Married With Duda

Married With Duda
MWD 67 : Kunjungan Kakek



Di sinilah Azka sekarang, berdiri di antara kerumunan orang yang berdesakan hendak menyambut orang tersayang mereka di Bandara, mereka tampak bahagia kala pesawat sudah mendarat, itu artinya akan lebih cepat mereka bisa bertemu dengan orang tersayangnya. Ya, kecuali Azka sih yang sejak tadi masang wajah asem banget gara-gara kesal, apaan kakek tua itu ngancem-ngancem Azka katanya mau rebut Reyna darinya. Azka mau ketawa kenceng aja, mana mau Reyna sama modelan kakek bau tanah kuburan, meski enggan Azka tetap pergi juga.


Azka duduk di kursi tunggu menanti kedatangang sang Kakek yang habis liburan ke luar negri sekaligus cari nenek baru untuknya. Tiba-tiba dari arah belakang, punggung Azka ditepuk oleh seseorang, sontak hal tersebut membuat Azka terlonjak kaget.


Tampak laki-laki yang sudah berumur namun badannya masih sehat bugar berdiri di belakang Azka sambil tertawa mengejek, Azka berdiri sambil memasang raut wajah kesal.


Tanpa mengucap sepatah kata pun, Azka berjalan mendahului yang paling tua.


"Hey, mana sopan santunmu? Apa kau tidak ingin menyambut kedatanganku? Oke, tidak ada sesi memeluk, tetapi minimal kasih kata-kata lah yang bisa bikin Kakek gak nyesel pulang ke Indonesia," tegur Kakek, mengejar langkah sang cucu agar sejajar.


"Aku bukan tipe seperti itu, Kakek. Pokoknya, selamat kembali," sahut Azka melirik sekilas ke wajah kakek.


"Itu saja? Baiklah, antar aku ke rumahmu."


"Kakek kan punya mansion, kenapa gak pulang ke sana saja?"


"Kau kan tau aku tidak suka kesepian, setidaknya di rumah kamu ada suara Farel yang menemani."


"Kan ada pelayan sama sopir, ajak mereka saja, main apa kek yang mengundang keributan," gerutu Azka yang langsung mendapat geplakan penuh cinta pada kepalanya.


"Kalo gak terima kakek di rumah kamu bilang aja, gak usah pake kode segala."


"Siapa yang pakai kode, emang dari tadi aku tolak kakek." Kakek tak menjawab, memilih masuk lebih dulu ke mobil Azka.


"Kakek, pindah ke depan. Aku bukan sopir."


"Latihan aja dulu jadi sopir, siapa tau besok kamu bangkrut dan bekerja sebagai sopir kakek," jawabnya santai, seraya merebahkan tubuhnya usai menaruh koper dan barang-barang yang lain di bagasi. Azka mengusap wajahnya kasar, daripada harus meladeni si tua bangka, mending Azka langsung jalan saja.


Di perjalanan, Kakek tak henti-hentinya ngoceh dan protes di dalam mobil. Mobil Azka bau, banyak debunya, kursinya gak nyaman, jendelanya karatan, gak pernah dicuci, dan masih banyak lagi. Azka pening, pengen turunin kakek di tengah jalan habis itu ditinggal, tetapi dalam lubuk hati yang terdalam dia masih punya hati nurani, Azka mencoba sabar menghadapi sifat kakek yang sangat menyebalkan seantero dunia.


Azka memberhentikan Ferrari nya di depan rumah bak istana miliknya, melirik pada sang kakek dari spion tengah.


"Kakek tidak ingin turun? Kita sudah sampai?" tanya Azka seraya melepas seat belt nya.


"Keturunan Mahendra harus selalu berbakti pada yang lebih tua tanpa terkecuali. Cepat, bukakan aku pintu mobil ini dan tolong lepas juga seat beltnya, tanganku belum terbiasa dengan debu kotor di mobil bau-mu ini," ujar kakek angkuh. Azka jelas melotot kaget tidak terima, hendak protes tapi yang paling tua sudah mengangkat tangan di udara tanda tidak butuh omongan Azka.


Mendengus kesal dengan unek-unek memuncak, Azka melepas seat belt yang melilit tubuh kakek tua ini.


Kakek bersidekap dada sambil menperhatikan rumah Azka dari atas sampai bawah.


Tanpa komentar, dia langsung melangkahkan kaki masuk, Azka ditinggal sendiri di luar.


Di dalam rumah, Wati tengah melakukan pedicure dan tak menyadari kehadiran mertuanya yang sudah berdiri tepat di samping meja, wanita paruh baya itu masih sibuk dengan headphone nya mendengarkan lagu. Kakek berdehem pelan, masih tidak ada sahutan, deheman yang kedua juga sama saja, karena kesal dia mencabut headphone Wati membuatnya terkejut setengah mati.


"ASTAGA!!! SIAPA SIH??" Wati sontak berdiri dengan raut wajah emosi, namun ekspresi tersebut langsung hilang saat mendapati sang mertua menatapnya tak suka. Wati menurunkan bahu dan memasang senyum kikuk.


Wati melirik Azka yang bengong di ambang pintu.


"Kamu kenapa gak bilang kalo Kakek bakal dateng?" semprot Wati dengan nada pelan, takut orangnya denger dan tersinggung, Hattala kalo ngambek serem mainnya cabut saham.


"Aku juga gak kepikiran ke situ, Ma. Tiba-tiba saja kakek telpon tadi pagi minta dijemput di Bandara," jawab Azka ikut berbisik. Wati menggigit jari, merasa bersalah karena asal bentak, dia kira tadi ulah Azarin yang usil, baru sadar ternyata cucu yang tak ia inginkan baru saja tidur di gendongan Reyna.


"Reyna mana, Ma?" tanya Azka lalu melangkah masuk lebih dalam, mengikuti langkah sang Kakek yang masih nyangkut di dapur.


"Gak tau, tidur kali dia," ucap Wati tidak peduli, memilih untuk melanjutkan pedicure yang tertunda.


"Mana Farel?" Hattala melirik Azka yang fokus memainkan kunci mobil Ferrari nya.


"Masih sekolah, kayaknya belum pulang," ALa melirik jam merek Rolex yang melingkar indah di tangannya.


"Cepat jemput sana, sudah lewat pukul 11 ini!"


"Belum pulang, Kakek. Apalagi ini hari senin, biasanya Farel pulang jam 12 lebih."


"Di mana Farel sekolah, biar kakek yang beli tuh sekolah supaya cucu kakek puas kapan-kapan mau pulang. Sekolah kok 6 jam, kayak kakek dong 2 jam."


"Kakek sekolah apa les? Cepet banget?"


"Ya sekolah dong, kamu ini gimana sih. Memangnya dulu kamu sekolah berapa jam?"


"Ya sama kayak Farel, cuma pas SMA lebih lambat lagi."


"Duh rugi banget kamu gak hidup di jaman kakek dulu, sekolah cuma dua jam sampai SMA."


"Yah, Azka bersyukur gak hidup seumuran sama kakek, nanti Azka gak bisa dong nikah sama Reyna."


"Dih, dasar bucin tolol."


"Daripada kakek, tua-tua duda."


"Heh mulut kamu minta disteples pake obeng, sana panggil istri baru kamu, Kakek mau ketemu!"


"Lain kali aja, Reyna masih tidur," jawab Azka berbohong, padahal Reyna sedang asik nge-drakor di kamar mumpung Azarin tidur.


Hattala menatap Azka penuh selidik, padahal niatnya baik hanya ingin bertegur sapa saja, sekaligus untuk akrab satu sama lain.


"Kamu ini aneh sekali. Di mana kamar kamu, biar kakek yang jalan sendiri?" Hattala hendak melangkahkan kakinya menuju tangga, namun suara lembut wanita dari atas tangga mengalihkan atensi keduanya.