
Setelah makan siang Damien mengantar pulang Cathrine. Sebenarnya Cathrine sudah menolaknya dan ingin pulang sendiri. Tapi Damien tetap bersikeras untuk mengantarnya. Bahkan Cathrine mencoba berbohong dengan mengatakan Ia masih ingin pergi ke tempat temannya dan Damien tetap mengatakan bahwa Ia akan mengantarnya. Akhirnya Cathrine tidak bisa berkutik lagi.
"Kenapa kamu melamar di perusahaan ku" tanya Damien membuat Cathrine bingung harus menjawab apa. Bisa saja Damien mengira bahwa diri ya memang sengaja melamar disana.
"Atau jangan-jangan kamu sengaja ya..biar bisa dekat-dekat dengan ku" ucap Damien menatap Cathrine yang tampak membelalakkan matanya. Dan apa yang dipikirkannya terjadi.
"Siapa juga yang mau dekat-dekat dengan mu. Percaya diri sekali kamu. Aku tidak tau jika DC Company adalah perusahaan mu. Kalau Aku tau, mungkin Aku akan melamar di perusahaan lain" jawab Cathrine ketus.
"Aku tidak yakin dengan jawabanmu itu. Tidak mungkin kamu tidak melihat profil perusahaannya sebelum melamar bukan?" ucap Damien.
"I..itu..Aku, Aishh..waktu itu Aku tidak kepikiran kesana, yang Aku tau itu adalah perusahaan besar" balas Cathrine cepat.
"Aku masih meragukan jawabanmu. Padahal Aku berharap kamu memang sengaja melamar diperusahaan ku" pungkas Damien.
"Terserah kamu saja".
"Lalu kenapa kamu tidak bekerja di perusahaan uncle Alex saja. Di sana kamu pasti langsung diterima tanpa wawancara segala" ujar Damien.
"Aku ingin mandiri seperti daddy waktu muda" balas Cathrine membuat Damien tertawa. Hal itu tak luput dari pandangan Cathrine.
"Kenapa kamu tertawa.., apa ada yang salah dengan perkataan ku" ucap Cathrine.
"Memangnya kamu bisa mandiri? kamu itu sama seperti Cia. Kalian berdua anak manja dari dulu sampai sekarang" ucap Damien membuat Cathrine sedikit kesal. Dulu Ia memang sangat manja tapi bukan berarti Ia tidak bisa mandiri.
"Hei.. itu dulu. Namanya juga anak-anak. Kalau sekarang jelas beda. Aku sudah dewasa" ucap Cathrine.
"Benarkah...mari kita lihat. Soalnya sikap manja Cia sampai sekarang tidak hilang" ujar Damien dengan wajah mengejek.
"Akh..kenapa sifat mengejek mu itu tidak pernah hilang" ujar Cathrine kesal. Dari dulu Ia memang tidak pernah akur dengan Damien karena Damien sangat suka menjahilinya.
"Rumah teman mu dimana?" tanya Damien.
Setelah sampai, Cathrine lalu turun dari mobil Alex.
"Terimakasih karena sudah mengantar ku" ucap Cathrine.
"Kamu tidak menawari ku untuk singgah di rumah mu?" tanya Alex.
"Astaga bagaimana ini..." batin Cathrine.
"Emm..apa kamu tidak singgah dulu" ucap Cathrine mencoba tersenyum.
"Thanks..lain kali saja. Aku harus kembali ke kantor" ucap Damien menyeringai lalu menginjak pedal gas mobilnya.
"Dasar gila, giliran ditawari malah pergi" umpat Cathrine lalu masuk ke dalam rumah.
"Bik..mommy dimana?" tanya Cathrine pada pelayan di rumah mereka.
"Nyonya sudah pergi ke toko rotinya nona" ucap pelayan.
"Hai kak" ucap Javier yang baru saja pulang dari sekolahnya. Kini Ia sudah berada di bangku SMA.
"Loh...kamu sudah pulang. Tumben cepat?" tanya Cathrine.
"Aku tidak ada kegiatan tambahan di sekolah hari ini" balasnya.
"Ya sudah kamu langsung ganti pakaian mu dan makan siang" ucap Cathrine lalu dibalas anggukan oleh Javier. Ia lalu melangkahkan kakinya menuju kamarnya.
"Huh..kenapa rasanya waktu lama sekali berjalan satu hari ini" gumam Cathrine menjatuhkan dirinya diatas kasur empuk miliknya.
"Damien terlihat lebih dewasa dan tampan setelah 4 tahun tidak pernah bertemu dengannya. Apa Dia sudah punya kekasih tidak ya. Aku yakin Dia pasti punya kekasih. Tidak mungkin seorang Damien tidak memiliki pacar saat ini. Secara Dia itu selalu didatangi oleh wanita-wanita cantik sejak dulu" gumamnya.