
Penggrebekan Kafe baru terjadi selang dua hari dan sekarang sudah ada lagi kasus yang sama di perusahaan Azka, nampaknya makin banyak yang ingin jadi pembelot, berpura-pura menjadi karyawan hanya untuk mencuri uang perusahaan, bagus sekali taktik mereka tapi sayangnya mereka salah pilih lawan, Azka tak selemah yang dipikirkan meski ia sering bolos kerja atau nggak ya pulang di saat belum waktunya, tapi kinerjanya dalam menyelesaikan masalah tidak boleh diragukan atau diremehkan begitu saja, buktinya Kafe kemarin yang ia datangi kini sudah ditutup dan diberi garis kuning polisi. Azka cukup puas untuk hal itu, tetapi masalah di perusahaannya kian menjadi.
Netra tajam bak elang-nya meneliti setiap lembaran yang berisi laporan keuangan minggu ini. See, hasilnya tetap saja sama walau sudah dikalkulasikan berulang kali. Azka menyandarkan punggungnya, mengistirahatkan otak dan pikirannya yang bercabang kemana-mana. Tampaknya Azka harus merekrut pekerja baru dan memecat yang lama karena Azka yakin di antara mereka hampir semuanya penghianat. Bahkan Azka pernah dengar kalau seluruh karyawannya dibantu orang luar membuat petisi untuk melengserkan jabatannya sebagai CEO di perusahaannya sendiri, sungguh gila.
Sebuah panggilan masuk membuat Azka sontak duduk tegap. Tertera nama Rudy sang asisten pribadi. Azka menarik nafas sebentar lalu menekan tombol hijau.
"Kenapa?" Azka langsung to the point.
"......"
"Baik, siapkan ruangan untuknya, aku akan segera kesana," Azka mematikan sambungan secara sepihak, merapikan map beserta isinya kemudian memasukkan ke dalam laci meja.
Sementara itu di ruangan lain. Rudy tengah mengawasi laki-laki yang terlihat seumuran dengan Azka duduk sambil menaikkan dua kakinya di atas meja seraya bersiul. Rudy menjadi geram melihat tingkah seenaknya laki-laki itu.
"Hey, Bung. Jangan menatapku seperti itu, aku hanya tamu yang ingin bertegur sapa dengan tuan Azka," tegur laki-laki tersebut, melirik Rudy dengan senyum jahil lalu kembali bersiul menanti kedatangan orang yang dia tunggu.
Rudy berdecih dan segera membuang pandangan, melihatnya hanya akan membuat Rudy naik pitam.
Suara pintu terbuka mengalihkan pandangannya, tampak Azka yang sudah rapi dengan jas memasuki ruangan yang sudah Rudy siapkan jika ada tamu tak diundang datang berkunjung.
"Kamu boleh pergi," ujar Azka. Namun Rudy belum beranjak dari tempatnya, menatap Azka penuh permohonan agar dia diizinkan diam di sini karena perasaannya mengatakan ada hal yang tidak beres dengan tamu nya. Azka menggeleng lalu melambaikan tangannya di udara mengisyaratkan Rudy untuk segera keluar. Dengan terpaksa, Rudy membawa tungkainya keluar.
Kini, Azka beralih menatap laki-laki yang saat ini juga balas menatapnya, tak lupa memamerkan deretan giginya yang seperti pageran. Azka merapikan dasinya sebentar lalu berjalan pelan menuju sofa yang sudah disediakan di sana.
"Langsung saja, ada urusan apa ingin bertemu dengan saya?" tanya Azka tanpa basa-basi bacot. Laki-laki tadi berdehem pelan sebelum menjawab.
"Ayolah, jangan terlalu serius. Kita perkenalkan diri dulu biar makin enak ngobrolnya. Saya Iyan," uluran tangan Azka terima namun ia tak segera menjabatnya, Azka memilih untuk menatap intens laki-laki yang diketahui bernama Iyan itu.
"Tangan saya hanya untuk orang penting dan terhormat, lagipula anda juga sudah tau siapa nama saya, jadi langsung saja," ujar Azka datar. Iyan menarik tangannya kembali kemudian menggaruk tengkuknya.
"Wow, ternyata anda orang yang arogan juga ya, padahal saya awalnya mengira anda adalah orang yang ramah, lemah lembut dan baik hati, ternyata semuanya palsu, setelah saya datang dan bertemu langsung baru saya tau," Iyan tersenyum simpul namun wajahnya menampilkan gurat kekecewaan.
"Bicara atau keluar dari sini," ancaman Azka tak main-main, dia sudah muak dengan basa-basi, kenapa tidak ada yang mengerti to the point.
Iyan berdecak kesal namun sesegera mungkin merubah ekspresi seperti awal.
"Salah satu investor dari luar negri mengenankan saya untuk membangun sebuah gedung fakultas untuk para pelajar asing yang datang ke sini. Dikarenakan perusahaan saya bergerak di bidang material dan anda sendiri pada bidang pembangunan, jadi perusahaan anda ini sangat cocok jika collab dengan saya. Bagaimana, tertarik untuk ikut serta?" tanya Iyan usai menyelesaikan penjelasannya yang panjang lebar.
Azka mikir sebentar, jauh dalam lubuk hatinya ingin mengambil tawaran ini tetapi di sisi lain Azka tak ingin kejadian yang sama terulang kembali, cukup yang dulu saja untuk masa sekarang jangan sampai Azka melakukan kesalahan yang sama.
"Tenang saja, dalam kerja sama ini anda tidak perlu mengeluarkan uang, anda hanya akan mengawasi para pekerja dan mengkalkulasikan data setelahnya," jelas Iya lagi karena merasa Azka masih ragu dengan tawarannya yang cukup menggiurkan, mungkin.
"Anda pikir saya tidak punya uang?" Rahang Azka mengeras karena merasa diremehkan. Iyan terkekeh pelan. "Bukan seperti itu tuan Azka, hanya saja saya melihat anda seperti ragu begitu, saya pikir anda masih mempertimbangkan tentang masalah keuangan perusahaan anda sekarang."
Azka menatap Iyan sinis, memang sengaja sekali mencari masalah.
"Baiklah, jika tidak ada apa-apa lagi, anda boleh keluar."
"Tunggu dulu, anda belum menjawab iya atau tidak. Tapi untuk opsi nya hanya ada jawaban 'iya'."
"Saya sebut itu pemaksaan, dan jawaban saya, tidak. Silahkan, pintu keluar sebelah sana kalo anda lupa," Azka menunjuk dengan tangannya.
"Apa anda mau melewatkan kesempatan ini begitu saja? Banya sekali CEO lain yang ingin bekerja sama dengan saya tetapi dengan lantang dan tegas saya memilih anda," bela Iyan masih tak ingin menyerah.
"Ya, ya, ya. Tapi sayang sekali, saya tidak ingin menerimanya, lebih baik anda memberi kesempatan pada Perusahaan lain yang anda maksud," sekali tidak tetap tidak, itulah Azka.
"Akan saya pastikan anda akan menyesal nanti karena sudah menolak mentah-mentah tawaran saya."
"Ya, saya harap juga begitu. Karena selama hidup, saya belum pernah merasa menyesal dalam hal apapun itu. Saya tunggu ya, kalo saya udah menyesal nanti saya kabari," ujar Azka denga nada mengejek. Iyan mengepalkan tangannya kuat, dia merasa dihina dan diremehkan.
Tanpa sepatah kata pun, Iyan beranjak pergi menuju pintu, tak lupa menutupnya dengan kencang agar kesannya dia tuh sedang marah besar.
"Heh, kalo emosi tuh jangan lampiasin ke pintu orang, emang anda mau tanggung jawab? Udah bikin orang kaget, pintu hampir rusak, anda punya sopan santun gak sih? Pintu ini mahal tau gak!" Rudy ngomel karena sesi telponan dengan Ayang nya terganggu karena kaget dengan suara pintu ditutup dengan keras.
Iyan menatap Rudy datar.
"Makan tuh pintu!"