
10 Tahun Kemudian.....
Cuaca tiba-tiba mendung, tanpa diminta pun
hujan turun dengan derasnya, padahal tadi cerah-cerah aja. Angin bertiup kencang sehingga membuat suasana menjadi dingin, biasanya kalo hujan pagi-pagi begini orang-orang lebih memilih untuk mengeratkan selimut dan memeluk guling daripada harus beraktivitas, begitu juga dengan Farel yang seharusnya hari ini ada jam kuliah tapi tiba-tiba gak tau kenapa rasanya males banget, badan seakan nempel kuat pada kasur.
10 menit kian berlalu, hujan yang tadinya lebat perlahan berhenti menyisakan gerimis kecil. Hal tersebut tentu tidak menumbuhkan semangat bagi Farel untuk beranjak, dia malah semakin menutup tubuhnya dengan selimut tebalnya untuk menghalau dingin yang menusuk.
Suara dentuman pintu bertabrakan dengan tembok membuat Farel terlonjak, pasalnya seseorang yang membuka pintunya gak santai.
Dengan mata yang masih 5 watt, Farel memaksakan untuk melihat siap pelaku keji yang sudah membuatnya kaget tak berperasaan.
Senyum tengil bocah 13 tahun yang merupakan putri bungsu keluarga Mahendra itu berjalan dengan santai ke arah ranjang yang saat ini ditempati Farel. Tatapan mematikan yang Farel lemparkan sama sekali tak membuatnya takut, mungkin karena sudah terbiasa, entahlah.
"Ngapain sih ke sini? Ganggu orang lagi tidur aja," Farel ingin merebahkan kembali badannya namun Azarin si pelaku sontak langsung menahan pergelangan tangan Farel, menariknya dengan kuat hampir saja membuat yang lebih tua tersungkur ke bawah.
"Bunda suruh bangun sarapan habis itu anter Aza beli buku," Azarin berdecak malas kala Farel menyentak tangannya keras.
"Minta tolong Ayah saja, Abang males," Farel memijat pelipisnya pusing, badan tiba-tiba rasanya gak enak setelah sesi terkejut tadi, masa iya Farel memiliki masalah dengan jantungnya.
Azarin merenggut kesal, padahal dia mau dianter sama Farel meskipun sama Azka juga gak masalah sih tapi hanya saja Azarin maunya Farel.
"Aza laporin Ayah biar fasilitas Abang dicabut," Azarin dengan raut mengancam berlari keluar kamar Farel, tak lupa menarik pintu dengan kencang lagi sehingga membuat tembok ikut bergetar, simulasi gempa.
Farel sama sekali tidak takut dengan ancaman sang adik tiri, akhir-akhir ini Farel lagi perang dingin dengan Azka, jadi kemungkinan besar Azka akan lebih meledak dari biasanya dan Farel tidak masalah dengan itu.
Kamar Farel mulai hening, suara rintik hujan memang benar-benar sudah hilang, netranya melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah 9, kelasnya mulai jam 8 itu artinya Farel sudah telat 30 menit, it's okay Farel gak masalah meninggalkan kelas untuk satu hari ini saja.
 Daripada bengong kayak orang bego, Farel memilih untuk lanjut tidur menata kembali mimpi yang sempat buyar gara-gara Azarin.
Ketukan halus di pintu lagi-lagi membuat Farel terganggu, kenapa semua orang tidak bisa membiarkan remaja labil satu ini beristirahat dengan tenang. Kekesalan yang memuncak tergantikan dengan suasana hati yang menghangat ketika mendengar alunan lembut suara Bunda yang paling Farel sayangi.
Senyum merekah namun agak sedikit dipaksakan, Farel beranjak turun dari kasur untuk menghampiri sang malaikat tanpa sayap, meski bukan Ibu kandung tetapi Farel sangat menyayangi Reyna.
"Kenapa, Bunda?" tanya Farel lembut, beda lagi kalo bicara sama Azka, nadanya ketus karena memang Azka yang suka mulai duluan.
"Farel tiba-tiba gak enak badan, lagipula sudah terlambat juga buat ke Kampus," jawab Farel, dia masih memainkan jari jemari Reyna.
"Kamu sakit?"
"Nggak kok, cuma gak enak badan. Nanti juga sembuh."
"Bunda bawain obat ya? Tunggu sebentar," tangan Reyna langsung ditahan.
"Gak usah Bunda, Farel beneran gak apa-apa. Nanti Farel bisa kok makan sendiri, Bunda gak perlu repot naik-turun tangga," sela Farel. Reyna menghela nafas kemudian mengangguk, mengusak lagi rambut si sulung lalu beranjak pergi untuk menyampaikan kabar ini kepada suaminya. Semenjak Azarin turun dari lantai dua dengan wajah masam, Azka sudah mau ambil ancang-ancang untuk melabrak Farel karena sudau berani membuat putri kesayangannya menangis, namun Reyna dengan segala bujuk rayu menenangkan Azka agar tidak terbawa emosi, Azarin sendir gak mau ngomong cuma diem doang waktu Reyna tanya kenapa. Setelah saling lirik dengan suaminya, Reyna meminta biar dia sendiri saja yang bicara sama Farel.
Di meja makan, Azka sibuk menenangkan Azarin yang sesenggukan, padahal waktu Reyna pergi Azarin kayak kesel doang kok tiba-tiba nangis. Reyna mendekati keduanya, melemparkan tatapan penuh tanya ke arah Azka.
"Di mana anak itu?" tanya Azka dingin, raut wajahnya kini berubah seram, Reyna jadi takut tapi kesal juga dengan kalimat Azka.
"Jangan terlalu keras padanya, maklum masih masa pubertas, Mas. Farel juga katanya lagi sakit makanya gak bisa anter Azarin," Reyna menepuk pelan bahu putrinya, memberi pengertian tentang keadaan Abang-nya.
.
Kurang lebih dua jam Farel memejamkan mata, jarinya gak sengaja nyentuh sesuatu, dahinya mengkerut mencoba meraba apa yang bersentuhan dengan kulit tangannya.
Senyum kecil menghiasi wajah tampannya kala mendapati Azarin yang tertidur dengan posisi duduk berbantalkan punggung tangannya.
Farel menarik tangannya perlahan, berusaha agar Azarin tidak terusik dengan pergerakannya.
"Anak siapa sih kamu? Cantik banget, tapi sayang, cerewet plus bawel," karena terlalu gemas, Farel tanpa sadar mencubit hidung Azarin sehingga yang lebih muda kesulitan bernafas dalam tidurnya, mau tak mau ia langsung bangun dan meraup udara dengan rakus.
"Abang apa-apaan sih? Kalo Aza mati muda gimana?" Azarin mengusap hidungnya. Farel tak menyahut malah asik memandang setiap inci wajah Azarin yang menurutnya sempurna, hidungnya yang mancung dan bibir tipis mirip sekali dengan Azka, 'ya jelas lah, kan kecebong bapak Azka gak pernah gagal'.
Azarin ditatap intens kayak gitu jadi salah tingkah, udah ngomong gak disahutin malah diajak kontes 'tatap mata Ojan'. Buru-buru Azarin buang muka ke arah lain daripada balas tatapan Farel nanti malah baper sendiri, kan gak estetik kalo sampai Azarin jatuh cinta sama Abang sendiri.
"Ihh kok pipi adek merah? Adek sakit?" Farel segera menangkup wajah Azarin, menatap lamat-lamat tepat pada manik kelam sang adik.
Azarin berusaha melepaskan tangan Farel dari kedua pipinya. Cukup, Azarin sudah tidak kuat. Setelah lepas, Azarin berlari bak kilat keluar kamar dan masuk ke kamarnya sendiri kemudian menguncinya. Farel jelas bingung dong, secara adiknya aneh banget. Ditanya sakit doang padahal. Farel mengedikkan bahunya lalu bergegas ke kamar mandi karena perutnya sudah berontak minta diisi.