Married With Duda

Married With Duda
MWD 26 : Kunjungan



Reyna tidak bisa berhenti tersenyum, perlakuan Azka tadi cukup membuatnya bahagia lantaran dia yang rela meluangkan waktu hanya untuk menemuinya, satpam yang sempat debat dan adu bacot dengannya jadi tercengang dan lantas membungkuk meminta maaf sebesar besarnya baik pada Azka begitu juga dengan Reyna yang terlibat di sini, mungkin terhitung 7 kali dia mengutarakan maaf setiap melihat Reyna.


Reyna tersenyum canggung kala mendapat tatapan tak terbaca dari karyawan yang berpapasan dengannya. Jujur, sedikit insecure juga karena cara berpakaian nya yang masih kampungan dibanding wanita yang lain, malah mungkin karyawan Azka lebih fashionable dibanding dia, sudah tentu tidak ada yang percaya jika dia lah istri baru CEO mereka.


"Mungkin Presdir kita ada gangguan kesehatan pada indra penglihatan nya makanya salah pilih istri."


"Oh iya bukankah satu bulan yang lalu beliau mengalami kecelakaan yang fatal, mungkin itu sebabnya."


"Tidak kusangkan, Presdri setampan dia bisa menikahi wanita biasa saja, jauh banget dari istri lamanya yang dulu, dia layaknya bidadari yang turun dari Kahyangan, aku saja yang perempuan kagum banget sama kecantikannya yang alami dan kulitnua sungguh terawat."


"Kira-kira butuh berapa lama ya untuk membuat Presdir sadar bahwa dia menikahi wanita kampung."


Bermacam-macam kalimat sindiran yang Reyna dengar tepat di hadapannya, mereka sama sekali tidak punya sopan santun, menggunjing orang lain tidak tau tempat.


Sempat sakit hati dan ingin memarahi mereka yang kurang ajar, namun segera ia tahan. Momen manisnya bersama Azka yang hanya seuprit itu kembali terngiang di kepalanya sehingga rasa kesal dan marahnya seketika lenyap.


Azka dengan santainya merangkul bahu Reyna mengajaknya masuk ke ruangannya, semua itu tak lepas dari perhatian yang lain, memang tidal banyak yang tau jika Azka menikah lagi kecuali Rudy yang diundang VIP untuk menjadi saksi, itung-itung upah kerjanya selama ini, semenjak Azka di rumah sakit semua Rudy yang handle walaupun tidak seberapa yang dia bisa tapi syukurlah perusahaan gak sampai bangkrut di bawah pimpinannya.


"Aku hanya ingin mengantarkan makan siang ini dan langsung pulang, kasian Farel sendirian di rumah." Memang gak ada akhlak ya, anak ditinggal di rumah sendiri.


"Tenang saja, dia bukan tipe anak yang cengeng." Mereka duduk bersebelahan di sofa.


"Ya sudah, jangan lupa dimakan. Aku permisi sekarang," Reyna segera berdiri setelah selesai dengan urusannya. Perlakuan tidak terduga dia dapatkan dari Azka yang membuatnya kaget. Bagaimana tidak kaget, lelaki itu tanpa aba-aba langsung memeluknya tanpa sebab, mata Reyna membola, badannya langsung membeku.


"Terima kasih, istriku." Bukannya baper atau pun senang, Reyna malah geli mendengar penuturan Azka. Terlihat tubuhnya bergetar menahan tawa dan sialnya, Azka sadar akan hal itu, dia jadi malu karena asal bicara.


"Jangan mengejekku, aku sedang berusaha," Reyna menggigit bibirnya resah, berama lama lagi mereka akan seperti ini.


Reyna bernafas lega, untung saja Farel belum bangun. Terhitung sudah satu jam dia pergi, namun masih belum ada pergerakan dari anak itu.


Sayup-sayup Reyna mendengar suara Wati di lantai bawah, tapi tidak sendiri seperti tengah berdialog dengan seseorang, cepat-cepat dia turun untuk melihat apa yang terjadi.


Reyna hanya bisa menghela nafas pasrah saat melihat Wati dengan perempuan yang kemarin, entah siapa namanya Reyna lupa dan tidak peduli juga, ngapain nama orang diingat kayak penting saja.


Karena tidak ingin mengacau hari indah mereka, Reyna balik saja ke kamar dari pada nanti kena roasting habis-habisan.


.


.


Sebelum berangkat bekerja, Reyna menghampiri sang suami di pekarangan rumah ingin meminta izin bahwa temannya akan datang ke sini hari ini.


"Teman kamu yang mana?" tanya Azka.


"Yang kerja di Kafetaria milikmu, Mas." Jawab Reyna seraya membetulkan letak dasi suaminya.


"Ohh iya apa kabar dengan mereka, saat ini aku masih belum bisa menjalankan bisnis itu, masih perlu waktu juga," Azka sampai lupa jika dia punya bisnis kecil-kecilan di dalam kota.


"Atau begini saja, bagaimana kalo kamu saja yang kelola Kafe itu," mata Reyna berbinar, usulan Azka tidak pernah gagal.


"Boleh juga."


"Tapi kamu harus jaga Farel di sini." Salah satu penghambat.


"Bisa kan bolak balik, lagipula gak terlalu jauh. Farel nyaman di mana saja asal sama aku," Reyna mengerling membuat Azka merotasikan bola matanya, Reyna makin hari makin berani.


"Terserah kamu saja, besok kita mulai berbisnis lagi di sana mumpung besok free di Kantor." Interaksi mereka memang dekat dan akrab tapi tetap saja masih ada rasa canggung di antara mereka, terutama Reyna yang masih ingin memastikan dulu perasaan Azka yang katanya ingin berusaha membuka hati untuknya.


Wati yang mendengar dialog mereka berdua sempat protes saat Reyna berlalu ke dapur.


"Enak banget ya bawa orang asing tanpa seizin ku," Wati berkacak pinggang seraya bersandar di tembok memperhatikan Reyna mencuci piring di wastafel.


"Ibu tenang saja, kami gak akan ribut ataupun mengganggu waktu istirahat, Ibu." Reyna beranjak pergi meniti tangga menuju kamarnya untuk membersihkan diri. Tapi sebelum itu, dia melipat baju yang kemarin dia cuci, agar pulang nanti gak banyak pekerjaan lain yang membebani.


Seingat Reyna, hari ini Farel mulai belajar di sekolahnya, kemungkinan besar pulangnya agak lama, bisa lah ditinggal sebentar titip sama gurunya, sementara Reyna di rumah membuat kue dan bolu untuk dihidangkan nanti pada teman-temannya. Mungkin Farel peka dengan pikiran Reyna, dengan cepat dia menahan tangan sang Bunda agar tidak berbalik arah pulang.


"Bunda, mau kemana?"


"Farel belajar yang rajin ya, Bunda pulang sebentar jika sudah selesai akan Bunda jemput secepatnya," Reyna mengusak surai hitam Farel kemudian mencium nya lembut. Dengan berat hati, Farel mengiyakan bujukan Reyna, sempat Reyna bertanya pada guru yang hari ini mengajar Farel, katanya sekitar dua sampai tiga jam kegiatan belajar mengajar jika sudah aktif begini.


Walaupun Farel sudah ia titipkan pada gurunya, tetap saja perasaan gak enak selalu menyeruak di benaknya, secara Farel sangat lemah yang namanya interaksi. Ngaduk adonan jadi tidak fokus, gula sampai lupa ia masukkan tetapi untung saja masih sadar.


Kenapa Reyna gak buat bolu nya pas Farel pulang sekolah saja? Sudah terlanjur janjian datang jam 10 pagi ya terpaksa.


Ana kemarin malam memberi kabar pada Reyna akan datang besok pagi, karena ada hadiah yang belum sempat mereka berikan karena berita pernikahannya yang mendadak membuat Ana gak sempat bungkus kado, jangankan bungkus beli isi nya aja belum, ya sudah mumpung banyak waktu luang kemarin dia pergi ke Mall sama Dodi dan Rizky tentunya, karena mereka juga sama gak sempat cari hadiah untuk pernikahan Reyna. Rizky dan Dodi yang gak paham dengan kesukaan para kaum hawa meminta Ana sebagai wakil untuk memilihkan hadiah yang pas dan cocok dan yang pasti Reyna sukai.


"Sudahlah, aku buat bolu saja, kue nya bikin tahun depan. Anak aku terlantar di sekolah, baru kali ini aku ngerasain panik luar biasa padahal gak terjadi apa-apa sama Farel, naluri seorang Ibu memang gak pernah gagal, ehh apa iya aku sudah jadi Ibu?"


Tanpa menunggu lama lagi, Reyna langsung cuss otw sekolah Farel, belum jam pulang sih tapi takutnya tuh anak berantem atau gak nangis salah satunya.


.


.


"Halo, Farel. Masih inget sama kakak gak?" Farel menepis pelan tangan Ana yang berusaha mencubit pipi gembulnya.


"Idih idih, udah berumur kok pengen dipanggil kakak, panggil tante aja, Rel." Dodi mengompori, namun tidak mendapat reaksi apa-apa dari Farel, bocah itu lebih tertarik sama mainannya.


Semenjak mereka bertiga sampai, ributnya minta ampun apalagi Ana dengan suara cemprengnya menggelegar di dalam ruangan, Reyna celingak-celinguk melihat Wati, mungkin saja mertuanya itu terganggu padahal sudah sempat berjanji untuk tidak akan membuat keributan yang bisa mengganggu kenyamanan penghuni rumah.


"Ini, Na. Hadiah dari kita bertiga, selamat atas pernikahan kamu, semoga langgeng sampai kakek nenek."


"Kok kakek, nenek sih. Harusnya tuh sampai maut memisahkan, umur gak ada yang tau, siapa tau nyawa mereka gak sampai mencapai umur 70-an," bantah Dodi yang merasa do'a Ana kurang ngena di hatinya.


"Heran kok kamu nyambung mulu kayak kabel listrik, terserah aku dong mau ngomong apa kok situ yang sewot," Ana merapikan anak rambutnya dengan songong.


"Aishh, dua kurcaci ini demen banget gelud dari tadi, jodoh baru tau rasa kalian berdua," Rizky yang aslinya merasa terusik akhirnya buka suara karena terganggu dengan drama Ana dan Dodi gak pernah usai sejak zaman Majapahit.


"Si anyink, mentang-mentang tinggi asal sebut orang lain kurcaci, aku sumpahin dapet jodoh tingginya lima centi, huh mampus," protes Dodi.


"Ya Tuhan, semoga do'a Dodi mengarah pada dirinya sendiri."


"Ehh sudah-sudah, ayo di makan dulu bolu buatanku, masih hangat baru keluar dari oven, walau sedikit hangus tapi gak mempengaruhi rasa, lumayan gratis kriuk-kriuknya," Reyna mempersilahkan tamunya untuk mencicipi hidangan yang sudah tersedia, Ana melirik bolu kukus itu langsung tak berselera karena Reyan gak niat banget buatnya, bukan hangus ini mah tapi gosong. Tapi untuk menghormati Ana tetap mencomotnya, ehh kok enak? Bener kata Reyna, walaupun gosong gak mempengaruhi rasa. Usai bergumam, Ana menghabiskan empat potong bolu, Dodi tercengang bisa-bisanya Ana tahan pahit, apa karena dia merasa gak enak ya sama Reyna?, makanya makan begitu lahap untuk menghargai kerja keras Reyna.


"Ayo, kalian berdua juga makan, enak kok gak pahit." Seakan tau isi pikiran Dodi yang menatap Ana aneh, Reyna dengan enteng bisa menebak, Dodi jadi salah tingkah.


"Apa liat-liat, iya tau aku tuh cantik tapi jangan kayak gitu juga, kan jadi malu," Ana mengelap sudut bibirnya dengan tisu. Dodi bergidik ngeri karena tingkat ke-PD an Ana semakin meningkat dari biasanya.


"Lah iya kok enak?" Ungkap Rizky, tadi sempat ragu juga.


"Apa ku bilang, aku sudah cicipi duluan kok sebelum menghidangkannya untuk kalian semua, kalo gak enak mana mungkin aku suguhkan untuk tamu," Reyna tersenyum puas.


"Mau tambah lagi? Masih banyak di dapur, sebentar ya akan ku ambilkan." Reyna kembali dengan sepiring penuh bolu oven ala resep buatannya. Setelahnya, mereka lanjut ngobrol lagi, kali ini pembahasannya tentang masalah Kafetaria yang akan mulai beroperasi besok pagi. Ana, bukan main senangnya sampai jingkrak di atas sofa.


"Akhirnya aku gak nganggur lagi, terhitung sudah lama banget aku mendekam di dalam kamar tanpa pekerjaan," Ana penuh dengan drama, padahal baru juga satu minggu dia break dari pekerjaannya, gini nih kalo orang yang sudah gila kerja, nganggur sehari pun berasa satu tahun untuknya.


"Memangnya sudah ada manajer baru lagi? Aku gak mau ya kalo modelannya Andi lagi, udah capek aku diancam," Dodi meringis pelan jika mengingat masa-masa itu. Rizky mengangguk setuju dengan Dodi, dia juga sama capeknya. Tiba-tiba dia teringat Lia yang langsung membuat Rizky bersedih lagi, tapi semua sudah berlalu, dan yang lalu berhak untuk dilupakan.


"Gak kok, tenang saja, aku jamin kalian pasti nyaman di bawah pimpinannya," Reyna sok misterius membuat ketiganya saling pandang dengan tatapan bertanya-tanya. Reyna menarik sudut bibirnya melihat ekspresi penasaran ketiga sahabatnya, ingin bongkar sekarang tapi besok aja biar surprise gitu.


Sebelumnya mohon maaf jika alurnya kurang ngena dan agak sedikit berantakan, mungkin juga ada typo kata yang tidak di sadari dalam menulis part ini, sebenarnya ini tuh novel suka-suka doang dalam rangka ikut tantangan menulis 50.000 kata dalam sebulan makanya alurnya sedikit gak jelas, bagi yang gak suka bisa di skip😭🙏, aku tuh belum terbiasa nulis lebih dari 1.000 kata per hari, entah atas dorongan apa aku nekat ikut dan alhasil ya begini, jadi berantakan. Sekali lagi aku sebagai author meminta maaf, jika suka bisa lanjut baca kok, terima kasih atas dukungan kalian semua 🤗💗.