Married With Duda

Married With Duda
MWD 84 : Debat Unfaedah



Pandangan Farel tak lepas dari Miss Maria, ada perasaan bersalah saat Farel menatap perempuan yang lebih tua 3 tahun darinya itu, secara waktu Farel menabrak Miss Maria, dia belum minta maaf dengan baik, ditambah bahasanya sedikit kasar, ya maklum sih kan Farel belum tau.


"Natap Miss Maria biasa aja kali, kalo naksir bilang," Rian menyenggol bahu Farel sambil menaik turunkan alisnya menggoda Farel yang memilih tak menghiraukannya karena masih fokus berperang dengan pikirannya.


Rian menautkan alisnya, ucapannya sama sekali tidak digubris oleh Farel, tuh bocah malah lanjut natap Miss Maria dengan lebih intens lagi. Rian berdecak kesal, ingatkan dia untuk mencekik leher Farel nanti waktu jam pulang.


"Hari ini saya isi dengan perkenalan saja, dan untuk besok baru kita mulai kegiatan belajar mengajar," ujar Miss Maria dengan suara lembutnya yang membuat siapa saja terpesona.


"Gila sih, Miss Maria cantik banget, sexy lagi," Rian kini ikut-ikutan natap Miss Maria seperti apa yang Farel lakukan, mendengar kalimat Rian yang sedikit erotis membuat Farel langsung menatap Rian tak suka, yang ditatap memasang wajah tengil yang pengen sekali Farel gebukin.


"Dasar, mata keranjang," umpat Farel lalu kembali fokus ke arah depan, Rian mencibir seolah membenarkan ucapan Farel bahwa memang dia mata keranjang.


"San, lo setuju kan sama perkataan gue? Miss Maria cantik dan sexy?" Kini Rian beralih menyenggol Sandi yang tepat duduk di sampingnya, entah kenapa laki-laki setengah perempuan itu diam saja sejak awal masuk, biasanya di jam-jam seperti ini dia akan sangat heboh apalagi ada dosen baru cantik masuk kelas mereka, harusnya Sandi antusias dan sok genit ke Maria, tapi sekarang dia diem aja kayak mayat hidup. Rian menghembuskan nafas pelan, capek banget dia ngomong sendiri dari tadi, berawal dari Farel yang tak menghiraukannya sampai Sandi yang seperti menganggapnya tidak ada. Sedih sekali ya jadi Rian, teman-teman.


Kelas berakhir dengan cepat, Farel cepat-cepat membereskan alat tulisnya yang sama sekali tidak ia gunakan selama proses belajar karena memang jam diisi dengan sesi perkenalan. Miss Maria mengakhiri kelas lalu beranjak pergi, melihat itu Farel dengan tekad yang kuat ingin menghampiri sang dosen baru untuk membahas masalah yang tadi karena ada beberapa hal yang perlu diluruskan.


Baru saja kakinya hendak melangkah pergi, pergelangan tangannya ditahan oleh Rian.


"Buru-buru banget, santai dulu ngapa. Kita nongkrong di warung depan kampus," ucap Rian sambil menyampirkan tas ke punggungnya. Farel mendelik malas, meladeni Rian sangat membuang waktu.


"Gue duluan, ada urusan," Farel berlari kencang tanpa menghiraukan panggilan marah dari Rian.


"****** tuh anak. Lo lihat tuh kelakuan temen lo, Sandi--ehh lo pula mau kemana setan?" Rian menarik kerah belakang Sandi yang hendak pergi dari kelas.


"Apa sih bangshattt, gue mau pulang," Sandi menghempas tangan Rian hingga laki-laki dengan rambut cepak itu sedikit terhuyung ke belakang. Rian seketika mematung di tempat, bukannya kesal atau marah, dia malah lebih ke arah bingung dan penasaran dengan sikap Sandi yang sedikit berbeda hari ini.


"PMS kali tuh anak, sensi-nya melebihi wanita tulen," gumam Rian lalu melangkah keluar kelas karena tinggal dia seorang saja yang belum meninggalkan kelas.


.


Farel duduk di parkiran, melirik arloji di tangannya, sekitar 20 menit lebih dia menunggu Rian yang katanya mau nongkrong bareng, padahal Farel hanya tinggal sebentar waktu ngejar Miss Maria tadi, itu pun Farel hanya terlibat interaksi singkat dengan Miss Maria.


Ngomong-ngomong soal Miss Maria, Farel jadi teringat obrolan mereka, seutas senyum terbit di wajah tampannya.


"Cantik."


Kedatangan Rian berhasil membuat seluruh atensinya mengarah ke sohibnya, tampak Rian menyeret Sandi yang berontak berusaha lepasin tangan Rian, tapi sayangnya Rian cukup kuat memegangi lengannya.


Farel mengernyit bingung, entah ada masalah apa mereka sampai harus saling seret begitu.


Rian mendorong Sandi ke arah Farel yang tentu saja dengan sigap Farel menangkapnya, takut Sandi nyungsep ke bawah.


"Ada apaan nih?" tanya Farel, merangkul bahu Sandi sambil terus menatap Rian minta dijelasin biar paham.


"Gak ada sih, gue cuma seret nih anak buat ikut nongkrong, tapi dia bandel banget, nolak terus ajakan gue, ya udah daripada bujuk dia gak kelar-kelar, mending gue seret aja sekalian kan biar cepet," jelas Rian sambil nyengir tanpa dosa. Farel menyugar rambutnya ke belakang, Rian memang susah ditebak orangnya.


"Ya udah sih, kalo emang Sandi-nya gak mau ikut gak usah lo paksa, kasihan anak orang mungkin ada urusan lain," jelas Farel melerai karena sudah gak enak lihat ekspresi Sandi.


"Lah, masa kita berdua yang nongkrong, ogah gue ntar dikira kita pasangan gay," tolak Rian tegas.


"Anak-anak lain emangnya gak ikut juga?" Farel menautkan alis bingung.


"Kagak, mereka ada urusan katanya, bohong banget padahal mereka mau pergi jalan-jalan sama pacarnya. Merasa terdzolimi gue yang jomblo karatan begini," Rian memasang ekspresi sedih yang justru membuat Farel dan Sandi saling tatap, jijik.


"Kalo mereka gak ikut, gue juga mau pulang, nongkrong nya besok aja kalo membernya sudah lengkap. Bener kata lo Rian, gue juga gak mau dikira pasangan gay sama lo," Farel mengangkat kedua bahu lalu berjalan ke arah motornya.


"Lah, gak jadi nih ceritanya? Susah payah gue bawa si Sandi kok lo batalin gitu aja?"


"Besok aja lah, kasihan Sandi mungkin ada urusan lain. Mau nebeng gak lo, mumpung gue baik hati nih," tawar Farel usai memasang helm.


"Gue bawa motor ya Monyet. Waktu gue bawa motor aja lo nanya begitu, giliran gue gak bawa lo gak ngomong sama sekali, dasar." Rian mendelik tajam sambil bersidekap dada.


"Ya gue sengaja, gue emang tau lo bawa motor. Ya udah deh, gue duluan ya. Mau cepet-cepet ketemu Bunda," Farel melambai lalu menjalankan motornya di atas rata-rata.


"Si paling bucin sama Bunda," cibir Rian setelah afeksi Farel hilang.


"Ehh Sandi, lo mau nebeng---lah hilang. Tuh anak doyan banget pergi tanpa pamit, curiga gue Sandi punya ilmu menghilangkan diri," tiba-tiba saja tengkuknya Rian merinding ditambah hembusan angin yang menjadi penambah kesan sunyi di parkiran.


"Bodo amat anying, mending gue pulang sekarang," buru-buru Rian menaiki motor Vario nya dan berlalu meninggalkan parkiran yang sudah sangat sepi.