Married With Duda

Married With Duda
bab 7



" Oh, sudah ada ya." Zahra menyengir kuda saja kemudian dia menara handphonenya di atas meja lalu menyantap makanan tersebut dengan lahap.


Begitupun pula dengan Adnan dia juga menyantap makanannya tetapi lirikan matanya selalu tertuju kepada Zahra karena gadis itu lagi-lagi kembali sibuk memainkan handphonenya.


" Oh ya nanti ada temen aku mau ke sini, dia ke beneran juga mau nonton. Nggak papa kan kalau ikut gabung?" Tanya Zahra.


" Teman kamu itu laki-laki atau perempuan?" Adnan balik bertanya.


" Laki-laki dan perempuan kalau yang perempuan sih kamu pasti kenal temen aku itu loh Sinta," hujannya sambil terus memasukkan makanan ke dalam mulut.


" Kok mereka tahu kalau kita mau nonton?" Tanya Adnan menatap curiga.


" Entahlah aku juga bingung sih dia tahu dari mana. Terus tiba-tiba dia nge-chat aku, dia juga bilang mau nonton terus nanya posisi aku di mana ya udah aku bilang gabung aja sekalian mumpung kita juga belum masuk ke bioskop."


Zahra mengarang cerita nyatanya ini adalah rencana dari Sinta. Padahal sudah dari tadi dirinya itu chatting-an dengan cinta bukan dengan laki-laki lain namun dia hanya pura-pura saja demi untuk melancarkan rencana mereka dan dia juga penasaran bagaimana reaksi Adnan dan ternyata cukup membuat laki-laki itu terlihat murung. Zahra dalam hatinya tersenyum senang melihat ekspresi anan saat ini.


Tak lama kemudian Sinta dan teman laki-lakinya datang.


" Hay ..." Dengan semangat 45 Zahra melambaikan tangan agar supaya mereka melihatnya. Yang benar saja seketika mereka melihat Zahra keduanya langsung bergegas menghampirinya.


" Nah itu mereka," ucap Zahra menunjuk ke arah laki-laki dan perempuan yang tengah berjalan menghampiri meja mereka.


Adnan hanya melihat saja dia sudah mengenali sosok perempuan yang bernama Sinta karena beberapa bulan yang lalu Zahra memperkenalkan mereka saat ketiganya tengah bergabung saat makan malam bersama. Sementara sosok laki-laki itu Adnan menatapnya tak suka ditambah lagi dengan senyum yang sok manis mengarah kepada Zahra Adnan memasang wajah yang sangat amat masam dan tatapan tajam kepadanya.


" Kirain udah nonton duluan ini masih makan di sini," ucap Sinta dia menarik kursi kemudian ikut bergabung di meja makan mereka.


" Hey, Zahra. Nggak apa-apa kan gabung?" Tanya laki-laki itu.


" Nggak papa, ayo silakan duduk. Kita makan-makan dulu," ucap Zahra bersemangat sekali mempersilahkan laki-laki itu.


" Oh ya, Mas Adnan kenalin ini temen aku namanya Aryan," ustaz Zahra memperkenalkan harian kepada Adnan.


" Aryan." Laki-laki itu menyodorkan tangannya kepada Adnan.


" Adnan!" Jawab Adnan datar dengan tatapan tajam dan raut wajah yang masang. Di sini Sinta senyum-senyum memperhatikan raut wajah masam Adnan rencananya lumayan berhasil.


" Oh iya kok lu tahu sih kalau Zahran hari ini mau nonton?" Kata Sinta Diaz bersemangat sekali memerankan perannya dan kembali memancing amarah Adnan.


" Lah emang lu nggak tahu kalau Zahra ada nulis status di IG," jawab Aryan.


" Hehehe lupa kalau aku tadi ada nulis status terlalu semangat sih ingin nonton," Zahra kemudian dia kembali memakan makanannya sementara Adnan tidak berkomentar apapun wajahnya sekarang sudah tidak bersahabat lagi.


" Tadinya aku pikir kamu sendirian loh mau nonton, jadi rencananya ya mau ngajak kamu pergi berdua aja gitu. Eh gak taunya udah sama orang, makanya aku ngajak Sinta," ucapkan Aryan.


Di sini Arian cukup bagus sekali aktingnya padahal sebenarnya laki-laki itu adalah kekasih cinta yang sengaja memerankan peran sebagai laki-laki yang mencoba mendekati Zahra dan itu pun dipaksa oleh Shinta yang sebagai sutradara dari cerita scarneo ini. Mau tak mau Ian pun mengikuti permintaan kekasihnya karena dia juga ingin membantu Zahra, karena mereka sudah saling kenal sejak lama bahkan sebelum pacaran dengan Sinta.


" Tapi ngomong-ngomong apa kalian berdua pacaran?" Tanya Aryan.


Zahra tidak menjawab dia melirik Adnan dia ingin tahu Apa jawaban dari laki-laki itu.


" Ya kalau kalian pacaran setidaknya gue tidak berharap, tapi jika kalian hanya temanan aja nggak masalah kan kalau aku daftar," lanjutnya karena tak ada jawaban dari Zahra maupun Adnan.


" Daftar apa? Daftar sekolah," kata Sinta pura-pura tidak tahu.


" Ya daftar jadi pacar lah masa iya daftar sekolah, aneh aja lu. " Sambil menoyor kepala Shinta, kemudian keduanya tertawa berduaan saja sementara Adnan dan juga Zahra hanya saling diam saja.


" Tapi kalau mau daftar buruan ditembak jangan entar-entar, yang ada keburu di embat orang," sindir Sinta matanya melirik Adnan yang kini menampilkan wajah bosennya.


" Iya sih secara Zahra itu cantik, baik, pintar lagi. Siapa yang tidak mau dengannya."


Adnan berdeham kemudian dia mengelap mulutnya dengan tisu lalu bangkit dari tempat duduknya kemudian berjalan menuju wastafel untuk mencuci tangan. Zahra hanya menatap punggung belakang laki-laki itu, dia menghilang nafasnya lembu lesu lantaran Adnan tidak menjawab pertanyaan dari Aryan tadi.


" Melihat dari reaksinya, kayaknya dia cemburu deh," ucap Aryan. Ketiganya menoleh ke arah wastafel.


" Tapi bener-bener nyebelin cuman reaksi cemburu doang, tapi nggak ada tuh ucapan apa-apa selain wajah masamnya saja," kesel Sinta lantaran Adnan tidak mengatakan sepatah kata pun.


" Mungkin memang dia tidak suka kali sama aku, jadi dia masa bodoh gitu kalau ada laki-laki yang mau mendekati aku," ucap Zahra sedih. Pupus sudah harapannya ternyata Adnan hanya menganggapnya sebagai teman curhat saja tidak lebih dari sekedar itu. Ternyata selama ini dirinya hanya cinta sebelah pihak saja, sedih dan kecewa hatinya.


Sinta dan Aryan saling pandang dan bergandengan tangan di bawah meja keduanya akan kembali memerankan rencana terakhir jika kali ini Adnan tidak mengatakan apapun maka terjawab sudah jawaban mereka.


Kemudian mereka kembali memerankan perannya lagi saat Adnan sudah kembali ke meja makan lagi.


" Sudah selesai?" Tanya Adnan dia menatap Zahra. Wanita itu mengangguk sambil tersenyum tipis.


" Yuk nanti keburu telat." Adnan mengulurkan tangannya agar supaya Zahra menggandeng dirinya.


Zahra menoleh ke arah dua sahabatnya itu keduanya hanya mengangguk pelan kemudian Zahra menyambut uluran tangan Adnan. Zahra tidak mengerti padahal laki-laki itu tidak mengatakan apapun tidak mengungkapkan apapun tentang hubungan mereka namun perilaku sikapnya seolah dirinya adalah kekasihnya Zahra tidak ingin digantung seperti ini dia butuh kepastian.