
Jantung Reyna berdegup kencang, posisinya sekarang berhadapan dengan Azka, Reyna sudah seperti berada di ruang sidang. Tangannya masih memegang foto tadi, Azka seolah enggan menatapnya, lelaki itu memandang lurus ke depan melewati Reyna.
"S-sejak kapan, Mas tau semuanya?" Setelah lama hening di antara mereka, akhirnya Reyna memberanikan diri buka suara demi untuk meluruskan semuanya. Tatapan mereka kini bertemu, saat mendengar pertanyaan Reyna, Azka langsung menoleh padanya.
"Sejak kapan? Sejak lama mungkin sekitar 3 minggu yang lalu," Azka menarik sudut bibirnya sehingga membentuk senyuman, tapi tipis sekali sehingga membuat Reyna menelan ludahnya kasar. Bagi Reyna itu bukan senyuman melainkan smirk yang mengisyaratkan seolah Reyna dalam bahaya.
Reyna sudah siap dengan konsekuensi nya, dia akan terima perbuatan orang tuanya di masa lalu, biar dia yang akan menanggungnya, Reyna kelihatan siap dari biasanya, tubuhnya tak lagi gemetar, nafasnya mulai teratur, bibirnya membentuk sebuah senyuman tenang.
"Jangan mengira aku bodoh Reyna, masalah seperti ini sangat mudah bagiku, apalagi untuk menemukan anak dari seorang pencuri," Azka terlihat seperti menyindir. Oke, Reyna kembali panik sekarang setelah sebelumnya dia berhasil tenang. Azka sebenarnya gak bermaksud untuk mengatai orang tua Reyna seperti itu terlebih lagi mereka sudah tidak ada di dunia ini, jika kalian mengira Azka berkata seperti itu karena emosi, kalian salah besar, Azka hanya ingin menekan Reyna saja agar tidak menganggap remeh dirinya. Walaupun Reyna sudah menjadi istrinya tapi tidak menutup kemungkinan Azka akan melaksanakan balas dendam yang sudah ia tetapkan dulu, namun dengan sedikit berbeda.
"Ma-maaf, aku tidak tau jika akan serumit ini, aku memang salah dan sekarang Mas emm maksudku, Tuan berhak membalasnya, aku akan terima semuanya," Reyna menunduk takut sekaligus malu, selama ini dia mengira Azka tidak tau tetapi lelaki itu sangat pandai bermain drama, Azka menjalankan kehidupan sehari-hari seolah tidak terjadi apa-apa di antara mereka, aktingnya patut diacungi jempol, jempol kaki maksudnya.
Azka menautkan alisnya heran.
"Jadi, kamu mau menanggung semua kesalahan orang tua-mu?"
"Iya, seperti yang sudah Tuan katakan akan membuat hidup saya menderita persis seperti yang keluarga anda alami dulu," Reyna mengutuk mulutnya yang blak-blakan, bukan ini yang Reyna mau, dia hanya ingin terbebas dari Azka dan pergi ke rumah tante Ifa dan memulai hidup baru di Bandung.
Azka tampak berpikir sebentar, sebenarnya dia juga tidak tega jika harus berbuat sekejam itu pada Reyna, yang Azka tau kehidupan Reyna selama ini sudah cukup menderita, tetapi janji tetaplah janji, tidak mungkin dia akan mengingkari janjinya.
"Jika aku memceraikanmu dan mengusir kamu dari rumah ini, apa kamu akan terima?" Sudah Reyna duga jika kalimat inilah yang akan keluar, jauh sebelum itu Reyna sudah siap jika harus diceraikan walaupun Azka sudah merenggut kesuciannya, Reyna sungguh tak apa, anggap saja ini sebagai tanggung jawabnya sebagai anak yang berbakti. Dengan berat hati, Reyna mengangguk pelan dengan manik penuh keyakinan, Azka tersenyum kecut lalu berdiri dari duduknya.
"Baiklah, aku beri kamu kesempatan untuk meninggalkan rumah ini besok pagi-pagi sekali, sementara aku akan mengurus surat perceraian kita hari ini juga," tegas Azka lalu kemudian pergi keluar.
Dada Reyna sesak seperti ada yang menghimpitnya dengan sangat kuat, Azka tak pernah main-main dengan ucapannya dan sekarang Reyna bisa merasakan dendam Azka perlahan terbalaskan.
Air mata sudah tidak dapat ia bendung lagi, bulir bening itu meluncur deras seperti hujan, sudah lama ia tahan dan sekarang waktunya untuk keluar. Reyna menangis tersedu-sedu sambil memegangi dadanya yang semakin sakit tiap detiknya.
Hari yang Reyna takuti akhirnya datang juga dan tentu saja tanpa ia duga, jika saja dia tidak lancang masuk ruangan Azka masalahnya tidak akan jadi seperti ini, tapi di sisi lain dia bersyukur tidak akan ada lagi sandiwara antara mereka berdua, ternyata yang selama ini dibodohi adalah Reyna, bukan Azka yang bodoh tapi Reyna yang menganggap Azka remeh karena dia pikir suaminya tidak tau fakta yang sebenarnya.
.
.
"Tanda tangani!" Reyna membuka map tersebut dan mengeluarkan isinya.
"Tidak perlu dibaca dan tanda tangani saja, kamu pasti paham apa maksudku," jelas Azka tampak buru-buru meminta Reyna untuk segera menandatangani surat itu.
Setelah membubuhkan tanda tangannya, Reyna kembali melanjutkan aktivitas yang sempat tertunda karena Azka.
"Kamu sudah tau akan pergi kemana besok?" Walaupun Azka tengah emosi sekarang, tapi dia tetap mengkhawatirkan Reyna, bagaimanapun juga benih-benih cinta Azka sudah mulai tumbuh kembali. Reyna terdiam, dia sama sekali tidak kuat untuk menjawab pertanyaan Azka.
"Baiklah, kamu tidak perlu menjawabnya karena aku juga tidak peduli. Setelah selesai, kamu boleh pindah ke kamar lama kamu," Azka seolah enggan berada dekat dengan Reyna, dia sampai menyuruh mantan istrinya untuk tidak tidur satu ranjang dengannya lagi bahkan untuk terakhir kalinya. Hanya satu yang Reyna tidak pahami, jika memang Azka sudah tau sejak lama, lantas untuk apa dia berbohong dan kenapa dia diam saja.
Reyna menyeret kopernya menuju kamar sebelah untuk bermalam, karena besok dia harus pergi ke Bandung pagi-pagi sekali sesuai permintaan Azka agar Farel tidak mengetahuinya.
Sudah tengah malam, tetapi Reyna tak bisa memejamkan matanya, dia begitu gelisah padahal sudah jelas-jelas ia punya tempat untuk kembali, bukankah seharusnya dia lega? Reyna seperti enggan meninggalkan rumah ini, banyak kenangan yang sudah tercipta dan terangkai dalam rumah ini. Tapi, fakta membantah keinginan Reyna untuk tetap di sini, dia sudah tidak punya akses untuk kembali ke rumah ini, jadi Reyna harus menguatkan tekad dan bersiap-siap untuk besok pagi.
Sementara di kamar sebelah, Azka tampak merenung di sisi ranjang dengan mata yang sudah banjir air mata, yaa, Azka menangis.
"Kenapa harus Reyna ya Tuhan, jika aku tau orang yang selama ini aku incar adalah dia, aku takkan mengucap janji sekejam itu, aku sudah menghancurkan masa depannya," Azka menjambak rambutnya frustasi. Janji kepada mendiang sang Papa memang sudah Azka tunaikan hari ini juga, tetapi janji dengan Reyna terpaksa ia ingkari.
"Kau lelaki pengecut, Azka," tanpa belas kasih, Azka menyakiti dirinya sendiri tanpa henti. Anggap saja sebagai balasan atas rasa sakit Reyna selama ini.
FYI Guys, Azka kan bilang sudah tau 3 minggu yang lalu. Waktu dia bicara di telpon dan saat Reyna gak sengaja denger pembicaraan itu kondisinya Azka belum tau kalo orang yang dia cari adalah Reyna, tetapi dua hari setelahnya, Azka mencocokkan ciri-ciri yang Rio katakan, seperti nama Reyna yang akhirannya Irawan, sebetulnya itu tidak membuat Azka langsung percaya, namun saat Azka tidak sengaja melihat tanda lahir di betis Reyna, baru lah Azka tau dan percaya.
Sorry, kalo ceritanya gak bagus😭🙏😌