Married With Duda

Married With Duda
MWD 40 : Pisah Ranjang



Waktu semakin cepat berlalu, itu artinya mereka harus segera mengakhiri acara liburan, sebagai tempat tujuan terakhir keluarga cemara ini, mereka nyangkut di Pantai Indah Ancol, lokasinya sangat strategis dan cocok untuk menghabiskan waktu bersama keluarga, Pantai ini menyediakan berbagai macam wisata mulai dari kuliner, bahari hingga kegiatan lainnya. Selain itu, lokasi ini sangat populer karena berdekatan dengan Mall dan Hotel Mercure.


Hotel Mercure berdiri dengan megah di pinggir pantai sehingga mampu memberikan view terbaik yang dapat dinikmati dari kamar hotel. Dan di sinilah, Azka bersama Reyna dan Farel menginap.


"Kamu suka?" Azka memeluk Reyna dari belakang, menopang dagunya di bahu sempit Reyna, sambil bersama menikmati sunset yang sebentar lagi akan hilang ditelan malam.


"Suka banget, aku belum pernah sama sekali merasakan hal sebahagia ini," Reyna mengusap pipi Azka lembut, kemudian mereka terpejam beberapa saat untuk menikmati angin senja yang menyapu wajah.


"Ihh, Ayah nakal. Ngapain peluk Bunda kayak gitu, gak sopan," mendengar ocehan Farel yang tiba-tiba masuk kamar, sontak Azka melepaskan pelukannya dan menatap putranya yanh cemberut dengan wajah kusut.


"Kalo mau masuk, ketuk pintu dulu, Farel. Kebiasaan ya kamu." Farel tak bergeming, masih dengan tatapan tajamnya menatap Azka.


"Iya-iya, Ayah salah. Tapi apa masalahnya, Bunda kan istri Ayah, jadi terserah dong mau peluk kayak gimana," Azka masih tidak paham dengan pemahaman Farel, memang sejak dulu dia benci lihat Azka bermesraan walaupun sudah sama istri sendiri, mau dijelaskan beberapa kali pun Farel seolah enggan paham, entah apa alasannya Azka tidak tau karena Farel selalu diam jika ditanya kenapa.


"Yang jelas, hanya Farel yang boleh peluk Bunda, Ayah gak perlu, jadi Ayah sadar batasan ya," Farel berlari ke pelukan Reyna seraya menjulurkan lidahnya mengejek Azka yang nampak frustasi. Reyna tak pernah tau jika persaingan Ayah dan Anak ini sangat lucu.


Azka dibuat jengkel lagi oleh sang anak, padahal Farel sudah ia pesankan kamar khusus untuknya di sebelah, tapi malah nyempil di tengah-tengah.


"Farel kan punya kamar sendiri, kalo gak dipake sia-sia dong uang Ayah buat bayarin Farel kamar, mahal loh dibayar pake uang bukan pake daun," bujuk Azka sepenuh hati, padahal dia ingin menghabiskan malam berdua hanya dengan Reyna tanpa gangguan dari tuyul ini.


"Ya udah kalo Ayah sayang banget sama uang mending Ayah yang pake kamar itu, Farel mau bareng sama Bunda, gak bisa jauh-jauh," Farel tetap ngotot, semakin ia eratkan pelukannya pada Reyna.


"Kamu gak kasihan lihat Ayah tidur sendiri tanpa pelukan Bunda?"


"Apa Ayah juga gak kasian aku tidur sendiri tanpa kalian berdua?" Azka refleks diam, berasa kena mental oleh ucapan Farel. Reyna pengen ngakak aja rasanya kalo sudah menyangkut perdebatan keduanya.


"Tapi Farel ikhlas kok kalo cuma bobo sama Bunda, Ayah boleh pindah tidur di kamar sebelah."


"Kalo itu sih Ayah yang gak ikhlas Farel, kamu ngalah dong sekali sama Ayah," Azka berusaha menarik tubuh mungil yang setia nempel pada Reyna.


"Gak mau, harusnya Ayah yang ngalah, padahal tiap hari tidur bareng terus sama Bunda di rumah, giliran Farel malah gak dikasih."


"Itu mah beda dong, sayang. Di rumah sama di hotel tuh vibes nya beda jauh. Ayah janji nanti di rumah kami tidur sepuasnya sama Bunda," Azka akhirnya menawarkan tawaran yang tak ingin ia lontarkan.


Farel tampak berpikir, matanya mengerling lucu menimang-nimang tawaran sang Ayah.


"Janji ya, di rumah Bunda tidur dengan Farel selama satu bulan."


"Iya, Ayah jan-- ehh? Farel jangan ngada-ada deh, satu bulan Ayah mana bisa tahan."


"Gak mau tau, Ayah sendiri yang buat janji," Farel lantas bangkit dan berlari menuju kamarnya.


Sudahlah, Azka tak mau memikirkan itu lagi, yang penting malam ini ia akan menghabiskan waktu yang panjang bersama Reyna layaknya pengantin baru.


.


.


Azka pikir, Farel akan melupakan ucapannya semasa di hotel, tetapi Azka salah besar.


Seperti yang sudah Azka janjikan, sampai di rumah Farel langsung menagihnya, Farel bahkan meminta Reyna memindahkan baju-bajunya ke kamar.


"Menagih janji, Ayah. Kenapa? Ayah gak terima?" Azka mendengus kesal, Farel sudah berani membantahnya.


"Tapi kenapa pake pindahin barang-barang Bunda segala, Farel?"


"Biar Bunda gak ke kamar Ayah lagi."


"Kamu sungguh menyiksa. Bunda tidur di kamar kamu di waktu malah saja, jadi jangan macem-macem, Farel." Reyna yang diperebutkan hanya diam, gak tau mau ngomong apa.


Setidaknya Azka bisa bernafas lega karena Farel tidak memaksa lebih lanjut, setelah diming-imingi es krim dan berbagai macam mainan keluaran terbaru, Farel akhirnya mengingkari janjinya dan hanya meminta waktu satu minggu untuk tidur bareng Bunda-nya. Azka bersorak dalam hati, bukan susah membujuk anak semata wayangnya.


"Kenapa aku gak bujuk dari kemarin ya? Biar gak pisah ranjang dengan Reyna selama satu minggu?" Azka merutuki kebodohan nya.


"Ayah buruan, nanti Farel telat," celetuknya dari luar, Azka menyempatkan diri untuk manja-manja dengan Reyna tanpa tau hari ini Farel harus sekolah.


"Minta anter satpam di depan aja sana--aww. Sayang, kamu kok jahat?" Azka merasakan ngilu di pinggangnya karena cubitan maut Reyna berhasil memutar kulit nya, mungkin akan meninggalkan bekas merah di sana.


"Nanti Farel ngambek, udah sana! Aku juga mau beres-beres rumah."


"Untuk apa? Semua sudah ada yang kerjakan, jadi tugas kamu hanya tidur dan layani suami dengan penuh cinta, oke." Azka sedikit menghindar saat Reyna hendak melayangkan pukulan tepat di wajahnya.


"Oh iya, kamu gak nitip apa-apa gitu?" Azka menyembulkan kepalanya di balik pintu sebelum benar-benar pergi.


"Nitip apa?" Reyna malah balik bertanya.


"Sudahlah, lupakan saja."


Terlampau bosan jika rebahan terus di kasur, gak ada kegiatan sama sekali, semua pekerjaan rumah Bi Ela sendiri yang selesaikan sampai Reyna gak kebagian. Untuk mengusir rasa bosan, Reyna memilih mengelilingi isi rumah, mungkin ada ruang rahasia yang selama ini tidak ia ketahui dalam rumah.


"Ehh, ini tangga menuju kemana? Baru tau ada tangga di sini," baru tiga anak tangga, langkahnya terhenti kala mendengar suara yang tak asing memenuhi telinganya.


"Mau kemana kamu?" Terlihat Wati sudah berkacak pinggang menatap sinis ke arah Reyna.


"Tadi aku melihat tangga ini, dan aku ingin tau ada apa di atas sana," jawab Reyna berusaha santai.


"Kenapa kamu ingin tau?"


"Karena saya penasaran," Reyna menperlihatkan senyum manisnya.


"Jangan berani dekati tangga itu lagi, atau kamu akan tau akibatnya!!" Ancaman klasik, tentu saja Reyna tidak takut.


"Mendengar Mama berkata seperti itu, aku jadi curiga ada apa ya di sana? Mama gak menyembunyikan sesuatu kan?" Air muka Wati berubah, yang tadinya datar sekarang menjadi gugup.


"Sudah aku bilang berhenti memanggilku Mama, kamu pikir pantas menjadi menantuku, hah?"


"Mama nilai saja sendiri," entah keberanian Reyna muncul dari mana, setelah membuat Wati kesal dengan ucapannya, Reyna hanya berlalu begitu saja meninggalkan Wati yang masih tak terima.


Sesampainya di kamar, Reyna mengusap dadanya pelan, besar perjuangan Reyna untuk berusaha terlihat sangar di depan Wati agar wanita paruh baya itu tidak akan lagi menekannya.


"Astaga, apa yang sudah aku lakukan, aku baru saja menyakiti perasaannya. Kamu benar-benar tidak punya sopan santun Reyna," menyesal tiada arti, kini Reyna hanya bisa terduduk lemas di balik pintu.