Married With Duda

Married With Duda
MWD 49 : Rapuh



Walau setelah pulang dari rumah sakit, Reyna tidak sepenuhnya beristirahat seperti yang disarankan dokter, bukan karena dirinya ataupun suaminya, tetapi karena Wati yang seolah sengaja menyuruh Reyna memindahkan meja rias di kamarnya dengan alasan tangannya sedang sakit, Reyna sempat menyarankan Bi Ela tetapi kata Wati bahwa pembantu rumah tersebut sedang memasak di dapur, dengan terpaksa Reyna tetap melakukannya, hitung-hitung sebagai rasa berbakti pada mertua dan siapa tau dengan hal ini juga Wati bisa melihat sisi baik dan tulus dari Reyna serta menerimanya menjadi menantu.


Susah payah Reyna menggeser meja besar itu, ditambah dengan perutnya yang membesar membuatnya semakin kesusahan, Wati juga bukannya nolongin malah nonton aja sambil perintah jika meja itu harus dipindahkan ke posisi pojok kamar, memang sengaja nih nenek lampir.


Reyna ngos-ngosan sambil memegangi pinggangnya yang terasa encok setelah mendorong meja dengan berat entah berapa Reyna gak niat timbang.


"Ini belum sesuai sama tempat yang saya mau, cepat geser lagi!" Perintah Wati yang ternyata belum puas mengerjai Reyna, padahal posisinya sudah pas dengan apa yang dia arahkan pertama kali. Mau tidak mau Reyna kembali mendorong meja itu.


"Terus, sebentar lagi, lebih ke kanan sedikit, kiri jua jangan kebanyakan, terus dorong terus, oke stop," Reyna berhenti dan memperhatikan dengan seksama.


"Loh, bukannya ini tempat yang semula, Ma?" tanya Reyna bingung, jadi dari tadi dia hanya muter doang alias maju mundur.


"Memangnya kenapa? Kamu gak terima? Saya suruh kamu itu supaya ada kegiatan atau kerjaan yang kamu lakukan di rumah ini, bukan hanya tidur doang kayak bos, memangnya rumah ini punya orang tua kamu lalu bisa seenak jidat menikmati hasil doang tanpa bekerja," bentak Wati yang memang sudah merasa jengkel dengan Reyna, dari dulu sih.


"Tapi kan aku lagi hamil, Ma. Kalo gak hamil aku juga sering beresin rumah," protes Reyna, merasa usahanya tidak dilirik sama sekali.


"Kamu dengar ya, walaupun di dalam perut kamu itu darah daging putra saya sendiri, tetapi jika yang hamil adalag kamu, sampai kapan pun tidak akan saya terima anak itu sebagai cucu saya, ibu nya aja saya tidak anggap apalagi anaknya."


Deg!!!


Oke, itu semua sudah cukup bagi Reyna, saat ini pertahanannya mulai goyah, ucapan Wati kali ini sukses membuat hatinya hancur berkeping-keping dan tidak dapat ditoleransi, Reyna tidak bisa memaafkan lagi, sudah lelah ia menahan gejolak dalam hatinya untuk tidak membenci sang mertua, meski sikapnya kayak dajjal tetapi dia tetaplah orang tua satu-satunya yang dimiliki oleh suaminya, jadi Reyna tentu juga harus menghormatinya, tetapi apa balasannha sampai sekarang? Wati malah makin menjadi, seperti orang kehilangan kendali.


Bulir bening sebening kristal mulai meluncur tanpa izin melewati pipi mulusnya, Reyna merasa jantungnya sudah tidal berdetak lagi. Karena sudah tidak tahan berada satu ruangan dengan penghuni neraka ini, Reyna berlari keluar untuk menetralisir mental nya, mengetahui dia juga tengah hamil harus bisa menghindari stres. Sikap Wati seperti sengaja membuat Reyna merasa tertekan.


"Mas, aku capek. Aku gak tau lagi harus bagaimana, memang salah dari dulu kamu menikahiku, Mas. Seharusnya kamu menikah dengan pilihan Mama, ini sama hal nya dengan kamu siksa aku secara perlahan. Baik, aku anggap semua ini balasan dari perbuatan orang tua aku dulu, tapi apa harus sekejam ini? Aku sudah tidak bisa menahannya," Reyna terisak, kepalanya tertunduk. Sekelebat pikiran untuk mengakhiri hidupnya tiba-tiba muncul, tapi tidak, Reyna masih bisa berpikir dengan waras, Reyna masih memikirkan orang-orang yang dia sayang walaupun keinginannya untuk bertemu kedua orang tua nya di sana sangat besar tetapi harapan hidupnya untuk melihat sang putri lahir masih ada.


"Aku harus kuat, gak boleh lemah dan terpengaruh sama sekali oleh ucapan Mama Wati, anggap saja sebagai motivasi dan pelajaran," Reyna berusaha menguatkan dirinya sendiri, mencoba bangkit dan berdamai dengan situasi.


.


.


Hari mulai sore, sinar orange mulai menghiasi jalanan Ibu kota, tandanya sang mentari akan meninggalkan bumi untuk sementara dan diganti oleh sang rembulan yang bersiap menyinari gelapnya malam.


Reyna berdiri mematung di balkon kamar, melihat sunsite sambil menikmati terpaan angin sore yang menyapu wajah sembab nya, tidak terhitung sudah berapa jam dia menangis meratapi nasibnya, sendiri di dalam kamar tanpa gangguan, bahkan Farel tidak dia izinkan masuk, mungkin saat ini Farel terluka atau kesal karena sikapnya, tapi di sisi lain Reyna lebih merasa nyaman dan tenang, sendirian. Reyna bahkan melewatkan makan siang dan malam, meski sudah beberapa kali dibujuk oleh Bi Ela dan Farel yang terus menggedor pintu kamar sambil merengek agar sang Bunda mau keluar menemuinya sekejap saja. Tetapi jawaban Reyna tetap sama, Bunda tidak lapar Farel, kamu saja yang makan ya, Bunda lagi butuh istirahat. Setiap kali hanya kalimat itulah yang keluar dari belah bibir Reyna.


Sejenak hati Reyna teriris kala mendengar sahutan Wati dari balik pintu.


"Biarkan saja dia mati kelaparan, gak perlu kalian bujuk perempuan seperti dia, jangan urus dia lagi. Huh, aku gak habis pikir sama Azka, kenapa bisa dia memilih Reyna sebagai istrinya padahal di luar sana masih banyak perempuan yang lebih cantik, kaya dan pintar dari dirinya."


Lagi? Kalimat perbandingan lagi? Reyna tersenyum getir, memang benar dia seharusnya menyusul orang tua nya saja, daripada tersiksa secara fisik dan mental.


"Setelah kamu lahir, Bunda ragu apakah bisa melihat wajahmu, sayang. Karena jujur ya, Bunda capek banget pengen tidur aja rasanya terus gak akan pernah bangun, sudah cukup kesabaran Bunda hadapain Oma kamu, tapi kayaknya sia-sia. Bunda hanya ingin melepas beban dan rasa lelah, itu saja. Jaga Ayah sama Abang kamu dengan baik ya." Reyna mengusap kembali perut buncitnya. Butiran kristal kembali berlomba terjun bebas.