Married With Duda

Married With Duda
MWD 90 : Kasmaran



Farel pulang dalam keadaan kucel banget, rambut berantakan, baju basah, wajah kena cipratan lumpur. Farel menenteng helm kesayangannya yang sedikit remuk tapi gak sampai rusak, aman jadi gak perlu beli lagi.


"Ya Allah, Farel. Kamu habis nyemplung di mana?" Reyna yang shock melihat kondisi Farel pulang-pulang bawa lumpur langsung berlari menghampiri putranya, gurat khawatir mulai menghiasi wajahnya. Farel tak langsung menjawab, ia hanya menatap Bundanya dengan tatapan sendu, matanya berkaca-kaca, bukan karena Farel cengeng, hanya saja dia malu.


Sepulang dari Kantor Azka, di perjalanan Farel kurang fokus bawa motor, alhasil dia langsung nyemplung ke kubangan lumpur samping jalan, entah apa yang dia pikirkan yang jelas selama perjalanan dia cuma senyam-senyum kayak orang gila, begitulah kronologinya kenapa Farel bisa nyusruk mencium lumpur, untung gak kecampur sama tai ayam.


Reyna menggeleng pelan, gak habis pikir sama kelakuan Farel, udah besar masih aja suka main lumpur.


"Ya sudah, mandi sana, bersih-bersih. Jangan sampai kelihatan sama Azarin, nanti kamu diejek," ucap Reyna sambil berbisik, memperhatikan sekitar jika tidak ada tanda-tanda Azarin. Farel mendengus pelan kemudian mengangguk bergegas ke lantai atas.


Selesai membersihkan diri, Farel ada niatan untuk membawa motor kesayangannya ke bengkel, selain kotor mungkin ada beberapa bagian yang rusak akibat berciuman langsung dengan aspal dan pohon pisang yang berdiri di tepi jalan, bahkan pohon pisang tersebut sampai penyok gara-gara diseruduk motor Farel. Kalau dilihat-lihat juga ada area yang lecet di bagian depan dan bagian kiri motor tersebut.


"Nanti aja deh, males banget harus bawa sekarang, tapi kotornya gak ngotak, lumpurnya sampai masuk ke knalpot juga," Farel mengacak rambutnya frustasi, mana besok dia harus pakai kuliah. Farel bukan tipe orang yang ribet sih soal kendaraan, kalo gak ada motor ya bawa mobil, tapi ini tuh motor kesayangan dia.


Akhirnya dengan inisiatif, Farel memilih untuk mencuci motor sendiri di belakang rumah, mumpung ada selang tetangga yang belum dibalikin habis dipinjam kemarin.


Farel asik menyiram motornya dengan air sambil bersiul, menyanyikan lagu burung kakak tua hinggap di jendela. Sudah lama dia tidak membersihkan 'John' (nama panggilan buat motor kesayangan Farel). Terakhir Farel bawa ke tempat cuci motor 5 bulan yang lalu, itu pun hanya sebentar karena Farel harus buru-buru ke kampus, jadi sebelum abang-abangnya selesai nyuci motornya, Farel langsung rebut dan gas ke kampus. Yang paling menyebalkannya lagi, Farel lupa ambil kembalian uangnya sampai sekarang, biarin aja lah itung-itung sedekah.


"Anjir, lecetnya gak main-main sampai hilang separuh," gumam Farel kaget bukan main, tentu saja kalimatnya sangat berlebihan. Susah payah Farel menggosok bagian yang lecet supaya tidak terlalu kelihatan, bisa-bisa nanti Azka marah gara-gara anaknya tidak pandai menjaga hadiah pemberiannya.


"Harus di cat ulang gak sih biar sedikit pudar," monolog Farel yang begitu yakin dengan idenya.


"Ahh, nggak-nggak, nanti jelek," Farel membantah pemikirannya lalu meneruskan sesi cuci motor sampai senja menyapa.


.


"Udah Bunda, Farel gak apa-apa, cuma lecet dikit doang," Farel kembali menarik tangannya saat Reyna berusaha mengobati luka lebam pada lengan dan kakinya.


"Gak usah membantah, ini kalo dibiarin makin menjadi. Lihat tuh dagu kamu merah-merah kayak dicakar kucing garong. Ini sebenarnya kamu tiduran di mana?" Dengan telaten Reyna menumpahkan antiseptik pada kapas dan mengoleskannya pelan-pelan pada dagu Farel yang sedikit kegores, entah bergesekan dengan apa yang jelas tadi pagi Reyna dapat lihat bagian dagu Farel berdarah meski tidak sampai ngucur di lantai.


Farel meringis saat Reyna gak sengaja neken bagian lukanya.


"Tuh kan, bilangnya gak apa-apa, giliran diteken dikit langsung sakit," sindir Reyna yang dibalas kekehan pelan oleh Farel.


"Nggak, emang gak sengaja tadi."


Tiba-tiba dari arah pintu muncul Azka dengan pakaian acak, dasi miring ke kanan, sepatu sebelahnya hilang, jasnya diikat di pinggang. Dilihatnya Reyna dan Farel duduk hadap-hadapan, kotak P3K di atas meja ditambah Farel yang lebam di dagunya membuat Azka berpikir aneh-aneh.


"Kamu habis berantem ya? Ayah gak pernah ya ajarin kamu jadi anak nakal," cerca Azka usai berdiri di hadapan dua manusia yang bingung dengan tingkahnya. Farel jadi takut dengan bentakan sang Ayah.


"Farel gak betantem, Mas. Katanya dia jatuh ke kubangan lumpur di tepi jalan depan toko kasur," Reyna menengahi, dia sudah mendapat cerita lengkap dari Farel tadi. Azka diam di tempat, menggaruk kepalanya yang tak gatal hanya sebagai peralihan semata.


"Yahh, pokoknya ingat saja pesan Ayah, jangan jadi anak nakal yang kebanyakan di zaman sekarang," Azka membawa langkahnya gontai menuju kamar, merasa selesai sudah mengobati Farel, Reyna mengikuti langkah Azka meninggalkan Farel yang merenung di sana.


.


Farel memutar pulpen di sebelah tangannya, pikiran melayang entah kemana, yang jelas Farel sedang memimpikan sesuatu yang hampir saja jadi nyata.


Malam ini terasa agak berbeda, tak henti-hentinya Farel menatap benda persegi panjang yang terpampang apik dekat laptopnya, di sana sudah tersedia sebuah nomor spesial yang Farek tidak duga-duga sebelumnya.


Farel melepas paksa earphone yang setia memainkan alunan musik di telinganya, membereskan semua bukunya dan menata rapi di atas meja. Padahal Farel belum sama sekali mulai belajar, sedari tadi ia hanya memikirkan kejadian tadi siang di kantor sang Ayah.


Dengan senyum sumringah, Farel meraih ponselnya, mengetikkan nama seseorang yang sudah tertata rapi di kontaknya.


Antara bimbang dan ragu untuk Farel menekan nomor tersebut, tapi kalo gak dicoba ya sia-sia dong dia maksa minta siang tadi.


Farel beringsut mendekati kasur, merebahkan tubuh jangkungnya dengan kasar hingga menimbulkan getaran di setiap sisi ranjang. Farel terus saja menggenggam ponselnya tanpa ada niatan untuk melepasnya meski untuk satu detik pun.


Bayangan manis seorang perempuan terus berputar di otaknya, ini bukan kaset rusak tetapi bak bioskop yang menayangkan film romance berulang kali.


Senyum lebar terpatri di wajah tampannya, tak peduli setan-setan di kamarnya menyebut Farel gila atau stres, yang jelas saat ini pemuda tersebut sedang kasmaran dan tak ingin beranjak dari khayalan demi khayalan yang dia ciptakan sendiri.


"Ahhh, mikir apa sih gue," Farel menoyor kepalanya sendiri, mengalihkan pandangan dari ponselnya ke langit-langit kamar. Farel bangkit, tiba-tiba dia teringat sesuatu tetapi tak tau apa itu, yang jelas menurut pemikiran Farel hal tersebut penting untuk masa depannya.


"Innalillah, tugas persentasi gue!!!"