
"Lagi? Kamu mau ke Surabaya lagi?" Reyna mengangguk pelan seraya terus sibuk dengan kegiatannya.
"Kamu mau pindah? Kok pake bawa koper segala?" Keheranan Azka bertambah, sudah jelas lantaran Reyna membawa serta bajunya sehingga hanya menyisakan setengah di dalam lemari.
"Ini baju aku yang lama, Mas. Mau aku sumbangin ke panti asuhan di sana, masih baru kok gak jelek-jelek amat." Reyna gak sepenuhnya bohong, memang benar sebagian baju nya akan dia sumbangkan ke panti asuhan Bandung, dan sebagian lagi adalah bajunya.
"Ya sudah aku ikut ya, mumpung free juga hari ini," Azka hendak siap-siap namun dihalangi oleh Reyna, tempatnya masih dia rahasiakan gak mau kalo Azka sampai tau.
"Gak, Mas, kamu di rumah saja. Aku hanya mengantar semua baju ini dan pulang, mana mungkin aku tinggal terlalu lama di sana dan meninggalkan kalian semua, terutama Farel," jelas Reyna dengan senyum tipis terpatri di bibirnya.
"Baiklah, tapi kamu harus janji besok-besok kalo mau pergi harus ajak aku dan Farel, sekalian sama Mama juga," Azka mengusak rambut Reyna hingga membuatnya berontak, sudah capek dia tata rambut dari tadi pagi malah diacak-acak. Reyna takut jika terus-terusan dia melarang Azka untuk ikut akan menimbulkan kecurigaan dalam diri Azka.
Sejak awal Reyna tidak mau seperti ini, belum lagi dia harus mendengar omelan Wati karena lari dari tanggung jawab dengan alasan mengunjungi keluarga, namun Azka senantiasa membela dan selalu menjadi perisai bagi Reyna.
Farel yang sangat dekat dengan Reyna terpaksa harus membendung rasa rindunya untuk sementara, karena sehabis pulang sekolah pasti langsung nempel pada Reyna, tetapi hari ini tidak.
Lagi-lagi Reyna menolak niat baik Azka yang akan mengantarnya ke halte bus. Baik, Azka maklumi juga tanpa ada rasa curiga sama sekali, saking percaya nya sama Reyna dia dengan lapang dada membiarkan sang istri menemui keluarga tanpa dirinya.
.
.
Zila tengah asik jogging, padahal matahari sudah mulai naik dengan cahayanya yang terik, tapi gadis itu enggan untuk beranjak. Satu botol air mineral di tangan kanannya membuatnya betah duduk di bangku panjang sambil memperhatikan bus yang berhenti di depannya.
Zila gak sengaja melihat orang yang mungkin gak asing di matanya turun dari bus dengan koper besar. Sejenak, Zila mulai mengingat. Ahh iya, baby sitter nya Farel. Ngomong-ngomong, Zila kabur ke Bandung karena kebetulan ada bibinya di sini, sang Mama tidak tau jika dia ada di Bandung.
"Hai, kamu Reyna kan?" Reyna menoleh dan mendapati gadis cantik dengan tank top. Reyna sedikit risih dengan cara berpakaian Zila padahal bukan dia yang make, berbeda dengan Zila yang fine-fine aja mungkin karena sudah terbiasa berpakaian seperti itu.
"Siapa ya?"
"Aku Zila, masa kamu gak inget? Kita pernah ketemu di rumahnya tante Wati, kamu kan baby sitter nya Farel? Siapa tau aku salah nyapa orang," Zila tertawa pelan, mau tak mau Reyna juga ikut tertawa tapi palsu. Sungguh, dia gak inget siapa perempuan ini, karena banyaknya gadis yang mertuanya bawa ke rumah sampai Reyna susah menghafal nama bahkan wajahnya juga. Ingatan tentang Zila masih abu-abu di otaknya.
"Oke, itu semua gak penting. By the way, kamu mau kemana dengan koper segede gaban ini? Kamu berhenti ya jadi baby sitter Farel? Atau kamu dipecat?" Nada bicaranya sedikit mengejek, Zila menutup mulutnya sambil tertawa. Reyna mendelik kesal, belum tau ternyata kalo Reyna sudah menikah dengan Azka, bagaimana reaksinya ya jika tau fakta yang sebenarnya. Tapi jujur, Reyna gak mau debat masalah ini dulu biar waktu saja yang menjawab, karena dia juga harus buru-buru ke rumah tante Ifa.
"Aku duluan," Reyna menyeret koper besarnya menuju taxi yang sudah ia pesan lewat online, siap mengantarnya ke alamat tante Ifa. Zila memperhatikan punggung Reyna yang sudah jauh dari jangkaunnya.
.
.
"Ya mungkin Reyna punya alasan tersendiri, Ma. Aku tidak mau menyimpulkan sendiri, walau kadang aku juga merasa aneh dengan sikapnya yang tiba-tiba berubah, tapi aku tidak akan berpikiran negatif apalagi curiga," Azka tersenyum simpul, Wati berdecak kesal, rencananya untuk memprovokasi Azka sudah gagal.
"Sudah pukul 11, aku akan jemput Farel sekarang." Setelah pamitan dengan sang Mama, Azka melajukan mobilnya membelah jalanan kota menuju sekolah Farel. Sekarang dia sudah terbiasa di tinggal, sifat manjanya perlahan berkurang karena di sekolah banyak sekali pengajaran yang dia dapat. Farel termasuk anak yanh cerdas dan pintar, otaknya cepat sekali menangkap penjelasan, gak heran kalo ada lomba di TK Farel selalu juara satu, kedua orang tuanya tentu saja bangga, kepintaran sepertinya nurun dari Azka.
"Ayah!!" Farel berlari saat melihat Azka berdiri di samping mobil. Azka merentangkan tangannya untuk memeluk jagoannya yang hebat ini.
"Gimana tadi belajarnya? Seru gak?" Sudah menjadi kebiasaan Azka untuk menanyai Farel tentang hari ini di sekolahnya.
"Seru banget, tadi bu guru ngajakin kita main sama-sama," Farel begitu antusias Azka suka itu.
"Baguslah, Ayah turut senang."
"Nah itu bu guru nya Farel." Azka menoleh dan mendapati seorang guru muda dan masih cantik, tubuhnya langsing dan tinggi tengah menghampiri mereka.
"Selamat siang, apa saya mengganggu?"
"Tidak, sama sekali tidak," jawab Azka ramah.
"Hmm, bapak ini wali nya Farel?" Sebagai seorang guru yang bertanggung jawab atas muridnya di sini jadi Putri ingin memastikan saja soalnya dia belum pernah melihat Azka sebelumnya. Siapa tau dia penculik anak yang nyamar jadi orang tua Farel.
"Iya benar sekali. Saya Azka, orang tua Farel."
"Saya baru pertama kali lihat, biasanya kan Farel sama bu Reyna," Putri sudah kenal betul dengan Reyna, jadi sudah hafal wajah dan nama.
"Ohh itu istri saya, kebetulan lagi pergi ke luar kota," sahut Azka ramah. Putri mengangguk paham.
"Kalo begitu saya duluan ya, Farel sepertinya capek, ya kan sayang?"
"Sedikit." Ketiganya sontak tertawa.
"Dia tampan sekali, sudah punya anak tapi kelihatan kayak masih remaja, ukiran wajahnya sungguh sempurna, andai saja aku yang menikah dengannya, kalo dipikir-pikir aku jauh lebih cantik daripada bu Reyna, menurutku penampilan nya biasa saja, jika dibandingkan denganku jelas lebih unggul aku. Pak Azka terpesona gak ya tadi setelah melihatku? Takdir kejam sekali, aku yang cantik ini belum bisa mendapatkan jodoh, sedangkan Reyna yang biasa saja sudah bersuami, sudah ganteng tajir pula." Putri bergumam gak jelas sambil memperhatikan mobil Azka menjauh di keramaian. Penyakit iri dengki memang sudah gak asing pada diri manusia.