap dokter Rian dengan kesal, yang ditatap hanya cengengesan dan mempersilahkan Azka masuk.
Azka menatap Reyna yang masih terbaring di atas brankar, rasanya sangat sakit melihat keadaan yang tersayang, dulu saat Stella mengandung Farel, Azka bahkan tidak menunjukkan batang hidungnya saat mendiang sang istri tengah kesulitan menghadapi masa kehamilan. Tidak, Azka tidak ingin mengingat masa lalu lagi tetapi selalu muncul tanpa diminta.
Azka duduk di kursi yang sudah disiapkan di sana, tidak banyak alat medis yang menempel pada tubuh Reyna, hanya infus itu saja.
"Kapan istri saya sadar, sus?" tanya Azka pada salah satu suster yang masih mengatur kantong infus untuk Reyna.
"Mungkin sebentar lagi, istri anda hanya terkejut dengan kondisinya sendiri." Azka mengangguk paham lalu melirik kembali sang istri.
Sinar matahari mulai memancarkan sinarnya menerangi bumi agar seluruh manusia bisa menjalani aktivitas seperti biasa. Azka mengerjap beberapa kali mencoba menyesuaikan sinar yang masuk menembus kelopak matanya, rupanya dia tertidur dengan posisi duduk dan kepala menelungkup di samping tubuh Reyna sambil menggenggam tangannya erat.
"Sudah bangun, Mas?" Azka terperanjat kala suara lembut Reyna menyapa indra pendengarannya.
"Sayang, sejak kapan kamu sadar?" Azka mengucek matanya, siapa tau dia tengah bermimpi.
"Dua jam yang lalu," jawab Reyna santai.
"Terus kenapa kamu gak bangunin aku?" Azka protes.
"Aku lihat tidur kamu nyenyak, Mas. Jadi aku gak tega bangunin," Reyna merubah posisinya menjadi duduk berselonjor, Reyna merasa kondisi badannya sudah lebih baik sekarang.
"Kapan aku bisa pulang, Mas?" tanya Reyna, dari raut wajahnya dia seperti tidak nyaman jika berlama-lama di rumah sakit, karena bau obat yang kian menyeruak memenuhi rongga hidungnya.
"Kamu istirahat dulu ya, masalah kapan pulang jangan terlalu dipikirkan," usul Azka seraya menuntun Reyna kembali berbaring.
"Tapi aku gak betah di sini, mau pulang," Reyna mengerucutkan bibirnya lucu.
"Makan ya biar bayi kita ada asupan," bujuk Azka. Reyna menoleh dengan malas, males banget jika harus makan makanan rumah sakit yang hambar gak ada rasa sama sekali.
"Boleh request gak sih makanannya? Aku mau makan Burger sama spaghetti," dengus Reyna seraya mengatup mulutnya rapat-rapat gak mau buka mulut.
"Makan ini dulu, habis itu nanti kita beli makanan yang kamu mau tadi."
"Serius? Janji ya, awas kalo gak ditepatin, kamu tidur di halaman depan," Reyna melahap bubur nya tanpa sisa, demi burger apa sih yang nggak.
.
.
Farel berlarian di lorong rumah sakit, saat mendapat kabar sang Bunda masuk rumah sakit, didampingi Wati dan tentu saja Putri yang selalu ikut serta ngekor di belakang. Farel gak peduli teriakan Oma nya suruh jangan lari tapi tidak digubris, tujuannya hanya Reyna.
Brak!!!
Suara pintu bertabrakan dengan tembok yang habis didorong dengan cara tidak bersahabat, siapa lagi pelakunya jika bukan Farel, walau badan kecil tapi tenaga gak main-main, untung pintunya gak pecah, bisa-bisa Azka dimintain ganti rugi nanti.
"Bunda!!!" Farel langsung mewek memeluk erah tubuh Reyna.
"Kamu kok nangis? Bunda gak apa-apa," Reyna mengusap punggung Farel.
"Kenapa gak bilang kalo Bunda sakit, nanti Farel kan bisa marahin dedek bayinya karena sudah buat Bunda masuk rumah sakit." Azka tersenyum mendengar ocehan Farel yang katanya mau marahin bayi yang gak tau apa-apa, lahir aja belum.
Wati masuk dengan sikap angkuhnya diikuti Putri. Gak ada salam-salamnya langsung duduk di sofa. Sama sekali gak ada niatan Azka buat nyapa sang Mama mengingat kejadian kemarin terlebih ada Putri juga membuat Azka semakin enggan membuka suara.
"Mama gak perlu repot-repot datang ke sini, aku baik-baik saja. Terima kasih karena Mama menyempatkan waktu untuk menjenguk aku," ucap Reyna yang merasa ruangannya jadi sunyi sejak kedatangan wewe gombel ehh maksudnya Wati, jadi untuk mencairkan suasana Reyna memilih angkat suara, Azka juga sepertinya masih kesal, Reyna paham itu.
Wati melirik Reyna sekilas kemudian membuang muka, tak ingin menanggapi ucapan menantu yang tidak pernah ia akui. Reyna tersenyum getir, memang beginilah rasanya tidak dianggap.
"Jika tidak ada perlu lagi kalian boleh keluar, Reyna butuh istirahat, dan terima kasih sudah membawa Farel ke sini, pintu masih terbuka lebar untuk kalian berdua melangkah pergi," ucap Azka dingin, Reyna mencolek bahu Azka karena merasa tidak enak. Di enakin aja gak sih.
"Kamu ngusir Mama? Tega sekali kamu ya Azka," Wati sontak berdiri tidak terima dengan pengusiran sang putra.
Azka tersenyum kecut, baginya Wati lah yang paling tega, selama ini dia mengira sang Mama menerima Reyna tapi nyatanya sama saja. Putri diam kayak orang bisu, dalam hati dia suka sekali lihat pertikaian keluarga ini, namun dia harus tetap stay cool demi mencari perhatian.