
Reyna merenung dan merasa iri melihat keakraban dua orang di hadapannya kini, mereka tampak berbincang seru sambil sesekali tertawa renyah, ingin sekali rasanya Reyna bertukar posisi dengan perempuan cantik yang sudah berhasil mencuri hati Wati yang notabennya adalah mertuanya sendiri, tapi untuk berbicara empat mata saja susah, pasti ada saja perdebatan yang mengiringi.
Putri yang hanya guru TK kini sudah dekat malah dekat banget sama Wati. Ini yang jadi menantunya siapa sih? Kok bisa salah alamat gini ya. Reyna menunduk dan tersenyum getir, mereka berdua bicara seolah tidak ada Reyan di sekeliling.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Azka yang baru saja datang dari kamar, kini ia sudah siap dengan setelan santai nya, kaos oblong hitam dan celana training yang juga warna hitam. Penampilan Azka kali ini sukses membuat Putri tersihir, kalo Reyna sih sudah biasa karena memang satu rumah tapi kali ini sedikit berbeda, Azka jadi 10 kali lipat lebih keren dan ganteng dari biasanya, ditambah rambutnya yang dibiarkan acak-acakan, tidak tertata seperti saat Azka berangkat ke Kantor.
"Dahlah, bunuh aja aku sekarang, Azka ganteng banget." Isi hati Putri karena saking tidak tahan dengan ketampanan suami orang. Hampir saja dia berdiri dan menerjang tubuh Azka jika saja Wati tidak membuyarkan lamunannya.
"Mas mau kemana?" Reyna mengalihkan topik sambil memperhatikan Azka dari atas sampai bawah.
"Bukannya kita mau ke dokter buat periksa kandungan?" Azka menatap Reyna intens. Tetapi Reyna malah mengernyit bingung, sejak kapan ia ada buat janji seperti itu, lagian kandungannya baik-baik saja tidak ada yang perlu diperiksa kecuali kalo mengalami kontraksi. Reyna memiringkan kepalanya sembari mengerjap beberapa kali, tindakannya membuat Azka gemas dan ingin menerkamnya sekarang juga. Azka menggigit bibir dalamnya kuat agar tidak salting karena ulah Reyna.
"Sekarang?" tanya Reyna memastikan.
"Ya iyalah sekarang, masa tunggu kamu lahiran baru periksa, kan gak masuk akal." Reyna balik menatap Wati dan Putri yang juga tengah menatapnya dengan pandangan berbeda-beda, Wati dengan tatapan sinisnya sedangkan Putri dengan tatapan sok ramah padahal semua itu fake, dalam hati dia sedang merutuki Reyna.
"Ayo, nanti kita telat," Azka segera menarik tangan Reyna untuk berdiri.
"Tunggu, Farel ikut," Farel berlari dari arah tangga, nampaknya bocah itu juga sudah siap dengan pakaiannya.
"Harus sekarang ya?" Fokus Azka terpecahkan karena suara Putri menginterupsi telinganya.
"Memangnya kenapa?" tanya Azka sinis, males banget ladenin ular satu ini.
"Ahh tidak apa-apa," mental Putri seketika menciut karena mendapat tatapan maut dan mematikan dari Azka yang seperti sudah siap menerkam orang.
"Ayo sayang. Ma, kami berangkat dulu ya takut telat," Azka merangkul bahu Reyna mesra, seolah memberi tau dunia bahwa dia hanyalah milik Reyna.
Putri sudah misuh-misuh di tempat karena kesal sampai menghentakkan kakinya ke lantai beberapa kali dengan keras karena panas banget lihat Azka bersikap mesra pada Reyna.
"Mama, gimana ini? Hati aku udah sakit banget, bantuin dong buat ngambil hati Azka," Putri merengek pada Wati, bahkan dia sudah mengganti panggilannya pada Wati menjadi 'Mama'.
"Mama juga bingung sayang, perlahan-lahan saja ya, Mama yakin Azka bisa luluh sama kamu, secara kamu tuh sempurna secara fisik mental.
Sementara itu....
"Mas, ini sebenarnya kita mau kemana? Aku gak pernah bilang ke kamu mau periksa kandungan," Reyna yang masih bingung langsung menanyakan saat Azka tengah fokus menyetir, raut wajahnya hanya datar.
"Aku hanya gak mau lihat wajah nenek lampir itu, sayang. Makanya aku beralasan seperti ini," jawab Azka sambil sesekali melirik ke arah Reyna.
"Wajar lah Mas, Putri kan hanya bertamu buat ketemu Mama juga."
"Kamu bodoh apa gimana sih? Kelakuan kayak ulat bulu masih aja kamu bela, heran aku. Jangan terlalu bersikap baik padanya, kamu gak lihat dari tatapan dia ke aku? Jangan lemah Reyna, sesekali lawan dia jika itu perlu," Azka sedikit membentak Reyna karena kesal istrinya selalu berprasangka baik pada Putri yang jelas-jelas ingin merebut Azka darinya, tentu dengan bantuan Wati tentunya, meskipun sampai sekarang Azka masih kuat dengan pertahanan nya.
Reyna menunduk, bentakan Azka sukses membuatnya membeku di tempat. Azka menghela nafas pelan lalu mengusap punggung tangan Reyna lembut.
"Maaf, aku gak bermaksud membentak tadi, aku hanya tersulut emosi karena guru Farel itu sungguh sudah kelewat batas, bahkan tadi waktu aku bareng dia ke rumah bukan aku yang mau tapi dia yang maksa buat ikut dengan alasan motornya masih diservis. Awalnya aku nolak tapi Farel juga gak kalah ngotot, jadi ya sudah aku iyakan saja. Tapi kamu tenang saja, dia gak duduk di sampingku, aku suruh dia duduk di belakang dan Farel pindah ke depan," tutur Azka agar tidak terjadi kesalah pahaman antara keduanya. Reyna kembali tersenyum sambil mengangguk paham, pokoknya selama Azka masih cinta, Reyan yakin dia tidak akan segila itu main perempuan di belakang.
Reyna menoleh ke kursi belakang untuk memeriksa Farel, ternyata bocah itu sudah dari tadi tertidur dengan posisi nungging. Reyna hendak memperbaiki posisi tidur Farel namun segera ditahan oleh Azka.
"Biarkan saja, selama dia nyaman," ucap Azka dan Reyna segera kembali ke posisinya semula.
.
Bukannya ke dokter, Azka malah belok untuk pergi ke Mall. Reyna mengernyit heran, padahal katanya tadi mau ke dokter kandungan tapi kenapa nyangkutnya di parkiran Mall.
"Ayo turun, untuk sementara kita habiskan waktu di sini, bosen pantai mulu, sekali-sekali nonton bioskop kek," kekeh Azka kemudian segera membangunkan Farel, sebenarnya gak tega tapi gak mungkin juga kan ditinggal, ntar tuh anak teriak kayak orang kesetanan.
"Ada rekomendasi film bagus gak menurut kamu? Atau ada film yang dari dulu pengen kamu tonton tapi gak kesampaian?" tanya Azka saat mereka sudah mula memasuki gedung Mall. Reyna berfikir sejenak, dia kurang tau soal begituan, orang Reyna gak pernah pergi ke bioskop.
"Aku gak ngerti soal film, tapi kalo ada genre horor aku pengen nonton," jawab Reyna antusias. Azka meneguk salivanya, berusaha menyembunyikan ketakutan, dari dulu dia benci film horor tapi kenapa tiba-tiba Reyna pengen nonton.
"Hayolohh, Ayah takut ya," ejek Farel yang masih setengah sadar tapi tau bahwa Ayahnya ini memang penakut.
"Takut? Huh, biasa aja. Lagipula Ayah sering kok maraton film horor sendiri di kamar sebelum nikah sama Bunda," sahut Azka songong lalu berjalan ke arah penjual tiket. Reyna dan Farel saling lirik lalu tersenyum jahil.