
"Ini gimana ceritanya telur dicampur sama ikan asin? Ini lagi, kangkung campur tepung, mana tepungnya kepisah sama kangkungnya," Azka komen menu sarapan kali ini agak lain dan aneh, bagaimana tidak semuanya termasuk makanan yang tidak normal, ini bukan acara lomba memasak unik. Azka menatap Reyna tajam, gadis itu hanya bisa menggeleng karena memang bukan dia yang melakukan semua ini. Azka paham memang bukan Reyna yang berada di dapur pagi ini. Azka beralih menatap Wati yang tampak santuy menikmati sarapan buatannya. Bagi Wati mungkin enak, tapi bagi yang lain itu aneh, semua yang dia masak lebih mirip makanan kucing. Azka jadi tidak berselera makan.
"Saya akan buatkan bubur," Reyna turun tangan, tau jika suaminya masih belum bisa makan makanan yang berat, jadi untuk sarapan harus makan bubur. Farel sama aneh nya dengan Wati, bocah itu tampak nikmat dengan makanannya, entah karena lapar atau memang enak.
"Huh dasar kamu, Azka. Ini tuh fashion, dan fashion gak harus pada style dan gaya pakaian saja tapi ada juga pada makanan, semua masakan ini resep baru yang Mama buat sendiri, harusnya kamu bangga dong."
"Terserah, Mama. Yang jelas, Azka tidak mau makan masakan Mama." Wati mendengus kesal seraya lanjut makan.
Azka masih belum bisa pergi kerja, mungkin besok dia akan ke Kantor. Untuk menghabiskan pagi yang indah ini, sepasang suami istri itu memilih untuk bersantai di ruang tengah sambil menemani Farel nonton kartun pagi yang tayang sekitar jam tujuh.
"Aku akan mendaftarkan Farel TK, bagaimana menurutmu?" Reyna menoleh, Azka tadi benar-benar meminta pendapatnya, dia tidak salah dengar kan?
"Itu terserah Tuan saja, bagaimana bagusnya."
"Berhenti memanggilku Tuan, aku ini suami kamu jadi biasakan itu."
"Saya manggilnya bagaimana?"
"Hmm, pake 'mas' aja lebih sopan dan enak didengar." Reyna tertegun, apa-apaan.
"Mas?" Azka mengangguk mantap. Panggilan itu terasa cocok di telinganya.
"Jangan memanggilku Tuan lagi, aku tidak suka!"
"Kamu bisa bawa mobil?" Reyna sontak menggeleng, pegang setir mobil saja tidak pernah apalagi coba-coba untuk mengemudikannya.
"Motor?" Masih ragu jika membahas motor pikirannya tertuju pada kejadian yang lalu, tapi Reyna akhirnya mengangguk juga.
"Selama aku bekerja kamu yang akan menemani Farel termasuk yang mengantar jemput juga, sekolahnya gak jauh kok hanya berjarak 20 meter dari sini." Reyna mengangguk setuju, ini juga salah satu tanggung jawabnya kan.
"Horee, Farel akhirnya bisa sekolah, dapat teman baru, kapan Ayah?"
"Besok atau lusa."
.
.
Reyna terkaget-kaget saat didatangi kurir COD ehh maksudnya Dealer, dikiranya dia menang give away dan hadiahnya sampai hari ini ternyata dugaannya salah, kiriman motor baru yang harus ditandatangani oleh oknum bernama Reyna karena sekarang dia lah pemilik sah nya, sudah dibayar di muka dengan lunas oleh sang suami, anggap saja hadiah pernikahan.
Scoopy hitam diturunkan dari mobil pengangkut khusus kiriman motor. Ini memang idaman Reyna dari dulu cuma gak pernah kesampaian. Ponsel Reyna bergetar seperti terkena sengatan listrik asmara, terpampang nama Azka di sana.
"Kau suka dengan hadiahku? Sudah kau terima?" Belum juga ucap salam kek atau sapaan udah langsung ke intinya saja nih bapak duda.
"Sudah, Mas. Aku suka banget."
"Syukurlah, jika kamu suka. Besok antar Farel dengan motor itu."
"Hmm, baiklah."
"Siapa tadi?" Wati baru bangun tidur gak sengaja denger suara deru mesin mobil pick up yang membisingkan telinga karena pengemudinya yang lupa ganti mesin.
"Petugas Dealer, Bu. Anter motor ini."
"Hah? Kamu beli motor? Pake uang siapa?" Takuy banget ya Reyna pakai uang suaminya, padahal sudah jelas-jelas dia berhak melakukan itu.
"Mas Azka yang belikan, Bu."
"Ehh, kamu panggil Azka apa tadi? Mas? What? Hahaha, lancang sekali ya kamu," Wati sedikit menggila, maklum keinginannya gak diturutin anaknya. Reyna menunduk malu, agak kesal dengan si tua bangka di depannya ini. Pengen dijambak tapi kasian ntar botak, belum lagi singa merah dalam diri Reyna mengamuk habis dah tuh si Wati.
.
.
Farel berdiri kaku, menyembunyikan tubuh mungilnya di belakang Reyna, anak itu meringkuk takut, Reyna bisa rasakan tangan Farel yang gemetar hebat.
Tiba di sekolah, Farel langsung menciut begini membuat Reyna gak paham, bukankah dia yang palinh bersemangat kemarin, keinginannya untuk berkenalan dengan teman baru dan bermain bersama mungkin sudah dilupakannya.
"Bu guru gak galak kok, sayang." Reyna menarik jari telunjuk Farel untuk ke depan, yang lain sudah menunggu di pintu kelas terutama guru yang akan membimbing mereka.
"Farel takut." Farel menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Gak akan terjadi apa-apa, Bunda tunggu di sini ya, setelah selesai kita langsung pulang." Setelah bujukan yang lama, akhirnya Farel mau juga mengikuti langkah guru cantik itu masuk kelas, walaupun masih ragu tetapi Farel harus memantapkan hati, cita-cita nya ingin membahagiakan Ayah dan Bunda jadi dia harus berani mengambil resiko apa pun itu, takut bukanlah hal yang bagus.
Rasa bangga menyeruak dalam diri Reyna, berharap dengan kehadirannya di hidup Farel bisa membuat nya jadi orang yang berguna di masa depan dan menjadi anak yang berbakat tentunya juga pintar serta cerdas, tidak seperti dirinya yang hanya bisa sampai lulus SMP, kadang Reyna takut jika Azka membahas soal pendidikan dengannya dan menanyakan hal yang berkaitan dengan masa sekolahnya, tapi untungnya sampai hari ini tidak terjadi apa-apa. Azka bahkan tak pernah bicara jika tidak beehubungan dengan Farel, harusnya Reyna lega bukan?
Sejak Farel ditinggalkan oleh Ibu kandungnya, Reyna tau pasti Farel tertekan walau usianya masih belum seberapa untuk paham tetapi rasa kehilangan itu begitu dalam sampai membuatnya selalu murung, tapi entah kenapa saat bertemu Reyna keceriaan nya kembali terlihat, orang di sekitarnya menyadari perubahan itu, yah kecuali Wati yang seakan menutup mata dan telinga jika itu berhubungan dengan Reyna.
Ada sedikit rasa bangga dengan dirinya, karena kehadirannya di sisi Farel bisa membuat bocah lima tahun itu menampakkan senyum lebarnya lagi dan melupakan masa lalunya.
Reyna menunggu bersama emak-emak yang juga tengah mengantar anaknya sekolah TK, jika dibandingkan mungkin hanya Reyna yang masih muda di sana, yang lain tampak berumus semua.
"Bu-bukan, Bu. Itu anak saya," hampir jawab iya tadi karena gelagapan. Ibu tadi mengangguk dan ber-oh ria. Cukup lama terdiam, sampai satu pertanyaan lagi mendarat membuat Reyna tersedak ludah sendiri.
"Waktu nikah masih di bawah umur ya?"
"Ehh?"
"Soalnya kalo saya perhatian, Mbak masih muda sekali, saya tebak pasti umur 21. Anak TK jaman sekarang itu umurnya paling mentok 4 sampai 5 tahun tapi di TK ini syarat harus yang umur 5 tahun, berarti nikah nya di umur 16 tahun dong ya?" Pertanyaan yang sangat detail sampai membuat Reyna kalang kabut buat menjawab, pilihan yang salah memang duduk bareng emak-emak kepo, mending sendiri aja di bangku taman.
"Saya Ibu sambung nya, bukan nikah di bawah umur," akhirnya Reyna memilih untuk berterus terang, mana mau dia dikira nikah di usia muda, setelah jujur Reyna sedikit lega karena berhasil membuat Ibu cerewet itu tutup mulut.
"Kok mau sih, Mbak. Nikah sama duda gak enak loh, apalagi kalo belum move on dari masa lalunya uhh bahaya banget bisa diabaikan berhari-hari, dulu ada temen saya juga nekat mau nikah sama duda anak satu sama seperti, Mbak. Dan hasilnya apa, mereka cerai di tengah jalan padahal usia pernikahan mereka masih seumur jagung, mana temen saya itu ngandung anak dia ehh malah asal gugat cerai, katanya dia mau balik lagi ke istri lamanya karena makin hari makin cantik," ini lagi emak-emak menor asal nyahut, Reyna membuang nafas kasar, dari dulu dia benci banget kalo dihakimi Ibu-Ibu yang gak tau fakta sebenarnya, tapi sedikit juga ada yang bener sih dari ucapannya, Azka memang masih belum move un dari istri lamanya. Sempat merenung sebentar sebelum akhirnya buka suara.
"Suami saya istrinya sudah tiada, saya rasa sebab itu dia mau menikah lagi karena membutuhkan pendamping dan bisa menjaga serta mendidik anaknya dengan baik," kalimatnya diakhiri senyum manis namun paksaan membuat yang lain langsung diam.
"Ohh ternyata beda toh sama kisah hidup temen saya, maaf loh Mbak saya gak tau, kirain istrinya masih ada."
"Iya gak apa-apa, Bu. Saya harap lain kali jangan asal ngomong saja ya, mending tanya-tanya dulu sebelum berkomentar, kita kan tidak tau bagaimana perjuangan seseorang dalam rumah tangganya. Saya permisi duluan ya, Ibu-Ibu. Anak saya sudah nunggu di depan," belum juga nunggu dijawab, Reyna sudah tergesa-gesa berjalan menuju Farel di parkiran karena kelasnya sudah selesai, untung cepat kalo lama bisa pengang telinga Reyna dengerin ocehan emak-emak gosip tadi.
"Gimana sekolahnya tadi, menyenangkan?"
"Hmm sedikit, kami hanya melakukan perkenalan antara murid dan guru. Bunda, besok sudah mulai belajar, Bu guru suruh bawa buku gambar dan pensil warna."
"Farel kan sudah punya di rumah. Nanti kita packing bareng-bareng ya."
.
.
Siang-siang begini, Reyna jadi teringat suaminya, Azka. Sering dia dengar percakapan antara Wati dan Azka yang katanya kalo di Kantor jarang makan siang karena memang gak ada waktu, apalagi sekarang sejak mulai kerja Azka selalu lembur karena harua mengejar ketertinggalannya di Perusahaan seperti rapat dadakan yang dilakukannya hampir 24 jam penuh, karena insiden kecelakannya kemarin membuat project mereka mengalami penundaan, sudah pasti kesehatan akan dia abaikan jika menyangkut soal pekerjaan. Paham kan kalo Azka tuh orangnya ambisius.
Harus mikir dua kali untuk mempersiapkan niatnya yang ingin membawakan bekal makan siang untuk Azka ke kantornya, takut nanti dia malah diusir karena sudah lancang, bahkan mungkin kedatangannya akan mengganggu kenyaman para pekerja lain terutama Azka juga, mau kabarin dulu juga pasti akan ditolak, siapalah dia di hidup Azka hanya istri pengganti yang tak dicintai, dinikahi hanya untuk menjadi Ibu sambung Farel, itu saja gak lebih.
Mumpung Farel tidur, dia memanfaatkan waktu luang ini untuk memasak sedikit saja untuk Azka, Reyna tau betul letak kantor suaminya, tidak terlalu jauh dari sini, jalan kaki pun kayaknya bisa.
"Mau kemana kamu?" Wati mengagetkannha saat ia selesai mengemas isi rantang yang akan ia bawakan ke kantor Azka.
"Aku akan ke kantor Mas Azka, bawakan makan siang," jawab Reyna seadanya.
"Terus Farel bagaimana, nanti saat dia bangun gak ada kamu di sini apa gak nangis?" Ini nih yang bikin Reyna plin plan juga.
"Sudahlah gak usah sok perhatian sama Azka." Tak tanggung-tanggung Wati meremehkan niat baiknya, padahal dia hanya ingin berbakti pada suami, biarlah dia seorang yang menyimpan perasaan. Wati melenggang pergi, dilihat dari outfit nya kayak mau pergi kondangan, tapi kondangan apaan siang begini, panas pula.
Reyna berlari mencari Farel, masih sama dengan posisi tidurnya yang semula. Reyna menggigit jari kukunya, gak apa-apa kali ya aku tinggal Farel sebentar saja, antar makanan ini habis itu pulang. Merasa sudah mantap dengan rencananya, Reyna bergegas mengganti bajunya dengan baju yang bagus dan pantas agar suami tak malu melihat penampilannya, Wati juga sedang pergi kemungkinan akan pulang sore nanti, soalnya Wati sekalinya keluar rumah gak ada istilah pulang cepet. Selesai dengan baju nya, dia bergegas ke bagasi untuk ambil motor kesayangannya, maklum hadiah dari Azka harus disayangi.
.
.
Reyna tertegun, baru kali ini dia melihat dari dekat perusahaan milik Azka sebesar ini. Reyna jadi ragu untuk masuk ke dalam, melihat penjagaannya yang begitu ketat, lihat saja satpam siap siaga berjaga di pintu utama. Nanti kalo ditanya cari siapa dia jawab apa, secara Azka tuh pembesar perusahaan syarat ketemu dia tuh harus ada janji.
"Cari siapa ya, Mbak?" Sudah Reyna duga dari awal akan begini. Satpam berkumis itu melihat penampilan Reyna dari atas sampai bawah, matanya berhenti pada sebuah rantang putih yang ditentengnya.
"Maaf, Mbak. Sebelumnya ini bukan panti asuhan." Reyna memgernyit bingung, ini bapak-bapak apa maksudnya.
"Maksud bapak gimana?"
"Itu rantang yang, Mbak bawa untuk kasih makan anak yatim 'kan, panti asuhan di desa saya banyak yang begitu, setiap hari bawa rantang."
"Ya beda lah, Pak. Jangan disamakan. Ini tuh untuk suami---eh temen saya," hampir saja keceplosan.
"Ohh begitu, toh. Ya sudah sebut saja nama temennya, Mbak. Biar saya panggilkan ke dalam, soalnya orang asing gak di perbolehkan masuk kecuali jika Mbak adalah karyawan di sini."
Mampus, kalo begini gak bakalan kelar. Aku mana ada kenalan di sini selain Mas Azka.
"Ini, saya gak boleh masuk ya? Sebentar doang masa gak boleh?" Pakai jurus membujuk dulu siapa tau manjur.
"Gak bisa, Mbak. Ini sudah ketentuan perusahaan, bisa masuk kecuali sudah ada janji atau izin dari atasan baru boleh masuk. Penjagaan di sini sekarang ketat banget Mbak, gak kayak dulu."
"Sebenarnya saya mau ketemu sama CEO Perusahaan nya." Akhirnya jujur juga, dari pada di pendam. Reaksi satpam nya membuat Reyna berdecak kesal, dia malah menertawakn ucapan Reyna.
"Mbak ini memang siapa nya Tuan Azka? Ketemu karyawannya saja harus ada janji, apalagi ketemu sama Presdir-nya." Satpam itu menyeka air matanya yang keluar karena puas tertawa, ucapan Reyna adalah lelucon baginya.
"Saya serius ya, Pak. Biarkan saya masuk, tidak akan lama. Jika tetap tidak bisa, Bapak saja yang panggilkan Tuan Azka kemari."
"Saya ini hanya rakyat kecil, Mbak. Mana bisa seenaknya masuk ruangan beliau."
"Biarkan dia masuk!!!!!"