
Untuk : Reyna
Dari : Lia
..."Maaf Reyna, aku memilih keputusan yang benar-benar salah, tapi apa kamu tau betapa besar rasa sakit yang sudah aku terima di dunia ini? Tidak ada yang peduli padakau selain kamu, aku hargai itu. Tetapi aku sadar, aku tidak mungkin selamanya terus bergantung denganmu, aku janji akan tenang di sini, aku rasa dua hari yang lalu adalah pertemuan terakhir kita walaupun singkat, jadikan itu perpisahan yang cukup bagi kamu, aku titip salam juga pada yang lain, ucapkan terima kasihku pada Ana, Dodi dan terutama Rizky yang sudah rela diam-diam sering menemaniku dan mengajakku berkencan, dia sangat manis aku sedikit menyesal telah memilih jalan ini, akibatnya aku tidak akan bertemu dengan Rizky lagi. Tapi, apa dia mau menerimaku lagi dalam keadaan hamil begini, aku yakin sekali dia akan memandangku jijik. Setelah membaca surat ini, aku harap kamu tidak menyalahkan dirimu sendiri, semua bukan salah kamu aku saja yang bodoh. Intinya, terima kasih aku pamit."...
Air mata sudah tidak bisa ditahan, Reyna menangis sejadi-jadinya di pelukan Ana, setelah membaca surat itu dadanya terasa sesak. Reyna sudah gagal melindungi dan menepati janjinya pada Lia, padahal mereka tidak sedekat itu tapi jauh hari setelah bertemu pertama kali, Reyna sudah menganggap Lia saudari nya begitu juga dengan Ana.
.
.
Tungkainya sudah tidak mampu menopang tubuhnya yang lemas, datang ke pemakaman Lia adalah pilihan yang sulit, wajah Lia masih terbayang di benaknya, bagaimana tangisan kesedihan yang selalu menemani harinya, bagaimana bisa Reyna tidak menyadari semua itu. Pemakaman Lia dilakukan di kampung halamannya, Reyna melihat kedua orang tua Lia tampak baik-baik saja tidak merasa kehilangan sedikitpun, Reyna menjadi jengkel karenanya. Sebab mereka juga Lia melakukan tindaka berbahaya sampai merenggut nyawa, jika saja mereka ada sedikit rasa tanggung jawab dan mendukung putrinya semua in tak kan terjadi, tetapi kembali lagi pada takdir.
"Mereka orang tua yang tidak memiliki tanggung jawab, seharusnya jika tau Lia mendapat perlakuan seperti itu, mereka sebaiknya menuntut bukan malah menambah beban pikiran Lia, lihat cara mereka memandang jasad putrinya, sungguh membuatku muak," tatapan sinis dan nanar Reyna lemparkan, Ana ikut menoleh kemudian mengusap punggung Reyna berkali-kali, saat ini amarah Reyna naik dua kali lipat dari sebelumnya.
Ana lekas menarik ujung baju Reyna saat sadar gadis itu akan menghampiri orang tua Lia dengan tangan yang sudah terkepal kuat, matanya merah.
"Sudah, Na. Kamu tidak lihat ada banyak orang di sini, gak baik juga negur orang di pemakaman," Ana berbisik takut di dengar yang lain. Reyna menarik nafas dalam-dalam sebelum bicara, bibirnya melengkung ke atas membentuk senyuman manis membuat siapa pun yang melihatnya akan bergidik ngeri.
"Aku mau silaturahmi aja sama mereka, gak ada maksud lain," sambil menyingkirkan halus jari Ana dari baju nya dan terus memasang senyum manis dia kembali melanjutkan langkahnya menuju seberang. Ana menggigiti kukunya ragu, bagaimana jika Reyna bertingkah dan ngamuk-ngamuk 'kan bahaya. Setelah pamit pada Dodi dan Rizky, Ana pergi menyusul Reyna yang sudah setengah jalan melewati kerumunan orang yang menyaksikan pemakaman Lia. Agak malu sih karena dilihatin banyak orang, harusnya di pemakaman tuh diem sambil memanjatkan do'a ehh malah keliling.
Berjarak sekitar dua meter, Ana memilih untuk memantau saja dari pada harus menghampiri Reyna, kalo terjadi aksi jambak menjambak bisa langsung dilerai olehnya. Sejauh ini aman, mereka berinteraksi layaknya manusia, wanita paruh baya yang merupakan nyokap Lia juga tampak baik-baik saja dan nyaman ngobrol bareng Reyna dan sesekali tertawa. Ehh tertawa? Bukannya harus sedih ya? Ini juga Reyna malah ikutan ketawa, mana ekspresi wajahnya kek mau makan orang, ketawa sih ketawa tapi ketawanya tuh mirip psycho, Ana meringis pelan saat Reyna meremat kuat jarinya ingin hantam orang di depannya ini yang kerjaannya ketawa ketiwi kek orang gila tanpa beban.
Baru saja Reyna mengangkat tangannya, Ana langsung gesit menahannya, sudah mengambil ancang-ancang dari tadi soalnya paham banget sama Reyna kalo gerak gerik nya udah begini.
"Ehh, Ana? Ngapain ke sini?" Memang kata-katanya lembut namun sedikit tertahan, wajahnya seakan protes dengan tindakan Ana.
"Ini teman Lia juga 'kan, Ibu pernah liat lo tapi lupa di mana." Ana cengengesan, tak lupa salim dulu sebagai sapaan. Reyna membuang nafas kasar seraya menatap kedua orang tua Lia bergantian lalu beralih pada Ana yang sudah ngode Reyna untuk kembali ke tempat semula pakai bibirnya.
"Reyna, tunggu dulu. Aku cuma takut nanti kamu jadi pusat perhatian dan orang lain bakal mandang kamu orang yang gak punya sopan santun terhadap orang tua, udah itu doang. Kalo kamu mau marah ya jangan di pemakaman juga apalagi di depan jasad nya Lia, kamu mau Lia benci sama kamu karena nyalahin orang tuanya," Ana susah payah mengejar Reyna yang kesal karena aksi nya dia lerai.
"Iya aku paham."
.
.
Berita ini sudah tersebar ke mana-mana, bahkan media sudah meliputnya, di koran, televisi, di internet juga ada. Banyak yang prihatin dan membela Lia, karena di sini Lia lah yang paling tersiksa, dia melakukan aksi pembunuhan juga untuk membela diri, banyak komen positif yang ditujukan untuk Lia. Untuk Andi malah kebalikannya Netizen banyak menghujat nya, sikapnya yang bejat dan suka berbuat semena-mena mengantarkan dia pada takdir yang buruk.
Banyak yang mengaku jika mereka mengenal Lia dan orangnya sangat ramah walaupun terlihat cuek, dia suka membantu orang yang kesusahan walaupun dia juga butuh. Setiap ketemu, tidak pernah ketinggalan yang namanya menyapa.
Sama halnya dengan Reyna, Azka tak kalah terkejut dengan berita tentang sahabatnya, entah dengan tujuan apa dia seperti itu, setau Azka hubungan Andi dan Lia baik-baik saja.
"Jangan terlalu memikirkan hal itu Azka, kondisi kamu belum sepenuhnya sembuh, jika beban pikiran kamu bertambah hal itu akan menghambat proses pemulihan kamu." Azka masih terdiam kaku, mengetahui fakta ini bagaikan sambaran petir di siang hari, teman yang selama ini dia percaya adalah seorang penjahat. Tapi, terlepas dari semua itu Azka tidak ingin menghakimi Andi secara sepihak, bagaimanapun juga dia sudah berjasa bersedia mengelola Kafetaria miliknya selama dia sibuk dengan urusan Kantor.
Azka ngotot ingin pergi ke pemakaman Andi yang dilaksanakan hari ini, namun kenyataan membuatnya sadar. Keluar dari rumah sakit bukan pilihan yang benar, dia berjalan saja susah apalagi tubuhnya juga kembali melemah.
"Ayah!! Ayah!!" Farel datang dari arah pintu bersama Reyna. Dapat Azka lihat mata Reyna sembap, dia paham bahwa gadis itu sedang berduka disebabkan sahabatnya yang meninggal.
"Ayah, boleh Farel minta hadiah sekarang?" Azka tertegun, ternyata Farel sama saja yang dipikirkan hanya hadiah, tentu saja Azka tidak akan menolak demi menyenangkan hati malaikat kecilnya.
"Hmm, kamu mau apa?" Azka teringat kejadian yang menimpanya dua minggu yang lalu.
"Walaupun gak ada kue permohonan di sini, aku cuma minta Bunda Reyna menjadi Bunda Farel seutuhnya," mata bocah itu berbinar saat mengucapkan keinginannya.
"Ayah mau kan nikah sama Bunda Reyna, katanya seseorang harus menikah dulu agar punya sebuah ikatan suci, kemarin Bunda Reyna larang aku untuk memanggilnya Bunda lagi karena katanya belum ada hubungan sama Ayah, ya udah sekarang Farel minta langsung saja sama Ayah biar semuanya jelas." Azka melirik Reyna yang sudah menunduk malu, Wati hanya menggelengkan kepalanya, penjelasan Farel detail sekali.
"Kenapa Farel jujur begitu, aku kan hanya menasihati agar tidak memanggilku dengan sebutan Bunda jika ada di luar rumah, agar tidak mengundang mulut ember dari tetangga", gumam Reyna dalam hati, takut setelah ini dia mendapat teguran baik dari Wati ataupun Azka sendiri karena telah mengajarkan putranya hal yang belum waktunya, apalagi umur Farel masih jauh dari kata dewasa, bagaimana mungkin Reyna dengan seenak jidat mengatakan perihal menikah pada bocah lima tahun, sungguh tak pantas.
"Farel, menikah itu gak gampang harus memantapkan hati dan pikiran untuk kehidupan kedepannya bagaimana," Azka mengusak surai hitam Farel memberinya nasihat agar paham.
"Ya udah Ayah tinggal mantapin aja biar cepet." Tidak habis pikir dengan pemikiran anak satu ini, begini nih kalo otaknya kelebihan polos.
"Ayah belum siap," tiga kalimat yang membuat Farel mencebik kesal, tau kan kalo keinginannya tidak diturutin, solusinya ya nangis. Menangis adalah jalan ninjaku. Begitu kali ya isi otak Farel.
"Padahal ini permintaan Farel, selalunya Ayah kabulkan yang lain kenapa yang ini tidak? Ayah gak sayang lagi sama Farel, janji setelah ini gak akan minta apa-apa lagi."
"Minta yang lain Ayah akan turutin, asal jangan yang ini yah."
"Gak mau, tetep yang itu." Lemah sudah pertahanan Azka jika sudah menyangkut air mata buah hatinya, sampai guling-guling di lantai nangis-nangis. Azka mengusap wajahnya kasar.
"Oke-oke, Ayah akan lakukan apa yang Farel mau," hening sejenak karena suara tangisan Farel seketika berhenti, wajahnya kembali cerah, matanya berbinar. Wati melotot kaget, secepat itu putranya mengambil keputusan, padahal dia bisa memikirkannya lebih dulu apalagi untuk menikahi Reyna yang notabennya hanya baby sitter Farel, yahh Wati tau pernikahan memang tidak memandang harta tapi keturunannya syarat mempelai perempuan harus sederajat dengan keluarga mereka.
"Kamu yakin, Azka?" Wati yang memang sudah ragu ini terus terang bertanya. Azka mengangguk pelan, sebenarnya dia juga mqaih ragu dengan perasaannya, entah dia terima karena Farel yang terus mendesak atau karena dia juga mulai menyukai Reyna, tapi rasa itu masih abu-abu.
"Jika kamu sudah siap menikah, Mama bisa carikan perempuan yang cantik untuk kamu dan sederajat dengan keluarga kita," Wati bahagia mendengar Azka sudah siap untuk membuka hati. Jujur, mendengar Wati berbicara tentang kriteria calon istri yang akan dia carikan untuk Azka tanpa sengaja membuat hati Reyna terluka, bukan karena dia berharap atas pernikahan ini, sedikitpun tidak terbersit pikiran untuk menikah dengan Azka, secara tidak langsung ucapan Wati membuatnya merasa rendah di mata mereka, iya Reyna sadar dia hanya seorang ART di rumah besar itu.
Azka melirik Reyna yang tampak murung, kepalanya semakin menunduk tidak setegak tadi, Azka orang nya peka jadi tau penyebab dia seperti itu.
"Ayah hanya boleh menikah dengan Bunda Reyna, selain itu gak boleh," Farel bersidekap dada, keputusan tetaplah di tangan Azka tetapi Farel sudah menetapkan dari awal jika sang Ayah akan resmi menikah dengan Reyna, karena sudah terlanjur nyaman mau gimana lagi.
"Farel sayang, kamu itu butuh seorang Bunda yang berwibawa dan cantik, kalo untuk Reyna sih kurang ya," ucap Wati dengan santai, gak mikir apa jika perkataannya membuat Reyna sakit hati, gak merasa bersalah banget mentang-mentang orang kaya.
"Gak mau, Farel gak butuh semua itu, Farel hanya mau Bunda Reyna, titik gak pake tanda tanya," Farel membuang muka.
"Azka bujuk tuh anak kamu, memang gak pernah mau nurut dia sama Mama, kasih tau dia kalo calon Bunda barunya lebih cantik dari Reyna," Wati sepertinya sudah capek.
"Sama Mama aja gak nurut apalagi sama Azka."
"Hey, dia 'kan putra kamu udah pasti nurut kok. Reyna, coba kamu kasih paham Farel, bilang kalo calon Mama itu gak harus seperti kamu."
"Ma, sudahlah. Jika Farel mau nya Reyna gak bakal terima yang lain, Mama kan tau Farel tuh tau bagaimana sikap dan sifat seseorang, baik di dalam maupun di luar."
"Tapi nanti muka Mama mau ditaruh di mana jika kamu jadi menikah dengan Reyna," sehina itukah pangkat Reyna di mata Wati. Ingin rasanya Reyna menghilang saja dari hadapannya, dari pada harus diremehkan begini, mau protes pun lidahnya tiba-tiba kaku. Ayo, Reyna. Mana jiwa pemberanimu, kenapa kamu jadi pengecut begini.
Lagi-lagi Azka mengkhawatirkan perasaan Reyna usai dikata katai seperti tadi, dia masih tetap dalam posisi semula, menunduk tak ingin menatap siapa pun.
"Kita bahas ini nanti saja, aku mau istirahat," Azka merebahkan tubuhnya dengan posisi membelakangi yang lain. Farel tampak sumringah seraya menarik jari Reyna untuk duduk di sofa sambil main puzzle. Wati berjalan mengendap-endap mendekati Reyna kemudian duduk di samping gadis itu.
"Reyna, aku harap kamu menolak pernikahan ini ya, soalnya aku ada calon untuk Azka, aku berkata seperti ini karena tidak ingin kamu terlalu berharap pada Azka. Permintaan Farel hanya sementara, lambat laun dia pasti akan melupakannya," Wati berbisik agar tidak didengar oleh oknum yang bersangkutan.
"Oma jangan hasut Bunda Reyna, Ayah akan tetap menikah dengannya," sepertinya Farel dapat mendengarnya, dengan mempoutkan bibirnya lucu dia membantah semua ucapan Wati.
"Huh, anak kecil gak akan paham dengan pembicaraan orang dewasa, sudahlah kamu diam saja." Wati menggerutu kesal. Farel semakin menjadi-jadi saja setiap harinya.
"Ingat, Reyna. Ini juga demi kebaikan kamu, jangan terlalu berharap, itu tidak baik untuk kesehatan hati dan mental kamu karena sampai kapan pun mungkin aku tidak bisa menerima kamu sebagai menantu keluarga Mahendra."
Deg!!