
Pandangan Wati sejak tadi tidak terlepas dari cara jalan Reyna yang sedikit aneh.
"Makin hari makin aneh saja, lihat saja jalannya kayak alien. Eh alien itu jalan atau ngambang ya?"
Reyna sedikit kesusahan, setiap dia melangkah area bawahnya langsung nyeri gak karuan, seketika dia mengumpati Azka. Reyna jadi risih saat Wati menatapnya intens, bahkan dia pun enggan beranjak dari tempatnya.
Azka sudah siap dengan setelan kemeja dan jas yang dia tenteng di lengan kanannya, senyum yang mengembang membuat Wati jadi semakin curiga, lelaki itu tampak santai seolah tidak terjadi apa-apa. Wati mulai menyimpulkan sendiri, bahwa terjadi sesuatu di antara dua pasutri yang tak ia restui ini.
Reyna menarik kursi untuk Azka duduki. Farel datang dengan muka bantalnya, Reyna sampai lupa Farel hadir di antara mereka.
Di tengah kebisuan menikmati sarapan masing-masing, ponsel Azka berdering menandakan panggilan masuk, raut wajahnya seketika berubah serius.
"Aku akan mengangkat telpon sebentar," Azka berdiri dengan tidak santainya dia menggeser kursi hingga menimbulkan gesekan dengan bunyi yang berisik, Azka berlalu pergi, Reyna menahan nafas sejak tadi, kembali teringat memori percakapan Azka tadi malam.
Dari ekor matanya Reyna dapat menperhatikan Azka yang tampak fokus dengan lawan bicaranya di seberang.
Jauh hari sebelum Reyna tau, Wati sudah mengambil start lebih dulu, dia sangat tau rencana Azka yang akan mencari dimana pun anak dari orang yang sudah membuat hidupnya hampir menuju kata hancur, Wati mendukung itu karena raaa dendam sudah menutup mata dan pikirannya.
"Kenapa kamu tampak gelisah begitu?" ternyata Wati sudah menangkap gelagat Reyna yang mulai takut.
"Ti-tidak, aku hanya lelah, Bu," cara menjawabnya saja sudah membuat Wati yakin jika Reyna ini ada sesuatu yang disembunyikan. Tatapan penuh selidik dia lemparkan membuat Reyna resah, bola matanya bergerak tak tentu arah.
"Dari siapa?" Pertanyaan itu dia berikan pada Azka yang sudah kembali karena sudah selesai dengan aktivitasnya.
"Dari Rudy."
"Hmm, masa? Kalo memang Rudy, kamu tidak perlu ke Amerika untuk menjawabnya, cukup diam di sini saja."
"Masalah penting harus kami bahas, tentang anak dari Abdi Irawan."
Deg!!
Reyna menelan salivanya susah payah, dia pikir semuanya sudah selesai ternyata sama saja.
"Ohh, sudah ketemu?" Reyna memejamkan matanya seketika.
"Belum, jejaknya sangat sulit dideteksi, menurut laporan intelijen yang Rudy utus, dari tempat kejadian kecelakaan orang tuanya tidak ada tanda-tanda sama sekali dari anak itu, entah di mana sekarang dia bersembunyi, aku yakin dia tau jika sedang diburu. Ayah dan anak sama saja, pintar melarikan diri," Azka mengepalkan tangannya dan hampir saja mematahkan garpu di tangannya. Kali ini Reyna tidak biaa berpikir jernih, hantaman kenyataan sedikit demi sedikit dia terima.
.
.
"Reyna, kok lemes banget kayak kerupuk kena hujan dari tadi ku perhatikan. Kurang asupan ya dari tuan Azka?" Ana berjalan terburu-buru menghampiri Reyna, sejak datang kemari tuh anak tidak ada semangat hidup sama sekali, 'kan Ana jadi was-was. Di tambah wajahnya yang pucat tanpa make-up, lebih mirip mayat hidup.
"Asupan matamu," sahut Dodi.
"Diem, badut. Nyambung mulu kek wi-fi tetangga."
"Hehe, tau aja kamu kalo aku suka nyuri wi-fi tetangga sebelah."
"Dasar gak modal."
Fokus mereka teralihkan saat Azka datang bersama seseorang yang jelas itu bukan asisten yang sering bersamanya, Reyna kenal betul wajah Rudy.
Rizky yang kebetulan berdiri dekat pintu menyapa sang atasan dengan ramah. Azka melirik Reyna, wanita itu tampak datar biasanya dia akan senang hati menyambutnya, terlebih lagi karena adegan mereka tadi malam semakin menambah rasa cinta Azka.
Reyna kaget saat Azka menarik pergelangan tangannya untuk ikut masuk ke dalam ruangannya bersama lelaki tadi.
Pembahasan mereka cukup menyita pendengaran Reyna, lantaran yang mereka bahas adalah masalah yang selalu terngiang-ngiang di otak Reyna, mereka tidak tau saja jika orang yang mereka cari ada di depan mata sekarang, hanya saja Reyna berusaha bertingkah biasa saja layaknya seorang istri yang patuh, dan benar saja selama pembahasan tidak menimbulkan kecurigaan intelijen itu. 'Cih, sudah jelas-jelas intelijen palsu, mau aja mas Azka dibodohi, mendeteksi orang saja lama banget. Hey, aku di sini. Orang yang kamu cari ada di sini, buka matamu!, di mana letak kelebihanmu itu hah?' Sayangnya Reyna hanya bisa menjerit dalam hati, karena jika kebablasan bisa ketahuan dong.
"Sejauh ini saya hanya bisa dapat sedikit informasi dari algojo yang pernah mengejar mobil Abdi. Menurut pengakuannya, gadis itu kabur ke arah Barat membawa tas koper warna hitam yang diduga isinya adalah uang perusahaan," jelas Rio dengan raut wajah serius, hanya satu harapan Reyna, semoga saja algojo yang disebutka tadi tidk sempat melihat wajahnya.
"Wajahnya, apakah algojo Papa melihat wajahnya?" Reyna melirik Azka, sebegitu yakinkah dia ingin menemukannya, sebesar itukah rasa dendam yang sudah tertanam dalam hatinya?
"Tidak pasti, posisi gadis itu membelakangi jadi yang terlihat hanya rambutnya yang terurai ke belakang." Reyna setidaknya bisa bernafas lega, namun kalimat Rio selanjutnya langsung membuat Reyna tertohok.
"Ahh, tapi ada bukti yang menguatkan teori ini. Gadis tersebut memiliki tanda lahir bentuk love di betisnya." Reyna refleks mengintip betisnya yang memang ada tanda lahir bentuk love, entah itu diukir atau tidak tapi yang jelas love nya terbentuk dengan sempurna.
"Apa itu penting? Aku tidak mungkin memeriksa setiap betis wanita yang ku temui. Huh, itu sungguh aneh," Azka membuang nafas kasar, sepertinya menyelidik bukan bidang Azka, dia hanya bisa memerintah saja.
"Maaf, Tuan Azka. Tapi hanya itu yang bisa saya sampaikan, selebihnya akan saya usahakan secepatnya."
"Bagus, sekarang kamu boleh pergi. Dapatkan semua petunjuk nya segera!" tegas Azka dibalas anggukan oleh Rio. Pria bergelar intelijen itu langsung keluar karena masih banyak tugaa yang harus dia selesaikan.
Rio menghentikan langkahnya di depan pintu, ada sesuatu yang mengganggu kenyamanannya.
"Permisi, apa saya bisa minta waktunya sebentar?" Rio menghampiri Ana yang sibuk membaca novel di kursi nya.
"Ohh tentu, minta tolong apa ya?" Ana bertanya ramah, mumpung orangnya lumayan ganteng juga, siapa tau dia ingin meminta nomor ponselnya. Ana menyelipkan anak rambutnya sambil tersenyum manis, Rio mengernyit karena tingkah Ana seperti orang kecentilan, tapi memang bener sih.
"Saya gak mengalami nyeri sendi, Pak. Jadi, untuk apa ya?" Sebelum bertindak ada baiknya bertanya dulu ya kan.
"Bukan, bukan. Saya hanya ingin melihat saja, ini berhubungan dengan tugas saya, tolong kerja samanya."
Ana merenggut kesal, sejenak dia berpikir jika Rio adalah pria mesum, hanya betis kan ya gak lebih? Awas saja jika dia jelalatan, tengok sana sini. Jika saja dia bukan rekan Azka mungkin dia gak akan sudi menuruti kemauannya. Ana mengangkat sedikit celananya hingga lutut, membiarkan Intelijen abal-abal ini melakukan tugasnya. Sempat deg-deg an juga saat tangan kekar itu menyentuh kulit betisnya, hampir saja Ana menendang wajah Rio karena sudah lancang menyentuhnya.
Merasa apa yang di cari tidak ada pada Ana, Rio lekas kembali pada posisinya.
"Baik, terima kasih atas kerja samanya."
"Sudah? Gitu doang? Emangnya periksa apaan dah, cepet banget?"
"Anda tidak perlu tau," Rio dengan senyum menyebalkan berlalu pergi tanpa memikirkan perasaan Ana yang terluka.
"Dasar jantan gak tau diri, nyesel banget sempat suka sama dia tadi, untung gak keterusan," Ana memaki orang yang sudah jauh dari jangkauan nya.
Sementara di tempat lain, Azka sedang bermalas-malasan di ruangannya.
"Gak kerja, Mas?" Reyna ikut duduk di samping suaminya sambil meletakkan secangkir kopi di atas meja.
"Di sini juga kan aku kerja, Na. Sambilan lah," Azka terkekeh pelan. Reyna meremat ujung bajunya, ada sesuatu yang ingin Reyna tanyakan perihal opsi yang tengah dilakukan sang suami.
"Mas, apa yang akan kamu lakukan jika menemukan orang yang sudah sangat lama kamu cari?" Reyna berani bersumpah, saat ini jantungnya ingin melonjak keluar setelah menanyakan hal yang sudah jelas ia tau jawabannya. Azka mengerutkan dahi. Jujur, Azka sedikit tidak suka jika ada orang yang selalu ingin tau apa rencana nya dan terlalu ikut campur, entah itu orang tuanya sekali pun. Tapi, karena sekarang mood nya sedang baik, oke, Azka akan menjelaskannya secara detail.
"Tidak ada, aku hanya akan membuatnya menderita persis seperti apa yang sudah aku alami, mungkin terdengar kejam bagi kamu, tapi kamu tidak tau bagaimana perjuangan keluarga dulu," Azka tersenyum kecut jika membahas masa lalu keluarganya. Reyna paham betul, jika dia di posisi Azka juga pasti akan melakukan hal yang sama. Manusia tidak akan pernah puas jika dendam belum terbalaskan, itulah watak manusia. Memang sebagian yang seperti itu. Orang yang hatinya sudah tertutup dendam
pasti akan menghalalkan segala cara untuk memuaskan nafsu amarah semata.
"Kenapa bertanya seperti itu?" Merasa tidak mendapat respon, Azka kembali menegur.
"Aku hanya penasaran saja."
.
.
Sisa hari Reyna pergunakan untuk mencari keluarganya, baik dari pihak Mama atau pihak Papa nya. Reyna yakin dia belum sanggup untuk hidup sebatang kara lagi seperti dulu jika semua akan terungkap di depan Azka, jadi untuk memanfaatkan waktu, Reyna cari saja sebelum terlambat. Awal pencarian Reyna, ia pergi ke tempat asal sang Mama, yakni di Bandung. Memang jauh dari tempat Reyna sekarang, tapi karena ini juga deni dirinya, jarak sejauh apa pun akan ia tempuh. Lantas kenapa Azka mengizinkan Reyna pergi? Alasannya sangat masuk akal, Reyna bilang akan pergi mengunjungi Tante nya di Surabaya, sengaja memalsukan alamat agar Azka tak curiga dan malah menyusul nya ke sana. Azka sempat menawarkan diri untuk menemani nya sekalian silaturahmi juga, tapi dengan tegas Reyna menolak dengan alasan tak mau merepotkan, Azka juga masih banyak kerjaan di Jakarta. Reyna di sana juga tidak akan lama, hanya sebentar. Tak pantang-pantang Reyna mendapat omelan dari Wati. Dia sudah misuh-misuh gak jelas, karena khawatir nanti siapa yang jaga Farel dan siapa yang akan memasak, sedangkan Azka tak akan mau memakan masakannya, bukan tak mau tapi enggan. Farel sendiri juga mulai paham, tidak selamanya dia terus bergantung pada Reyna.
Pagi-pagi Reyna sudah selesai bersiap-siap, tapi sebelum itu dia juga sudah melaksanakan tugasnya sebagai Ibu rumah tangga di rumah, seperti menyiapkan sarapan, menyiapkan Farel dan Azka baju mereka masing-masing, membantu Farel menyiapkan alat tulisnya, kasian ya masih TK harus nunggu jemputan karena gak ada Reyna yang bakal datang tepat waktu.
"Kamu yakin bisa pergi tanpa aku?" Pertanyaan ini sudah lebih dua kali Reyna dengar keluar dari belah bibir Azka, Reyna paham akan kekhawatiran suaminya, tapi semua masalah juga tak akan selamanya bisa diceritakan dengan baik-baik, termasuk kisah hidupnya saat ini yang sudah diambang jurang. Cepat atau lambat Azka akan bertindak sesuka hatinya.
Azka menangkup wajah Reyna dan menatap intesn manik coklat itu.
"Kamu benar-benar keras kepala, aku janji tidak akan merengek selama kamu ingin tetap tinggal bersama keluargamu, tapi izinkan aku ikut." Reyna menghela nafas pelan, ternyata Azka masih ngotot pengen ikut.
"Tidak, Mas. Kerjaan kamu lebih penting daripada aku, lagipula hanya sebentar. Jangan yah, aku janji akan baik-baik saja walaupun Mas Azka tak peduli soal itu," Reyna tersenyum kecut.
"Hey, siapa bilang aku tidak peduli? Justru kamu lebih penting dari pekerjaan ku." Hati Reyna menghangat, kalimat Azka seolah obat penenang baginya, tapi kembali lagi pada kenyataan bahwa Azka jelas-jelas musuh bagi Reyna.
"Aku sangat, sangat menghargai tawaran kamu, Mas. Tapi aku beralih lagi pada alasan aku yang pertama, aku tidak ingin membebani siapa pun, selagi aku masih bisa sendiri akan aku lakukan semampuku."
"Hmm, baiklah jika kamu terus menolak. Tapi janji, kabari aku jika terjadi sesuatu. Kamu tau kan, Farel tidak bisa hidup tanpa kamu, begitu juga denganku. Aku tidak mau kejadian yang lalu terulang kembali, aku tidak mau Farel terluka untuk yang kedua kalianya, kamu paham kan?" Azka mengecup kening Reyna sekilas.
.
.
Reyna menghirup udara di Bandung dengan nafas tersenggal, bayang-bayang kenangan orang tuanya mulai terangkai di otaknya. Dulu mereka sekeluarga sempat tinggal di Bandung selama tiga tahun karena sang Papa yang harus bekerja di Ibu kota karena katanya lebih mudah mencari kerja di Jakarta ketimbang di sini, terpaksa mereka harus meninggalkan kampung halaman demi menyambung hidup.
Reyna masih ingat betul di mana letak rumah lama dan juga rumah keluarga nya yang lain.
"Rumahnya masih sama seperti dulu, tidak ada perubahan sama sekali." Reyna memandang bekas rumahnya dahulu, rumah antik milik mendiang kakeknya, cukup sederhana tetapi desainnya terkenal mewah dan elegan walaupun berbahan dasar kayu.
"Sekarang, aku harus datangi siapa dulu?" Mencoba mengingat, siapa saja nama-nama keluarga mendiang orang tuanya yang tinggal di sini.
"Aku mulai dari yang deket aja deh." Reyna memilih untuk mendatangi satu per satu.
Kekecewaan terlihat jelas dalam raut wajah Reyna, setiap rumah yang dia datangi selalu zonk. Banyak tetangga dekat rumah yang bilang jika penghuni rumah tersebut kebanyakan pindah dengan alasan ingin memulai hidup baru, jika Reyna tanya mereka pindah kemana jawabannya selalu gak tau. Namun, kekecewaan itu berubah jadi sinar harapan, Reyna berhasil menemukan titik terang dari masalahnya, ternyata masih ada yang tinggal di sini yaitu Tante Ifa, kakak dari sang Mama. Tante Ifa adalah single mom, anaknya dua, laki-laki berumur 18 tahun dan yang perempuan berumur 15 tahun, suami beliau meninggal saat sedang hamil anaknya yang ke dua, jadi sudah lama sekali, tetapi wajah Tante Ifa sampai sekarang masih cantik, bisa di bilang awet muda, makanya walaupun janda anak dua masih banyak remaja yang ngantri pengen melamarnya, tapi ditolak mentah-mentah karena alasan selisih umur beda jauh.
Tante Ifa bukan main senangnya saat melihat Reyna datang mengunjunginya, pelukan hangat dia terima. Mereka memanfaatkan pertemuan pertama ini dengan berpelukan lama sekali sehingga membuat kedua anaknya bosan.
"Mau sampai kapan mereka seperti ini?" tanya Jack.
"Entah, perutku mulai mual, kak. Ehh tapi dia siapa ya?" Syila balik bertanya.
"Dia, kak Reyna. Kau tidak mengenalnya?" Jack tak percaya, bagaimana bisa Syila lupa. Syila menggeleng tanpa dosa, memang benar dia tidak mengenal Reyna, mungkin karena umurnya dulu yang masih dini untuk mengingat wajah seseorang, lagipula seiring bertambahnya usia, bentuk muka seseorang tak selamanya sama, jadi jangan salahkan Syila, dia bukan tipe orang yang cepat mengenali wajah seseorang.