Married With Duda

Married With Duda
MWD 28 : Balas Dendam



Azka dengan telaten mengobati tangan Reyna dengan salep, akibat kena tumpahan kopi panas tadi membuat tangan Reyna memerah. Reyna melirik wajah Azka dengan takut, tapi lelaki itu tampak santai dengan ruat wajahnha seperti tidak terjadi apa-apa.


"Kau tadi mengigau?" tanya Azka, menelisik setiap inci wajah Reyna, baru sadar ternyata perempuan ini cantik juga jika dipandang dari dekat, namun bukan itu yang menyita fokus Azka tetapi gelagat Reyna yang tampak takut ketika melihat dan menatap matanya.


"Apa aku terlihat semenyeramkan itu?" Reyna membuang muka saat Azka mendekatkan wajahnya.


"Kamu belum menjawab pertanyaanku, apa yang kamu lakukan tadi?" Azka masih belum mendapat jawaban yang memuaskan. Reyna menarik nafas sejenak sebelum bicara.


"Ak-aku, tadi tidak sengaja lewat dan melihat mas Azka, jadi aku berinisiatif untuk membuatkan kopi, itu saja."


"Lalu, bagaimana bisa kopi itu tumpah, kamu tidak menguping pembicaraan ku 'kan?" Tatapan Azka penuh selidik, tatapannya tajam melebihi busur panah.


"Tanganku licin dan aku kurang fokus, maaf," Reyna menunduk, dalam hati dia bersyukur untung saja Wati tidak bangun karena ulahnya, jika tau dia memecahkan cangkir pasti Reyna akan diamuknya dan berbicara berlebihan tentang di mana dia membeli cangkir itu, seperti menyebut berbagai negara, padahal cangkir itu banyak dijual di toko terdekat.


"It's okay, tapi serius ya kamu gak bermaksud menguping?" Seakan tidak percaya dengan penuturan Reyna, tatapannya masih belum berubah.


"Aku akan kembali tidur," Reyna beranjak bangun, berlama-lama dekat dengan Azka bisa membuatnya stres.


Azka menatap kepergian Reyna dengan dahi berkerut.


"Mungkin ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman, gelagatnya saja berubah 180 detajat." Azka tidak tau jika orang yang dicari sudah mendekam dengan dirinya sudah lama di rumah ini, terlebih lagi sudah menjadi sosok istri baginya, jika tau fakta ini bagaimanakah reaksinya? Apalagi Wati yang sudah jelas-jelas dari awal tidak setuju, apa gak bertambah kebenciannya pada Reyna setelah mengetahui fakta yang mengejutkan ini.


Reyna tidak benar-benar kembali ke kamarnya, dia memilih menuju kamar lamanya. Reyna menangis sejadi-jadinya, sedikit menyesal karena sudah nekat keluar mencari Azka, akibatnya dia menjadi resah dan khawatir, tapi sisi baiknya dia bisa tau selama ini sang Papa menggelapkan uang di perusahaan milik orang tua Azka. Jika sudah begini, berat sudah beban yang akan dipikulnya, lambat laun pasti semua akan terungkap bahwa dia lah putri dari Abdi Irawan yang selama ini mereka cari-cari. Bagaimanapun bangkai itu disembunyikan, pasti baunya akan tercium juga. Penderitaan Reyna ternyata tidak berhenti sampai di sini, ujian yang lebih berat lagi seolah melambaikan tangan minta dijemput oleh Reyna.


"Kenapa Papa membebankan semua ini pada Reyna? Jika tau akan begini, sebaiknya Reyna ikut kalian berdua saja, untuk apa hidup jika penuh akan penderitaan," Reyna menjambak rambutnya frustasi, teriakannya tertahan takut didengar oleh penghuni yang lain, biarlah kamar ini menjadi saksi kesakitan yang dia alami, bukan hanya fisik tetapi mental nya juga ikut tersiksa.


Reyna menghabiskan malam ini untuk menangis, menumpahkan rasa kesal, takut, dan kecewa yang bercampur jadi satu di benaknya. Tidak peduli sesembap apa matanya besok, mungkin Azka akan curiga dengannya, tapi Reyna tak memikirkan itu, dia masih nyaman dengan tangisannya yang tertahan.


"Apakah aku siap menghadapi mas Azka jika dia tau bahwa aku lah putri dari orang yang selama ini dia benci?, apakah dia akan menepati janjinya untuk membuatku sengsara, tentu saja dia akan melakukannya, memangnya siapa aku di hidupnya sehingga patutu dikasihani?," beribu pertanyaan memenuhi otaknya, tentang bagaimana persiapan untuk kedepannya.


Reyna masih memikirkan hari esok, memilih untuk mengakhiri hidupnya bukan pilihan yang tepat, Reyna benci dengan keputusan terburu-buru.


"Apa pun konsekuensi nya, aku siap menghadapi semuanya. Sebelum mas Azka tau, aku harus berusaha cari uang sendiri untuk cadangan biaya hidupku nanti setelah aku diusir dari rumah ini." Reyna berpikir, kemungkinan besar dia akan terusir dari sini, jadi jauh-jauh hari dia harus mempersiapkan semuanya.


Air matanya kembali berurai, di otaknya masih terekam jelas bagaimana suara Azka dengan nada marah yang berjanji akan membuat nya merasakan bagaimana sengsaranya hidup mereka dulu.


Kini Reyna paham, bahwa balas dendam itu nyata adanya, dan tentu saja Azka tidak akan tinggal diam. Bapaknya mati, anaknya pun jadi.


Reyna sontak mengusap kasar matanya saat mendengar suara ketukan di pintu.


"Reyna! Kamu di dalam?" Itu suara Azka, cepat-cepat dia membuka pintu takutnya nanti dia curiga.


"Kau habis menangis?" Pertanyaan Azka langsung membuat Reyna menunduk, padahal suasana gelap tapi penglihatan Azka begitu tajam, sampai mata sembap Reyna pun masih bisa dia terawang.


"Hey, kamu kenapa? Kamu bertingkah aneh sejak tadi?" Azka mendorong pelan tubuh Reyna untuk masuk, agar ada sedikit ruang untuknya juga. Azka mengunci pintu dan memojokkan tubuh Reyna ke tembok, tatapan mata gadis itu masih datar, menjawab pertanyaan Azka pun macam tidak ada niat sama sekali.


Azka mengangkat dagu Reyna agar tatapannya bertemu, lagi-lagi Reyna seakan menghindar.


"Reyna, please tell me. Aku menyadari gelagat mu aneh sejak tadi, cerita saja kepadaku apa yang mengganjali pikiranmu, jangan memendamnya sendiri, aku ini suami kamu, siapa tau aku bisa membantu meringankan bebanmu walaupun tidak sepenuhnya." Jiwa seorang suami mulai keluar, dia paham betul apa-apa saja yang terjadi pada sang istri.


Bagaimana aku bisa berbagi cerita sedangkan penyebab aku begini karena kamu, Mas.


Reyna menatap tepat pada manik mata Azka, tatapan lelaki itu tampak tulus, tapi apakah ketulusan nya masih akan terlihat setelah mendengar pernyataan darinya?


"Baiklah, jika kamu belum siap untuk bercerita, tidak apa. Aku paham, pasti berat ya," Azka menarik tubuh Reyna ke dalam pelukannya, menyalurkan kekuatan yang kini sudah resmi menjadi istrinya lima hari yang lalu.


"Kenapa menatapku seperti itu? Iya tau aku tampan, walau sudah beranak satu jiwa muda ku masih membuncah," ucap Azka seraya memamerkan ototnya. Reyna sedikit terhibur dengan aksi konyol Azka.


"Aku kemarin ingin meminta sesuatu padamu." Reyna mengerutkan dahinya, menunggu kalimat Azka selanjutnya. Namun bukannya melanjutkan, Azka malah menampilkan senyum smirk yang Reyna tidak paham arti dari semuanya.


"Apa?" Akhirnya, Reyna yang kelebihan penasaran ini buka suara juga.


"Bolehkah aku meminta hak ku sekarang? Tidak apa-apa jika kamu belum siap, aku paham. Semuanya terjadi begitu saja, tanpa sadar kamu sudah mengorbankan masa mudamu untuk menikah dengan duda sepertiku, kamu sebenarnya layak mendapatkan pria yang sepadan denganmu," Azka terlihat lucu jika merendah seperti ini, padahal Reyna belum menjawab apa-apa tapi dia malah menyahuti dirinya sendiri, Reyna terkekeh geli.


"Ohh ayolah, ini bukan panggung komedi. Aku tidak sedang ngelawak. Jadi, apa jawabanmu?" Walau ragu tapi Azka masih penasaran dengan jawaban Reyna.


"Lakukan, yang sudah jadi milikmu akan menjadi hakmu, Mas. Dan aku punya kewajiban untuk melayanimu." Karena sudah mendapat lampu hijau, tanpa aba-aba Azka langsung meraup bibir ranum Reyna, bibir inilah yang sempat lancang mencuri ciuman darinya di malam itu, sekarang Azka akan membuatnya tunduk.


Reyna menikmati permainan sang suami, ini adalah kali pertama baginya, sedikit takut dan gelisah tetapi dia berusaha lawan.


Setelah puas bermain-main dengan bibir Reyna, Azka beralih pada leher jenjang Reyna, menggigitnya kecil sehingga meninggalkan bekas merah di sana, Reyna meringis pelan karena Azka yang sudah seperti singa kelaparan, melahap leher nya dengan ganas, tak terhitung berapa tanda yang sudah ia buat di area leher putih Reyna.


Azka menggendong Reyna ala koala dan merebahkannya secara perlahan ke atas ranjang. Keduanya sudah tersulut nafsu yang membawa, terutama Azka yang seperti terbakar, bukan main ganasnya kalo masalah beginian. Kenikmatan yang selama ini tak lagi ia rasakan kini sudah kembali dengan yang baru. Reyna melihat Azka yang sudah seperti orang kesetanan yang langsung membuatnya takut.


Malam ini menjadi saksi bagaimana Reyna menyerahkan mahkota paling berharga yang selama ini ia jaga sampai sekarang, dan kini pertahanan itu sudah ditembus oleh pedang tumpul milik Azka.


(Oke, skip. Author gak pandai buat adegan macam ni, maafkan yaaa😭😭, kalian bayangin sendiri aja, sekali-kali mandiri lah ya🙏😭).


Seluruh tubuh Reyna sakit, mungkin sekarang dia mengalami patah tulang karena terlalu banyak bergerak kemarin malam, walaupun bukan sepenuhnya dia yang memimpin semua permainan, tetapi nyatanya Reyna tak kalah ganasnya tadi malam. Ngilu dan nyeri di area bawah membuatnya memejamkan mata sejenak, mencoba meredam rasa sakit nya, dia gak tau jika akan sesakit ini. Reyna melihat sekeliling dan meraih ponselnya untuk melihat jam. Seketika mata Reyna membola. Pukul 6??. Reyna berani jujur, kondisi di luar masih sangat gelap, tapi jelas-jelas angka di ponselnya menunjukkan angka 6 lebih dua menit. Reyna merutuki dirinya sendiri, bagaimana bisa dia lalai bangun pagi, tetapi sepenuhnya ini bukam salahnya juga. Dia melirik Azka yang masih tertidur pulas menghadap ke arahnya, tangan kekar Azka bertengger di pinggang Reyna, pantas saja berat. Reyna menatap wajah teduh itu ketika terlelap begini, sangat nyaman sekali tidak seperti Azka yang datar, meskipun wajahnya terlihat tengil tapi aura ketampanannya mendominasi.


Reyna harus secepatnya bangun dan menbersihkan diri habis itu memasak di dapur jika tidak ingin diamuk Wati. Namun, keinginannya itu adalah khayalan belaka, jelas saja dia tidak bisa secepatnya ke kamar mandi dengan kondisi tubuhnya yang tanoa busana, terlebih lagi arena **** * nya sungguh menyiksa sakitnya, Reyna hanya bisa meringis dalam diam.


Pergerakan nya menimbulkan efek, Azka terbangun karena merasa terganggu dengan Reyna yanh gak biaa diam dari tadi.


"Oh, kau sudah bangun?" tanya Azka dengan suara serak khas bangun tidur, lelaki itu kembali mengeratkan pelukannya sehingga membuat Reyna tertarik ke pelukannya.


"Ayo lah, aku ingin mandi sekarang," sesal Reyna berusaha melepaskan diri. Jika bukan karena takut dengan Wati dia akan senantiasa bermalas-malasan di tempat tidur, apalagi dengan keadaan badannya yang remuk redam.


"Sebentar saja, lagipula masih pagi." Begini nih, jantan memang gak selalu paham apa yang ada di pikiran perempuan, gak ikut merasakan ketakutan yang menghantui benak Reyna. Coba saja mertuanya itu lebih menampilkan sisi baiknya sedikit atau nggak bisa meringankan bebannya, mungkin saja Reyna tidak terlalu resah setiap terlambat bangun di pagi hari.


Azka mencoba menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Reyna, sungguh dia manja sekali hari ini, tapi Reyna gak punya waktu untuk meladeni sikapnya itu, yang memenuhi otaknya sekarang adalah, bagaimana ia bisa segera ke dapur. Reyna rasa dia kesulitan berjalan.


"Mau mandi bareng?" Tawaran yang tentu saja Reyna tolak.


"Ti-tidak perlu, aku bisan mandi sendiri," Reyna menggeleng kuat. Azka mengabaikan penolakan Reyna, dengan sigap ia menyingkap selimut yang menutupi tubuh mereka sehingga menampilkan kondisi badan yang telanjang bulat, Reyna membuatkan matanya kaget dan segera menutupi area mana yang perlu ditutupi.


"Mas, gila?" Bentaknya, karena seluruh lekuk tubuh nya terekspos sempurna.


"Kenapa ditutup? Lagipula aku sudah melihat semuanya," Azka dengan senyum smirk nya. Dia juga dengan santainya berjalan keliling ranjang tanpa busana membuat Reyna malu sendiri jika harus menatap lelaki itu.


Azka langsung menggendong tubuh Reyna ala bridal style, tidak tau semarah apa wajah Reyna saat ini, yang jelas dia malu karena Azka tak lepas menatap setiap inci tubuh Reyna yang sudah menjadi kenikmatan tersendiri baginya.


"Dasar me*um," Reyna menampar pelan pipi Azka, karena matanya tak berhenti menelisik tubuh Reyna.


"Gak apa-apa mesum sama istri sendiri, emang salah hmm?" Azka mengecup kening Reyna, mereka berdua langsung berendam di dalam bathtub.


Suka geli kalo buat adegan kek gini, maklumi jika kurang bagus🙏😅. Sorry for the typo.