Married With Duda

Married With Duda
MWD 83 : Sandi, What Happend?



Farel dapat merasakan tepukan pelan di pipinya, matanya mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke netranya. Tampak Reyna, Azka serta Azarin duduk mengelilingi tubuhnya yang terbaring di dapur. Farel segera bangun, memegangi kepalanya yang terasa pusing dan sakit. Sekali lagi, Farel menatap sekitar apakah kemarin malam dia sedang bermimpi atau kejadiannya murni Farel alami.


"Kamu kenapa tiduran di lantai? Gak dingin?" Pertanyaan pertama yang Reyna lontarkan saat merasa Farel sudah mulai sadar. Farel menatap Reyna bingung, dia juga gak sadar kenapa bisa rebahan di lantai dan bangun-bangun sudah dikerubungi kayak mayat begini.


"Bunda jangan bercanda deh, Farel aja gak inget," Farel memijat tengkuknya, kejadian semalam masih membuatnya merinding tetapi untuk bercerita pada keluarganya bukanlah hal yang bagus, yang ada Farel akan ditertawai atau diejek penakut sama Azka.


"Kok bisa? Bunda kira kamu bosan tidur di ranjang empuk," ucapnya polos tanpa dosa.


"Sudah-sudah, yang penting tidak terjadi apa-apa sama Farel. Ayo bubar, kita sarapan," Azka menengahi, mendorong pelan bahu Azarin agar pergi ke meja makan, menepuk pelan bahu Farel lalu berjalan menyusul istri dan anaknya meninggalkan Farel yang masih tenggelam dengan ingatan tadi malam. Masih terbayang bagaimana takutnya ia menghadapi ketakutan itu sendirian. Baiklah, Farel jera turun ke dapur tengah malam hanya karena lapar, jika terjadi lagi, Farel lebih memilih menahan lapar daripada harus ke dapur ini lagi.


Suasana hening menjadi teman makan keluarga Mahendra, seperti biasa tidak ada yang memulai percakapan, semuanya sibuk pada pikiran masing-masing. Tak terkecuali Farel, dia masih saja mencerna apa yang terjadi padanya, mencoba mengingatkan pada dirinya bahwa semua itu bukanlah mimpi.


Beruntungnya hari ini Farel kelasnya siang, jadi paginya bisa tiduran sampai puas sambil main ponsel dengan santai di kamar tanpa beban, karena semua tugas sudah dia selesaikan dengan cepat, tidak seperti kawan-kawannya yang selalu menunda, alhasil kepepet ujung-ujungnya minta nyontek.


Rumah dalam keadaan sepi, Azarin sekolah, Azka ke Kantor dan Reyna ke Kafetaria, jadilah Farel sendirian di rumah. Sedikit merinding sih padahal dia di kamar bukan di dapur, tapi tetap saja rasanya tuh sama. Farel mengusap tengkuknya yang tiba-tiba merinding.


"Kayaknya rumah ini perlu diadain syukuran dan tahlilan deh, biar kesannya gak horor lagi," gumamnya pelan seraya menarik selimut lebih tinggi lagi menutupi badannya.


Suara dering ditambah getaran dari ponsel berhasil membuat Farel terperanjat kaget, hampir saja dia membuang benda pipih itu ke sembarang arah. Siapa sih yang nelpon gak paham suasana sedang tegang aja, Farel merotasikan matanya kala melihat nama sang pemanggil. Itu Sandi, si laki-laki slay. Dengan malas, Farel menekan tombol hijau tapi kali ini tidak ia dekatkan di telinga takut Sandi teriak lagi kayak kemarin.


Lama Farel nunggu, Sandi tak kunjung buka suara membuat Farel jadi penasaran apa yang terjadi dengan sohibnya itu. Perlahan dan sedikit takut, Farel mendekatkan ponselnya ke telinga.


"Halo? Ngapain sih lo gangguin gue? Kelas dimulai nanti siang jadi gak ada kemungkinan gue terlambat," Farel ngomel meski tanpa disahuti Sandi. Tak ada jawaban, lagi sekali suasana di seberang sana masih hening. Oke, Farel mulai dibuat merinding lagi, mana di rumah sendirian.


"Woyy asuu, gak usah bercanda deh lo, gak lucu bangshattt." Farel sontak teriak, satu ruangan penuh dengan suaranya. Namun sama saja, tak ada sahutan dari Sandi si penelpon laknat. Karena kepalang kesal, Farel langsung memutus sepihak panggilan telpon mereka lalu membuangnya ke samping ranjang. Farel menatap sekeliling, rasa-rasanya ada yang memperhatikan dari pojok ruangan kamarnya.


Kayaknya Farel benar-benar sudah merasa tak nyaman tinggal di rumah ini, rasa parnonya sudah melebihi rasa sayangnya pada Azka. Tak kuasa menahan rasa takutnya, Farel memilih untuk tidur saja sebelum jam 1, tak lupa kembali menarik selimut sampai leher dan mencoba untuk memejamkan mata, menghampiri alam mimpi.


.


Farel berlari di koridor, kelasnya lumayan jauh dari parkiran, Farel terus berlari sambil hadap belakang, sampai gak sadar ada yang menghalangi jalannya.


BRAKKK....


Farel langsung nyusruk ke belakang sementara yang ia tabrak juga ikutan kepental ke depan dengan banyaknya buku yang berserakan. Farel mengusap pantatnya yang terasa sakit sehabis berciuman dengan lantai, meracau pelan lalu menepuk celananya yang sedikit kotor dan segera berdiri.


Kini tatapannya beralih ke perempuan yang saat ini tengah terduduk di lantai sambil memegangi kakinya dan menatap semua bukunya yang mencar. Farel berusaha melihat wajah gadis itu namun ditutupi oleh rambut. Mau tak mau, Farel harus minta maaf karena di sini dia yang salah.


"Sorry, gue gak sengaja. Lo gak apa-apa kan?" Farel menunduk dan mengulurkan tangannya berniat membantu gadis itu berdiri. Tapi ucapannya sama sekali tidak digubris. Farel berdecak malas, melirik jam tangannya sekilas lalu kembali menatap gadis itu sekali lagi, kali ini Farel menepuk pundaknya. Farel sudah tak punya waktu lagi, sebelum dosennya masuk kelas.


Farel memunguti buku punya gadis itu satu persatu, mengumpulkan di tangannya lalu ia letakkan di depan gadis yang sudah ia tabrak lumayan keras tadi.


"Gue gak punya banyak waktu, gue bener-bener minta maaf. Gue harus ke kelas," Farel kemudian lanjut berlari lagi karena di lorong dia melihat bayangan sang dosen tengah mendekat ke arah mereka, padahal Farel tidak sedang syuting film horor tapi kenapa kesannya dia tuh kayak dikejar setan padahal cuma dosen, dan dosennya itu juga gak galak-galak amat.


Farel akhirnya bisa bernafas lega saat sudah sampai di ambang pintu kelas, teman-temannya masih sibuk gosip ada juga yang tiduran di atas meja.


"Woy, dosen dateng. Bangun lo semua," Farel menepuk pipi Rian yang sudah siap hanyut dalam indahnya mimpi.


"Babi emang lo, padahal gue udah mimpi ketemu Bidadari," Rian mengusap wajahnya kasar, menatap Farel dengan kesal sementara yang ditatap hanya cengengesan tanpa dosa. Farel tiba-tiba ingat sesuatu yang akan dia tanyakan pada Sandi, tetapi pemuda slay itu sibuk dengan ponselnya tanpa menghiraukam kehadirannya di sana, dosen pun sudah memasuki kelas jadi Farel urungkan dan lebih memilih duduk.


"Baiklah semuanya. Saya mau perkenalkan pada kalian, dosen baru yang akan menggantikan saya untuk beberapa bulan ke depan karena saya akan dipindahkan mengajar ke luar kota. Silahkan masuk Miss Maria." Suara langkah kaki mulai menginterupsi keheningan kelas.


"Loh, dia kan perempuan yang habis gue tabrak tadi??"


Apa sih ga jelas banget. Terserah author aja lah😭😭