Married With Duda

Married With Duda
MWD 69 : Terserah



Farel loading bentar, memperhatikan Hattala yang sudah merentangkan tangannya minta dipeluk, terhitung sekitar 5 menit mereka saling diam begitu juga Azka yang tidak mengerti kenapa putranya tidak mengenali kakek buyutnya.


Walau sudah mempunyai cicit, Hattala masih tampak sehat bahkan tidak bungkuk seperti kebanyakan orang tua lainnya, banyak yang mengira Hattala adalah Ayah Azka karena rupa mereka juga tidak beda jauh, sama-sama tengil.


Farel memajukan badannya, menelisik wajah Hattala sambil sok berfikir.


"Kelamaan kamu Farel, tangan Kakek sudah pegel ini," keluh Hattala, melipat tangannga di dada kesal. Farel tak menjawab, malah dia langsung berlari ke arah Azka yang berdiri di samping mobil, hal itu mengundang pertanyaan dari Hattala, dia merasa dihindari oleh cicit kesayangannya.


"Kamu gak inget sama Kakek? Wahh keterlaluan sih, padahal kakek bela-belain terbang dari China ke Indonesia cuma buat samperin kamu," ucap Hattala dengan nada yang dibuat sesedih mungkin agar mengundang prihatin dari Farel, tapi tuh bocah masih aja belum kenal Hattala karena memang terakhir ketemu saat acara pemakaman Stella dan setelah itu Hattala balik lagi ke China.


"Dramanya nanti di rumah saja, kasihan Farel capek," Azka membukakan pintu mobil untuk Farel di samping kemudia sementara Hattala sendirian di kursi belakang, awalnya sih mengundang protes dari yang paling tua karena dia mau duduk sama Farel tapi Farel-nya yang gak mau, bertambah sudah kekesalan Hattala sampai tidak mau bicara lagi.


.


Sudah dua hari Hattala berdiam diri di rumah Azka, dan selama dua hari itulah Hattala kini semakin dekat dengan Reyna dan juga Farel. Reyna yang awalnya ngira kakek Hattala adalah seorang yang angkuh dan arogan ternyata semua eksptektasi nya itu dipatahkan oleh sifat lembut dan penyayang.


Azka jadi merasa tenang dan gak masalah kalo Hattala tinggal di rumahnya meskipun mansion mewah miliknya terbengkalai begitu saja tanpa penghuni.


Azarin tidur di gendongan Hattala, capek main kejar-kejaran sampai pinggangnya bengkok sebelah tapi it's okay kalo kata Hattala mah, yang penting para cicitnya bahagia.


"Kakek, kakek. Gendong Farel dong, masa Aza aja yang digendong."


"Udah gede, badan kamu berat, sana minta gendong sama kudanil, enak aja yang ada badan Kakek sakit semua," ucap Hattala dengan nada ketus tapi bercanda. Farel mengerucutkan bibirnya kesal. Reyna datang dari arah pintu bersama Azka di belakangnya, mereka habis belanja bulanan sekalian beli kebutuhan dapur karena bi Ela lagi pulang kampung seminggu yang lalu jadi untuk kegiatan masak makanan ya jelas Reyna yanh turun tangan.


Reyna mengambil alih Azarin dan gendongan Hattala, tidurnya nyenyak sekali bahkan saat berpindah tangan Azarin tidak terusik sama sekali. Sampai Reyn notice sesuatu yang janggal, Farel duduk lesehan sambil menekuk kakinya dengan wajah muram. Reyna menunduk sedikit, mensejajarkan wajahnya dengan Farel.


"Kenapa murung begitu?" tanya Reyna, mengusap lembut pipi chubby Farel. Tak mendapat jawaban, Reyna beralih melirik Hattala yang sibuk dengan ponselnya.


Azka baru kembali dari dapur setelah menaruh semua belanjaan mereka di dalam kulkas.


"Kakek gak mau gendong Farel, Azarin terus yang dimanja," akhirnya Farel buka suara setelah beberapa kali dibujuk oleh Reyna meski capek. Azka menghampiri mereka yang posisinya kayak main petak umpet, hampir saja Azka tidak sadar akan keberadaan Farel.


Hattala menoleh sekilas, perasaan bersalah tiba-tiba menghampiri, ini juga bukan sepenuhnya salah Hattala, badannya memang masih terlihat sehat tapi menolak kemungkinan jika Hattala juga sudah tua dan tidak mampu mengangkat beban berat.


Gak sampai dua menit, Azka menurunkan Farel karena seluruh tubuhnya terasa kebas, berat badan Farel emang gak main-main.


.


"Kakek beneran bakal pergi?" tanya Azka di sela kunyahan-nya, mereka semua berkumpul di ruang makan dan tiba-tiba saja Hattala menyampaikan pesan bahwa ia akan pulang ke mansion-nya. Hattala mengangguk samar.


"Kenapa secepat itu?" tanya Azka lagi.


"Halah, bilang aja kamu senang kakek minggat dari sini, gak usah sok halang-halangi kakek," decak Hattala. Azka terkekeh pelan kemudian menggeleng tanda tidak setuju. Awalnya memang seperti itu tapi karena perangai Hattala yang berubah drastis membuat Azka dapat menerimanya, mau tinggal sampai sisa tulang belulang juga Azka izinin kok.


Suasana kembali hening, mereka sibuk dengan makanan masing-masing yang belum juga habis karena pada sibuk saling lirik dulu sebelum sentuh makanan.


"Rencananya kakek mau balik kapan?" Azka memulai pembicaraan, malam sudah semakin larut, orang-orang rumah sudah masuk kamar masing-masing untuk menyambut hari esok, kecuali Azka dan Hattala yang memilih untuk nongkrong sambil ngopi dulu di ruang tengah.


"Besok atau lusa, kamu sepertinya gak sabaf ya lihat kakek pergi," lagi-lagi Hattala menyinggung permasalahan tadi di meja makan, Azka menghela nafas kesal, padahal dia tuh nanya baik-baik malah disindir, niat Azka tuh baik tau gak sih.


Mereka berdua lanjut berbincang seputar permasalahan perusahaan Azka yang semakin maju meski masih saja ada yang berusaha menjatuhkan.


Hattala menggelengkan kepalanya, jadi teringat masa lalu, sejak zaman Papa Azka yang mimpin perusahaan juga banyak sekali yang curang dan korupsi, Hattala terpaksa turun tangan untuk membantu menstabilkan kembali perusahaan Papa Azka yang hampir saja menemui ambang kebangkrutan.


.


Hattala melipat tangan di dada, rasanya enggan sekali angkat kaki dari rumah yang penuh canda tawa dan kehangatan, tapi mau bagaimana lagi ada sebuah misi yang harus ia selesaikan dan itu butuh privasi, dan tempat yang paling aman cuma di mansion-nya.


Azarin berontak di pelukan Reyna saat melihat Hattala hendak masuk mobil, rupanya mereka belum salam perpisahan. Raut wajah Azarin seakan tidak membiarkan Hattala pergi karena terlanjur nyaman, apalagi setiap candaan Hattala selalu sukses membuat Azarin tertawa sampai pingsan.G. Canda.


"Kakek," panggilan dari si kecil membuat Hattala menoleh dan tersenyum lembut, mengurungkan niatnya masuk mobil, membawa langkahnya menuju Azarin yang sudah turun dari gendongan Reyna kini tampak berlari kecil menuju Hattala. Sungguh pemandangan yang manis untuk dilihat apalagi di waktu pagi.


Kini Azarin sudah ada di gendongan Hattala, dia tampak nyaman sembari menyandarkan dagunya pada pundak Hattala.


"Kakek pergi dulu. Kalo urusan kakek sudah selesai bakal balik lagi ke sini," jelas Hattala menggenggam erat tangan yang paling kecil. Reyna tersenyum sambil melirik Azka yang balik menatapnya lembut, Farel sejak tadi sudah misuh-misuh gak jelas, ini masih pagi bukan waktunya buat nangis, lagian kakek mau mampir ke mansion sebentar aja.