Married With Duda

Married With Duda
MWD 61 : Dodi si Raja Gombal



Berita kelahiran bayi pertama Reyna akhirnya sampai juga di telinga Ana, sudah lama mereka berdua tidak saling bertemu dan menyapa, mereka bak menghindar satu sama lain, tapi bukan itu alasannya. Reyna yang jarang keluar rumah terhalang izin Azka, sedangkan Ana yang harus fokus kerja jadi gak sempat ada waktu untuk mereka saling ngobrol dan bertemu satu sama lain, sejauh ini mereka hanya bisa bicara lewat telpon saja.


Waktu berlalu begitu cepat, Ifa memutuskan untuk pamit undur diri karena katanya banyak sekali urusan di kantornya, jadi terpaksa mengunjungi Reyna hanya 8 jam saja, padahal sudah dipaksa buat menginap karena Reyna tau perjalanan ke sini tuh sangat melelahkan apalagi Ifa bawa mobil sendiri. Tante-nya itu memang keras kepala, tapi ya sudah lah mau dipaksa gimanapun juga, kerja is number one, keluarga nomor dua. Begitu prinsip Ifa. Jack sampai kesulitan menjaga Syila meskipun adiknya itu sudah gede tapi tetap saja, Ifa selalu berpesan pada Jack sebelum pergi kerja untuk memantau Syila karena anak perempuannya itu suka sekali keluyuran tanpa sepengetahuan Jack.


.


"Kalo sudah masuk, lo jangan berisik ya," pesan Dodi pada Ana, karena dia paham banget bahwa temannya yang satu ini bakal ngereog, teriak, atau nggak ngedrama kalo sudah ketemu sama Reyna, ketebak sih gimana alurnya.


Ana berdecak malas, padahal dari dulu dia emang kalem, orang di sekitarnya saja yang Lebay mengira dirinya bar-bar.


"Cerewet banget sih, ikan buntal," ketus Ana lalu hendak masuk namun kerah bajunya ditarik oleh Dodi.


"Gue ngomong baik-baik loh, ketek beruang. Gue hanya tidak ingin Reyna terganggu dengan suara cempreng-mu itu," Dodi menarik Ana ke belakang, biar dia yang memimpin jalan untuk masuk.


Ana menatap Dodi jengah, sementara Rizky tidak bisa berkata apa-apa lagi selain memaklumi drama tidak bermutu dari dua kawannya ini. Kenapa ya dulu gue mau berteman sama nih dua cecurut, bukannya menguntungkan malah menyusahkan, gumam Rizky dalam hati.


"Memang selalu gak pas kita dateng berkunjung, dah lah balik aja kita," ucapan Dodi membuat Reyna dan Azka yang tengah berpelukan melirik ke arah pintu, sadar ada tamu mereka langsung balik ke posisi semula, lalu berdehem pelan untuk menyamankan suasana, menyembunyikan rasa malu. Lagian jadi tamu gak pake salam dulu, minimal ketuk pintu lah, ini asal masuk aja.


"Kenapa sih? Bukannya masuk malah diam di ambang pintu?" Ana mendorong tubuh berisi Dodi agar masuk, karena Ana juga pengen cepat-cepat ketemu sama Reyna, sudah tau gejolak rindunya gak bisa ditahan.


"Ehh ada tuan Azka, selamat malam."


"Sore, bego. Lihat jam!" ucap Dodi sambil memperlihatkan jam tangannya.


"Wihh jam baru, kapan beli? Kayaknya mahal? Beuhhh jam Rolex dong. Lo kok bisa beli jam mahal itu?" tanya Ana yang malah fokus menatap jam Dodi yang katanya merek Rolex yang harganya menjulang tinggi.


"Gue walaupun kerja sebagai pramusaji, tapi mampu kok beli jam mahal ini," ungkap Dodi dengan wajah bangga.


"KW itu mah," sahut Rizky santai sambil meletakkan buah yang jadi oleh-oleh untuk Reyna di atas meja sofa.


"Gak asik lo sumpah," ujar Dodi dengan wajah kesal, padahal dia hampir berhasil mengerjai Ana yang kepalang percaya dengan bualan Dodi.


PLETAK....


Ana menjitak kening Dodi, merasa dibodohi dan dia hampir percaya, untung Rizky bicara.


"Dasar pemimpi, musnah lo sana!!" Ana menyenggol bahu Dodi lalu mendekati Reyna yang sedari tadi hanya menggeleng pelan melihat drama membagongkan mereka, termasuk Azka yang sudah siap sedia dengan ekspresi datarnya sedari tadi.


"Belum kepikiran, tapi kayaknya mas Azka sudah menyiapkan nama," Reyna balik melirik Azka yang diam membisu sembari menyibukkan diri dengan ponselnya.


"Apa?" Merasa ditatap, Azka melayangkan tatapan bertanya. Reyna menggeleng, suaminya kalo sudah mode dingin memang sedikit menyeramkan.


Tiba-tiba dari arah pintu muncul seorang perempuan dengan paras cantik, siapa lagi kalo bukan Putri. Dia melangkah dengan sangat anggun bak model papan atas, yah Reyna akui badannya memang secantik dan sebagus itu, kalo daftar jadi model kayaknya gak perlu seleksi langsung keterima.


"Siapa tuh, cantik banget, mirip jodoh gue gak sih?" bisik Dodi pada Ana yang hanya mendelik jijik dengan sikap yang terlalu PD pada temannya ini, jujur Ana juga kagum sih, secara perempuan yang muncul di hadapan mereka ini bak dewi turun dari langit.


Reyna menunduk meremat ujung lengan bajunya, kalo sudah begini keluar sifat insecurenya, secara Azka juga ikut melihat ke arah Putri dan itu terjadi cukup lama, sampai Azka sadar dan mengalihkan pandangan pada Reyna yang hanya menunduk lesu.


"Kamu kenapa?" tanya Azka dengan suara pelan, hanya Reyna saja yang dengar, dia mendongak dan menatap Azka dengan senyum manis.


"Gak apa-apa," jawabnya singkat.


"Ahh ada tamu juga rupanya, apa aku mengganggu?" tanya Putri, tak lupa menyelipkan anak rambut di belakang telinga tanda ia malu dengan keadaan sekitar.


"Gak kok sayang, ehh maksudnya, Mbak," sahut Dodi, bibirnya bicara tetapi matanya gak berkedip sedari tadi. Kebiasaan emang kalo lihat wanita cantik, Rizky saja hampir tersedak buah pir kala Dodi asal menyebut kata 'sayang'.


"Ngomong-ngomong, selamat ya bu Reyna dan pak Azka atas kelahiran anak kalian, saya turut senang. Ohh ini ada sedikit oleh-oleh dari saya, semoga suka," Putri menyerahkan totebag ukuran sedang pada Azka yang mengulurkan tangan untuk mengambilnya, entah apa isinya yang jelas mereka bisa tebak isi dalamnya bukan makanan, mungkin barang.


"Terima kasih, kami sangat menghargainya," sahut Reyna.


"Syukurlah."


"Mbak, 08--berapa?" atensi semua orang teralihkan ke arah Dodi yang sudah siap dengan ponselnya hendak mencatat nomor Putri. Ana memijat pangkal hidungnya, malu banget sumpah kalo sama Dodi.


"Ahh maaf, nomor saya pribadi, jadi gak bisa asal sebar takut terjadi hal yang tidak mengenakkan," jawab Putri sopan yang langsung mengundang gelak tawa dari Ana seraya mengejek Dodi yang sudah memasang wajah lesu.


"Mbak, kakinya gak apa-apa kan?"


"Kaki saya baik-baik saja."


"Boleh kali malam ini kita jalan berdua."


"Woyy, kerja dulu yang bener. Angkat piring aja masih males-malesan, sok-sok an ngajak cewek jalan," kali ini Rizky yang nyahut, greget banget dia tuh. Ana mengangkat kedua jempolnya setuju sama ucapan Rizky. Dodi memejamkan matanya, capek kena roasting mulu.