
Sudah, hentikan kegilaan ini, Azka sudah tidak tahan lagi. Acara kian berakhir, lampu kembali menyala seperti semula, akhirnya Azka bisa bernafas lega lantaran tadi salah satu perempuan mendekatinya sambil membawa segelas alkohol, mengusap lengan Azka penuh gairah, ingin Azka tepis dengan kasar namun Agus datang lebih cepat dan menahan pergelangan tangan Azka.
"Ayolah, jangan kasar terhadapnya, wanita kecil nan cantik ini hanya menghibur, beri dia kesempatan," Agus membelai pipi perempuan itu dengan sensual membuat Azka ingin muntah dan menampar pipi kedua orang di depannya ini.
Perempuan itu kembali menatap Azka dengan senyum nakal nya, tangannya perlahan menjamah dada kemudian turun ke perut Azka, tanpa pikir panjang Azka langsung menghindar dan memilih duduk di sofa yang satunya.
Wajah Azka sudah merah padam, ingin rasanya dia meledak sekarang. Bukannya kapok, perempuan tersebut kembali mendekati Azka sembari memasang wajah menggodanya, masih berusaha memikat Azka karena di antara semuanya hanya Azka yang masih muda dan tampan, siapa coba yang tidak terpikat.
"Sampai kapan pun aku tidak akan tergoda oleh wanita ****** sepertimu, mau kau telanjang bulat di depanku, aku tidak akan sudi menyentuh kulit yang sudah dijamah oleh ribuan pria di luar sana, apa kamu tidak malu, huh? Di mana letak otak dan pikiranmu, dengan kau menjadi wanita penghibur apakah akan menaikkan derajat orang tua mu? Aku penasaran bagaimana tanggapan kedua orang tuamu terhadap jalan hidupmu. Pergi, jangan ganggu pria yang sudah beristri. Tubuh istriku lebih cantik daripada tubuh kotormu," saking emosinya, Azka sampai menceramahi juga beberapa umpatan keluar untuk perempuan itu, dan alhasil perempuan tersebut kena mental lalu memilih untuk bergabung dengan yang lainnya.
"Bagaimana pestanya?" Agus bertanya pada Azka sambil mengerlingkan matanya.
"Biasa saja," jawab Azka acuh, yang lain tertawa mendengar jawaban asal dari Azka.
"Hey, nak! Kau tidak tau caranya berpesta ya?" tanya salah satu kolega bisnis Agus yang rambutnya botak di tengah.
"Tidak." Lagi-lagi, jawaban singkat Azka lontarkan, males banget bicara panjang lebar.
"Pantas saja kau tidak bisa menikmatinya, sayang sekali pemuda sepertimu tidak mempunyai hasrat," sambungnya lagi diiringi gelak tawa yang lain, Azka tentu saja geram dong pengen jambak ni orang, tapi kan rambutnya di pinggir doang, kalo Azka jambak malah botak permanen dia.
"Iya, sayang sekali. Tapi untung saja saya masih punya pikiran dan tanggung jawab sebagai seorang suami kepada istri dengan tidak menyakiti perasaannya," jelas Azka seraya tersenyum manis, yang lain langsung terdiam, suasana menjadi tegang dengan tatapan tajam dari para pebisnis gatel.
"Sudah-sudah, yang penting kita sudah bersenang-senang di sini," Agus menengahi sebelum terjadi adu mulut.
.
Azka menghempas tubuhnya ke atas sofa, rasanya capek sekali padahal dia hanya makan doang tapi kenapa lelahnya minta ampun, terlebih mental dan pikirannya butuh healing sejenak. Reyna kebetulan lewat sehabis dari dapur mendadak berhenti menatap sang suami dengan pandangan heran, gak biasanya Azka pulang kerja dengan kondisi urak-urakan seperti itu. Dalam keadaan begini, Reyna paham jika Azka tidak mau diganggu dulu, mungkin ada masalah di kantornya, begitu pikir Reyna, kemudian ia lanjut membawa kain yang sudah dicuci ke luar rumah, padahal sudah dilarang sama Bi Ela tapi tetap saja Reyna ngeyel pengen bantu, itung-itung untuk aktivitas di rumah biar gak rebahan terus kerjanya.
Azka melempar asal jas nya hingga mendarat tepat di atas Televisi, kali ini gantian Azka membuka paksa kemeja yang sejak tadi membaluti tubuh kekarnya. Azka kini sudah telanjang dada, membuang pakaiannya ke sembarang arah lalu memandang jijik pada kemeja dan jas nya bergantian. Bagi Azka, baju yang sudah disentuh oleh perempuan lain tidak lagi halal untuk ia pakai, dan sah untuk dibuang atau dibakar juga bisa.
"Mas, kok dibuang sih? Buruan pakai cepat, nanti orang lain lihat aset berharga aku," Reyna memungut kemeja Azka yang tergeletak di atas lantai kemudian menyodorkannya pada Azka yang langsung ditepis oleh empunya.
"Kotor?" Reyna menelisik setiap inci kemeja yang Azka anggap kotor, bahkan mau dibalik beberapa kali pun tidak terlihat noda sedikitpun di mata Reyna, bersih, putih, dan masih harum. Reyna mengernyit, tidak paham lagi jalan pikiran Azka, baru saja hendak bertanya, Azka sudah memotong lebih dulu.
"Siapkan air hangat untuk aku mandi, sayang. Badan aku juga ikutan kotor," Azka beranjak berdiri, menarik ujung baju Reyna untuk mengikutinya dari belakang.
.
Reyna benar-benar pusing ditambah bingunh dengan Azka yang tiba-tiba manja kepadanya, ya memang Azka sering manja tetapi gak seperti ini, ini mah sudah stadium akhir. Reyna pasrah saja saat Azka memaksa untuk dimandikan, katanya lebih bersih kalo Reyna yang mandiin, jadi selama ini Azka mandi gak pernah bersih gitu?
"Kalo kamu yang usap badan aku pasti bakalan bersih, ini sebelah sini paling kotor, aku gak mau pegang," Azka menunjuk bagian dada dan lengannya, ekspresi jijik masih kentara du wajahnya. Oke, Reyna simpan dulu pertanyaan di dalam otak, nanti setelah ini baru bertanya biar lebih jelas.
Reyna memgeringkan rambut Azka dengan handuk di depan cermin, Azka menikmati setiap sentuhan Reyna, sampai-sampai ia memejamkan mata.
"Sudah sana, pakai baju!"
"Pakein," Azka mengerucutkan bibirnya, Reyna ingin tertawa sekarang juga.
"Kamu kenapa sih, Mas? Kok tiba-tiba manja begini?" Akhirnya pertanyaan itu keluar juga. Ekspresi Azka berubah dingin, yang tadinya manja sekarang malah serem begini, bahkan aura kamarnya pun jadi mencekam, Reyna mengusap tengkuknya karena merinding. Menyesal aku bertanya, batin Reyna.
Ingin Azka speak up, tapi takut Reyna ngamuk malah diemin dia tujuh hari tujuh malam, tapi mau gimana lagi daripada Reyna penasaran begini, gak ada salahnya kan buat ngaku, lagipula Azka kan gak ikutan plus dia juga gak tau bakal ada acara se-setan itu.
Azka ambil posisi, memegang bahu Reyna kuat, kini mereka saling berhadapan dengan Azka yang menatap Reyna intens, sementara yang ditatap kebingungan.
"Aku ngomong, tapi janji kamu jangan marah ya. Ini murni bukan kesalahan aku, aku sejatinya gak tau bakal terjadi hal seperti ini, benar-benar aku tuh shock banget, aku gak terlibat dan aku tidak ikut-ikutan."
"Ya udah sih tinggal ngomong aja susah banget," Reyna greget sumpah karena Azka tak kunjung bicara.
Sambil cengengesan, akhirnya Azka cerita semuanya, kedua mata Reyna membola kaget mendengar setiap penjelasan Azka yang menurutnya sudah tidak manusiawi.
Azka menggigiti bibir bawahnya takut, menunggu reaksi apa yang akan diberikan oleh Reyna kali ini.....