
Akhirnya Azka sudah dibolehkan untuk pulang, namun di rumah juga harus jaga kondisi jangan terlalu beraktivitas yang berat-berat dan senantiasa rajin kontrol ke rumah sakit untuk satu minggu ke depan. Reyna sangat esktra menjaga Azka karena Wati yang sibuk berkeliaran entah mencari apa yang jelas setiap dia pulang selalu membawa perempuan yang katanya akan dia kenalkan dengan Azka untuk jadi Bunda baru Farel. Wati tidak pernah main-main dengan kalimatnya, terbukti dia selalu membawa perempuan berbeda ke rumah, untuk melihat siapa yang paling cocok menjaga Farel. Reyna rasa, semua perempuan yang dia bawa tidak ada satu pun berhasil menarik perhatian Azka maupun Farel, bisa dibilang gak ada yang cocok dan ngena di hati mereka, semua usaha yang Wati lakukan itu kayak gak ada gunanya, mau gimana lagi jika Farel sudah mengutarakan keinginannya maka harus itu yang dikabulkan.
"Mama, stop bawa perempuan lagi ke sini!" Azka sudah beberapa kali mengingatkan, Wati saja yang ngeyel kalo dikasih tau.
"Kamu ini gimana sih, tinggal pilih salah satu dari mereka. Saran Mama sih kamu nikah sama Angel saja, soalnya dia itu berhati lembut seperti malaikat, kamu gak lihat cara dia memperlakukan Farel kemarin, udah cocok banget jadi istri kamu." Ini yang nikah, Azka apa Wati sih kok jadi hebohan dia.
"Mama aja yang nikahin, Azka gak mau." Ingin tertawa ngakak namun Reyna tahan, mangkuk bubur yang dia pegang sudah mulai bergetar akibat ia menahan tawanya karena ucapan Azka, posisinya sekarang adalah menyuapi Azka makan siang.
"Gila ya kamu, Mama masih normal ya jangan macem-macem," Wati merenggut kesal, terkadang pilihan orang tua tidak selamanya baik, jika kita percaya insya Allah akan berjalan baik, tetapi kalo orang tua nya modelan Wati sih udah dipastikan tidak baik, memanfaatkan kekayaan untuk menyombongkan diri.
"Ayo cepat tinggal pilih antara yang tiga itu. Angel, Aza, atau Fara, biar Mama langsung telpon orang tua mereka sekarang untuk nentuin tanggal pernikahan kalian," Wati sudah siap dengan ponselnya.
"Reyna. Azka pilih Reyna, dan itu tidak bisa dirubah." Reyna hampir keselek ludah sendiri, jawaban Azka terlalu jujur dan tegas, kan Reyna jadi baper kalo begini, Reyna tidak bisa menyembunyikan senyumnya.
Berbeda dengan Wati, matanya membola sempurna, tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Azka, kamu jangan main-main yahh, ini tuh pernikahan dan sifatnya yang sakral, kamu tidak boleh asal memilih pasangan kamu sendiri, ikuti apa kata Mama aja yah."
"Karena memang sakral Azka memilih Reyna, Ma. Semua perempuan yang Mama bawa ke sini gak ada yang baik, bisa Azka lihat mereka haus kekayaan, Azka tidak mau salah memilih. Azka tidak mau perpanjangan masalah ini lagi, setelah benar-benar pulih Azka akan melangsungkan pernikahan secepatnya." Keputusan akhir sudah terlontar dari belah bibir Azka, sepertinya untuk membantah pun sia-sia. Wati sungguh kecewa, dengan marah dia meninggalkan kamar Azka dan melenggang pergi.
.
.
Hari itu benar-benar datang. Reyna menatap pantulan dirinya di cermin, sudah siap dengan baju pengantin dan juga riasan tentunya. Ya, inilah awal mula ujian kamu akan dimulai. Reyna merutuki nasibnya, bukan tidak mau menikah dengan Azka justru dia baik-baik saja, kecuali Wati dia seperti duri di tengah jalan yang senantiasa akan mengganggu rumah tangganya kelak, hal inilah yang menjadi pemicu keresahan Reyna.
Yang paling semangat dan bahagia hari ini mungkin hanya Farel dan ke-empat teletubbies kesayangan Reyna, yaitu Ana, Sapira, Dodi dan Rizky jangan dilupakan. Sapira menyempatkan diri untuk pulang kampung kala mendapat kabar bahwa Reyna akan menikah, rela meninggalkan pekerjaan untuk sementara demi menghadiri pernikahan sang sahabat, itung-itung juga sebagai reuni karena sudah lama tidak bertemu. Sapira dan Ana lah yang mendampingi Reyna di ruang rias nya untuk memberi semangat dan sedikit candaan juga.
"Ciee yang mau nikah sama Duren," Ana mencolek dagu Reyna.
"Duren apaan?" Sapira menimpali.
"Amsyongg, Duren masa gak tau. Ya duda keren lah astaga."
"Owalah begitu toh, maklum anak kampung gak terlalu tau istilah alay begitu." Ana merotasikan bola matanya, males banget kalo udah ngomong sama Sapira, lemot. Lama loading nya, maka daripada itu seseorang yang berbicara dengan Sapira harus punya kesabaran setebal dompet Azka, kalo nggak bisa kesurupan massal karena greget sama manusia seperti Sapira.
"Tangan kamu kok dingin? Na, kamu rileks aja dibawa santuy, semua akan berjalan dengan lancar, jangan pikirkan apa pun."
"Awal aku nikah juga begitu, Na. Tapi alhamdulillah semuanya sukses dan berjalan dengan semestinya," Sapira ikutan nyahut. Reyna mengangguk lemas, mereka gak tau aja apa sebenarnya yang dikhawatirkan oleh Reyna, tentu saja dia tidak akan memberitau dua sahabat dekatnya ini takut mereka heboh dan main hakim sendiri.
Mempelai perempuan dipanggil untuk menuju aula dasar, tempat yang akan menjadi saksi ijab kabul Azka. Disebabkan Reyna sudah tidak punya keluarga lagi untuk menjadi wali nya, maka dalam pernikahannya digunakan wali hakim yang ditunjuk langsung oleh pemerintah untuk menjadi wali pihak perempuan jika sudah tidak memiliki keluarga.
Farel berjingkrak-jingkrak heboh saat Reyna menuruni tangga bersama dua minnion kesayangannya. Acara ini tidak terlalu meriah dan tamunya juga tidak banyak, hanya mengundang teman, sana saudara, keluarga jauh dan tetangga terdekat saja, selain itu biarkan saja.
Teriakan dari para saksi menghiasi ruangan tersebut, akhirnya sah juga. Reyna ragu untuk mencium tangan Azka karena sedari tadi raut bahagia tidak ia temukan di wajah sang suami, seperti biasa dia selalu datar.
Usai semua itu, acara pun bubar namun setengah dari tamu masih ingin diam di sini dengan alasan menikmati hidangan prasmanan yang sudah disediakan oleh tuan rumah, lumayan makan gratis jadi gak boleh disia-siakan.
"Kuy kita dokumentasi dulu, aku pengen post di media sosial," Ana sudah siap dengan tongsis yang selalu ia bawa kemana-mana.
"Dih narsis banget, tapi boleh lah aku ikut juga," ngejulid terosss ujung-ujungnya minat juga, tangan Ana sudah ringan mau geplak kepala Dodi.
Sebelum itu, Ana atur posisi dulu. Reyna di tengah-tengah, bagi yang laki-laki di belakang di samping kiri ada Sapira dan samping kanan berdiri Ana.
"Siap, ya. 1 2 3. Sekali lagi." Mungkin sudah terhitung 20 kali mereka ambil foto, bilangnya sih sekali lagi tapi nyebutnya ratusan kali.
"Cihh, dasar kampungan. Mimpi apa aku bisa dapat menantu seperti Reyna, udah asal usul gak jelas, ART di sini lagi, apa kata teman-temanku nanti jika mereka datang beekunjung." Wati sengaja tidak mengundang teman arisannya karena malu nanti di roasting depan mata karena milih menantu yang gak sekelas dengannya, secara si Wati sendiri yang bilang kalo kriteria menantunya itu harus cantik, putih, badan seperti Selena Gomez, jangan lupakan juga dari keluarga konglomerat. Wati memijat pelipisnya, lidahnya licin banget ngomong kek gitu, di depan semua orang lagi.
"Terima nasib saja lah."
.
.
"Sok sibuk ya, Mom." Sapira menyentil jidat Ana yang asal ngomong.
"Heh, aku beneran sibuk ya. Makanya nikah dong biar paham," Sapira berkacak pinggang, merasa tidak terima dengan ucapan Ana.
"Iya, iya maaf. Galak banget, padahal tadi cuma bercanda, baperan amat," Ana mengusap pelipisnya yang nyeri akibat sentilan maut Sapira, mereka memang tidak terlalu sering bertemu tetapi cepat sekali akrab walaupun setiap ketemu selalu adu bacot, tak jarang juga sampai gelud.
Sepeninggal Sapira, kini tersisa Ana dan Dodi yang tetap stay ambil foto, tadi katanya belum puas soalnya gak ada ekspresi yang bagus termasuk karena ada Sapira juga yang merusak foto mereka. Rizky sudah lebih dulu menghilang bak ditelan bumi tanpa pamit.
"Ihh gimana sih cara gaya yang bagus dan menarik biar banyak followers," Ana yang sibuk dengan gaya, setiap detik ganti mulu bikin Dodi capek megang tuh HP, dari tadi Ana gak betah sama satu gaya.
"Kamu angkat kaki terus pegang rambut hadap belakang, tangan satunya lagi pijit kening, dijamin banyak yang komen, komen hujatan tapi." Ana mencebik kesal, mengikuti saran Dodi memang gak pernah bener.
Reyna menatap sekeliling mencari Azka, sejak selesai acara dia sudah menghilang entah kemana dan sampai sekarang belum kembali, Reyna jadi berpikir apakah Azka terpaksa menikahi nya demi Farel?, tentu saja jawabannya iya, mana mungkin dia menaruh perasaan pada Reyna.
"Jangan melamun, pengantin baru gak baik banyak pikiran." Satu-satunya penghibur bagi Reyna hanyalah Ana, gadis itu selalu bersedia melakukan apa saja demi untuk membuat Reyna tersenyum kembali.
"Ehh iya, by the way Tuan Azka kok gak kelihatan, padahal mau ku ajak selfi," baru juga bikin Reyna senyum malah membuat murung lagi, itu lah penyebab Reyna melamun tadi. Ana gak peka banget.
Keadaan rumah Azka benar-benar kosong sekarang, jika dilihat dari jam memang seharusnya tamu tau diri untuk meninggalkan kediaman pengantin.
Tak henti-hentinya senyum cerah itu terukir di wajah Farel, hari yang ia nantikan akhirnya tiba, walaupun sedikit terlambat tapi tidak apa yang penting sang Ayah mengabulkan keinginannya. Reyna sekarang sudah resmi ia panggil Bunda.
Kondisi kamar pengantin yang biasanya bernuansa romantis dan bergairah ternyata tidak berpengaruh kepada kedua pengantin baru ini, keadaan malah jadi canggung dan sedikit mencekam, ini kali ke-dua Reyna masuk kamar milik Azka, rasanya berbeda daripada sebelumnya padahal tata letak dan keadaan kamarnya masih sama saja.
"Saya tidur di kamar sebelah saja," Farel yang memaksa mereka berdua untuk tidur bareng tadi, katanya Ayah sama Bunda harus selalu bersama gak boleh pisah, sekarang tuh anak sudah pulas di kamarnya usai ngomel gak jelas. Tak ada sahutan, Azka hanya melirik Reyna datar.
"Tetaplah di sini, saya tidak mau Farel kecewa," Azka langsung merebahkan tubuhnya yang kelebihan capek di atas ranjang empuk, Reyna masih tetap berdiri di sisi ranjang, kakinya berat untuk sekedar berjalan satu langkah. Ini pertama kalinya Reyna tidur dengan laki-laki seumur hidup nya, ya iyalah kan belum nikah wajar kalo tidur selalu sendiri.
Selesai ganti baju, Reyna kembali ke kamar Azka. Sepertinya Azka sudah tertidur, dengar saja suara dengkurannya yang mendominasi setiap sudut ruangan kamar, suara jangkrik mungkin kalah. Reyna duduk di tepian ranjang, masih bingung antara tidur atau kabur ke kamar sebelah mumpung aman gak ketahuan siapa-siapa.
.
.
Hampir saja Reyna terlambat bangun jika saja tidak ada alarm yang membangunkannya, seluruh badannya capek membuat ia enggan bangun, tapi sadar kewajiban dan tanggung jawabnya sekarang di sini semakin besar. Cepat-cepat ia meloncat dari ranjang kemudian berlari ke kamar mandi. Mandi bisa nanti, cuci muka dulu yang penting.
Sedikit terlambat dari biasanya, Reyna meringis pelan saat melihat ada Wati yang sudah stay di dapur berkutat dengan alat-alat dapur. Sejak kapan wanita itu bangun pagi, biasanya selalu menjelang siang. Perasaannya udah gak enak nih kalo sudah begini.
Wati melirik Reyna dengan ekor matanya.
"Tumben sekali ya telat bangun. Jangan mentang-mentang kamu sudah jadi istri Azka mau seenak jidat bangun siang, bukan tambah ringan tapi malah makin berat pekerjaan kamu di rumah ini." Nah 'kan, sudah Reyna duga. Perasaan gak enak itu ternyata datang dari Wati yang memunculkan hawa mencekam dengan kata-kata pedasnya.
"Maaf, Ma."
"Heh, siapa yang suruh kamu manggil saya Mama? Panggil, Ibu. Ngerti?"
"Ma-maaf, Bu."
"Nah begitu lebih baik. Sekarang panggil yang lain, sarapan sudah siap!" Mau tak mau Reyna harus menurut padahal tadi mau ikut membantu, karena kalo dilihat-lihat Wati bahkan belum memasak apa pun, dia hanya sok sibuk dengan alat dapur. Gak apa lah nurut aja, dari pada kena semprot.
Baru saja tiba di depan pintu kamar Azka, jantung Reyna sudah dugun-dugun. Tangannya terangkat untuk mengetuk pintu bercat coklat alami itu namun segera diurungkan karena pintu sudah terlanjur terbuka menampilkan Azka yang hanya mengenakan handuk dililitkan pada pinggangnya, badan atletis terpampang sempurnya di depan mata Reyna, otomatis dia langsung merem karena melihat yang seperti itu belum waktunya.
"Ngapain?"
"I-itu, Ibu suruh ke bawah sarapan. Syukurlah, Tuan sudah bangun. Saya akan ke kamar Farel sekarang."
"Ehh kamar Farel sebelah sana." Akibat jalan sambil merem sampai salah jalan.
"Ahhahah, iya maaf," merasa sudah jauh dari Azka, Reyna membuka matanya.
"Telanjang dada gak tau tempat," Reyna ngedumel sepanjang jalan.