
Azarin menghirup udara sebanyak mungkin, suasana setelah hujan memang tiada banding, meski dingin menusuk kulit tapi vibe nya beda banget, ditambah cuaca sedikit mendung dan gak terlalu panas. Azarin dengan tingkah usilnya melompati genangan air sehingga air kotor tersebut terciprat ke arah Farel yang tengah berjalan santai sambil main ponsel, tak sadar Azarin sudah punya niat jahil untuk mengerjainya.
BYURRR....
Azarin langsung lompat dan tepat sasaran, Farel hampir menjatuhkan ponsel miliknya karena kaget kala dinginnya air menyentuh kulit. Untung Farel memakai celana training yang digulung sampai lutut, jadi celananya gak kena air waktu Azarin cipratin.
"Nakal banget sih kamu," Farel langsung menjewer kuping Azarin mumpung posisi mereka masih dekat, karena nanti bisa jadi tuh anak kabur keliling bumi. Azarin berusaha melepaskan tangan Farel sambil mengatupkan tangan di depan dada.
"Janji gak akan ulang lagi," puppy eyes Azarin membuat Farel luluh dan melepaskan jewerannya, memperbaiki baju sang adik yang sedikit terangkat karena pakaian yang digunakan juga sedikit pendek dan juga tipis.
"Kalo mau keluar tuh pake jaket kek atau hoodie, nih lihat kayak Abang," Farel memutar posisi Azarin, melihat ada sedikit noda lumpur di bagian belakang bajunya, pasti gara-gara yang tadi.
"Mau pulang ganti dulu atau lanjut jalan?" tawar Farel, gak suka banget dia tuh lihat Azarin pake baju tipis plus pendek ditambah celana pendek.
"Kejauhan kalo putar balik, mending lanjut aja, cuma sebentar kok. Aku udah gak sabar pengen makan es krim," Azarin memejamkan matanya, membayangkan cita rasa es krim yang dimakan di depan Minimarket nya langsung apalagi waktu dingin-dingin begini, Azarin emang agak lain.
"Nothing ice cream for today, ayo balik ganti baju dulu habis itu kita beli mie ayam depan sana. Gak boleh makan es krim di saat dingin begini, okay?" Keputusan Farel sudah bulat, dia kemudian menarik lengan baju Azarin untuk dibawa pulang lebih dulu, suruh ganti. Azarin? Jangan tanya, dia sudah pasrah.
Sesampainya di rumah...
"Kalian berdua habis dari mana? Dipanggil dari tadi gak nyahut, ternyata lagi pada keluar. Kenapa gak izin dulu sama Bunda atau Ayah, hmm? Gimana kalo terjadi sesuatu yang berbahaya di luar sana. Apalagi baru selesai hujan pasti jalanan sepi, gimana kalo ada orang jahat yang berniat lukain kalian?" Reyna mencerca kedua anaknya saat melihat keduanya menampakkan batang hidungnya di ambang pintu, sedangkan Reyna bersama Azka di ruang tengah sedang lipat baju yang sudah kering. Melihat afeksi dua anak kesayangannya baru balik dari luar rumah membuat beribu-ribu kekhawatiran menerpa pikirannya, tapi untung saja mereka kembali dengan selamat.
Azka dengan tatapan mematikan menatap Farel sengit, meminta pertanggung jawaban karena sudah berani membawa Azarin keluar rumah, Farel bukannya bisa bela diri buat jagain adiknya.
Farel merasa bersalah, emang benar dia gak izin dulu ke kedua orang tuanya karena takut mengganggu.
"Sudah, Bunda. Abang gak sengaja kok, lagipula kami kan baik-baik saja. Cuma sampai depan gerbang doang habis itu balik, kata Abang baju Azarin gak cocok dipakai jalan-jalan, ya udah jadinya balik lagi ke rumah," jelas Azarin, kasihan juga melihat Farel yang sedari tadi menunduk mendengar omelan Reyna.
Satu hembusan nafas keluar dari wanita paruh baya itu, berjalan perlahan mendekati Farel dan mengusap lembut rambut pemuda itu. Menarik tubuh putranya yang lebih tinggi ke dalam pelukannya, menyandarkan dagunya pada bahu lebar Farel.
Tanpa diminta, Farel membalas dekapan sang Bunda, ikut mengusap punggung Reyna lembut. Azka membuang nafas kasar lalu kembali duduk melanjutkan sesi lipat baju nya yang tinggal satu keranjang full. Azarin sendiri tentu tidak ingin mengganggu momen mengharukan saat ini, dia lebih memilih membantu Azka melipat baju, duduk di samping sang Ayah yang masih fokus.
Malam tiba. Farel saat ini tengah asik berkutat dengan laptopnya, mengerjakan tugas kuliah yang sudah Sandi kiriman via e-mail. Deadline sampai jam 12, bagi Farel sih it's okay asal tugasnya gak banyak-banyak amat.
Tapi, meski sedikit, Farel masih agak kesusahan untuk memahami materinya dikarenakan dia absen tadi pagi. Farel sampai melewatkan makan malam untuk fokus pada tugasnya saat ini, jika telat maka akan ditambah, dan Farel tidak mau itu terjadi. Jadi, sebisa mungkin akan Farel usahakan cepat jadi sebelum pukul 12 malam.
Kurang dari dua jam, Farel akhirnya selesai. Senyum bangga mengembang di wajah. Lehernya terasa pegal, otot tangannya jadi kebas karena selama dua jam berkutat dengan laptop.
Di tengah sunyinya malam, tiba-tiba saja perut Farel berbunyi, padahal sebelum mengerjakan tugas Farel sudah makan roti dan beberapa cemilan lain untuk menemaninya di kamar, tetapi tetap saja kalo makanan berat belum masuk tidak akan membuat Farel kenyang dalam waktu lama.
Tanpa pikir panjang, Farel langsung membereskan tugas-tugasnya dan bergegas ke bawah. Sejujurnya Farel males banget ke dapur tengah malam begini, bukannya takut hanya saja Farel tidak suka kesunyian.
Seperti biasa, keadaan lantai bawah gelap hanya dapur saja yang masih menyala. Farel tetap melangkah menuju dapur dengan penerangan lampu senter dari Handphone, karena saklarnya terletak di dekat televisi jadi Farel males ke sana.
Farel membuka tudung saji, wajahnya berbinar karena masih banyak sisa makanan yang tersedia. Karena perutnya yang sudah meronta minta diisi, tanpa mementingkan sekitar, Farel langsung makan dengan lahap. Untuk membuat suasana agar tidak sepi-sepi amat, Farel menyetel musik dari ponselnya.
Lampu ruang tengah menyala tiba-tiba, Farel yang sedang asik mengunyah kini terhenti karena kaget. Dilihatnya sekitar, memastikan apakah ada orang yang baru saja meyalakan lampu, kalo maling sih gak mungkin karena maling sukanya gelap biar gak ketahuan, kalo ada maling yang hidupin lampu sebelum ambil barang memang cari mati sih.
Selera makan Farel jadi hilang, padahal nasi sisa tinggal setengah di piring, tapi perasaan takut sudah menguasai dirinya. Perlahan tapi pasti, langkah megendap-endap Farel berhasil sampai di belakang dinding yang jadi pembatas antara dapur dan ruang tengah.
Setengah kepala ia condongkan untuk membaca situasi, netranya yang masih tajam menelisik setiap inci dari ruangan tersebut untuk mencari sesuatu yang mencurigakan.
Kosong? Itulah yang Farel lihat. Kalo tidak ada orang, lantas siapa yang menyalakan lampu tengah malam begini? Hmm, apa mungkin Bunda atau nggak Ayah? Tapi gak mungkin, kalo memang mereka berdua sudah pasti ada wujudnya, tapi ini kosong.
Oke, Farel mulai panik sekarang. Berusaha keras dia mengatur nafasnya, tengkuknya merinding seperti ada yang meniup dari belakang. Dan dapat Farel rasakan, sesuatu sedang berdiri tepat di belakangnya. Pelan-pelan Farel memutar kepalanya, dan....
Semua menjadi gelap, Farel sudah tak bisa melihat apa pun, pandangannya memudar, Farel langsung tak sadarkan diri.
Apa yanh terjadi??