
Reyna menarik lengan Azka menjauh sebentar dari ruang tengah, Hattala tak masalah jika harus mengasuh dua tuyul peliharaan Reyna dan Azka, mereka juga anteng-anteng aja kok sama dia, jadi Hattala tak menegur kala mereka berdua pergi keluar sementara.
"Apa sih, sayang. Main tarik-tarik aja, kamu pikir aku tali tambang," Azka merapikan jas nya yang sedikit terangkat akibat ulah Reyna yang gak sabaran orangnya.
"Kamu lihat mansion kakek, 'kan?" Azka mengernyit.
"Ya iyalah aku lihat, segede gini masa aku gak lihat," jawab Azka asal, belum ngerti topik. Reyna merenggut.
"Maksud aku warnanya, Mas. Itu berarti ucapan kakek bener 'kan? Yang bohong kamu dong," ketus Reyna sambil bersidekap dada. Azka loading bentar, jadi ini permasalahannya, oke Azka mulai paham sekarang.
"Astaga Reyna, aku kira apa ternyata cuma masalah yang kemarin. Itu tuh cat, sayang." Reyna tergelak, masa iya cat bersinar begitu kayak emas beneran.
"Ahh ngawur kamu, mana ada cat warna emas," Reyna mengerutkan dahi tak percaya.
"Ini buktinya. Kalo ga percaya ambil aja palu terus pukul dinding lihat bagian dalamnya, kalo memang emas murni langsung jual, lalo laku," saran Azka sedikit menantang, dengan cepat Reyna menggeleng, mana mungkin dia berani mencuri dinding emas itu, bisa-bisa Hattala murka karena sudah mengganggu propertinya.
Azka menghela nafas, mengajak Reyna masuk karea sayup-sayup Azka mendengar suara tangisan Azarin dari dalam. Azka melihat Azarin sudah tengkurap di lantai dengan Farel yang berdiri di sebelah Azarin memperhatikan gadis kecil yang tengah menangis. Di tangan Farel memegang sebuah mainan barbie yang gak ada tangannya sebelah karena memang Azarin yang copotin tangan barbie tersebut.
"Farel, ada apa ini?" tanya Azka, buru-buru mengangkat Azarin dari rebahan santuy-nya di lantai. Farel tak menjawab, masih setia menunduk memandangi lantai. Reyna yang juga tak tau apa-apa memilih mendekati Farel karena Azarin sudah digendong Azka.
Belum juga Reyna mengeluarkan suara, Farel sudah nangis sambil memeluk Reyna erat. Mau tak mau mereka harus menenangkan si sulung dulu baru bisa tau permasalahannya apa.
Hattala baru datang dari arah lift bersama asisten setianya. Padahal tadi Hattala masih bersama kedua anak Azka tapi malah ngilang.
"Ada apa ini?" tanya Hattala usai menyuruh asisten pergi, karena gak mungkin diajak. Azka mengedikkan bahu lalu lanjut menenangkan Azarin yang masih sesenggukan sementara Farel tiduran di paha Reyna dan memejamkan matanya, capek habis nangis terus ngantuk.
Hattala duduk di sofa single, melipat kakinya menatap satu persatu manusia di hadapannya. Sedikit terbesit rasa bersalah karena sudah meninggalkan kedua cicitnya bermain bersama menurut cerita Azka dan Reyna mereka berdua kurang akur kalo ditinggal berdua doang pasti ada aja masalah.
"Makan siang sudah siap, ayo menuju meja makan," Hattala beranjak berdiri memimpin ke ruangan sebelah khusus tempat makan.
Para maid sudah berbaris dengan masing-masing sesuatu yang mereka bawa di tangan. Hattala menjentikkan jari lalu para maid berjalan berbaris meletakkan makanan di atas meja. Reyna jadi terpukau melihat kekompakan dan ketertiban cara maid-maid ini melayani tamu, belum pernah Reyna dilayani seperti ini sebelumnya. Berbeda dengan Azka yang biasa saja alias tidak peduli, dia tetap memainkan ponselnya, padahal menurut peraturan keluarga Mahendra, tidak boleh memegang atau bakan memainkan HP saat di meja makan. Hattala ingin menegur tapi males buang-buang suara cuma untuk ngingetin Azka yang keras kepala.
Menu makanan yang ada juga gak main-main. Steak daging sapi yang di impor dari Belanda, Kaviar, hati Angsa, dan masih banyak lagi makanan mewah lainnya.
Cuma?? Cuma dia bilang, ini mah udah lebih dari cukup malah cukup banget. Bahkan meja makan yang panjangnya kayak pintu utama full dengan berbagai jenis makanan, di sebelah timur khusus dessert yang juga gak kalah mewah.
.
Azarin dan Farel ditempatkan di satu kamar, mereka berdua kebetulan ketiduran karena capek debat makanya Reyna berpikir gak ada ruang buat mereka berantem lagi. Tapi Azarin sudah bangun, melihat sekeliling dan mendapati Farel masih tertidur lelap menyamping ke arahnya. Mata mungilnya mengerjap beberapa kali lalu turun dari ranjang, netranya menelisik ruangan yang cukup lebar dan besar, tempatnya juga bersih dan rapi, Azarin suka itu dia sampai tepuk tangan karena senang.
Tidak sengaja dia melihat mainan barbie yang tadi dia perebutkan sama Farel tergeletak di atas meja, padahal Farel bukan ingin merebut mainan Azarin tapi hendak memasang tangan yang copot akibat ulahnya, niat Farel baik loh tapi Azarin salah sangka dan malah berlari saat Farel mengejarnya, tapi sayang sekali perempuan kecil itu tersandung kakinya sendiri hingga jatuh menggelinding di lantai dan menangis, terus boneka barbie nya jatuh tepat di kaki Farel.
Azarin beralih menatap ke arah ranjang, Farel ternyata juga sudah bangun dan tengah memperhatikannya. Buru-buru Azarin menyembunyikan mainannya agar sang kakak tidak melihat, tapi terlambat Farel tentu sudah lihat.
Dengan nyawa yang masih terkumpul setengah, Farel beranjak dari kasur menghampiri Azarin yang semakin ketakutan, takut banget Farel rebut mainannya lagi.
Farel jongkok di depan Azarin, tangannya bergerak mengusak pucuk kepala sang adik yang saat ini masih memejamkan matanya. Merasa ada yang aneh, pelan-pelan Azarin buka mata dan melihat Farel sudah duduk jongkok di depannya sambil senyum ganteng.
Azarin mengerjap bingung dengan tingkah Farel yang menurutnya aneh, ini orang gak ada niatan gitu buat ambil benda di tangannya. Azarin sampai sengaja sodorin barbie agar Farel kepancing tapi tidak sama sekali, malaha Farel makin anteng mandangin Azarin sambil terus senyum sampai giginya kering.
Suara dobrakan pintu membuat keduanya menoleh, tampak Reyna ngos-ngosan di ambang pintu memperhatikan kedua anaknya yang melongo.
"Oh. Bunda kira kalian bakal berantem lagi, oke lanjutkan. Bunda mau lanjut gosip sama para maid dulu," Reyna kembali menutup pintu kamar lantai dua.
.
"Mana mereka? Kok gak diajak turun sih. Nanti saling cakar siapa yang capek obatin, aku juga yang begadang tiap malem," bantah Azka kala melihat Reyna turun hanya sendiri.
"Lebay kamu, Mas. Udah tenang aja, mereka baik-baik aja kok," Reyna mendelik malas.
"Mau kemana kamu? Katanya mau ke showroom, lihat koleksi mobil kakek."
"Nanti aja, Mas. Nanggung, mau gosip bentar," Reyna melambaikan tangannya lalu bergegas ke dapur tempat para maid. Azka menghela nafas kesal sambil menendang udara.
Fyi, showroom milik Hattala beda ya bukan tempat untuk jual beli mobil tapi tempat Hattala koleksi mobil, ya pokoknya gitu lah, bye.