
Mungkin hari ini full hari sialnya Farel, gak pantang-pantang dia harus menjalani hukuman bersihin toilet kampus dari lantai satu sampai lantai dua, sendirian lagi. Ini semua karena kelalaian Farel sendiri, lupa tugas persentasi, alhasil besoknya dosen gak mau tau alasan apapun yang dibuat oleh mahasiswanya, sanksi tetaplah sanksi, jadi bagi siapa saja yang tidak mengerjakan tugas harus menjalani hukuman.
Farel melempar tongkat pel ke lantai, menyandarkan tubuh jangkungnya ke tembok sembari memijit belakang lehernya yang rasanya mau patah dari tadi pagi nunduk terus.
Sejauh ini Farel sudah membersihkan 5 bilik dari 10 kamar mandi di kampus ini. Hari sudah siang, terik sinar matahari tembus melalui celah lubang angin. Sesekali Farel menyeka keringat yang mengalir di keningnya. Badannya merosot ke bawah dan akhirnya dia terduduk di lantai toilet.
Nafas Farel ngos-ngosan, bau tak sedap dari toilet tersebut sangat mengganggu indra penciumannya, dia ingin keluar tapi dosen sedang mengawasinya dari luar, jadi Farel tidak bisa kabur sebelum semuanya beres.
"Gak ada gunanya gue ngeluh, gue harus selesaikan semuanya biar gue bisa pulang," Farel kembali meraih tongkat pel yang sempat dia jadikan pelampiasan kekesalannya, menyikat wastafel dan WC yang kotornya seperti tidak pernah dibersihkan 2 tahun, tapi emang gitu kenyataannya sih.
Kurang lebih 30 menit, semuanya beres, Farel akhirnya bisa bernafas lega setelah berlama-lama mencium bau tak sedap di dalam toilet.
"Sudah, pak," lapor Farel, berdiri tegak di depan sang dosen yang menatapnya penuh curiga, dosen tersebut melangkah memasuki satu persatu bilik toilet, berusaha mencari noda yang sekiranya ketinggalan. Merasa sudah bersih dan hari juga hampir sore, dosen Farel mengangguk mantap mepersilahkan Farel untuk pulang.
Dengan gontai Farel melangkahkan kakinya keluar kampus, matanya berkunang-kunang karena terlalu lama berada di area gelap meski ada sedikit penerangan, tetapi bertemu langsung dengan sinar matahari membuat matanya terpaksa terpejam, Farel memegangi kepalanya yang tiba-tiba saja terasa sakit, maklum efek darah rendah.
Tepukan di bahunya sontak membuat Farel menoleh.
"Kenapa belum pulang?" Suara lembut nan cantik itu berhasil memecah fokus Farel, membuka mata perlahan dan mendapati sosok Maria berdiri berhadapan dengannya dengan senyum manis terpatri di wajah cantiknya. Melihat itu, Farel jadi salah tingkah, menggaruk telinganya yang sama sekali tidak gatal sebagai pengalihan.
"Saya tadi habis dihukum bersihin toilet lantai satu dan dua, jadi pulangnya telat," jawab Farel gugup. Maria membulatkan bibirnya sambil ngangguk paham. Sudah, gak ada pembicaraan lagi, mereka berdua hanya saling tatap tanpa bicara lagi sebelum akhirnya dosen yang tadi kasih Farel hukuman mengganggu aktivitas mereka.
"Kamu kenapa masih di sini? Sana pulang, bapak gak mau tanggung jawab ya jika nanti orang tua kamu protes dateng ke sini karena kamu hilang," ancam dosen tua itu. Farel berdehem pelan, menatap sinis dari ekor matanya untuk si dosen galak.
Tanpa pamitan dan hanya menunduk hormat pada Maria, Farel bergegas menuju parkiran yang mana di sana hanya terparkir satu motor yakni milik Farel.
.
Farel garuk kepalanya, bingung mau jawab apa, gak mungkin kan dia cerita kalau dia habis dihukum gara-gara gak ngerjain tugas, hancur dong image dan kepercayaan orang tuanya terhadap Farel. Tapi, berbohong juga gak boleh, apalagi sama orang tua, dosanya berkali-kali lipat. Tetap saja, Farel gak ada pilihan lain, lagipula dia juga sudah janjian buat kerkom di rumah Rian meski hari ini gak jadi karena Farel harus melaksanakan hukuman, jadi Farel gak sepenuhnya bohong kan?
"Aku kerja kelompok di rumah Rian sebentar, Bunda," Farel meraih telapak tangan Reyna, salim.
"Kerja kelompok kok sampai sore begini? Ya sudahlah lupakan, yang penting kamu sudah pulang. Sana makan, Bunda sudah siapin makanan spesial buat anak Bunda tercinta. Sop buntut dan ikan nila goreng sambal kecap," ucap Reyna yang tak mau ambil pusing. Mendengar menunya saja sudah membuat Farel ngiler, bak kilatan cahaya, Farel langsung menyambar tudung saji yang menutupi makanan favoritnya. Dari arah pintu, Reyna hanya bisa geleng-geleng kepala karena kelakuan Farel yang masih kekanakan, mirip sama Ayahnya.
Usai bersih-bersih badan, Farel turun ke bawah karena tadi kata Reyna ada Rian dan Sandi yang sedang menunggunya. Farel gak terlalu ambil pusing namun sedikit heran kenapa teman-temannya datang ke rumah tiba-tiba, kan bisa ngabarin lewat grup dulu.
Farel mendengus kesal saat melihat Rian yang caper sama adiknya, duduknya mepet banget lagi, pengen Farel puter 180 derajat kepala Rian.
"Wahh tumben lo berdua pada ke sini, gak ngabarin dulu. Geserin dikit elah, badan gue gak muat," Farel menggeser tubuh Rian dengan bokongnya agar sedikit menjauh dari Azarin dengan Farel sebagai pemisah duduk di tengah-tengah.
"Lo ngapain sempit-sempitan sih, masih banyak tempat kosong juga," protes Rian, keukeh gak mau geser, berpegangan kuat pada sandaran sofa.
"Geser atau minggat lo dari sini?" tatapan tajam Farel berhasil membuat Rian perlahan menggeser tubuhnya, kini dia duduk sebelahan sama Sandi.
"Nah, gini kan enak. Jadi, ada masalah apa kalian datang ke sini?" Farel menaikkan satu kakinya di atas sofa, menatap bergantian dua sahabatnya.
"Ya apa lagi, mau ajak lo nongkrong lah, yang lain udah pada nunggu tuh di sana," ucap Rian santai, Farel sontak mendelik tajam, karena ucapan Rian barengan dengan kedatangan Reyna habis bikin minum di dapur untuk mereka.
Menyadari ekspresi Farel, Sandi langsung menyenggol perut Rian kuat agar pemuda itu tidak melanjutkan kalimatnya. Farel berdehem lalu membantu sang Bunda menurunkan gelas dan dua piring cemilan untuk mereka. Dari ekor matanya, Farel memperhatikan reaksi Reyna yang biasa saja, dalam hati Farel bernafas lega meski ada sedikit kegelisahaan dalam dirinya.
"Jadi gak nih?" ucap Rian dengan suara sepelan mungkin, tangannya bergerak mencomot kue nastar di atas piring. Farel nunduk sambil mikir.
"Farel, hari ini bisa tolongin Bunda bersih-bersih rumah? Besok Oma mau pulang ke sini," suara Reyna berhasil membuat Farel ngunci bibirnya rapat-rapat.