Married With Duda

Married With Duda
MWD 63 : Apa ajalah Terserah



"YA AMPUNNNN!! INI SIAPA YANG NARUH POPOK DI ATAS MEJA??, mana ada tai-nya lagi," Wati berteriak nyaring saat mendapati popok bayi yang dilipat sedemikian rupa tetapi tetap saja benda kuning emas itu masih bisa ditangkap indra penglihatan.


Reyna dari arah tangga mendengar teriakan Wati langsung bergegas turun, Reyna merutuki kebodohannya yang tidak membersihkan dulu kotoran Azarin.


"Maaf, Ma." Reyna mengutarakan maaf sebelum tangannya dengan gesit menyingkirkan popok itu dan membungkusnya dengan plastik agar baunya tidak menyeruak keluar.


"Kamu itu bisa gak sih ngurus anak. Udah berisik tengah malam sampai saya gak tenang tidur, dan sekarang malah buang popok sembarangan. Kamu pikir rumah ini tempat buang sampah?" Wati membentak dengan amarah yang meluap.


"Tadi Azarin nangis sehabis ganti popok, terus aku gendong sebentar sampai tidur," jelas Reyna merasa bersalah, ia menunduk takut, takut Azarin kebangun juga gara-gara suara Wati yang menggelegar, Azarin itu susah banget tidur jadi harus butuh waktu 10 sampai 20 menit digendong baru tidur, bahkan sampai setengah jam sampai tangan Reyna kebas.


Wati mengibaskan tangannya di udara, udah gak mau denger semua alasan Reyna.


"Sekarang kamu bersihin sisa kotoran yang menempel di atas meja dan jangan lupa pasang pengharun ruangan biar bau-nya gak kecium lagi," Wati beranjak pergi. Niat hati ingin menonton gosip di televisi malah mendapati hal yang tak diminati, terpaksa Wati menuju kamar lagi.


Reyna menghela nafas pelan, melaksanakan apa yang diperintahkan oleh mertuanya tanpa terkecuali, meski pinggangnya sudah encok Reyna gak peduli asal gak kena marah lagi udah sama si Wati.


.


Azka gak bisa fokus dengan pekerjaannya, mengingat bagaimana tadi malam Reyna begadang hanya untuk menidurkan Azarin yang kelewat rewel, padahal pas ngidam Reyna gak serewel Azarin tapi kenapa pas lahir Masya Allah, Azka sampai gak bisa berkata-kata. Ditambah hari ini juga, Reyna menunda sarapannya karena suara tangis Azarin terdengar sampai dapur, mau tak mau Reyna bangkit dari kursi untuk menemui sang buah hati yang tadinya terlelap malah bangun lagi.


"Ternyata begitu ya pengorbanan seorang Ibu untuk anaknya, aku jadi merasa bersalah karena sudah membenci Mama, tapi tetap saja sikap beliau gak benar, bukan Mama yang aku benci tetapi sifatnya yang selalu merendahkan Reyna padahal Mama lihat sendiri bagaimana perjuangan Reyna meski aku tau juga pasti dulu Mama seperti itu waktu merawatku," monolog Azka di ruangannya, mencoba merenung sebentar sambil memutar pulpen di tangannya.


"Apa aku pulang sekarang aja ya? Gak tau kenapa jadi rindur rumah, lagipula gak ada hal penting lagi yang harus ku urus di sini," Azka berdiri meraih has yang ia sampirkan di sandaran kursi kebesarannya, sebelum suara pintu terbuka mengalihkan seluruh atensinya.


Rudy datang terburu-buru dengan map hijau di tangannya, Azka mengernyit bingung, perasaan gak ada agenda meeting hari ini.


"Kenapa?" tanya Azka tanpa basa-basi langsung to the point aja. Rudy membungkuk sebentar kemudian menyerahkan map yang tadi ia pegang, raut wajahnya agak sedikit panik kalo menurut pandangan Azka, tapi kalo belum tau isinya Azka belum bisa menyimpulkan.


Tangan kekarnya bergerak meraih map itu dan membacanya.


BRAK..


Wajah Azka merah padam setelah mengetahui isi dari map itu, menatap nyalang pada Rudy yang tidak tau apa-apa, tangannya terkepal kuat, menggebrak meja untuk yang kedua kalinya karena saking kesalnya.


Gimana gak marah, klien Azka memutus kerja sama antar perusahaan mereka, dan proyek yang mereka buat hampir jadi dan bahan bangunan dibeli oleh uang perusahaan Azka sendiri, mereka hanya nyumbang isi otak doang, ya meski merancang ide tuh gak mudah tapi tetap saja Azka gak terima, sebagian saham juga ia gunakan untuk biaya pembangunan, jika dihentikan maka Azka sendiri yang kena secara perusahaan dia tuh yang paling menonjol dalam proyek ini.


Sekarang, orang itu sudah pergi entah kemana Azka pun tidak tau, tetapi Azka berjanji jika ia ketemu orangnya akan Azka seret ke penjara. Selain lepas tanggung jawab, orang tersebut juga menjual sebagian baha pembangunan dan uangnya dia simpan sendiri, begitulah laporan yang Azka dapat dari para karyawannya.


Yah, semua uang yang dia curi tidak akan membuat Azka gulung tikar secepat itu, masih banyak investor dari luar negri yang masih setia bekerja sama dengannya jadi gak semudah itu.


.


"Ini gimana sih cara buatnya, bingung Farel," ucap bocah enam tahun itu, tangannya berusaha membentuk sebuah kertas krep menjadi bentuk bunga tetapi gak jadi-jadi dari tadi, sampai tangannya keringetan dan alhasil warna kertas krep luntur mengenai tangannya.


"Bu Guru kenapa ngasih tugas susah banget sih? Pakai buat bunga segala, padahal lebih gampang kalo buat mobil-mobilan dari kertas ini, tinggal lipet aja udah jadi," Farel merenggut sambil memanyunkan bibirnya gak terima sama tugas yang dikasih sang guru.


"Apa yanh susah? itu kan tinggal Farel tempel di lidi terus bentuk jadi bunga," jelas Reyna yang kasihan melihat Farel berusaha sendiri, niat mau nolongin sih tapi Azarin gak bisa dilepas barang sebentar, bawaannya pengen nangis mulu.


"Ya udah nih, Bunda aja yang kerjain. Farel ngambek," Farel menghamburkan isi kertas krep sehingga berserakan di lantai. Reyna terkikik geli, Farel kalo sudah mode ngambek apa-apa bakal dia hamburin.


"Nanti minta tolong Ayah saja, Bunda gak bisa bantu sekarang," jawab Reyna.


"Azarin jelek, ngeselin, rewel. Gara-gara kamu Bunda jadi gak bisa bantu Farel kerjain PR," Farel bersidekap dada menatap Azarin yang tertidur lelap, meski suara sang kakak yang membentak tepat di depan mukanya.


"Ehh gak boleh gitu, nanti Azarin nangis lagi," Reyna menahan tangan Farel yang hendak mencubit pipi sang adik.


"Bunda gak sayang lagi ya sama Farel? Semenjak ada adek, Bunda jarang sama Farel lagi."


"Bukan begitu sayang, Adek kan belum bisa ngapa-ngapain kayak Farel yang udah hebat dan mandiri, jadi Adek masih perlu dijaga dan dibimbing," jelas Reyna menenangkan Farel yang sudah menangis sejak tadi.


"Udah ih jangan nangis, jelek tau, nanti diledekin sama adek," goda Reyna. Farel buru-buru ngelap ingusnya yang sudaj setengah jalan hampir sampai ke bibirnya.


"Halo para tuyulku, Ayah pulang membawakan kalian oleh-oleh." Suara Azka terdengar sampai kamar Farel, Reyna mendelik tidak suka karena panggilan Azka yang sedikit nyeleneh.