Married With Duda

Married With Duda
MWD 55 : Baikan



Azka sedang dihadapkan dengan perasaan antara menyesal dan lega telah bicara jujur pada Reyna. Lega karena beban di kepalanya sudah tidak memberatkan lagi, dan menyesal karena gara-gara hal itu Reyna mendiamkannya, sudah dua hari sikap sang istri sangat dingin kepadanya. Mulai dari bicara yang hanya seperlunya saja, kalo berpapasan sama Azka di kamar malah buang muka, iya tau Azka salah tapi kan dia sudah berani untuk speak up, dan apalagi masalahnya. Oke, Reyna mungkin butuh sendiri dulu untuk menerima semuanya, asetnya dipegang-pegang perempuan lain siapa yang nggak kecewa dan marah, ingin rasanya Reyna menggigit pintu saat Azka menceritakan semua padanya kemarin.


Azka melirik ke arah Reyna yang tengah menyuapi Farel di meja makan, suasana hening dan beraura dingin, tak ada yang memulai percakapan bahkan sampai selesai makan tidak ada yang buka suara, biasanya Azka akan heboh minta dicium Reyna untuk berpamitan ke Kantor. Wati menyadari perang dingin dia antara mereka sejak kemarin, tenti saja itu membuatnya sedikit bahagia karena itu tandanya, Azka bisa membuka hati lagi untuk perempuan lain, tapi di sisi lain Wati juga marah karena Reyna berani-beraninya mendiami Azka, memangnya siapa dia hah? Istri jalur paksaan aja sok begitu. dasar emang. Begitu pikir Wati.


"Farel, ayo berangkat," ucap Azka pelan dijawab anggukan oleh sang punya nama. Farel mencium pipi Reyna lalu meraih tas gambar Spiderman di atas meja. Melirik Azka bahkan Reyna enggan, padahal Azka tuh pengen dilihat sedikit saja.


"Kenapa kamu gak jalan? Lihat tuh, Farel sudah di mobil," ujar Wati yang malas melihat Azka bengong kayak ngemis gitu sama Reyna.


"I-iya, Ma. Reyna, aku berangkat dulu." Ucapan Azka hanya dibalas deheman singkat oleh Reyna. Setelah Azka pergi, Wati menghampiri Reyna dengan tatapan sinis.


"Heh, berani sekali ya kamu diemin anak saya seperti itu, kamu pikir saya gak nyadar selama ini? Sudah merasa besar ya kamu di rumah ini? Sudah punya hak, hah?" bentak Wati, suaranya cukup lantang sampai menggema di dapur. Reyna hanya menghela nafas pelan dan mencoba menatap mata Wati yang sudah terselimuti amarah.


"Istri mana yang gak sakit jika melihat suaminya dijamah oleh wanita lain," ucap Reyna lirih, air mata sudah tidak bisa ia bendung lagi.


"Maksud kamu apa? Kamu kira Azka laki-laki brengsek yang suka jajan di luar? Gak usah nuduh sembarangan deh kamu, saya yang paling tau soal anak saya," ujar Wati, emosi sudah tidak terkontrol.


"Aku tidak menuduh mas Azka melakukan itu, tetapi dia sendiri yang cerita, meskipun bukan murni kesalahan dia tapi tetap saja hatiku sakit, Ma," Reyna tersenyum getir, air mata kembali berlinang.


"Sudahlah, baru permulaan saja kamu sudah nangis seperti itu apalagi jika Azka benar-benar pergi dari kehidupan kamu, mungkin kamu akan pingsan," Wati merenggut kesal lalu berlalu pergi dengan nafas yang naik turun, perdebatan singkat tadi cukup menguras tenaganya. Reyna masih terdiam di tempat menatap punggung Wati yang kian menjauh dari jangkauan nya, Reyna terduduk di kursi meratapi kesalahannya, iya Reyna juga salah karena harus menghakimi Azka padahal sudah jelas-jelas Reyna tau bahwa suaminya takkan berbuat hal seperti itu di belakangnya, semua yang dia ceritakan hanya sebuah kesalahan saja, baru sekarang Reyna menyesal dan dia berjanji saat Azka pulang nanti akan dia manjain 24 jam, bodo amat sama ego, Reyna tidak ingin kehilangan Azka.


.


Tampak mobil hitam mewah memasuki pekarangan TK tempat Farel menuntut ilmu sebelum masuk SD.


Putri sudah berdiri manis di depan kelas, sesekali tangannya merapikan anak rambutnya yang terbang tertiup angin, melihat mobil Azka saja sudah membuatnya bersemangat, berita kepulangannya tentu saja Putri dapat dari Wati, nampaknya mereka semakin dekat tiap harinya.


"Terima kasih, untuk kedepannya biar saya saja yang mengantar jemput Farel, biar tidak merepotkan anda," jawab Azka dengan raut wajah datar, biasanya dia selalu tersenyum saat ngobrol dengan Putri namun makin lama senyuman manis Azka perlahan hilang. Apa dia tau ya kalo aku mau deketin dia, begitu pikir Putri.


Sebelum benar-benar pergi ke kantor, Azka menatap Farel lembut, mengecup singkat kening jagoannya.


"Papa kerja dulu, rajin-rajin belajarnya jangan main-main, kan cita-cita Farel mau jadi Polisi." Farel mengangguk antusias sambil mengangkat jempolnya, mereka berdua tertawa bersama, pemandangan hangat di depannya membuat Putri semakin gencar saja mengejar Azka, ingin sekali dia berumah tangga, padahal cowok banyak yang ngantri buat nikah sama dia karena bukan hanya cantik, Putri juga baik dan ramah ke semua orang, hanya saja standar Putri ketinggian, gak mau sama bujangan maunya sama suami orang. Dikasih yang mudah malah minta yang susah.


.


Tak henti-hentinya Reyna melirik ke arah luar, memperhatian tanda-tanda sang suami pulang kerja, kali ini dia betul-betul yakin akan memperbaiki semuanya dan minta maaf atas kesalahan dan kebodohan yang sudah dia lakukan. Reyna jadi deg-deg an padahal cuma minta maaf doang grogi.


Suara deru mesin mobil mengalihkan atensi Reyna sepenuhnya, yah itu mobil Azka. Akhir-akhir ini Azka sering pulang siang, karena dia merubah jam kerjanya, maklum istri lagi hamil jadi harus ekstra dijagain, di sisi lain dia juga seorang CEO, bisa puas pulang pergi tanpa ada yang marah, tapi Azka juga tidak bisa selamanya seenak jidat seperti ini, dia juga harus memikirkan masa depan perusahaan.


Mata berbinar Reyna kian memudar saat melihat sosok wanita yang turun dari mobil Azka, tentu saja Reyna kenal orang itu gurunya Farel, si Putri. Ngapain dia nebeng di sana? Bukannya dia punya motor untuk dipakai? Dan bagaimana bisa mas Azka barengan sama dia, lantas apa urusannya ke sini? Berbagai pertanyaan muncul di benak Reyna, sementara Wati sangat senang sekali melihat Putri bersama Azka satu mobil.


Azka mulai memasuki rumah, satu objek yanh tengah ia cari, yakni Reyna. Perasaan tadi dia lihat istrinya ada di sini tapi kok tiba-tiba hilang.


"Ohh itu dia, sepertinya habis dari dapur," cicit Azka pelan melihat kedatangan Reyna dengan senyuman yang mengarah padanya, seketika hati Azka menghangat melihat senyum yang selama dua hari ini hilang.


"Kalian habis kemana aja? Kok bisa barengan?" tanya Wati pada Putri, suaranya sengaja dia kencangin agar yang lain bisa dengar, termasuk Reyna tentunya.


"Gak kemana-mana kok, hanya makan siang di kafe sebentar habis itu ke sini, deh," jawab Putri, sama saja dengan Wati, suaranya dibesarin volumenya biar Reyna bisa denger.


Reyna terkekeh pelan mendengar dialog dua orang laknat di depannya, sekuat itu usahanya buat misahin Reyna dan Azka. Tidak semudah itu Ferguso...