
"Kenapa di sini, Bi? Perasaan tadi di dapur kok sudah pindah aja? Jangan-jangan Bi Ela punya ilmu menghilang," kekeh Reyna membuat Bi Ela ikut tertawa, memang benar saat Reyna pergi ambil minyak seperti yang Wati perintahkan, Bi Ela ada di dapur tengah mencuci piring sementara Reyna mencari minyak yang dimaksud, dan tiba-tiba saja Bi Ela sudah hilang padahal Reyna tinggal cuma dua menit doang gak lebih.
"Ahh itu, tadi Nyonya suruh saya kunci pintu di sebelah sana," jawab Bi Ela dengan wajah gusar walaupun berusaha tetap tenang tapi raut muka tidak bisa bohong.
"Ehmm begini saja, biar saya yang kunci pintunya, terus Bi Ela kasih minyak urut ini ke Mama," Reyna membuat penawaran yang tentu saja akan ditolak oleh Bi Ela, karena tugasnya bukan hanya kunci pintu namun juga menghalangi Reyna mendekati ruangan tersebut.
"Gak bisa, ini sudah perintah beliau jadi harus Bibi yang lakukan, non Reyna masuk aja dulu nanti biar Bibi yang urut pinggang nyonya yang terkilir," Bi Ela pamit dan berlari tergesa-gesa.
Gagal lagi!! Reyna mendecih pelan lalu masuk kamar mertuanya, tampak Wati rebahan sambil memegangi pinggulnya yang keseleo.
"Ohh, kamu sudah datang? Mana minyaknya," Wati mengulurkan tangannya.
"Biar Reyna saja, ma."
"Kamu pikir saya mau disentuh oleh kamu? Jangan ngelantur dan cepatlah keluar!!" Reyna mendesah pelan kemudian menuruti apa kata Wati. Sejauh ini, Reyna belum bisa dibilang dekat dan akrab dengan mertuanya, selalu saja dianggap salah, tak jarang ucapan kasar Reyna terima dari Wati yang seringkali menyakiti hati nya, namun demi Azka dan Farel, Reyna selalu menahannya untuk tidak emosi ataupun kehilangan kendali. Bahkan Azka pun tak tahu menahu akan hal ini, yang ia tau Wati terlihat baik-baik saja ada di dekat Reyna kendati pernah menentang pernikahannya dulu.
Reyna tak ingin membuat hubungan Ibu dan anak itu renggang hanya karena dirinya, jadi sebisa mungkin Reyna akan tahan dan berusaha menerima semuanya walau sakit dan butuh perjuangan hebat, apalagi Reyna saat ini tengah hamil.
"Nyonya sudah diobati?" tanya Bi Ela saat melihat Reyna berdiri di depan pintu kamar Wati.
"Belum, katanha Bi Ela dulu pekerjaannya tukang urut, jadi Mama maunya sama Bibi, kalo gitu saya ke kamar dulu," meski sedang tidak baik-baik saja, Reyna masih tetap memaksakan untuk tersenyum agar orang lain bisa tau bahwa keadaannya baik-baik saja.
Sementara itu di tempat yang berbeda namun di waktu yang sama, Azka tengah melanjutkan meeting yang tadi tertunda, dan syukurlah berjalan lancar walaupun membuat para klien jengkel, tapi sayangnya Azka tak peduli, baginya masalah sang istri tetap nomor satu.
"Senang bekerja sama dengan anda, tuan Azka. Saya tidak tau jika anda sudah menikah lagi, niat awal saya ke sini sebenarnya mau menjodohkan anda dengan putri saya, dia jauh lebih cantik dan berwibawa," ucap salah satu klien Azka yang membuatnya langsung naik darah karena berani membandingkan Reyna dengan anaknya.
"Bagi saya, semua perempuan memang cantik termasuk istri saya dan putri anda juga tentunya, namun saya pribadi ingin menikahi seorang wanita yang sudah siap berumah tangga dan siap menerima anak saya dan memperlakukannya seperti anak nya sendiri walaupun bukan anak kandungnya, saya tidak menginginkan wanita yang gila harta, kerjaannya setiap hari hanya shopping belaka, menghabiskan uang hanya untuk kesenangan pribadi, saya banyak melihat karakter wanita yang seperti itu di dunia, dan alhamdulillah saya bisa menemukan pendamping yang sungguh sangat sempurnya bagi saya, jadi saya tidak butuh perempuan dengan fisik yang cantik," jawab Azka telak sampai membuat laki-laki tak tau diri itu bungkam seketika, dan Azka puas akan hal itu, hampir saja Azka menonjok wajah keriput orang ini, tetapi dengan kata-kata saja sudah menbuatnya pias begini, Azka jadi tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga untuk memberikan orang ini pelajaran yang berharga. Siapa pun yang berani menghina ataupun membandingkan istrinya, jangan harap bisa selamat.
Laki-laki paruh baya itu segera pergi usai mendapat kata-kata motovasi dari Azka, mau marah tapi nanti Azka akan memutus kerja sama mereka kapan saja, tidak tau saja seberapa berpengaruhnya Azka dalam perkembangan perusahaannya.
"Ada saja yang iri dengan kebahagiaanku. Yah, why not? Namanya juga manusia, gak bisa jauh dari sifat iri dengki," Azka tak habis pikir, hanya bisa geleng-geleng kepala menanggapi setiap cibiran yang tertuju langsung pada Reyna.
Bicara tentang Reyna, Azka jadi teringat akan janji yang sempat ia utarakan pada sang istri.
"Rudy, apa agendaku selanjutnya?"
"Dua tahun lagi," Azka menatap Rudy tajam, asistennya yang satu ini kadang lemot kadang tolol, Azka jadi malu karena sudah membanggakan manusia satu ini di depan para klien nya.
"Ohh yang hari ini? Hmm, tidak ada tuan, meeting hari ini selesai, dan untuk besok ada--"
"Aku tidak tanya tentang agenda besok. Baiklah, kamu sudah bekerja keras, kamu boleh istirahat tapi jangan lupa tetap pantau perkembangan karena sebentar lagi ada kiriman e-mail dari klien kita, aku harap kamu bisa mengurus sisanya. Sudah ya, aku ada kencan hari ini," Azka meraih jasnya lalu bergegas pergi.
"Dasar, kalo sudah bucin ya begini nih, gak kenal waktu."
"Aku bisa mendengar ucapanmu, jadi jangan mencoba membicarakanku di belakang." Rudy tergagap kala mendapati Azka sudah berdiri tegap di ambang pintu menatap Rudy bak tawanan.
"Coba ulangi sekali lagi!!"
"Ma-maaf, tuan Azka. Ada yang tertinggal?"
"Iya, aku lupa menyentil ginjalmu, kemarikan ponselku!!" Rudy sadar karena saat ini dia lah yang memegang ponsel Azka.
"Sudah, pulang sana!!"
"Bukannya ada e-mail yang harus saya terima?"
"Kan bisa kamu lihat dari rumah, tutup pintu jangan lupa kunci, kamu tau kan banyak berkas dan dokumen berharga terselip di sini. Oke, aku pergi." Seperti biasa, Rudy tidak bisa membantah.
Sebelum pulang, Azka menyempatkan diri untuk mampir ke Kafetaria dulu setelah itu ke toko bunga dan habis itu langsung pulang.
Dari luar saja rumah kelihatan sepi seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan, apalagi saat Azka masuk, sepi nya seperti kuburan, biasanya ada suara Bi Ela nyuci atau gak masak, dan Reyna yang senantiasa menunggu kepulangannya sambil menonton TV mengusir rasa bosan, tapi hari ini yang Azka dapatkan hanyalah kesunyian semata.
"Sayang, aku pulang!! Katanya mau jalan-jalan," suara Azka menyebar, harap-harap Reyna langsung muncul, tapi tidak ada. Azka mengeluarkan buket bunga mawar merah yang ia sembunyikan di belakang punggungnya karena gak ada apa-apa yang perlu dia surprise-in.
"Apa Reyna di kamar ya?" Tak mau berpikiran negatif, Azka bergegas menaiki tangga mencari kebaradaan sosok Reyna di kamar. Azka mendengus kesal karena mendapati Reyna tidur ngorok di lantai.
"Dasar, aku kira dia diculik nenek gayung."