
Minggu siangnya Cathrine berkunjung ke rumah Cia, semalam Ia sudah janji akan datang kesana.
"Mom, dad, Cathrine ke rumah Cia ya, semalam Aku sudah janji dengannya" ujar Cathrine pada kedua orang tuanya yang sedang duduk santai di ruang keluarga.
"Oke sayang, hati-hati mengemudi. Oh ya..sampaikan salam mommy pada aunty Sarah ya" ucap Selena.
"Baik mom..Javier dimana mom?" tanya Cathrine karena tidak melihat keberadaan adiknya.
"Dia sedang pergi dengan teman-temannya" balas Alex.
"Ya sudah Cath pergi dulu. Bye mom, dad" ujar Cathrine lalu pergi.
Ditengah perjalanan menuju rumah Cia, Cathrine berhenti di sebuah toko mainan. Ia ingin membeli mainan untuk Evans anak Darren. Cathrine memilih beberapa mainan mobil-mobilan dan membawanya ke kasir lalu membayarnya. Setelah selesai, Ia kemudian melanjutkan perjalanannya.
Tak lama kemudian Cathrine sampai di gerbang rumah besar keluarga Devano. Satpam membuka gerbang untuknya. Setibanya di depan rumah Cathrine disambut ramah oleh beberapa pelayan. Sudah lama Ia tidak datang ke rumah ini. Cathrine tampak mengamati rumah besar itu dan tidak ada yang berubah.
"Cath..kamu sudah datang..., Ayo silahkan masuk" ajak Cia membawa Cathrine menuju ruang keluarga.
"Semuanya coba lihat siapa yang datang" ujar Cia membuat semua yang ada disana menoleh pada Cia, mereka terkejut melihat wanita cantik yang berdiri disamping Cia.
"Cathrine" ucap mereka bersamaan. Cathrine tersenyum lalu memeluk Sarah.
"Halo aunty" ucap Cathrine.
"Menantu ku semakin cantik, aunty hampir tidak mengenali mu tadi" ujar Sarah senang melihat Cathrine.
"Huh...sepertinya Aku akan dilupakan setelah ini" ujar Cia pura-pura cemberut membuat mereka semua tertawa. Cathrine memang sudah seperti anak Devano dan Sarah apalagi datang ke rumah mereka. Hal yang sama juga jika Cia datang kerumah Cathrine.
"Apa kabar uncle.." ujar Cathrine memeluk Devano. Meskipun usia Devano sudah 50 tahun lebih, Ia masih terlihat seperti berusia 40 an saat ini.
"Halo kak Darren dan kak Stefani, maaf tidak bisa datang ke acara pernikahan kalian kemarin" ujar Cathrine memeluk Stefani dan Darren.
"Tidak apa-apa Cath, kami mengerti kok" balas Stefani.
"Oh iya...ini pasti Evans keponakan aunty kan..." ujar Cathrine menunduk mencubit gemas pipi gembul membuat Evans tersenyum menampilkan gigi ompong nya yang mulai tumbuh.
"Aunty punya sesuatu untuk mu" ucap Cathrine memberikan paper bag berisi mainan pada Evans.
"Thank you aunty Cath..Evans sayang aunty" ujar Evans mencium pipi Cathrine.
"Aunty Cia gimana?" tanya Cia.
"Evans sayang juga sama aunty Cia" balas Evans.
"Ya sudah...sebaiknya kita makan siang dulu, nanti kita lanjutkan ceritanya" ajak Sarah.
"Mom..Damien belum datang" ujar Darren membuat Cathrine sadar sejak tadi Ia memang tidak melihat Damien.
"Kenapa anak itu lama sekali. Tidak mungkin Dia lupa ini hari minggu" ujar Sarah.
"Sudahlah..biarkan saja, mungkin anak itu sedang dalam perjalanan. Kita makan saja dulu" ucap Devano lalu mereka pergi menuju meja makan.
"Aku baru ingat mom, kak Damien kemarin menghubungi Cia kalau Dia sedang ada urusan di luar kota" ujar Cia.
"Ya sudah kita makan saja" ujarnya. Makanan sudah tersedia di depan mereka karena pelayan di rumah sudah menyajikannya terlebih dahulu. Mereka pun menikmati makan siangnya.