Married With Duda

Married With Duda
MWD 81 : Gagal Deep Talk



Di tangga, Farel papasan dengan Azka namun laki-laki paruh baya itu tak memalingkan wajahnya dari ponsel yang ia pegang, Farel sendiri hanya menoleh sekilas lalu berjalan lurus tanpa bertegur sapa. Meski terlihat acuh namun jujur hati Farel sedikit sakit karena sang Ayah yang selama ini ia banggakan sekarang sepertinya sudah tak menyayanginya hanya karena kejadian kemarin.


Farel memegangi kepalanya yang terasa pening, ditambah perutnya yang belum diisi dari tadi pagi membuatnya hampir kehilangan kesadaran. Tak ingin menyiksa diri lagi, Farel bergegas ke dapur. Ada banyak sekali makanan di atas meja, nampaknya Reyna sudah menyiapkannya untuk Farel seorang.


Farel makan dengan lahap sambil terus menatap ponsel, membaca puluhan pesan group dari teman kampusnya. Membahas masalah tidak penting, Farel jadi males nimbrung. Mereka semua selalu saja membahas wanita, mengajak kepada yang tidak-tidak, dan Farel sudah kena pengaruh temannya kemarin, dengan mengunjungi klub malam dan minum minuman keras membuat Farel mabuk berat karena toleransinya terhadap alkohol sangat lemah, minum satu gelas saja sudah membuat mata Farel berkunang-kunang. Hal itulah yang membuat Azka marah besar mendapati putranya pulang-pulang dalam keadaan mabuk, kedua tema Farel yang mengantarnya pulang menjadi takut melihat aura hitam di sekeliling Azka. Dan benar saja, mereka berdua juga kena imbasnya.


Bunyi denting notifikasi dari nomor baru, Farel loading sebentar saat membaca chat dari orang tak dia kenali.


"Ranti? Ranti siapa ya?" Farel mikir sebentar, mengetuk dagunya pelan mencoba mengingat siapa tau ada yang dia kenal bernama Ranti. Tapi nihil, gak ada satu pun nama Ranti bersarang di otaknya, selama di Kampus juga Farel kebanyakan bergaul dengan laki-laki, jadi kurang akrab sama ciwi-ciwi.


Merasa asing dengan nama itu, Farel mengabaikan chat tersebut meski sudah dia read. Gak peduli sih, orang gak kenal juga ngapain diladenin. Farel malah lanjut makan dan mematikan data seluler takut nanti sesi makannya terganggu oleh notif.


Tak ingin menjadi anak manja, Farel mencuci sendiri piring kotor bekas makanannya, karena paham Reyna pasti capek juga kerja seharian beres-beres rumah, belum lagi ngurus kafe dan masih banyak lagi.


Setelah makan, Farel bingung mau ngapain. Rasanya bosan sekali duduk di rumah seharian, tau begini mending Farel masuk kuliah saja daripada harus memandangi halaman sambil bengong.


Tiba-tiba ponselnya berbunyi, berdering cukup kuat sampai membuat Farel sedikit terlonjak. Itu panggilan dari Sandi, teman satu fakultasnya. Merasa mungkin ada hal penting, Farel asal angkat saja lagian mereka juga lumayan deket, siapa tau Sandi ingin memberi tau tentang tugas dari dosen hari ini pada Farel.


Baru juga nempel di kuping, suara Sandi menggelegar hingga Farel terkejut.


"Woy, santai bangshat. Gue bisa denger, gak usah teriak," bentak Farel. Sandi salah satu teman Farel yang suaranya campur, bisa cempreng bisa lakik, makanya sering dijuluki bencong. Sandi suka sekali bergaul dengan perempuan bahkan dari jurusan lain pun, jadi gak heran kalo tiap hari kerjaannya di kampus gosip mulu, sampai disebut lambe turah.


"Ehh, ada yang minta nomor kamu loh, namanya Ranti, dia anak jurusan Akuntansi, katanya dari dulu naksir banget sama kamu waktu jaman ospek. Waktu dia tau kita teman dekat, dia mintak kontak kamu, ya udah aku kasih dengan senang hati."


Farel jadi teringat dua baris chat yang dikirim oleh cewek yang namanya Ranti, ternyata Sandi biang keroknya.


"Kenapa lo kasih bencong?" Farel berdecak kesal, sesuai kesepakatan awal, Farel paling gak suka kalo nomornya disebar.


"Ya dianya maksa, katanya darurat banget, mau cepat-cepat kenalan sama kamu," jelas Sandi, suaranya lembut sekali macam perempuan.


"Terserah, gue gak akan ladenin tuh cewek," final Farel sebelum menutup telpon.


"Ehh dia cantik loh, termasuk perempuan paling berpengaruh di kampus. Banyak laki-laki yang suka sama Ranti, tapi kayaknya cuma mau sama kamu doang deh. Seharusnya bersyukur disukai sama cewek cantik."


"Maaf, lo salah nomor. Gue blokir ya!!"


Setelah memblokir kontak Ranti, Farel menyandarkan punggungnya pada sofa, entah kenapa Farel tidak bisa menyukai teman perempuannya, iya Farel akui rata-rata teman satu kampusnya cantik-cantik tapi tidak ada yang berhasil memikat hatinya, bukan berarti Farel gay ya, hanya saja gak berselera untuk memulai fase dekat dengan lawan jenis.


Senyum tampan terpasang apik di wajah Farel kala melihat afeksi Azarin yang saat ini tengah menuruni tangga dengan membawa gelas kosong di tangannya.


"Adek, sini bentar," panggilan Farel sontak menolehkan pandangan Azarin yang sudah setengah jalan ke dapur.


Azarin menatap Abang-nya heran, tanpa ragu juga dia langsung berjalan ke arah Farel dan kini sudah berdiri di samping laki-laki itu.


"Kenapa?" tanya Azarin to the point. Menatap gelas kosong di tangannya kemudian menatap Farel lagi.


"Duduk dulu coba. Kalo diingat-ingat kita gak pernah deep talk ya selama ini," Farel menatap langit-langit. Azarin mengerjap, deep talk? Apa maksudnya?


"Maksud Abang apa?" Azarin mengernyit bingung, dia benar-benar tidak paham.


"Maksud Abang, kita gak pernah ngobrol berdua," Farel memperjelas, menarik lengan Azarin untuk duduk di sampingnya.


"Y-ya, buat apa ngomong berdua?" Azarin mulai gugup, karena posisi mereka yang terbilang dekat.


"Masa sama Abang sendiri gak mau berbagi cerita tentang masa-masa sekolah gitu, atau dengan siapa saja Aza berteman," Farel mengerucutkan bibirnya.


"Abang kalo gabut jangan libatin Aza. Udah ah, Aza mau minum dulu, haus," Azarin beranjak berdiri, berlari kecil menuju dapur asal terhindar dari Farel yang sudah sangat bahaya bagi jantungnya.


Farel menatap punggung Azarin yang kini sudah hilang dari pandangan karena dihadang oleh dinding pembatas. Farel kembali merenung, bingung mau ngapain. Karena hujan juga sudah berheti, Farel ingin jalan-jalan saja di sekitaran komplek, menikmati udara dingin setelah hujan membuat Farel merasa nyaman.


"Adek, mau ikut gak?" Farel mengintip dari balik dinding dan melihat Azarin sibuk ngaduk susu.


"Kemana?" tanya Azarin.


"Jalan-jalan doang, nanti kita mampir di Minimarket," usul Farel. Azarin mikir sebentar sebelum mengiyakan ajakan Abang tercintanya.