Married With Duda

Married With Duda
MWD 79 : Membuat Kue



Banyak yang menilai setiap orang dari pendidikannya tanpa tau bagaimana perjuangan seseorang tersebut untuk berdamai dengan keadaan. Pendidikan memang penting tetapi apakah mereka tau usaha serta kerja keras juga tak kalah berperan penting dalam hidup setiap manusia.


Kadang tak jarang orang depresi dan stres hanya karena terpengaruh oleh ucapan tetangga atau seseorang yang begitu kenal dekat yang mengomentari kehidupannya yang itu-itu saja. Kita hidup bukan untuk menyenangkan orang lain, jadilah dirimu sendiri tanpa harus mendengarkan perkataan mereka terhadapmu, percayalah mereka tidak akan pernah puas menyinggung soal kondisimu.


Reyna sedang asik membaca quotes di ponselnya, akhir-akhir ini Reyna mengalami hal yang sama dengan apa yang dia baca, jadi jangan berpikiran hidup Reyna tuh seneng-seneng aja meskipun dapet suami tajir melintir, oh tidak, ada rintangan dan resiko yang harus Reyna hadapi, misalnya mertua yang kurang baik dan selalu blak-blakan membandingkannya dengan wanita lain seperti Wati meski sekarang jarang karena sudah dijampi-jampi sama Hattala untuk memperlakukan Reyna dengan baik. Ada juga tetangga yang julid, terang-terangan membicarakan Reyna di depan orangnya langsung, berbisik-bisik padahal suaranya masih kedengeran, ngomongin Reyna pake pelet lah pake dukun lah demi mendapatkan Azka, padahal masih banyak wanita lain yang lebih cocok dan sepadan dengan Azka kenapa malah memilih Reyna yang latar belakangnya saja masih abu-abu, sebelas dua belas lah sama pemikiran Wati dulu. Begitulah manusia, memandang seseorang hanya dari luar-nya saja, lidah tidak bisa dikontrol dengan baik.


Apalah daya, Reyna hanya bisa tersenyum padahal luka dala hatinya kian melebar. Luka dalam memang tidak tampak tapi kalo memang sudah tidak tahan dengan sakitnya bisa mengancam nyawa. Hanya kata 'sabar' yang selalu Reyna amalkan untuk mendapatkan jiwa yang tenang dalam menghadapi kerasnya mulut tetangga. Andai saja Reyna tidak punya sopan santun, sudah lama Reyna geret wajah tetangganya itu di aspal sampai rata.


"Astaga, hampir lupa aku sedang goreng ikan," Reyna tersadar dari lamunannya kala indra penciumnya mendapati bau gosong yang kentara, ditambah asap mengepul dari arah dapur, mampus deh kena omel Wati nanti.


Buru-buru Reyna mematikan kompor, menatap lamat ikan yang sudah mirip arang di atas wajan yang juga ikutan gosong. Reyna memejamkan matanya karena asap mulai memaksa masuk.


Usai mencuci muka di wastafel cuci piring, Reyna segera membereskan dapur, membuang ikan gosong tadi karena di rumah ini tidak ada yang mau memakannya.


"Wajannya masih bisa pakai sih ini, tinggal gosok bagian yang gosong," Reyna mengangguk mantap, membawa wajan ke wastafel untuk dicuci, memang noda gosongnya bisa hilang tapi cuma sebagian saja, sisi lainnya masih nempel banyak.


"Ya ampun sayang, kamu eksperimen apa sampai harus bakar dapur begini?" Azka si perusuh datang menerobos kumpulan asap yang sudah hampir hilang, menyibak dengan tangan yang melambai di udara. Reyna menoleh sekilas ke arah Azka, males banget nanggepin suaminya yang selalu mengambil kesimpulan dahulu sebelum bertanya, orang lagi masak dikira lagi eksperimen bakar dapur.


"Lagi ngapain sih? Sibuk banget," Azka kini sudah berdiri di samping Reyna yang sibuk cuci wajan.


"Lagi mandiin kucing," jawab Reyna acuh.


"Kamu sekolah di mana sampai wajan saja kamu kira kucing? Tunggu, jangan-jangan kamu juga ngira aku itu Justin Bieber ya selama ini?" Pertanyaan Azka sama sekali tidak berfaedah dan sangat cocok untuk diabaikan. Reyna mendengus kesal, ingin sekali ia mengetuk kepala Azka dengan samurai.


Merasa diabaikan, Azka bersandar pada dinding sambil terus memperhatikan Reyna yang bersusah payah menggosok wajan, gak ada habisnya memang.


Sempat tatapan mereka bertemu, Azka dengan wajah tengilnya dan Reyna dengan raut kesal, lengkap sudah.


"Lagi ngapain sih, aku serius nanya loh," Azka ngotot dengan pertanyaannya.


"Mas, pernah lihat guci melayang gak?"


"Gak pernah, emang bisa terbang?"


"Bisa, kamu mau lihat?"


"Gak duli deh, lihat kamu gosok wajan lebih asik." Siapa pun tahan Reyna, dia sudah geram sekali dengan oknum bernama Azka, pengen Reyna cekek tapi sayang.


Reyna sudah pulang belanja bahan-bahan untuk membuat kue, karena dalam list di buku kecilnya, kegiatan di minggu ketiga ialah membuat kue.


Dikenali dengan masakannya yang lezat, Reyna juga pandai dalam membuat kue, meski masih dalam tahap belajar tetapi cita rasa kue buatan Reyna tak perlu diragukan lagi, oleh sebab itu dia jadi percaya diri buat memasukkan kegiatan buat kue sebagai list.


Reyna berpikir sebentar, kue apa yang sebaiknya dia buat. Maunya sih yang simple tapi enak, dan yang paling penting seluruh orang rumah suka, biar tidak mubazir. Udah capek-capek buat malah gak dimakan kam sia-sia.


"Kue lebaran aja gak sih?, tapi lebaran satu tahun lagi. Hmm, kue putri salju boleh juga," Reyna menjentikkan jarinya mengapresiasi diri sendiri karena sudah berhasil menemukan ide yang briliant, padahal perkara buat kue doang.


Tanpa menunggu lama lagi, Reyna menyiapkan alat dan bahan apa saja yang dibutuhkan, tak lupa menonton Youtube juga agar mendapat panduan yang lebih baik, jujur saja Reyna masih bingung bahan apa saja yang dibutuhkan.


Reyna sudah siap dengan apron-nya, tepung beserta kawan-kawannya sudah Reyna campur dalam satu wadah supaya mudah diaduk.


Tiba-tiba Reyna dikejutkan dengan kedatangan Wati sambil memakai masker di wajahnya.


"Lagi ngapain kamu? Masih pagi udah ngerusuh aja di dapur?" tanya Wati sambil meneguk air dingin dari kulkas.


"Buat kue, Ma," jawab Reyna singkat.


"Haduh palingan nanti gak ada yang makan, mubazir buang-buang uang," ujar Wati lagi.


"Aku yakin pasti Mas Azka dan anak-anak suka kok."


"Terserah kamu saja. Request kue kacang ya, kacangnya ada di lemari mumpung masih banyak," usai berbicara Wati melenggang pergi sembari bersenandung dan menepuk-nepuk wajahnya yang masih menggunakan masker. Nambah deh orderan kue hari ini.


Niatnya sih mau buat kue dengan tenang tanpa gangguan, tetapi sepertinya keberuntungan sedang tak berpihak pada Reyna. Sayup-sayup Reyna mendengar perdebatan kedua anaknya di ruang keluarga, entah sedang memperebutkan apa, tapi yang jelas tidak jauh-jauh dari mainan pastinya.


Reyna meneriaki nama kedua anaknya agar diam bahkan nama Azka juga ikut tersempil.


"Apa sih? Kamu manggil aku?" Azka datang dari kamar mandi belakang dapur dengan hanya menggunakan handuk yang dililitkan di pinggangnya.


"Kamu kenapa mandi di situ?" tanya Reyna mengerutkan dahi.


"Kamar mandi atas airnya mampet, gak bisa keluar," jawab Azka datar, lalu kembali pada aktivitas mandinya yang belum selesai.


Bingung mau nulis apa.