Married With Duda

Married With Duda
MWD 57 : Senja



Keluar dari bioskop, Azka masih setia gelendotan di lengan Reyna. Film tadi sukses membuat mentalnya menciut, bagaimana tidak film genre horor yang mereka putuskan untuk tonton banyak jump scare nya sehingga membuat sebagian penonton terkejut heboh termasuk Azka yang hampir pingsan dibuatnya.


Farel capek menertawai sang Ayah yang keadaan wajahnya pucat pasi seperti mayat hidup. Azka menatap Farel datar, bisa-bisanya tuh anak santai banget ketawanya padahal tadi pas nonton Farel juga sempat kaget walaupun gak sekaget dirinya yang sampai banting popcorn hingga tumpah mengenai kepala pengunjung di depannya. Azka sempat dimarahi karena kelakuannya berlebihan, dengan segenal jiwa dan raga Azka mencoba meminta maaf walau tanpa suara karena kalo bersuara pasti penonton yang lain terganggu dengan suara deep nya. Untunh saja hanya popcorn, jika saja minuman yang dia siram sudah pasti perkelahian tidak akan terelakkan.


"Puas kamu ketawain Ayah, huh?" ketus Azka seraya mencubit pelan pipi gembul Farel, yang dicubit malah kembali tertawa dan kali ini lebih keras sampai mengundang tatapan heran pengunjung yang lain. Reyna hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka berdua, sebelas dua belas memang anak sama Ayah gak ada bedanya.


"Lah, udah sore aja, padahal perasaan tadi kita berangkatnya siang ya?" Azka menoleh pada Reyna setelah mereka bertiga keluar gedung Mall.


"Siang apanya, Mas. Tadi kita betangkat jam dua-an lebih, sedangkan film tadi durasinya dua jam kurang, ya wajar dong keluar-keluar sudah sore," sahut Reyna seraya berjalan duluan menghampiri mobil diikuti Farel yang kini gelendotan di pinggang Reyna, Azka mendelik tajam melihat kelakuan putranya seakan mengejek kegiatannya tadi setelah keluar dari bioskop.


"Kita gak makan dulu? Kamu gak laper?" tanya Azka.


"Aku laper Ayah, kita beli Pizza ya," ini Farel yang nyahut sambil memegang perutnya yang sedikit buncit.


"Dih, Ayah gak nanya kamu ya, sana makan sendiri aja. Tuh kebetulan ada toko whiskas, kamu makan di sana aja," Azka menunjuk toko kecil yang menjual makanan kucing, memang biadab si Azka.


Farel memutar bola matanya malas, untung dia gak merengek nangis seperti dulu karena sering dikerjai sang Ayah, kini dia sudah lebih dewasa sedikit.


Mereka memutuskan untuk masuk lagi ke Mall untuk mencari restoran di sana, karena Azka juga males berhenti di pinggir jalan jadi sekalian ada di sini ya sudah makan di sini saja.


Azka memilih restoran seafood yang terletak lumayan jauh dari bioskop, sudah lama tidak makan seafood ya kan. Azka tidak memesan banyak menu, hanya yang mana menurutnya enak saja, begitu juga Reyna dia hanya memesan nasi goreng seafood, pokoknya yang ada unsur nasi nya. Farel sih yang paling ribet, dia yang gak bisa makan pedes sedangkan menunya pakai sambal semua, terpaksa Azka request makanan yang gak ada unsur cabe dan dibuatkanlah Farel nugget seafood walaupun gak ada di dalam daftar menu, dan penasanan Farel ini yang paling lama jadi sehingga harus nunggu sampai 20 menit.


Usak makan, mereka tak langsung pulang. Tiba di parkiran Azka merencanakan untuk pergi ke pantai menikmati sunset mumpung langit lagi cerah-cerahnya jadi kemungkinan besar sunset akan terlihat lebih indah, beda lagi kalo mendung.


"Katanya bosen ke pantai mulu," sindir Reyna saat mereka sudah di dalam mobil.


"Bukan bosen, cuma ingin melihat sunset saja, kamu suka senja kan? Kebetulan di pantai pemandangan senja jauh lebih indah dibanding dilihat dari Cafetaria," jawab Azka kemudian segera melajukan mobil mewahnya memecah jalanan menuju tujuan mereka selanjutnya, bodo amat dengan yang namanya pulang, habiskan waktu dengan keluarga kecil yang lebih penting.


Azka sengaja memilih pantai yang sedikit sepi dari pengunjung tapi gak kalah bagus juga sama pantai sebelah, pengunjungnya hanya beberapa orang termasuk mereka.


Farel sudah duluan lari-larian di atas pasir menghampiri ombak yang tenang dan perlahan surut menyapu karang, dan beberapa detik kemudian kembali naik sehingga membasahi kaki Farel.


"Jangan ke tengah banget, nanti kamu tenggelam, kamu kan pendek," teriak Azka dan dijawab nyinyiran oleh Farel, benci dia tuh kalo disebut pendek sama Azka. Farel tak menghiraukan dan malah jalan lebih mendekati ombak yang sudah siap naik ke daratan. Kerang-kerang laut banyak yang terdampat, karena bentuknya yang cantik membuat hati Farel tergerak untuk mengutipnya, lumayan buat peliharaan di rumah, sekalihan jadi hiasan.


Tanpa sadar, Farel sudah jalan terlalu ke tengah, karena terobsesi sama kerang. Tiba-tiba dari arah belakang, lengan baju Farel ditarik oleh seseorang yang tak lain adalah Azka, matanya melotot tajam menatap Farel sambil terus menyeret putranya ke tepi.


"Apa sih, Ayah?" rengek Farel lalu melempar kerang yang sudah susah payah dia kutip ke arah Azka.


"Kamu dibilangin bandel banget, gak lihat tuh ombaknya besar, malah uji nyali," sahut Azka. Gak tau sudah bagaimana kejadian selanjutnya jika saja ia tidak sigap menarik Farel.


"Iya maaf," Farel menunduk sambil memainkan ujung sweater nya, Azka jadi luluh dan menepuk pelan pundak Farel lalu mengajaknya ke tempat Reyna berada.


"Bunda, cantik nggak?" Farel menunjukkan kerang dengan cangkak bentuk love yang agak miring sedikit tapi tetap cantik.


"Wahh cantik banget, kamu nemu di mana sayang?" Reyna gak bohong, ini beneran cantik, mana warnanya putih dengan corak dusty pink yang gak terlalu cerah. Farel menunjuk ke arah tengah pantai membuat Reyna mengerjap bingung.


Oke, lupalan soal cangkang kerang, dan mari nikmati saja matahari yang sebentar lagi tenggelam. Sinar orange nya indah sekali, membuat mata siapapun kagum dengan pesona senja. Ini adalah sunsite pertama yang paling cantik menurut Reyna, apalagi dia menyaksikannya bareng orang yang dia cintai, akan lebih menyenangkan lagi melihatnya bareng keluarga besar sambil liburan, tapi sepertinya keinginan Reyna dipending dulu, atau bahkan dilenyapkan karena hal itu tidak akan terjadi.


Lagi-lagi Reyna memejamkan matanya, membiarkan semilir angin menyapu wajahnya diiringi senja.


"Kamu suka?" bisik Azka tepat di telinga Reyna membuat empunya merinding.


"Suka banget, dan kamu tau Mas? Ini lah sunset pertama aku selama ini," kekeh Reyna, Azka menaikkan satu alisnya gak percaya, masa iya ada orang yang selama hidupnya gak pernah menikmati sunset, padahal cahaya senja seindah itu.


"Gak percaya itu sih terserah kamu, Mas. Aku jujur loh gak pernah punya waktu buat sunsetan," ujar Reyna lagi sembari mendorong wajah Azka menjauh darinya.


"Mendengar kamu ngomong kayak gitu membuat hati aku terluka, pokoknya aku akan menyempatkan diri buat ajak kamu sering-sering lihat sunset," ucap Azka bersungguh-sungguh dan dijawab anggukan mantap dari Reyna.