
Sebagai suami yang baik melayani istrinya yang tengah hamil, Azka selalu menuruti kemauan Reyna walaupun harus menyebrangi lautan akan Azka lakukan asal Reyna bisa menuntaskan masa ngidamnya, Azka baru merasakan hal ini karena dulu waktu Stella ngidam Azka tidak ada untuk mendampinginya karena harus membantu sang Papa untuk mengembalikan perusahaan menjadi lebih baik, dan sekarang Azka ingin membayar semua penderitaan Stella walaupun tidak langsung kepadanya, namun kehadiran Reyna sudah mampu mengobati kesepian dalam dirinya.
Azka mengangkat piring kotor bekas makan Reyna, tak habis pikir wanita hamil itu menghabiskan sepiring nasi goreng asin buatannya, tapi tak apa yang penting Reyna senang.
"Loh Azka? Kamu sudah pulang? Tumben cepat, katanya ada rapat hari ini?" Wati memasuki rumah dan ikut duduk di meja makan berjarak satu kursi dengan Reyna.
Azka menoleh dan hanya tersenyum. Reyna sendiri sedikit takut jika Wati mengetahui bahwa Azka menunda rapat dan menyempatkan diri untuk pulang hanya karena dirinya, buru-buru Reyna berdiri dan menghanpiri Azka di wastafel sebelum laki-laki itu menjawab pertanyaan sang Mama.
"Mas Azka tadi kebetulan ada barang yang tertinggal, Mah. Makanya balik lagi," ucap Reyna seraya menatap Azka sambil mengedipkan mata, Azka sendiri gak peka mau dikode bagaimanapun juga kalo sudah dari sananya bakal susah ngerti.
"Barang? Barang apa?" tanya Wati menyelidik.
"Dompet, iya dompet, ya kan Mas?" Reyna kembali melemparkan kode rahasia yang hanya bisa dimengerti oleh Reyna sendiri. Karena greget Azka gak paham, Reyna tak punya pilihan lain, dia langsung menginjak kaki Azka untuk segera menjawab walaupun tidak tau sama sekali, namun yang penting sekarang Wati butuh jawaban dari Azka langsung, bukan dari Reyna.
"Iya, Ma. Dompet Azka ketinggalan," jawab Azka meskipun terbata-bata tapi syukurlah Wati percaya.
"Tapi tadi pagi Mama lihat kamu bawa lengkap kok, kenapa sekarang tiba-tiba jadi pelupa?"
"Faktor usia, Ma. Azka kan sekarang sudah tua," kekeh Azka sebagai candaan, walaupun garing Reyna ikut tertawa demi menyelamatkan diri.
"Huh, dasar. Makanya minum susu tiap hari biar gak pelupa, kayak Mama setiap pagi selalu minum susu," ujar Wati.
"Sering kok Ma tiap malem, dari sumbernya malah, iya kan sayang?" Azka menatap Reyna dengan muka tengilnya. Waja Reyna merah padam, dan hampir menjitak otak kotor suaminya.
Wati yang langsung paham hanya menggelengkan kepalanya dan bergegas ke kamar.
"Kalo kamu pergi, rumah bakalan sepi lagi, Mas," Reyna menunduk, entah kenapa sekarang dia tidak mau jauh-jauh dari Azka.
"Jangan khawatir, setelah meeting hari ini selesai, aku akan langsung pulang, oke." Azka mencium pucuk kepala Reyna penuh cinta.
"Tapi tetap saja lama, mas tau kan aku gak suka menunggu," Reyna malah semakin merengek.
"Sebentar kok, gak akan lama."
"Kalo aku pribadi sih, mas mau pulang tengah malam pun terserah, tapi ini bawaan bayi katanya gak mau jauh-jauh dari Ayah-nya," Reyna mempoutkan bibirnya lucu membuat Azka pengen nyosor tapi takut ketangkap basah sama orang rumah, padahal sudah sah mau lakuin apa aja terserah, tapi namanya juga Azka masih punya malu.
"Bawaan bayi atau Bunda nya nih yang gak mau jauh-jauh," Azka mencolek dagu Reyna.
"Tentu saja bawaan bayi," elak Reyna.
"Tunggu Ayah ya sayang, jangan siksa batin Bunda, Ayah tau kok kamu difitnah sama Bunda katanya kamu gak mau jauh-jauh dari Ayah padahal Bunda sendiri yang pengen deket terus sama Ayah, tapi dia nya aja gengsi gak mau ngaku," Azka mengusap perut Reyna yang sedikit buncit.
"Jangan provokasi dia, mas. Bayi kita belum ngerti apa-apa," kesal Reyna sembari menjauh dari Azka agar sang suami berhenti cepu akan kelakuannya.
"Aku berangkat ya, sayang. Jangan keluar rumah sebelum aku pulang, nanti kita sama-sama jemput Farel dan pergi jalan-jalan."
Reyna mengantar Azka sampai dengan pintu sesuai arahan dari Azka juga tentunya, gak ngizinin Reyna melangkah jauh dari pintu utama sebelum dirinya pulang. Walaupun sedikit aneh tetapi Reyna harus mematuhinya, sebagaimana pepatah mengatakan bahwa surganya istri ada pada suami.
"Sekarang aku harus ngapain ya? Lagi sendiri begini enaknya tidur gak sih?" Reyna berpikir sejenak, dan pilihan hatinya jatuh pada rebahan, kalo sudah kenyang memang yang paling nikmat ya tidur. Sambil bersenandung, Reyna meniti tangga menuju kamar.
"Ehh, mama mertua lagi ngapain tuh?" Reyna tidak sengaja melihat Wati membuka pintu yang baru-baru ini membuat Reyna penasaran setengah mati.
"Memangnya ada apa sih di sana, sampai beliau begitu merahasiakannya, apa mas Azka tau juga gak ya soal itu?" Reyna berniat akan menanyakan masalah ini nanti setelah Azka pulang, dan saat ini Reyna tak ingin memancing emosi Wati jadi ia hanya berjalan tanpa peduli apa yang akan dilakukan oleh mertuanya itu.
Brak!!!
Reyna sontak menoleh, suara tadi begitu keras menyapa indra pendengaran nya. Antara khawatir dan penasaran, Reyna segera bergegas menuju ruang tersebut.
"Mama??!" Reyna terkejut karena Wati sudah telentang di bawah tangga, persis seperti orang santai yang tidur dengan nyaman.
"Jangan hanya berdiri di sana, bantu saya berdiri!!" Reyna mengangguk seusai dibentak oleh Wati walaupun suaranya tidak sekencang biasanya, karena Reyna paham mertuanya ini sedang kesakitan.
Reyna membawa tubuh Wati yang penuh dosa--sorry ralat, maksudnya penuh dengan lemak menuju kamarnya. Berat? Tentu saja, Reyna hampir kejengkang berdua karena mengangkat tubuh Wati yang mirip tangki minyak.
"Ada yang sakit, Ma?" tanya Reyna seusai merebahkan tubuh tak berdaya Wati ke ranjang empuknya.
"Pake nanya, ya jelas semuanya sakit, aduhh," Wati kembali meringis memegangi pinggulnya, sepertinya patah tulang.
"Cepat ambilkan minyak urut di dapur!!" titahnya tegas.
"Minyak goreng?"
"Minyak urut, kamu mau goreng saya?"
"Tapi kenapa Mama taruh minyak urut di dapur, nanti Bi Ela kalo masak salah ambil minyak kan bahaya."
"Karena sama-sama namanya minyak ya saya taruh di dapur lah, udah sana cepet ambil!!"
"Warna apa, ma? Biar Reyna gampang bedainnya."
"Warna ungu, kamu bodoh apa gimana, warnanya sama kayak minyak goreng," Wati semakin kesakitan malah dibuat emosi sama Reyna.
"Ya berarti minyak goreng dong, ma."
"REYNA!!!! Saya mutilasi juga kamu lama-lama, minyak yang mana saja yang penting ada unsur minyaknya," Wati benar-benar capek. Reyna mengangguk dan segera pergi menuju dapur.
"Astaga, aku belum kunci pintu itu, bisa-bisa Reyna tau semuanya." Wati mengambil ponselnya dan menghubungi Bi Ela.