
Reyna bersenandung ria sambil menjahit pakaian Azarin yang entah sudah keberapa kali sobek. Bukan masalah gak punya duit buat beliin Azarin baju baru, tapi emang baju inilah satu-satunya kesayangan dia, jadi gak mau diganti. Padahal sudah betampal sana-sini masih aja nekat dijahit. Reyna meregangkan otot tangannya yang sedikit kebas, bahkan tadi jarinya sempat ketusuk jarum karena salah fokus.
Pundaknya ditepuk beberapa kali, siapa lagi pelakunya kalo bukan Azarin. Reyna sontak menoleh mendapati sang buah hati tersenyum polos ke arahnya, awalnya Reyna gak curiga apa-apa, dengan cepat ia membawa Azarin ke pangkuannya.
Azarin memainkan tangan Reyna, menatap lekat pada cincin yang melingkar di jari manis Ibunda-nya.
"Bunda, mau adek." Reyna melotot, tiba-tiba saja Azarin ngomong kayak gitu tanpa beban.
"Kamu mau apa sayang?" Reyna mencoba perjelas meski telinganya dapat mendengar dengan baik. Azarin mengerucutkan bibirnya lucu.
"Mau adek, adek kicil kayak temen aku," ucap Azarin lagi, kali ini nada bicaranya terdengar tegas.
"Kenapa Azarin mau adek?"
"Bial bica aku peyuk."
"Peluk Bunda aja ya, Abang Farel juga kan ada yang senantiasa mau peluk Aza," bujuk Reyna, mencari solusi agar Azarin melupakan keinginan awalnya. Tapi, sekali Azarin tetap Azarin, keras kepalanya masih saja nurun dari Azka.
Azarin menggeleng kuat, tidak membenarkan ucapan Bunda. Reyna menghela nafas kasar.
"Ini pasti Ayah yang ajarin kan?" tanya Reyna memastikan, dan benar saja Azarin langsung mengangguk mantap tanpa ragu, secara anak kecil gak bisa bohong, kalo berusaha bohong cepet ketahuan. Reyna mendengus kesal, sudah ia duga Azka lah biang keroknya. Sok-sok an minta anak lagi, ngurus satu aja sudah ngeluh.
Yang dibicarakan akhirnya datang juga, baru bangun dia tuh, masih dengan kolor Naruto dan baju kaos putih, rambut yang masih acak-acakan dan muka bantalnya membuat Reyna menggeleng pelan. Perlahan Azka mendekati Reyna di sofa lalu menidurkan kepalanya pada paha sang istri, otomatis kaki Azari ikutan ketindih sama kepala Azka yang berat tapi isinya kosong. Azarin tidak meringis, dia malah asik menggoyangkan kakinya hingga kepala Azka ikut bergoyang, asekkk...
"Mas, bangun ish. Berat tau gak." Reyna berusaha menyingkirkan kepala Azka, tapi empunya tak bergerak sama sekali, malah semakin membenamkan wajahnya di perut Reyna, sambil sesekali mengecup dan meniup perut Reyna.
"Suruh Azarin aja yang turun. Aza sayang, sana main sama Abang Farel, kasihan dia sendirian di kamarnya," ucap Azka, pandangannya sama sekali tidak berpaling.
Azarin mikir sebentar sebelum akhirnya mengiyakan, merentangkan tangannya minta Reyna turunin dari pangkuannya, gadis kecil itu berlari menuju tangga.
Azka tertawa senang, tangannya melingkar sempurna di pinggang Reyna sambil terus mencium perut sang istri, Reyna menggeliat karena geli dan sesekali menepuk lengan Azka untuk menghentikan aksi jahilnya.
Untung rumah lagi sepi, jadi tidak ada yang menyaksikan kebucinan Azka sama Reyna.
.
Habis mandi, Azka bergegas turun ke lantai satu karena hari ini ada meeting online jadi dia harus segera bersiap. Rudy sudah di bawah membawakan berkas penting sebelum meeting online di mulai. Azka menemui Rudy cuma pake kolor doang, atasannya kemeja dibalut jas. Rudy hampir saja tertawa karena melihat penampilan sang atasan yang nyeleneh.
Sejenak mereka berincang terlebih dulu masalah perusahaan yang katanya semakin maju sehingga menerima banyak sekali tawaran kerja sama. Tetapi, Azka tidak bisa asal menerima karena trauma atas kejadian yang sudah menimpa perusahaan beberapa tahun lalu, maka dari itu meeting diadakan untuk menyeleksi, sebenarnya bisa meeting ofline, hanya saja mereka sama-sama ada urusan.
Rudy pamit setelah menyampaikan apa yang perlu disampaikan. Azka membawa berkasnya lalu pergi ke lantai atas.
Azka duduk di kursi kerjanya, menyalakan laptop mahalnya dan mengarahkan kamera hanya ke wajah saja, membenarkan letak posisi agar kolor-nya gak kelihatan, malu dong dikira gak punya sopan santun ntar sama klien.
Meeting berjalan lancar, tapi Azka menyarankan minggu depan segera dimulai meeting ofline karena sekarang bukan zaman corona lagi yang harus serba online.
Azka menghela nafas lega setelah menutup layar monitornya, Azka langsung meregangkan ototnya, padahal durasi meeting gak terlalu lama kayak meeting ofline tapi kenapa rasanya letih banget, sampai Azka tuh gak kuat ngapa-ngapain, berdiri aja rasanya males banget.
.
Reyna baru saja balik dari Minimarket depan komplek, Azarin dari tadi merengek minta es krim dan kebetulan sekali stok di rumah juga sudah habis, jadi mau tidak mau Reyna harus jalan kaki ke Minimarket depan.
"Astaga, Mas. Kamu ngapain berdiri di depan pintu, bikin kaget aja," Reyna ngelus dada, cukup kaget karena saat ia buka pintu, Azka sudah berdiri di sana, masih dengan pakaiannya waktu meeting tadi.
"Gak tau, aku tuh lemes banget hari ini," jawab Azka lalu berjalan ke arah sofa.
"Kamu sakit?" Pertanyaan yang membuat Azka sontak menggeleng.
"Terus apa dong kalo bukan sakit?"
"Gak tau, pengennya dipeluk kamu terus," Reyna mendelik malas, gini nih kalo mode manja-nya aktif.
"Ya udah, pelukannya nanti saja, aku urus Azarin dulu," Reyna bergegas ke kamar Farel karena di sana Azarin tengah memainkan beberapa koleksi robot milik Abang-nya, dan untungnya Farel tidak masalah, asal Azarin gak ngerusakin aja karena semua robot Farel editi terbatas dengan harga yang lumayan tinggi, jadi sangat berharga buatnya, bukan Farel yang beli sih, palingan kado ulang tahunnya dari sanak saudara.
Reyna datang membawa es krim di kantong kresek, Azarin yang sudah tau segera berlari menghampiri Reyna dan merebut plastik di tangan Bunda-nya.
"Abang mau?" Azarin nyodorin es krim corneto pada Farel dan dibalas anggukan mantap. Sambil terus menatap layar laptop yang saat ini sedang menampilkan sebuah film Batman, Farel meraih es krim tersebut karena Azarin sudah menbukakan untuknya. Reyna tersenyum teduh melihat keakraban kedua anaknya sampai lupa suami minta cuddle dengannya.
Tanpa pamit, Reyna bergegas ke kamar karena Azka sudah menunggunya di sana. Terlihat buntelan di balik selimut tengah meringkuk di atas kasur. Reyna sedikit khawatir karena gak biasanya Azka seperti ini, kalo mau manja ya manja aja gak kayak gini. Perlahan tapi pasti, Reyna membawa langkahnya mendekat ke Azka, laki-laki itu masih melek, menyadari kehadiran Reyna sontak membuatnya langsung bangun dan menarik Reyna untuk masuk ke dalam selimut bersamanya. Baru Reyna sadari, jika Azka sudah sepenuhnya naked.
"Let's make a baby again."